Sabitlenmiş Tweet

Molo Mama: Menggugat Sensitivitas Elit Negara
Mohamamad Rozi
Membaca berita seharian ini tentang anak SD di Nusa Tenggara Timur, hati ini rasanya runtuh. Seperti sudah tidak ada kata-kata lagi yang bisa diuar untuk mempercakapkan apa yang terjadi, bagaimana bisa dan mengapa terjadi, siapa yang salah dan siapa yang tak salah. Ada apa dengan negeri ini?
Jangan Sepelekan Satu Nyawa
Peristiwa yang menimpa keluarga miskin di NTT bukan soal satu nyawa. Pun, jangan pernah menyepelekan hilangnya satu nyawa seorang anak kecil. Kita hanya beruntung tidak sedang dalam posisi orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya.
Peristiwa ini seharusnya bukan hanya duka keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga kita. Duka kita. Duka kita sesama anak bangsa Indonesia yang belum pernah berhasil mewujudkan janji kemerdekaan, yaitu keadilan dan kesejahteraan.
Seharusnya di umurnya yang sepuluh tahun, anak ini bisa bersuka ria menikmati masa-masa emas untuk bermain dan belajar. Mengenali dunia kecil di kampungnya yang penuh warna dengan keingintahuan besar. Bersama kawan-kawannya. Sembari berharap kelak ketika tumbuh besar, mereka menyadari betapa luasnya dunia di luar kampung halaman, yang juga menjanjikan kehidupan yang lebih kaya warna dan penuh tantangan.
Namun ini hanya kesemestian maya baginya. Di alam nyata, ia hanya melihat kesempitan yang dialami oleh diri dan keluarganya. Mungkin tidak terlihat olehnya jika di luar kesempitan masih ada harapan. Maka ia memilih “jalan pulang” yang tak diiinginkan oleh siapapun.
Nurani kemanusiaan tidak menginginkan anak yang terlahir di dunia ini meninggal dengan sia-sia. Apatah itu orang tua, kakek-nenek, juga sanak kerabat, juga tetangga. Mereka punya harapan atas setiap potensi yang akan dibawa oleh pribadi yang hadir di tengah kehidupan mereka. Sekalipun itu kanak-kanak, yang justru kerap kali menghadirkan kehidupan penuh makna.
Menggugat Sensivitas Elit
Peristiwa Flores ini
mengingatkan saya pada kalimat Sayyidina Umar bin Khattab. Salah satu pemimpin terhebat umat ini pernah mengatakan: “Kalau saja ada seekor domba mati sia-sia di tepi sungai Eufrat, aku takut Allah akan menuntut pertanggungjawaban dariku di hari kiamat."
Begitu besar tanggung seorang pemimpin, terlebih ketika disebut pemimpin sebuah entitas bernama negara.
Peristiwa “Molo Mama” terjadi hampir berbarengan dengan beredarnya video pidato Presiden Prabowo yang sedang membanggakan keberhasilan MBG. Di atas podium, jumlah ribuan orang korban keracunan berhenti jadi angka-angka. Seakan-akan nyawa-nyawa yang terancam terenggut dari tubuhnya itu bisa ditukar dengan mudahnya.
Hingga detik tulisan ini dibuat, saya belum mendengar reaksi presiden. Glorifikasi keberhasilan (semu) MBG seperti menutupi berita ini sampai ke gendang telinganya.
Memang ada beberapa bawahan presiden yang bereaksi. Tapi reaksi yang diberikan justru menampakkan betapa sensitivitas mereka begitu rendah. Mensos lebih sibuk menyoal data. Sementara cawapres gagal yang bergabung jadi menteri terkesan menyepelekan kasus ini. Jika begini, jangan lagi berharap munculnya empati pada keluarga korban.
Guberner NTT tampak lebih jujur dan mengaku malu peristiwa ini terjadi di daerahnya. Ia juga mengakui ini sebagai bagian dari kelalaiannya, juga jajaran bawahannya.
Satu nyawa terbilang, jangan lagi ada yang hilang, hanya karena kelalaian.
Birmingham, 05.02.26

Indonesia




























