

𝓐𝓻𝓶𝓪𝓷
49.3K posts

@armanke13
a blip in time in a pale blue dot called earth.



This is a mall in Virginia. Every day I am more radicalized, I’m a foreigner in my own country.

Apa pesan khatib di khotbah solat ied tadi?




Sebuah acara buka puasa bersama yang digelar Pemerintah Kabupaten Sidoarjo justru memicu polemik di ruang publik. Namun, alih-alih menuai apresiasi, kegiatan tersebut justru menuai kritik dari masyarakat. Dokumentasi yang beredar menunjukkan dekorasi acara yang terkesan mewah dengan tema Bollywood, lengkap dengan tata panggung megah serta busana yang mengikuti konsep tersebut. Sejumlah warga menilai konsep tersebut kurang sensitif terhadap kondisi di lapangan, di tengah berbagai persoalan yang masih dirasakan masyarakat. #pemkabsidoarjo #jawatimur #bollywood #bukberramadhan


If you recognise this logo, you’re a true original of the tech community.







Fakta terlarang pendidikan 🤐: pengaruh *lingkungan pertemanan* anak jauh lebih besar daripada pengaruh *guru*. Ini mudah sekali dibuktikan: 1. Kita punya kurikulum yang mengatur pengajaran guru harus diapakan. KTSP, K13, KM dll. 2. Kita tidak punya "kurikulum" yang mengatur lingkungan sekolah dan pertemanan anak harus diapakan, apa alat-alatnya, dll. Dengan kata lain, Kementerian Pendidikan bahkan tidak berusaha untuk menyelesaikan masalah ini secara ilmiah dan berskala. Ya iyalah efek lingkungan jadi sangat parah. Wong tidak pernah dicoba diselesaikan secara terlembagakan. Semua effort terfokus ke "kurikulum pelajaran". Guru terbaik BPK Penabur pun tidak akan berkutik jika disuruh mengajar sekumpulan geng motor dari SMAN yang di Kab. Bogor yang terjebak kriminalitas, membenci pelajaran, dan membenci guru. Alasannya sederhana: karena ilmu menangani anak-anak semacam itu memang jauh lebih sedikit daripada ilmu pedagogi, kurikulum, dll. Ketika si guru teladan BPK Penabur membuka-buka jurnal ilmiah untuk mencari "bagaimana menangani anak geng motor dari keluarga berantakan supaya mereka masuk ITB", jawabannya sangat tidak jelas. Apalagi mengingat separuh jurnal psikologi gagal direplikasi. Ini baru kriminalitas remaja, yang mudah diidentifikasi. Momok yang lebih mengerikan lagi: budaya mencontek. Ini sangat meluas dan seakan tidak ada obatnya. Padahal efeknya sangat destruktif terhadap penguasaan materi anak. Paling mengerikan: anak tidak mau berpikir karena otaknya sudah dilatih untuk membuka Tiktok 8 jam. Ini masalah lebih besar lagi daripada 2 masalah di atas. --- Pada dasarnya, faktor utama yang menentukan seorang anak akan sukses atau tidak adalah "anaknya ingin belajar". Kalau anaknya ingin belajar, sejelek apapun gurunya, ia bisa berusaha sendiri. Kalau anaknya tidak mau belajar? Kalau anaknya dan orang tua anaknya benci belajar dan menganggap mata pelajarannya tidak berguna? Kalau lingkungan pertemanan menganggap anak rajin adalah menyebalkan, low status, dan patut dibully, dikucilkan, dipukul dll? Gurunya harus ngapain? Kemudian gurunya bertanya ke tim ahli Kementerian Pendidikan, "kalau menurut penelitian, saya harus ngapain?" Tim ahli lalu membalas, "gw juga ga tau." --- Beberapa orang tua akan berpikir: "Kalau begitu, anak saya harus dikeraskan. Kirim ke pesantren di gunung atau sekolah militeristik. Kalau macam-macam, pukul saja." Kapan harus dipukul? Apa efek-efek spesifik yang ingin ditimbulkan? Siapa yang boleh atau harus menonton pemukulannya? Jelas sekali bahwa academic rigor di sektor sini sangat jelek bahkan sama sekali tidak ada. Semua bergantung pada vibe, pengalaman pribadi guru, dan tradisi turun temurun cara pengajaran sekolah yang dipercaya efektif oleh guru, terlepas dari bukti akademisnya. Hasilnya seringkali malah membuat anak trauma, memberontak, berbohong, dll. Sedikit sekali yang mau riset tentang hal ini, sedikit sekali yang mau mendanai risetnya. Bandingkan dengan segala riset dan pendanaan tentang kurikulum. Karena dibiarkan liar, akhirnya kualitas lingkungan pertemanan pun jauh lebih berpengaruh daripada kualitas guru. BPK Penabur terpaksa membangun tembok beton di sekeliling sekolah untuk mencegah infeksi dari luar masuk, sehingga kerajinan dan ambisi anak-anak di dalam BPK Penabur terus terjaga.