Sabitlenmiş Tweet
cham
346 posts

cham retweetledi

Guys, ini harus lo baca sampe abis, soalnya tweet ini lagi viral dan isinya bikin geleng2 kepala — tapi bukan karena lucu, melainkan karena nunjukin sisi gelap pelecehan seksual yang jarang dibahas:
Pelecehan ke cowok.
Bayangin lo lagi asyik clubbing, minum-minum, nge-dance sama temen atau pacar. Tiba-tiba ada cewek random dateng dari belakang, peluk pinggang lo, terus cium punggung lo kuat-kuat sampe bekas lipstik merah nempel di baju putih lo.
Lo bahkan gak sadar. Dia langsung cabut sambil ketawa-ketawa ke kamera. Itu bukan prank random. Itu pelecehan seksual yang disengaja.
Tweet dibawah bilang, "Cewek ini baru putus sama pacarnya, terus dia sengaja nyium sampe ada bekas lipstik ke tiap cowok yang ketemu di bar buat hancurin hubungan mereka"
Caranya? Dengan cium punggung dan anggota tubuh lain — sengaja ninggalin bekas lipstik biar pacar si cowok liat dan langsung curiga.
Seolah-olah mau bilang, “Kalau gue gak bahagia, lo semua juga gak boleh bahagia.”
Dia dekatin cowok satu per satu dari belakang, peluk sekilas, cium kuat, terus mundur sambil senyum puas. Ada yang dia cium berkali-kali sampe bekasnya jelas dan banyak banget.
Cowok-cowok itu bahkan gak sadar — mereka lagi sibuk nge-dance, gak nyangka ada yang lagi “meninggalkan bekas” di punggung mereka.
Ini pelecehan seksual ke laki-laki.
Bukan cuma “harmless prank” atau “jokes doang”. Kalau cowok yang ngelakuin hal yang sama ke cewek — peluk dari belakang, cium leher tanpa izin, ninggalin bau parfum di baju cewek — besok pagi langsung trending wajahnya dimedsos, langsung di-cancel, langsung laporan polisi, langsung dibilang predator.
Tapi ini? Ceweknya malah dianggap “lucu”, “pintar balas dendam”, “queen of revenge”. Komentar-komentar di bawah tweet pada ketawa-ketawa.
Padahal ini non-consensual physical contact yang bersifat seksual. Dia nyentuh tubuh orang tanpa izin, dengan niat jelas buat rusak hubungan mereka.
Kenapa ini bahaya banget?
Karena ini nunjukin double standard yang udah kelewat batas.
Masyarakat masih nganggep pelecehan ke cowok = “gak apa-apa, cowok kuat kok”.
Padahal efeknya sama aja: trauma, kehilangan kepercayaan diri, ribut sama pacar, bahkan bisa berujung putus atau KDRT cuma gara-gara satu bekas lipstik yang bukan dari pacar sendiri.
Cewek ini lagi sakit hati karena putus? Oke, ngerti. Tapi sakit hati bukan alasan buat jadi “penghancur kebahagiaan orang lain”. Ini bukan revenge, ini toxic behavior level dewa.
Kalau dia beneran pengen move on, kenapa gak fokus healing diri sendiri? Malah bikin orang lain menderita bareng dia.
Di era sekarang, pelecehan seksual ke laki-laki sering dianggap “entertainment”.
Video kayak gini malah viral karena orang pada seneng liat cowok “kena karma”.
Padahal ini pelajaran buat kita semua — consent itu berlaku buat semua gender. Kalau lo gak mau disentuh tanpa izin, jangan lakuin ke orang lain.
Jadi next time lo liat video cewek “nakal” di klub yang lagi cium-cium punggung cowok random, jangan ketawa. Itu bukan lucu. Itu pelecehan seksual yang lagi diromantisasi.
Dan kalau suatu hari lo atau temen lo yang jadi korban… barulah lo sadar rasa nggak enaknya.
Bagaimana menurut kalian?
Drop pendapat kalian di reply!
Vive con Propósito.@PropositoyVida
Una chica se separó recientemente de su novio e hizo todo lo posible para destruir las relaciones de cada hombre que conoció en la discoteca
Indonesia
cham retweetledi

gak sengaja denger obrolan ibu ibu di angkutan umum, katanya semua harga harga pada naik jauh. ini pembicaraan normal sebenarnya, tpi analisa mereka yg menarik.
katanya ini efek MBG, masyarakat umum kena imbasnya karena semua lari kesana. mereka kenagian sisanya & harganya jadi naik, belum makanan yg banyak sisa.
katanya sehari habis 1T itu andai dialokasikan ke bpjs kesehatan biar gratis, atau buat gaji guru honorer. tukang cuci ompreng digaji 1,2jt sementara guru honorer cman 600rb. padahal sudah banyak yg bersuara di tiktok, tpi pda tutup telinga karena udah terlanjur.
di level akar rumput pun sudah mulai resah.
Indonesia
cham retweetledi

Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.

Indonesia
cham retweetledi
cham retweetledi

Terlepas dari gaji cewenya besar atau engga, gue mau menekankan sesuatu disini… cowo tuh kadang (or most of the time) suka lupa (atau simply ignorant aja) kalo manusia yg mau dijadikan pasangan hidupnya itu bukan “entitas kosong”.
Ada kultur, pendidikan, pengalaman, keluarga, lingkungan sosial, dll yg ngebentuk si cewe shg lu bisa ketemu dia dan memutuskan utk menikahi dia skrg.
Lu gabisa meremehkan itu. It takes her lifetime supaya dia bisa jadi versinya skrg.
Consider it as a reminder to you. Good luck.
Tanyarl 💚@tanyakanrl
💚 udah 2 thn pacaran & ad kepikiran nikah. ak wiraswasta & ceweku swasta. kl nikah, rencanany cewe resign & pindah ke kupang ikut aku. tp syarat dr dia hrs ngasi bulanan sm kek gaji dia (puluhan juta). ak bkn org yg sering spending gede, jujur berat, mnrut kalian gmna?
Indonesia
cham retweetledi

Women: "We don't need men"
Military - 95% men
Firefighters - 97% men
Coal Miners - 95% men
Truck drivers - 90% men
Construction - 92% men
Oil rig workers - 96% men
Surgeons - 82% men
Engineers - 89% men
The world goes around because of men.
Thank you for pointing out sexism:
Teachers - 76% women
Nurses 88% women
Social workers - 83% women
Elder care 80%+ women
Child care 94% women
Food prep - 56% women
Admin/clerical - 72% women
Medical & health services managers - majority women
The entire unpaid labor economy that keeps society functioning - overwhelmingly women.
Since we're listing statistics, let's finish the set properly...
Prison population: Men - 96%
Sex offenders in prison: Men - 98.5%
Prosecutions for sexual offences: Men 98%
Domestic homicide perpetrators: Men – 90%
Overall violent crime: Men 85%+
So if we're going to argue that society runs because of men, we should also acknowledge the parts of society that fall apart because of them.
Wait, just not finished yet...
Childbirths - 0% men
Men exist because of women.
Military is needed because MEN start wars.
No one said Women don't need men.
They said we DON'T NEED misogyny.
There's a difference.
They show that women:
Were kept out of unions
Were banned from combat
Were barred from engineering schools
Were fired when pregnant
Were excluded from whole industries by law
You don't get points for dominating spaces you locked women out of.
Vïvïĕ♡@_MissVivie
what unpopular opinion would get you like this?
English
cham retweetledi

Jujur, aku kagum betul sama ini negara.
Ada rakyat mengkritisi program pemerintah dengan cara-cara baik dan memberikan saran baik, enggak didengar. Malah dicibir habis-habisan dalam setiap pidato presiden.
Giliran ada Ketua BEM salah satu Universitas di Indonesia mengkritisi dengan menyurati PBB dan menggalakkan istilah "Maling Berkedok Gizi" dalam panggung-panggung organisasi, eh malah mendapat teror sana sini sampai orang tuanya ketakutan.
Dan, yang bikin makin takjub, Istana malah merespon: makanya kalau kritik pakai etika.
Woi, itu rakyat lu kena terror karena kritis menyuarakan aspirasinya.
Malah ditanggepin begitu.
Jadi ya enggak heran kenapa orang kritis di negeri ini selalu diterror kepala babi, bangkai ayam, di lempar telur busuk, dan di lempar bom molotov, orang negaranya saja tidak bereaksi apa-apa terhadap pelaku terror pada mereka yang keras bersuara.
Katanya kritik sebagai vitamin, tapi nyatanya?
Indonesia
cham retweetledi
cham retweetledi

Ada anak kecil di kampung saya, Ngada, Flores, meninggal bunuh diri. Anaknya dikenal cerdas dan ramah di sekolah. Dia meninggal karena putus asa. Sebelum pergi, dia cuma minta satu ke mamanya.
'Mama, saya minta buku dan pena'
Mamanya ga bs kasi dua hal itu lantaran kondisi ekonomi memburuk.
Mungkin buat penguasa dan media massa, anak ini cuma satu angka di dalam statistik. Bahkan bs jadi mudah dilupakan.
Tapi buat saya, anak ini jadi bukti nyata bahwa kita semua gagal bukan karena pengaruh asing. Kebanyakan kita semua gagal karena kita ga mau berbenah. Kita tetap memilih pemimpin yg itu2 aja. Kita tetap mempertahankan institusi yg diisi oleh orang2 itu aja.
Kita sibuk mencari kesalahan org lain, tp kita ga pernah mau sama-sama berjuang sebagai anak bangsa.
Pak Presiden, bapak selalu bilang kalo Bapak adalah presiden semua orang. Saya gak minta Bapak jadi NABI.
Saya minta bapak tidak membiarkan sistem yg uda bobrok ini semakin bobrok.
Belum pernah sesakit hati ini nulis postingan di media sosial.


Indonesia
cham retweetledi

*me nyelipin masalah kesetaraan gender di dalam penjelasan materi sosiologi tentang mobilitas sosial*
Murid cowok: “pak berarti kalau ada kesetaraan gender gitu kita boleh nabok cewek dong”
Me: “dek, semisal gaada kesetaraan gender pun kamu tiba2 nabok sesama cowok tanpa sebab jelas ya salah itu namanya”
Murid cowok: “iya juga ya pak”
Me: “kenapa sih beberapa di antara kalian kalau ngomongin masalah kesetaraan gender selalu yang diperhatikan masalah berantem sama cewek, cewek harus ngerasain jadi kuli, atau boleh bales nabok cewek, kesetaraan gender itu fokusnya dimana cewek dan cowok punya kesempatan yang sama di berbagai bidang, di kesehatan, pendidikan, kesempatan kerja, pemilihan nasib dll, jangan selalu yang dibicarakan masalah anarkisnya. Ini kak kakak membicarakan mobilitas sosial, jadi maksud kakak supaya tanpa ada diskiriminasi gender, seorang perempuan seharusnya bisa bermobilitas sosial vertikal naik tanpa halangan yang ga perlu”
Indonesia

Hai, ayo dapetin 3 bulan Spotify Premium Standard cuma Rp 39.900 lewat link dariku. Buka sekarang.
open.spotify.com/referral/00398…

Indonesia
cham retweetledi

Memantau crita Aureli. Kalo kamu mengucapkan kalimat-kalimat ini ke anak di bawah umur korban kekerasan seksual, maka kamu bagian dari kekerasan itu sendiri.
“Anaknya juga mau kok.”
“Anaknya terlalu dewasa untuk umurnya.”
“Dia kelihatan genit dari kecil.”
“Posting fotonya kayak orang gede.”
“Dia kan nggak nolak.”
“Sama-sama menikmati.”
Dan masih banyak lagi contoh kalimat lain.
Kalimat-kalimat ini bukan sekadar pendapat. Ini adalah alat kekerasan.
Karena dengan mengucapkannya, kamu:
1. Menghapus fakta bahwa anak tidak pernah bisa memberi consent,
2. Mengalihkan tanggung jawab dari pelaku ke korban,
3. Menanamkan rasa malu dan rasa bersalah pada anak—yang seharusnya dilindungi, bukan diadili.
Dampaknya jauh lebih berat ketika kalimat-kalimat ini datang dari orang dewasa yang punya otoritas: orang tua, guru, tokoh agama, aparat, atau figur publik.
Di titik itu, kekerasan tidak lagi berhenti pada pelaku pertama.
Ia berlanjut lewat bahasa. Lewat pembenaran. Lewat “logika” yang terdengar masuk akal, tapi aslinya kejam.
Pedofilia, grooming, maupun statutory ra--pe tidak pernah soal pakaian anak.
Bukan soal sikap anak. Bukan soal apakah anak melawan atau diam.
Semua itu SELALU tentang orang dewasa yang menyalahgunakan kuasa.
Dan setiap kali seseorang memilih menyalahkan anak alih-alih mengecam pelaku, dia sedang berpihak pada kejahatan.
Indonesia
cham retweetledi
cham retweetledi
cham retweetledi
cham retweetledi














