Paladin Ansharullah

24.3K posts

Paladin Ansharullah banner
Paladin Ansharullah

Paladin Ansharullah

@el_paladin

Avid gamer, enthusiastic moviegoer, former English teacher, keeper of state secrets. All tweets are personal. Xbox GT: Kopassus; PSN ID: puskesmas

Jakarta Kidul Katılım Ocak 2010
1.5K Takip Edilen894 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Paladin Ansharullah
Paladin Ansharullah@el_paladin·
If there's one thing this region can learn from SE Asia is that conflict will never ever lead to prosperity, period. End the occupation, end the conflicts, live together in peace and only then will you achieve lasting prosperity. foreignpolicy.com/2024/01/30/the…
English
0
0
1
365
Paladin Ansharullah retweetledi
Iran Embassy SA
Iran Embassy SA@IraninSA·
The U.S. army successfully conducted an airborne exercise to land on Kharg Island.😎
English
160
1.1K
6.7K
163.2K
Paladin Ansharullah retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, KPK baru rilis sesuatu yang menurut gue harusnya jadi headline utama semua media hari ini. KPK menemukan 8 potensi korupsi dalam program MBG dengan anggaran yang naik dari Rp71 triliun di 2025 menjadi Rp171 triliun di 2026. Dan gue mau mulai dengan satu pertanyaan sederhana: Kalau KPK sudah tahu kenapa belum ada yang diusut? Delapan potensi korupsi yang KPK temukan: - regulasi pelaksanaan lemah. - mekanisme bantuan pemerintah -pendekatan terlalu terpusat pada BGN. - konflik kepentingan dalam penentuan mitra pelaksana. - transparansi lemah. - standar dapur belum terpenuhi. - pengawasan keamanan pangan minimal. - tidak ada indikator keberhasilan yang terukur. Dan sekarang gue mau fokus ke hal yang paling mengganggu: KPK punya tugas pokok berdasarkan UU Nomor 19 Tahun 2019 yang sangat jelas: menyelidiki, menyidik, menuntut, mengkoordinasi, mensupervisi, memantau, dan mencegah korupsi. Bukan hanya membuat daftar potensi korupsi lalu minta perbaikan dengan sopan. Kalau KPK sudah punya temuan 8 titik rawan korupsi dalam satu program dengan anggaran Rp171 triliun pertanyaannya bukan apa rekomendasinya? Pertanyaannya adalah: siapa yang sudah dipanggil untuk diperiksa? Karena kalau jawabannya tidak ada maka KPK tidak sedang menjalankan fungsi penindakan. KPK sedang menulis laporan tahunan. Yang paling bikin gue tidak habis pikir: Anggaran MBG naik 140% dalam satu tahun dari Rp71 triliun ke Rp171 triliun. Hampir dua setengah kali lipat. Dan di saat yang bersamaan KPK baru merilis laporan bahwa kerangka regulasi, tata kelola, dan mekanisme pengawasannya belum memadai. Artinya anggaran naik duluan. Sistemnya belum siap. Dan KPK tahu ini. Kalau ini terjadi di perusahaan swasta direksinya sudah dipanggil pemegang saham. Kalau ini terjadi di lembaga donor internasional auditnya sudah dimulai dari hari pertama. Tapi di sini yang keluar adalah tujuh rekomendasi yang akan dikirim ke BGN dan berharap mereka mau memperbaiki diri sendiri. Dan ini yang paling gilanya KPK punya wewenang untuk tidak hanya merekomendasikan tapi untuk menyelidiki. Punya wewenang untuk memanggil. Punya wewenang untuk menyita dokumen. Punya wewenang untuk menetapkan tersangka. Tapi yang keluar dari lembaga ini soal MBG sampai hari ini baru sebatas laporan tahunan dan tujuh rekomendasi tertulis. Sementara di survei publik 88% responden bilang manfaat MBG lebih banyak dinikmati pejabat dan pengelola dapur. Hanya 6,5% yang dirasakan anak-anak sebagai penerima yang seharusnya. Sementara puluhan kasus keracunan terjadi tanpa ada satu pun SPPG yang dicabut izinnya secara publik. Sementara Rp1,6 miliar habis untuk sikat dan semir sepatu dengan harga tiga kali lipat pasar. Dan KPK merekomendasikan agar sistem pelaporan keuangannya diperbaiki. Tugas KPK bukan hanya menulis laporan tentang potensi korupsi. Tugas KPK adalah menindak korupsi. Kalau 8 potensi korupsi sudah teridentifikasi dalam satu program dengan anggaran Rp171 triliun dan tidak ada satu pun langkah penindakan yang dimulai maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya tata kelola MBG. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah KPK masih punya nyali untuk menjalankan fungsinya?? atau hanya punya kemampuan untuk mendokumentasikan masalah yang tidak akan pernah diselesaikan. Karena rakyat Indonesia tidak butuh dokumen tentang korupsi yang mungkin terjadi. Rakyat butuh seseorang yang berani menindak korupsi yang sudah terjadi. kalo kpk aja gk berani ?? berharap kesiapa lagi kah kita rakyat ??
Lambe Saham tweet media
Indonesia
188
2.7K
4K
64.2K
Paladin Ansharullah retweetledi
A. Lukman
A. Lukman@Islam435·
The most hated religion on earth just happens to be the one that forbids everything they profit from. Coincidence? They don't hate Islam by accident. They hate it because Islam stands directly in the way of their most profitable industries. 1. The Global Banking System Islam forbids riba, interest-based lending. The entire modern financial system runs on debt, interest, and usury. Every mortgage, every loan, every credit card charges you for borrowing. Islam says no. That threatens a multi-trillion dollar system built on keeping people permanently in debt. 2. The Alcohol & Drug Industry Islam forbids every intoxicant without exception. No wine culture. No beer ads. No "just one drink." Over a billion Muslims are a market they can never fully own. The alcohol industry alone is worth over $1.5 trillion globally. Islam permanently locks that door. 3. The Gambling Industry Casinos. Sports betting. Lotteries. Slot machines. All forbidden in Islam. These industries are built entirely on addiction and false hope. Every faithful Muslim is money they will never see. 4. The Bikini & Immodesty Industry Bikinis. Lingerie. Half-naked billboards. Barely-there fashion sold to the world as freedom and liberation. Islam commands modesty for both men and women cover your body, guard your dignity. That single command threatens fashion empires, entertainment industries, and advertising systems worth hundreds of billions of dollars. 5. The Pork Industry One of the most consumed meats on earth completely forbidden for every Muslim. No compromise, no exception. The industry notices. The industry remembers. 6. Deception & Fraud Islam forbids cheating in trade, contracts, and every dealing between people. It demands honesty in business and fairness in the marketplace. That disrupts systems deliberately built on exploitation, hidden fees, and manufactured confusion. 7. Polytheism & Idol Worship Islam declares La ilaha illallah. there is no god but Allah. No saint to sell. No idol to market. No spiritual middleman charging for access to God. Pure monotheism collapses every religious industry built on intercession, image, and institutional control over your faith. Islam is not hated because it is violent. Islam is not hated because it is backward. Islam is hated because it is inconvenient to the powerful, to the profitable, and to those who benefit most from your ignorance of it. Sincerely.
English
92
307
768
22.8K
Paladin Ansharullah retweetledi
AJ+
AJ+@ajplus·
This game lets you travel back to a dreamlike reimagining of the Islamic Golden Age – where you solve puzzles inspired by the Muslim intellectuals who gave us algebra, chemistry and even robotics.
English
0
43
105
8.1K
Paladin Ansharullah retweetledi
Iran Embassy in Indonesia
Iran Embassy in Indonesia@IraninIndonesia·
Suara masyarakat Indonesia telah sampai masyarakat Iran. Rakyat Iran telah mendengar dan merasakan pesan tulus dari masyarakat Indonesia. Terima kasih atas doa, solidaritas, dan kepedulian Anda. Ini adalah jawaban kami: Kami bersama Indonesia 🙏🏼
Iran Embassy in Indonesia@IraninIndonesia

“Tuliskan satu kalimat untuk Iran, suara Anda akan didengar.” Iran dan Indonesia adalah dua bangsa dengan hati yang mencintai perdamaian, namun tetap teguh dalam membela tanah air dan kemerdekaan. “Tuliskan satu kalimat dari hati Anda untuk rakyat Iran…”

Indonesia
468
1.9K
6.4K
152.6K
Paladin Ansharullah retweetledi
A. Fatih Syuhud
A. Fatih Syuhud@fatihsyuhud·
@iraninyerevan if iran embassies keep trolling Trump in social media, it'll be time where trump will ask them for social media ceasefire. looking forward to it. it'll be 🔥🔥
English
11
66
900
24.6K
Paladin Ansharullah retweetledi
Sony Thăng
Sony Thăng@nxt888·
The most honest thing ever said about the American War was said by a Vietnamese colonel to an American colonel after the war ended. The American colonel, Harry Summers, told his Vietnamese counterpart: "You know, you never defeated us on the battlefield." The Vietnamese colonel, Nguyễn Đôn Tự, thought about it and replied: "That may be so. But it is also irrelevant." That exchange contains the entire war. The Americans won battles. They won firefights. They had superior firepower in almost every conventional engagement. By their own metrics, body counts, kill ratios, territory controlled, they were often "winning." And they lost the war. Because wars are not won by body counts. Wars are not won by kill ratios. Wars are not won by the number of bombs dropped or the cost of the weapons deployed or the technological sophistication of the killing machinery. Wars, especially wars of occupation, wars of colonial imposition, wars fought against people defending their own land, are won by will. And on the question of will, there was never a contest. The Vietnamese people had been resisting foreign occupation for two thousand years before America arrived. Fighting was not a policy position. It was a cultural inheritance. A collective understanding of who they were and what they would do when someone came to tell them how to live. America arrived with the most powerful military in human history and a firm belief that sufficient firepower could substitute for legitimacy. It cannot. It never could. It never will. Irrelevant. That one word, from a Vietnamese colonel to his American counterpart, is the entire lesson.
Sony Thăng tweet media
English
161
1.5K
4.8K
310.1K
Paladin Ansharullah retweetledi
Iran in Ghana
Iran in Ghana@IRAN_GHANA·
Read slowly. "We don't need the Strait." "Go open it yourselves." "Fine, we'll open it." "Actually, we're blockading it." "OK not blockading everyone." Five positions. Six weeks. Two of them today. And our armed forces just sat there, sipping tea, watching America negotiate with America over a strait Iran already blockades. Empires used to fall in centuries. This one can't hold a policy for an afternoon.
Accra, Ghana 🇬🇭 English
178
3.5K
15.8K
370.1K
Paladin Ansharullah retweetledi
Sony Thăng
Sony Thăng@nxt888·
You will notice that American politicians who authorize wars never send their children to fight them. This has been documented. It is not a conspiracy theory. It is a sociological pattern so consistent it functions as a law. The people who voted for the Iraq War, where are their children? The architects of Vietnam, where were their sons? The senators and congresspeople who annually vote to fund military operations across six or seven countries simultaneously, what is the military service record of their immediate families? This information is public. The pattern is not subtle. And yet the citizens who do send their children, the ones whose sons and daughters come back in pieces, or don't come back, or come back and can't sleep, continue to describe the war makers as patriots. The most successful trick the American ruling class ever pulled was convincing working-class people that the interests of defense contractors are the same as the interests of their families. It is not a trick with a complicated mechanism. It just requires that nobody say it plainly. So I'm saying it plainly.
English
56
646
1.6K
15.7K
Paladin Ansharullah retweetledi
Saniya Sayed
Saniya Sayed@Ssaniya_·
It feels like a quick recap of 2,000 years of history crammed into a few weeks: - The Pope and the King are squabbling - Persia is fighting its existential war - (New) Rome has a mad king - There’s a naval blockade - There’s bloodshed around Jerusalem - The Ottomans are flexing - Small Arab states are squabbling with each other - Hungary has just overthrown its ruler
English
110
2.3K
11.7K
408.5K
Paladin Ansharullah retweetledi
Sony Thăng
Sony Thăng@nxt888·
Lethal Weapon took the Phoenix Program, a systematic torture and assassination operation that killed up to 40,000 civilians, and turned it into a character asset. Martin Riggs: damaged, dangerous, lovable. His covert Vietnam background is not a source of moral horror in that film. It is the explanation for why he is so excitingly lethal. It is cool. It is the reason he can kill twenty men in a parking garage and the audience cheers. Hollywood did not ignore the Phoenix Program. It did something worse. It absorbed it. Aestheticized it. Turned state-sanctioned torture infrastructure into protagonist backstory. Turned the men trained by that program into the heroes of a generation of action cinema. Rambo. Riggs. Braddock. Every brooding, hyper-competent special ops veteran who anchors an 80s or 90s action franchise. They are all downstream of Phoenix. Not as a critique. As a recruitment poster. The message Hollywood sent to an entire generation was not: these programs produced atrocities and the men who ran them should be in prison. The message was: these programs produced exceptional men, and their capacity for violence is, in the right hands, a gift. William Colby ran Phoenix and became CIA Director. Hollywood ran Phoenix through a screenplay and made $120 million dollars. Neither of them ever answered for what the program actually was. One institutionalized it. The other made it aspirational. And a generation of American boys grew up wanting to be Martin Riggs, with no idea what they were actually idolizing.
Sony Thăng tweet media
English
26
473
1.4K
46.6K
Paladin Ansharullah retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Mahfud MD baru keluarkan kritik yang menurut gue salah satu yang paling tajam dan paling berbobot sejak pemerintahan Prabowo berjalan. Bukan karena Mahfud asal ngomong. Tapi karena dia menggunakan buku Prabowo sendiri sebagai standar penilaiannya. Senjata yang dipakai Mahfud: buku Paradoks Indonesia: Sebelum menjabat Prabowo menulis buku Paradoks Indonesia yang bahkan dibagikan ke setiap anggota kabinet. Di dalamnya Prabowo menekankan tiga hal: strategi yang benar, manajemen pemerintahan yang baik, dan pemerintahan yang bersih. Mahfud menggunakan standar yang Prabowo buat sendiri itu untuk menilai implementasinya sekarang. "Itu standar yang beliau buat sendiri. Namun sekarang, demokrasi kita melemah. DPR hampir tidak pernah lagi mempersoalkan kebijakan Presiden secara kritis." Tiga poin kritik utama Mahfud: Satu melemahnya checks and balances. DPR yang seharusnya jadi penyeimbang kekuasaan hampir tidak pernah mengkritisi kebijakan presiden secara substantif. Koalisi yang terlalu besar membuat fungsi pengawasan parlemen praktis tidak berjalan. Dua autocratic legalism. Mahfud menyoroti fenomena di mana hukum dibentuk hanya untuk melegitimasi kehendak penguasa tanpa partisipasi publik yang bermakna. Hukum dipakai sebagai alat bukan sebagai pagar. Tiga penegakan hukum yang tebang pilih. Ini bukan tuduhan baru tapi Mahfud menegaskannya dengan konteks yang lebih besar soal arah demokrasi Indonesia. Soal desakan mundur yang mulai bermunculan: Mahfud juga merespons soal sejumlah tokoh yang menyuarakan desakan agar Prabowo mundur. Posisinya jelas: itu bukan makar. Itu bagian dari mekanisme demokrasi yang sehat. "Kritik yang muncul bukanlah upaya menggulingkan pemerintah. Ini adalah bagian dari demokrasi." Dan ini penting karena ada kecenderungan untuk melabeli kritik keras sebagai destabilisasi atau makar. Mahfud secara eksplisit membantah framing itu. Yang membuat kritik Mahfud berbeda: Mahfud bukan oposisi ideologis yang dari awal menentang Prabowo. Dia mantan Menko Polhukam yang punya akses langsung ke dalam sistem. Dan dia tidak menyerang dari luar dia menggunakan dokumen yang Prabowo buat sendiri, yang bahkan disebarkan ke seluruh kabinet, sebagai tolok ukurnya. Ini bukan serangan personal. Ini audit berbasis janji tertulis. "Objektivitas seorang pemimpin bisa dinilai dengan membandingkan janji tulis dan implementasi di lapangan."
Lambe Saham tweet media
Indonesia
192
6.5K
17.1K
614.2K
Paladin Ansharullah retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Prabowo baru ngomong sesuatu di depan para menterinya yang langsung ramai dibicarakan. Untuk anak-anak muda, masa depan kita cerah. Yang bilang tidak cerah, yang bilang Indonesia gelap mungkin matanya yang kurang bagus. Matanya dan hatinya. Gue mau bedah ini dengan kepala dingin. kalimat soal mata kurang bagusitu perlu dikritisi: Saat ini LPG kita 75% impor. IHSG baru saja keluar dari koreksi dalam. Defisit APBN membengkak. Kapal-kapal terjebak di Selat Hormuz. Motor listrik BGN dibeli tanpa laporan ke DPR. Orang yang menyebut Indonesia gelap bukan karena mata atau hati mereka bermasalah. Mereka menyebut itu karena data. Dan membalas kritik berbasis data dengan serangan terhadap kualitas mata dan hati pengkritiknya itu bukan respons yang layak dari seorang pemimpin. Ironinya: Prabowo sendiri yang pernah menulis buku Paradoks Indonesia yang isinya adalah kritik keras terhadap kondisi bangsa. Dia yang pernah bilang 93% politisi Indonesia adalah pembohong. Dia yang pernah bilang negara ini dijalankan oleh kleptokrasi. Sekarang ketika orang lain mengkritik dengan semangat yang sama mereka disebut matanya buram dan hatinya tidak tulus? Yang gue harap: Visi energi yang Prabowo sampaikan hari ini penutupan PLTD, 100 GW terbarukan, bebas impor BBM dalam 2-3 tahun itu ambisius dan layak didukung. Tapi visi sebesar itu butuh kritik yang tajam untuk bisa terealisasi. Bukan tepuk tangan yang membuat pemimpin merasa semua sudah berjalan baik. Indonesia sedang bangkit kita semua mau percaya itu. Tapi kepercayaan itu harus dibangun dari transparansi dan akuntabilitas bukan dari menyalahkan penglihatan orang yang bertanya.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
18
23
89
12.1K
Paladin Ansharullah retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada debat panas di Satu Meja yang menurut gue salah satu yang paling substantif dalam beberapa bulan terakhir. Feri Amsari pakar hukum tata negara vs beberapa narasumber lain soal tiga pertanyaan besar: boleh tidak kritik pemerintah, apa itu makar, dan gimana sebenarnya gaya komunikasi Prabowo yang bermasalah. Gue bedah satu per satu. Masalah pertama publik diminta ngerti gaya dialektika presiden" Feri langsung protes keras dari awal. Yang janggal bagi saya adalah publik diminta mengerti gaya dialektika presiden. Sebaliknya presidenlah yang harus belajar mengerti apa yang dirasakan publik. Dan ini bukan sekadar soal gaya komunikasi. Ini soal arah kekuasaan. Dalam sistem presidensial yang sehat presiden adalah pelayan publik. Bukan sebaliknya. Ketika istana mulai minta rakyat menyesuaikan diri dengan cara presiden bicara ada sesuatu yang terbalik di sana. Masalah kedua kebijakan dadakan yang tidak ada di mana-mana: Feri menyebut ini dengan sangat spesifik. Banyak kebijakan Prabowo yang muncul tiba-tiba tidak ada di visi misi, tidak ada di RPJMN, tidak ada di rancangan pembangunan nasional jangka manapun. Gentengisasi, berbagai kebijakan dadakan tidak ada di BAP, tidak ada di rancangan konsep nasional. Ini yang harus ditahan. Dan ini menurut Feri bukan semata kesalahan Prabowo tapi juga kesalahan lingkaran istana. Layer pertama tidak mampu menyampaikan isu secara benar. Layer ketiga yang pintar-pintar justru yang paling bermasalah pengaruhnya. Akibatnya terseretlah presiden dengan data yang salah, cara bicara yang tidak benar, dan sikap yang bermasalah. Masalah ketiga tuduhan makar yang menurut Feri salah kaprah: Ini yang paling panas. Ketika aktivis berkumpul di Hutan Kayu dan berbicara keras soal kondisi demokrasi ada yang menafsirkan itu sebagai makar. Feri membantah dengan sangat teknis. Pasal 193 UU No. 1 Tahun 2023 makar adalah tindakan menggulingkan pemerintah yang sah secara nyata. Bukan sekadar ngomong. Bukan sekadar kritik. Harus ada tindakan konkret untuk meniadakan atau mengubah struktur pemerintahan. Apa hebatnya Profesor Saiful Mujani mengubah dan meniadakan pemerintah? Tindakan pemerintah yang merespons keberanian mengkritik dengan label makar itu yang justru bermasalah. Dan Feri menambahkan poin yang tajam: kalau tuduhan makar ini dianggap menakutkan presiden bagi saya presiden tidak punya jiwa militer yang kuat juga. Masalah keempat data yang tidak akurat di depan pengamat: Prof. Ikrar yang pernah diundang dialog langsung dengan Prabowo membocorkan satu hal yang menarik. Prabowo menyebut ada penghematan ratusan triliun dari efisiensi anggaran. Tapi menurut Ikrar itu bukan hasil efisiensi. Itu adalah standing loan yang belum dipakai oleh negara. Uang yang memang belum digunakan bukan uang yang berhasil dihemat dari pemangkasan. Artinya narasi "efisiensi besar-besaran" yang selama ini dikomunikasikan ke publik perlu diverifikasi lebih jauh. Karena kalau angka dasarnya berbeda semua kesimpulan di atasnya juga berpotensi berbeda. Masalah kelima diksi "penertiban" dan penyiraman aktivis: Feri menyoroti satu hal yang menurut gue paling sensitif dari seluruh diskusi. Ketika ada penyiraman air keras terhadap aktivis Andri ada yang langsung menghubungkan ini dengan suasana politik yang memanas. Narasumber lain membela dengan mengatakan ini bukan hanya terjadi di era Prabowo era Megawati ada kasus Munir, era SBY ada penyerangan aktivis, era Jokowi ada penyiraman Novel Baswedan. Feri tidak membantah itu. Tapi dia menunjuk satu hal yang berbeda: Presiden yang memulai kalimat berbahaya yaitu 'menertibkan.' Kebetulan setelah kata menertibkan itu ada yang disiram." Apakah ada hubungan langsung? Tidak ada yang bisa membuktikan. Tapi diksi seorang presiden punya bobot yang berbeda dari diksi orang biasa. Dan ketika diksi itu muncul bersamaan dengan kejadian kekerasan terhadap pengkritik pertanyaannya tetap sah untuk diajukan. Dan ini yang menurut gue paling penting dari seluruh debat ini: Ada satu kalimat Feri yang gue rasa mewakili inti dari semua diskusi ini: "Kami bukan orang-orang yang kalah dalam pemilu. Kami adalah orang yang memiliki nasionalisme dan ingin berpartisipasi. Kami mengingatkan." Kritik bukan musuh pemerintahan. Kritik adalah mekanisme yang membuat pemerintahan tetap akuntabel. Dan ketika kritik mulai diperlakukan sebagai ancaman bukan sebagai masukan di situlah alarm demokrasi seharusnya berbunyi.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
46
649
1.9K
111.4K
Paladin Ansharullah retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, gua punya tante sebut aja Tante Anita yang nikah di umur 32 tahun dan sampai sekarang masih jadi bahan obrolan di arisan keluarga. Bukan karena ada yang salah dengan hidupnya. Tapi justru karena tidak ada yang salah sama sekali dan itu yang bikin beberapa anggota keluarga tidak bisa berhenti kasih komentar yang tidak diminta. Waktu teman-teman seangkatannya sudah ramai kondangan dan upload foto hamil di Instagram, Tante Anita lagi solo trip keliling Lombok dan Labuan Bajo sendirian dengan carrier 40 liter dan itinerary yang dia susun sendiri. Waktu sepupu-sepupunya sibuk hunting furnitur rumah baru, dia lagi negosiasi salary untuk posisi yang dia impikan sejak awal karir. Waktu orang-orang sekitarnya mulai panik dengan usia dan tekanan sosial yang makin kencang, dia lagi menikmati weekend di warung kopi favoritnya di Bandung dengan buku dan es kopi susu tanpa harus izin atau laporan ke siapapun. Dan dia melakukan semua itu bukan karena tidak ada yang mau. Bukan karena tidak mampu lebih awal. Tapi karena dia sadar betul satu hal yang banyak orang baru menyadarinya setelah sudah terlanjur bahwa waktu untuk benar-benar menjadi diri sendiri itu punya batas dan tidak bisa diputar ulang. Gua pernah nanya langsung ke Tante Anita suatu malam waktu kami lagi ngobrol santai di teras rumah neneknya. Tante dulu tidak takut dibilang telat nikah? atau jadi perawan tua gitu ?? Dia senyum. Minum tehnya dulu. Baru jawab. Telat dari jadwal siapa coba hahahahah?? Dan gua diam cukup lama karena gua sendiri tidak bisa jawab. Jadwal itu dibuat oleh siapa sebenernya? Orang tua? Tetangga? Algoritma Instagram yang terus-terusan rekomendasikan konten wedding dan baby shower setiap kali gua buka aplikasi tengah malam? Tante Anita sekarang sudah menikah. Dengan seseorang yang dia bilang worth untuk mengubah seluruh ritme hidup yang sudah dia bangun pelan-pelan selama bertahun-tahun. Dan yang paling menarik adalah dia tidak menyesal sedikit pun menunggu selama itu. Justru sebaliknya. Dia bilang justru karena dia pernah hidup sepenuhnya sebagai individu yang mandiri dan utuh punya penghasilan sendiri, punya circle sendiri, punya goals dan rutinitas dan cara menikmati hidup yang benar-benar miliknya sendiri dia masuk ke pernikahan tanpa membawa kekosongan yang butuh diisi oleh orang lain. Dia tidak menikah karena takut kesepian. Tidak menikah karena tekanan keluarga yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Tidak menikah karena merasa waktunya hampir habis. Dia menikah karena dia ketemu seseorang yang hidupnya genuinely lebih baik kalau orang itu ada di dalamnya. Tapi Tante Anita juga sangat jujur soal satu hal yang jarang dibicarakan orang dengan terbuka. Setelah menikah semuanya berubah. Bukan buruk. Tapi berbeda secara fundamental. Mau pergi ke mana harus dikomunikasikan. Mau ambil keputusan besar harus dipertimbangkan berdua. Mau spontan harus mempertimbangkan kondisi dan perasaan orang lain yang haknya sama besarnya dengan hak kamu. Kebebasan yang dulu seratus persen miliknya sendiri sekarang punya dimensi baru yang namanya tanggung jawab bersama. Dan itu bukan keluhan. Itu kenyataan yang dia terima dengan sadar dan dengan siap karena dia masuk ke sana bukan dalam kondisi kosong yang butuh diisi tapi dalam kondisi penuh yang siap untuk dibagi. Tante Anita tidak menunda pernikahan karena takut atau karena tidak ada pilihan. Dia menunda karena dia tahu ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan dengan sepenuh hati waktu kamu masih sendiri. Dan waktu itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun begitu sudah berlalu. Jalan jauh sendirian keliling Indonesia. Kerja keras untuk sesuatu yang murni kamu mau tanpa harus mempertimbangkan impact-nya ke orang lain. Buat keputusan yang sepenuhnya milik kamu sendiri. Salah dan belajar dan jatuh atas nama diri sendiri saja tanpa ada yang ikut menanggung konsekuensinya. Bukan karena hidup berkeluarga tidak indah. Tapi karena ada fase dalam hidup yang kalau dilewatkan terburu-buru tidak bisa diganti dengan apapun setelahnya. Dan menikmati fase itu sepenuhnya sebelum melangkah ke fase berikutnya bukan sesuatu yang perlu dimintakan maaf kepada siapapun.
Kang Defor🇮🇩@dewafortunaa

to all perempuan cantik, please take note. main yang jauh dulu, kerja sampe capek dulu, nikmatin, temuin diri lo sendiri sampe akhirnya lo bakal temuin yg setara. stop mikir nikah kalau lagi cape, stop mikir berhenti kalau lagi berat bgt. semua harus dilewati sampai selesai.

Indonesia
51
1.4K
4.5K
263.7K
Paladin Ansharullah retweetledi
Cards of History
Cards of History@GodPlaysCards·
Ibn Battuta left home at 21 to complete a religious pilgrimage that should have taken sixteen months. He came back twenty-nine years later. Just look at the map, he is a man that truly lived an odyssey. I've gathered some highlights from his 117.000 kilometer journey. Here we go: 🔸Born February 24, 1304, in Tangier, Morocco, into a family of Islamic legal scholars and judges. His name, literally, means "son of a duckling." 🔸Trained as a qadi, a Muslim judge with authority over religious and civil matters. That credential would open doors on every continent he visited. He was smart enough to know it. 🔸Left home riding alone on a donkey. On the road to Mecca he developed a fever so severe he had to tie himself to his saddle to avoid collapsing. He kept going. That became the pattern. 🔸In Alexandria, early in the journey, a holy man named Sheikh Burhanuddin told him he would travel to India, Sind, and China, and meet specific scholars there by name. Ibn Battuta did exactly that. He recorded the prophecy without apparent amazement. 🔸Completed the hajj in 1326, then joined a caravan heading into Mesopotamia. He had discovered, somewhere along the North African coast, that he simply loved to travel. 🔸One caravan he joined functioned as a moving city. When it stopped, food was cooked in giant brass cauldrons for the poor. It had its own markets, luxury goods, and fresh fruit. At night they lit torches along the entire length of the column, turning the darkness into what he described as radiant day. 🔸What followed is almost impossible to compress. Persia. Iraq. Azerbaijan. Yemen. The Horn of Africa. Mogadishu. The coast of Kenya and Tanzania. The Crimea. Constantinople. Central Asia. India. The Maldives. Sri Lanka. Sumatra. China. Mali. He crossed the Sahara. He rode the Grand Canal. He visited Beijing, Hangzhou, and Guangzhou, and reportedly saw the Great Wall. 🔸117,000 kilometers in total. That surpassed Zheng He's 50,000 and Marco Polo's 24,000. He did it without a mission, a sponsor, or a navy. 🔸His method was elegant and entirely parasitic on a single fact: the Islamic world in 1325 stretched from Morocco to the Malay peninsula, and everywhere within it, a scholar who could speak Arabic and recite the law was guaranteed hospitality. 🔸Ibn Battuta exploited this with genius. He arrived in courts as a learned man, was appointed qadi, collected gifts, gathered a retinue, married locally, then left. 🔸He documented death rituals everywhere he went with the detachment of an anthropologist. In Turkey, forty days of mourning for a ruler's mother. In Iran, a funeral that resembled a wedding celebration. In some regions, slaves and concubines buried alive with the deceased. He recorded all of it and moved on. 🔸In Delhi, the Sultan appointed him grand qadi of the city. His employer was a ruler described as an extraordinary mixture of generosity and cruelty. Ibn Battuta watched friends executed regularly, feared for his own life daily, and eventually fell into disgrace. He wrote about the sultan with a psychologist's precision, terror and fascination running through every line. 🔸Then came the shipwreck that saved his life. Appointed as the sultan's ambassador to China, he loaded ships with hundreds of gifts including horses, slaves, and gold. He missed the departure to attend Friday prayers. The ships sank in a storm. Everything was gone. He was alive, stranded, and too afraid to return to Delhi to explain what had happened. He sailed to the Maldives instead. 🔸In the Maldives he served as qadi, married into the ruling family, got involved in local politics, and came close to making a play for the sultanate itself. He found the situation too dangerous and moved on. 🔸He survived bandits, shipwrecks, and a sultan's suspicion. On one occasion he was robbed and escaped with nothing but his trousers. He caught up to his caravan on foot and kept going. 🔸By the end, the Rihla records encounters with over 60 sultans and more than 2,000 prominent figures. He made himself welcome, or at least useful, in virtually every court he entered. 🔸He kept no journal. Everything he recorded, he carried in his head for decades. When he finally dictated the whole account, he reconstructed twenty-nine years of travel entirely from memory. 🔸Some scholars believe sections describing China were lifted from earlier authors. His account and Marco Polo's share suspiciously similar passages. He had no notes to prove otherwise. 🔸Near the end of his life, the Sultan of Morocco insisted he dictate the whole account to a scholar. The result was titled A Gift to Those Who Contemplate the Wonders of Cities and the Marvels of Travelling, now known simply as the Rihla. 🔸Then he was appointed a judge in Morocco and vanished from history. He died in 1368 or 1369. His work was unknown outside the Muslim world until the nineteenth century. 🔸His contribution to geography is considered as great as that of any geographer, yet for centuries he appeared in no textbook, Muslim or Western. To conclude: Ibn Battuta did not set out to be an explorer. He set out to fulfill an obligation and found he could not stop. What he produced, one man's firsthand account of the medieval Islamic world from Morocco to China, is a document with no equivalent in any other civilization of its era. Marco Polo had backers, a trade route, and a famous name. Ibn Battuta had a credential, a memory, and an inability to go home. As always, if you have a figure that should be honored and immortalized with a card, I'd love to hear your suggestions.
Cards of History tweet mediaCards of History tweet media
English
29
461
1.8K
286.6K
Paladin Ansharullah retweetledi
AJ+
AJ+@ajplus·
Imagine “Zelda” – but set in the Islamic Golden Age. “House of Hikmah” is a new puzzle-adventure game that takes you on a journey to a time when the Muslim world was the planet's intellectual capital. w/ @yelmjouie
English
5
186
697
30.8K
Paladin Ansharullah retweetledi
Masu Zafi 🔥🔥
Masu Zafi 🔥🔥@masuzafi·
Three weeks ago, Louise Lyngsholm Lave barely knew who Pete Hegseth was. Now, after co-creating their third music video for Bruce Kluger’s savage satire album “MAGA Country,” it would appear she knows way too much. And the scariest part? Real life is catching up to the absurdity faster than the video could predict. Welcome to Macho Pete territory. 🎥🔥
English
79
1.3K
3K
139.4K