🌼

5.9K posts

🌼 banner
🌼

🌼

@butterscotcheu

Segalanya kerandoman pikiran & hidupku 🎀

Katılım Ocak 2020
92 Takip Edilen85 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
🌼
🌼@butterscotcheu·
Gotta pinned this tweet : Jalan mendatar mudah, nyaman, dan ringan Jalan menanjak, memang berat, tp mengantarkan ke puncak2 baru 🥹🫶🏻
Indonesia
0
0
0
1.2K
🌼
🌼@butterscotcheu·
@tanyarlfes Ohh ini mah reply 1 kata pake “bacot” aja nder soanya bacot bgt sih itu
Indonesia
0
0
0
177
Tanyarlfes
Tanyarlfes@tanyarlfes·
💚 mutual sender upload begini... sender unfoll dia aja kali yah...
Tanyarlfes tweet media
Indonesia
729
187
4K
325.1K
🌼
🌼@butterscotcheu·
@ARSIPAJA Ga pantes bgt pejabat pada ketawa, gaada empatinya lo semua
Indonesia
0
0
0
162
🌼
🌼@butterscotcheu·
@theultramilkkk Ditanya paling pantas bukan jawabannyag gampang, to at least dari debat sih keliatan mana yang paling halu
Indonesia
0
0
0
4
Schaa
Schaa@theultramilkkk·
menurut kalian orang indonesia yang paling pantas jadi presiden siapa?
Indonesia
1.1K
50
1.6K
268.2K
🌼
🌼@butterscotcheu·
@tempodotco Buset, ngaca dulu lah siapa yg paling ptantang ptenteng sama sipil
Indonesia
0
0
0
283
tempo.co
tempo.co@tempodotco·
Terdakwa Kasus Air Keras Nilai Andrie Yunus Overacting: “Saya merasa kesal melihat video tersebut. Andrie Yunus ini bersifat arogansi, overacting, dan tidak punya rasa sopan santun."
tempo.co tweet mediatempo.co tweet media
Indonesia
995
2.9K
12.5K
757.6K
🌼 retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Tolong kami 🚨🚨🚨 Tidak ada dalam amar putusan hakim kemarin yang menetapkan agar Ibam segera ditahan di dalam rumah tahanan negara. Namun JPU Roy Riady pagi ini menyatakan akan segera eksekusi penahanan Ibam ke rutan. Ini zalim sezalim-zalimnya. Tolong, kenapa begini negara ini. 😭
Ibrahim Arief tweet media
Indonesia
60
994
1.9K
103.2K
🌼
🌼@butterscotcheu·
@byu_id cek dm
Türkçe
0
0
0
12
🌼 retweetledi
Avelino Guido
Avelino Guido@AvelinoGuido28·
"Ya wajar lah, avtur mahal, Indonesia kan kepulauan, operasionalnya susah." Ini narasi yang selalu didengungkan. Dan gw paham kenapa banyak yang percaya, karena kedengarannya masuk akal. Tapi gw minta lo perhatiin dua hal yang tidak bisa dibantah siapapun. Pertama, soal relawan Kemenkes yang tadi gw ceritain. Kalau masalahnya murni avtur dan geografi, kenapa terbang lewat Malaysia justru lebih murah? Pesawat Jakarta-Kuala Lumpur juga pakai avtur yang sama. Pilotnya juga manusia biasa. Pesawatnya juga Boeing atau Airbus yang sama. Bedanya cuma satu: Rute internasional tidak dikenakan PPN 11%, tidak dikekang tarif batas bawah, dan dilayani maskapai yang bersaing ketat satu sama lain. Kedua, coba lo iseng buka aplikasi tiket pesawat sekarang. Cari rute domestik, Jakarta ke Bali misalnya, lalu bandingkan harga Lion Air, Garuda, Batik Air, Citilink. Lo akan menemukan sesuatu yang aneh: Harganya mirip-mirip semua. Tidak ada yang berani jual jauh lebih murah dari yang lain. Sekarang coba cari Jakarta ke Singapura. Lo akan menemukan variasi yang jauh lebih besar, ada yang murah banget kalau lo booking jauh-jauh hari, ada promo, ada perang harga antar maskapai. Riset LPEM FEB UI 2019 mengkonfirmasi ini dengan data: Variasi harga tiket domestik empat kali lebih kecil dibanding tiket internasional. Itu bukan karena Indonesia kepulauan. Itu karena di rute domestik tidak ada kompetisi, jadi tidak ada yang perlu banting harga untuk rebut penumpang. Avtur mahal itu benar. Geografi kepulauan itu fakta. Tapi itu bukan alasan kenapa harga tiket domestik nyaris seragam antar maskapai. Itu dua hal yang berbeda, dan selama ini sengaja dicampur aduk supaya lo nggak nanya lebih jauh.
Indonesia
5
299
1.4K
129.2K
🌼
🌼@butterscotcheu·
@ARSIPAJA Sempurnanya akuhhhh
Indonesia
0
0
0
3
🌼
🌼@butterscotcheu·
Malem2 gini galauin conni helena magic hands banget yaTuhan ada ga ya rejekinya gue dimakeupin doi???
Indonesia
0
0
0
15
🌼
🌼@butterscotcheu·
@DivHumas_Polri Koruptor sama kriminalitas masih banyak, sibuk bgt sama sppg -_-
Indonesia
0
0
0
63
Humas Polri
Humas Polri@DivHumas_Polri·
SPPG Polri hadir sebagai langkah nyata dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis sekaligus memperkuat kualitas hidup masyarakat. Hingga saat ini, program ini telah menjangkau lebih dari 1,5 juta penerima manfaat dan membuka ribuan lapangan kerja di berbagai daerah. Ke depan, Polri menargetkan penguatan melalui 1.500 SPPG yang akan menjangkau lebih luas masyarakat Indonesia. SPPG bukan sekadar program gizi, tetapi bagian dari upaya membangun generasi sehat dan produktif. Bersama, kita wujudkan masa depan yang lebih kuat melalui pemenuhan gizi yang merata. Polri Terus Berkomitmen #MenjagaKetahananPangan serta mendukung Program Gizi Untuk Indonesia
Humas Polri tweet media
Indonesia
1.8K
269
602
566.7K
🌼
🌼@butterscotcheu·
@thelittleRenjun Halo ka, bisa dm aku ga ya? Aku gabisa dm kamu kyknya settingan kamu restricted untuk terima dm
Indonesia
1
0
0
61
🌼
🌼@butterscotcheu·
Kembali membuka lapak tiket karena salah tanggal WTS tiket planetarium cikini 3 mei 2026 ada 2 tiket sesi 4 (18.30-19.15) Take all only yaahh bayar langsung oper barcode
🌼 tweet media
Indonesia
2
0
0
466
🌼
🌼@butterscotcheu·
@vita_AVP Hhh beginilah kalo punya presiden penjah*t HAM guys, kebawah2 1 partai jadinya mindsetnya nyepelein nyawa mulu
Indonesia
0
0
1
44
(bukan) Nini Tulalit
(bukan) Nini Tulalit@vita_AVP·
Nambah satu lagi pejabat tolol. Semoga anakmu keracunan MBG🙄
Indonesia
711
2.7K
5.2K
95.1K
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
420
20.8K
51.7K
1.4M
🌼 retweetledi
TXT DARI JAKARTA
TXT DARI JAKARTA@txtdrjkt·
sengaruh itu politik sama kehidupan, liatlah kopi tuku kita jadi 25rebu skrng
Indonesia
195
3.2K
11K
315.2K
🌼
🌼@butterscotcheu·
Spread the news, protect & support indonesian tech genius.
Ibrahim Arief@ibamarief

Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi. Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas". Saya tolak, ngga mau bohong & zalim. Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka. Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua. Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan. Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan: Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong. Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran. Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak. Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.” Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran. Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar. Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia. Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe. Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif. Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah. Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan. Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir. Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan. Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan... Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan. Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini. Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini. Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara. Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.

English
0
0
0
52