pita smoga ga kapok jajan

354 posts

pita smoga ga kapok jajan banner
pita smoga ga kapok jajan

pita smoga ga kapok jajan

@blubecityx

Indonesia Katılım Ekim 2020
401 Takip Edilen279 Takipçiler
aljiyue
aljiyue@roslinealy·
Setelah beberapa tahun sejak pandemi COVID-19, adakah yang masih menjalani kuliah daring, menurut kalian gimana sih pengalaman belajar daring saat ini?
Indonesia
148
21
9
1.6K
-forsie-
-forsie-@gweachi·
@blubecityx alooo bisaa kak famplan 1b 10k, bisaa pay setelah invitee lohh
Indonesia
1
0
0
17
ChatGPT Pro
ChatGPT Pro@chatgptprousa·
Gen Z sekarang udah kagak investasi di crypto
Indonesia
265
132
3.1K
457K
Direktorat Jenderal Cipta Karya
Direktorat Jenderal Cipta Karya@pu_ciptakarya·
Air minum memiliki banyak manfaat bagi tubuh, tetapi masih banyak anggapan yang salah tentang air minum di sekitar kita.
Direktorat Jenderal Cipta Karya tweet mediaDirektorat Jenderal Cipta Karya tweet mediaDirektorat Jenderal Cipta Karya tweet media
Indonesia
4
0
2
1.1K
pita smoga ga kapok jajan retweetledi
sheila bcn UI
sheila bcn UI@enamolr·
Dulu aku rangking paralel 1 SMA dan aku ga lolos SNBP 2024. Jadi kalian jangan sedih berlarut-larut ini sudah aku buktikan cara aku tembus SNBT setelah "ketolak SNBP". Dan Akhirnya aku bisa tembus UI dan dapetin skor 750+ dlm 3 minggu ! Bismillah jangan lupa berbagi dengan rt!
sheila bcn UI tweet media
Indonesia
6
623
1.1K
86.2K
pita smoga ga kapok jajan retweetledi
ami ✵
ami ✵@petikanrasa·
indonesian gay circle is so ass. wdym when their friends who are also gay cheat with another guy, they’ll cover it up for him (non-open relationship)? this is why we’ll never progress
English
3
11
48
1.3K
pita smoga ga kapok jajan retweetledi
Samsung Indonesia
Samsung Indonesia@samsungID·
Mission is on. Tidak ada ruang untuk ragu. Syifa Hadju harus bertahan di situasi yang gak pernah dia bayangkan sebelumnya. Setiap detik penting. Setiap keputusan menentukan. Coming soon. Saksikan bagaimana #GalaxyS26 Series jadi partnernya untuk survive. Menurut kamu, fitur apa yang paling bisa diandalkan? Tulis jawaban kamu di komentar, like, share dan tag temen kamu juga untuk ikutan ⏰ Promo terbaik dengan total bonus hingga Rp 7,5 Juta TINGGAL 4 HARI LAGI! Pre-order sekarang di Samsung Store atau samsung.com/id #S26vsZombie #YouandAICan #GalaxyAI
Indonesia
16.5K
7.5K
1.4K
84.4K
KabarIndonesia
KabarIndonesia@pancasila1708·
Mencerdaskan Anak Dimulai dari Piringnya Belakangan muncul narasi yang menggugat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan alasan anggaran pendidikan tidak seharusnya digunakan untuk makanan. Argumen ini sekilas terdengar logis, tetapi sebenarnya mengabaikan satu fakta dasar yang sangat sederhana: anak yang lapar sulit belajar. Pendidikan tidak hanya terjadi di papan tulis. Pendidikan juga dimulai dari kondisi fisik anak yang sehat dan cukup gizi. Berpuluh tahun riset global menunjukkan bahwa kekurangan gizi pada anak dapat menurunkan kemampuan kognitif, konsentrasi, dan daya serap belajar. Artinya, gizi bukan sekadar urusan dapur rumah tangga, tetapi fondasi bagi proses belajar di sekolah. Karena itu, memasukkan program pemenuhan gizi dalam kerangka pendidikan bukanlah penyimpangan, melainkan investasi langsung pada kualitas sumber daya manusia. Narasi yang mengatakan “makanan tidak otomatis melahirkan kecerdasan” memang benar, tetapi argumen itu juga setengah cerita. Tanpa gizi yang cukup, Sistem pendidikan sebaik apa pun akan sulit berjalan jika anak datang ke sekolah dalam keadaan tidak siap belajar. Guru terbaik sekalipun akan kesulitan mengajar murid yang datang ke kelas dengan perut kosong. Program makan di sekolah bukanlah hal baru atau aneh di dunia. Banyak negara maju justru menjadikannya bagian dari strategi pendidikan dan kesehatan anak. Jepang, Korea Selatan, Finlandia hingga Amerika Serikat memiliki program makan sekolah karena mereka memahami bahwa investasi pada gizi anak adalah investasi pada masa depan bangsa. Kritik yang menyebut program ini terlalu mahal juga perlu dilihat secara utuh. Biaya kekurangan gizi jauh lebih mahal bagi negara. Anak yang mengalami stunting atau kekurangan nutrisi berisiko memiliki produktivitas lebih rendah saat dewasa. Dalam jangka panjang, hal ini justru membebani ekonomi nasional. Dengan kata lain, MBG bukan sekadar memberi makan hari ini, tetapi mencegah kerugian ekonomi di masa depan. Usulan agar bantuan diberikan langsung kepada keluarga juga terdengar sederhana, tetapi pengalaman berbagai program bantuan menunjukkan bahwa distribusi uang tunai tidak selalu menjamin perbaikan gizi anak. Bantuan bisa saja digunakan untuk kebutuhan lain yang mendesak. Program makan di sekolah memastikan bahwa anak benar-benar menerima makanan bergizi setiap hari. Lebih jauh lagi, program seperti MBG juga menciptakan dampak ekonomi lokal. Pengadaan bahan makanan melibatkan petani, peternak, nelayan, dan usaha kecil di daerah serta menciptakan lapangan kerja baru. Artinya, program ini tidak hanya menyentuh anak sekolah, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat. Karena itu, memisahkan pendidikan dari gizi adalah cara pandang yang terlalu sempit. Pendidikan yang kuat tidak hanya dibangun di ruang kelas, tetapi juga melalui tubuh anak yang sehat, otak yang berkembang optimal, dan lingkungan belajar yang mendukung. Jika tujuan kita benar-benar ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, maka memastikan anak datang ke sekolah dengan perut kenyang dan gizi yang cukup bukanlah penyimpangan anggaran. Justru itu adalah fondasi dari pendidikan itu sendiri.
H a n s o l o@arifin34533

Dari Anggaran Pendidikan ke Piring Makan Belakangan ini muncul gugatan terhadap kebijakan Makan Bergizi Gratis yang diajukan oleh Koalisi Organisasi Sipil untuk Pendidikan ke Mahkamah Konstitusi. Langkah tersebut patut dihargai sebagai cara yang elegan dan konstitusional dalam menguji kebijakan negara. Dalam demokrasi, perbedaan pandangan terhadap kebijakan publik memang seharusnya diselesaikan melalui mekanisme hukum, bukan sekadar perdebatan tanpa arah. Salah satu kritik yang mengemuka adalah penggunaan anggaran pendidikan untuk membiayai program tersebut. Bagi sebagian kalangan, termasuk organisasi masyarakat sipil seperti Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, langkah ini dipandang berpotensi menyimpang dari tujuan utama anggaran pendidikan. Dana yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas guru, fasilitas belajar, dan mutu pendidikan nasional justru beralih ke program yang secara langsung lebih berkaitan dengan konsumsi. Program makan bergizi tentu memiliki niat yang baik. Tidak ada yang menolak pentingnya gizi bagi anak-anak. Namun persoalannya terletak pada desain kebijakan. Hubungan antara makanan gratis dan peningkatan kualitas pendidikan nasional tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Pendidikan yang berkualitas lahir dari sistem yang kuat, guru yang kompeten, fasilitas yang memadai, dan lingkungan belajar yang sehat. Tanpa itu semua, makanan di piring belum tentu mampu melahirkan kecerdasan di ruang kelas. Selain itu, program berskala nasional seperti ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan fiskal negara. Ketika kondisi global tidak menentu dan konflik internasional berpotensi mendorong kenaikan harga energi, ruang anggaran negara bisa semakin tertekan. Program dengan biaya sangat besar tentu memerlukan perhitungan yang matang agar tidak membebani keuangan negara di masa depan. Alternatif kebijakan sebenarnya bisa dipertimbangkan. Bantuan gizi seharusnya lebih tepat jika difokuskan kepada keluarga yang benar-benar berada di bawah garis kemiskinan. Bantuan dapat diberikan dalam bentuk dana kepada keluarga agar ibu di rumah tetap berperan menyediakan makanan bergizi bagi anaknya. Konsumsinya bisa tetap diawasi melalui sekolah, sehingga tujuan menjaga gizi anak tercapai tanpa harus membangun sistem distribusi makanan nasional yang rumit dan mahal. Dengan pendekatan seperti itu, negara tidak hanya membantu anak-anak yang membutuhkan, tetapi juga tetap menjaga ruang fiskal untuk investasi yang lebih strategis. Dana pendidikan dapat difokuskan pada peningkatan kualitas sekolah, sementara anggaran negara dapat diarahkan pada penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi keluarga. Pada akhirnya, mencerdaskan kehidupan bangsa tidak cukup hanya dengan memastikan anak-anak mendapatkan makanan di sekolah. Pendidikan yang kuat lahir dari kebijakan yang tepat sasaran dan prioritas anggaran yang jelas. Jika anggaran pendidikan terlalu jauh bergeser dari ruang kelas menuju dapur, kita mungkin sedang menyelesaikan satu persoalan, tetapi tanpa sadar justru mengabaikan persoalan yang lebih besar. ylbhi.or.id/informasi/siar…

Indonesia
214
3
122
11.8K
Home Credit Indonesia
Home Credit Indonesia@homecreditid·
Bawa pulang iPhone 17, smart watch, TWS, sampai e-voucher cuman dari ikutan spin the wheel?   Bisa banget dong, belanja pakai Home Credit di 6–31 Maret 2026 kamu udah selangkah lebih deket bawa pulang semua itu dan bawa peluang berkahnya juga 😎   Yuk #BawaPulangBerkah sekarang!
Home Credit Indonesia tweet mediaHome Credit Indonesia tweet media
Indonesia
390
0
19
1.5K