emotiPont

134.8K posts

emotiPont banner
emotiPont

emotiPont

@emotiPont

food-enthusiast. streetfood lover.

almaskaramina.tumblr.com Katılım Ekim 2009
538 Takip Edilen940 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
emotiPont
emotiPont@emotiPont·
Sepertinya kali ini aku setuju dengan Soe Hok Gie. "Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda."
Mulyorejo, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
2
1
2
606
emotiPont retweetledi
Iman Zanatul Haeri
Iman Zanatul Haeri@zanatul_91·
Sorotan harian kompas ini, menunjukan situasi terjepitnya para guru, ditengah aturan yang makin ketat, anggaran makin dipersempit, sementara kebutuhan guru makin tinggi. Ironinya, yang terjepit ini adalah guru-guru harapan yang mengajar di daerah 3T. Tanpa mereka, pendidikan tidak terselenggara.
Iman Zanatul Haeri tweet media
Indonesia
34
2.2K
3.8K
38.5K
emotiPont retweetledi
txt keresahan WNI
txt keresahan WNI@KapudS640·
Akibat efisiensi 165 penjaga perlintasan kereta akan dirumahkan, masih mau bilang politik gak ngaruh ke kehidupan? ya gimana Presiden aja habis jenguk korban laka KRL besoknya udah nyuruh rakyatnya kabur ke Yaman cc:threads
txt keresahan WNI tweet media
Indonesia
133
8.2K
13.1K
186.6K
emotiPont retweetledi
Iman Zanatul Haeri
Iman Zanatul Haeri@zanatul_91·
TK Swasta dinasionalisasikan, jadi TK Negeri. Gurunya tidak bisa ngajar lagi, karena harus ASN. Gurunya sudah 25 tahun mengabdi, mencari sekolah swasta lain sulit, kalau mau mengajar di sekolah yang sama sudah tidak bisa, tidak ada jalan keluar. Udah selesai gitu aja karirnya. Sertifikasi hangus.
Iman Zanatul Haeri tweet media
Indonesia
65
859
1.6K
38.7K
#KelanaRasa
#KelanaRasa@arieparikesit·
Bahan makanan apa ini? Hint: berkuah
#KelanaRasa tweet media
Indonesia
10
0
2
13.4K
emotiPont retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, di tengah semua drama MBG yang bocor, BUMN yang merugi Rp50 triliun per tahun, dan rupiah yang kalah dari Zimbabwe hari ini ada satu angka baru yang bikin gue berhenti sebentar dan geleng-geleng kepala. Habis MBG terbitlah sekolah rakyat Rp700.000 per pasang sepatu. Untuk anak-anak termiskin di Indonesia. Kementerian Sosial mengalokasikan Rp27,5 miliar untuk pengadaan 39.345 pasang sepatu bagi siswa Sekolah Rakyat program yang khusus menyasar anak-anak dari keluarga desil 1 alias kemiskinan ekstrem. Faktanya dulu: Dokumen Rencana Umum Pengadaan Kemensos 2026 yang terdaftar di sistem SiRUP menunjukkan harga satuan sepatu dipatok Rp700.000 per pasang. Total nilai pengadaan: Rp27.541.500.000. Sumber dana: APBN alias uang pajak rakyat. Spesifikasi sepatunya? Dalam dokumen itu hanya tertulis "produk dalam negeri." Tidak ada keterangan bahan. Tidak ada standar kualitas. Tidak ada detail teknis apapun. Rp700.000 per pasang sepatu tanpa spesifikasi yang jelas. Mari kita bandingkan dengan realita di pasar: Sepatu sekolah standar yang layak dan tahan lama untuk anak SD bisa didapat di harga Rp150.000 sampai Rp300.000 di pasaran umum. Merek lokal berkualitas seperti Bata, Carvil, atau Pro-Feet menawarkan sepatu sekolah yang solid di kisaran itu. Sepatu sekolah seharga Rp700.000 itu sudah masuk kategori sepatu yang lo beli di mal. Bukan sepatu untuk anak SD dari keluarga miskin ekstrem yang sekolah di program pemerintah. Selisihnya minimal Rp400.000 per pasang. Dikali 39.345 pasang selisih itu bisa mencapai sekitar Rp15 miliar. Lima belas miliar rupiah yang kalau digunakan dengan harga pasar yang wajar — bisa membeli sepatu untuk 50.000 anak tambahan. Respons Gus Ipul dan ini perlu dikritisi: Menteri Sosial Saifullah Yusuf alias Gus Ipul merespons dengan dua kalimat yang menurut gue sangat familiar polanya: Pertama: "Penganggaran kita semua untuk siswa." Kedua: "Nanti kan ada proses lelang, bisa jadi harganya lebih murah dari alokasi yang ada." Gue perlu tanya langsung: kalau memang ada kemungkinan harganya bisa lebih murah lewat lelang kenapa harga pagu-nya dipasang Rp700.000 per pasang? Angka pagu dalam dokumen pengadaan bukan angka asal tempel. Itu adalah batas atas yang diizinkan untuk dibayarkan. Dan angka itu ditetapkan berdasarkan Harga Perkiraan Sendiri yang harus punya dasar justifikasi yang jelas. Kalau justifikasi harga Rp700.000 per pasang untuk sepatu sekolah anak miskin tidak bisa dijelaskan secara transparan itu adalah masalah akuntabilitas yang sangat serius. Dan ini yang paling mengkhawatirkan tidak ada spesifikasi: Dalam dokumen RUP yang sudah dipublikasikan tidak ada keterangan bahan, standar kualitas, atau detail teknis apapun tentang sepatu senilai Rp700.000 itu. Ini adalah celah pengadaan yang sangat berbahaya. Karena tanpa spesifikasi yang jelas siapapun bisa memenangkan lelang dengan sepatu apapun yang harganya di bawah Rp700.000. Tidak ada standar minimum yang harus dipenuhi. Tidak ada ukuran kualitas yang bisa dijadikan dasar penolakan kalau sepatu yang datang ternyata tidak layak. Pola ini sangat dikenal dalam kasus-kasus pengadaan bermasalah di Indonesia. Anggaran besar, spesifikasi kosong, celah untuk mengisi dengan produk yang nilainya jauh di bawah harga yang dibayarkan. Konteks yang lebih besar dan ini yang bikin semakin miris: Sekolah Rakyat adalah program untuk anak-anak dari keluarga desil 1 yang paling miskin di Indonesia. Mereka yang orang tuanya tukang tambal ban, petani gurem, pemulung. Anak-anak yang mungkin belum pernah punya sepatu baru dalam hidupnya. Program ini seharusnya menjadi simbol negara hadir untuk yang paling terpinggirkan. Bukan menjadi arena pengadaan dengan harga yang tidak masuk akal. Dan ini terjadi di saat yang sama ketika Prabowo hari ini berapi-api di Cilacap berbicara soal patriotisme. Soal tidak mau uang rakyat diambil ke luar negeri. Soal intelektual yang tidak boleh menutupi korupsi dan perampokan uang negara. Sementara di dokumen RUP Kemensos yang bisa diakses publik ada alokasi Rp700.000 per pasang sepatu untuk anak miskin tanpa spesifikasi yang jelas. Ini bukan satu-satunya ini adalah pola: MBG: dari triliunan anggaran hanya Rp340 miliar menurut Mahfud MD yang sampai ke makanan. 1.720 SPPG tutup tapi tetap dapat Rp6 juta per hari. BGN anggarkan Rp1,2 miliar untuk opini publik. Sekolah Rakyat: sepatu Rp700.000 per pasang tanpa spesifikasi untuk anak-anak termiskin Indonesia. BUMN: 52% dari 1.046 entitas merugi dengan total Rp50 triliun per tahun. Direksinya tetap bergaji ratusan juta. Perlintasan kereta: Rp4 triliun baru diumumkan setelah 14 orang mati. Padahal 1.800 titik berbahaya sudah diketahui puluhan tahun. Polanya sangat konsisten: uang ada. Selalu ada. Yang tidak ada adalah kemauan untuk memastikan uang itu benar-benar sampai ke tujuannya dengan cara yang paling efisien dan paling adil. Yang harus terjadi sekarang: BPK Badan Pemeriksa Keuangan harus mengaudit pengadaan ini sebelum proses lelang dimulai. Bukan sesudahnya ketika uang sudah keluar. Spesifikasi sepatu harus dipublikasikan secara lengkap dan transparan. Bahan apa, standar kualitas minimum apa, ketahanan minimum berapa lama. Itu bukan hal yang rumit untuk ditetapkan. Justifikasi harga Rp700.000 per pasang harus dijelaskan ke publik. Berdasarkan survei pasar yang mana? Dengan spesifikasi seperti apa? Di mana dokumennya? Dan kalau setelah lelang harganya memang turun signifikan dari Rp700.000 itu bukan prestasi. Itu konfirmasi bahwa pagu harganya memang terlalu tinggi dari awal. Anak-anak miskin di Sekolah Rakyat berhak mendapat sepatu yang layak. Bukan sepatu Rp700.000 yang tidak jelas spesifikasinya yang mungkin setelah proses pengadaan berlapis akan berubah menjadi sepatu Rp150.000 yang beli di grosir Tanah Abang sementara selisihnya menghilang entah ke mana. Kalau negara sungguh-sungguh ingin hadir untuk yang paling miskin mulailah dengan pengadaan yang transparan, harga yang wajar, dan spesifikasi yang jelas. Bukan dengan angka besar di dokumen pengadaan yang tidak bisa dijelaskan. Karena yang dikorbankan bukan angka di spreadsheet. Yang dikorbankan adalah kepercayaan anak-anak paling miskin di negeri ini bahwa negara benar-benar peduli pada mereka. ⚠️ Disclaimer: Berdasarkan dokumen RUP Kemensos 2026 yang terpublikasi di SiRUP dan pernyataan Menteri Sosial Gus Ipul yang dikutip media. Proses pengadaan masih berjalan dan harga final akan ditentukan melalui lelang. Ini analisis berbasis dokumen publik bukan tuduhan hukum.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
331
854
1.2K
52.1K
emotiPont
emotiPont@emotiPont·
Agak chaos di Stasiun Pasar Turi pagi ini @KAI121. Face recognition matiii, trus Ambarawa Express berhenti melebihi peron. Jadi penumpukan penumpang di pintu gerbong 12 buat masuk ke 12, 13, 14. Gak ada petugas, sampe semenit sebelum jalan masih ada orang di luar gerbong.
Indonesia
2
0
0
607
emotiPont retweetledi
Badminton Talk
Badminton Talk@BadmintonTalk·
BREAKING History is made, but not the kind Indonesia wanted. Eliminated from #ThomasCup2026 - Indonesia's first-ever group stage exit from the Thomas Cup. Before this, Indonesia's worst result was a quarter-final exit in 2012. Unprecedented. #TUC2026 #Horsens2026
English
415
1.8K
4.2K
360.4K
emotiPont retweetledi
Dr. Laily Fitry
Dr. Laily Fitry@MahameruLee·
"Km jgn khawatir. Sdh hak km u/ beristirahat & punya waktu yg cukup u/ memulihkan badan sekaligus memulai hubungan dg bayi km. Qt di kampus ingin km menjadi akademisi hebat yg bs mengajar mahasiswa dg baik, & km tdk akan bs jd akademisi hebat tanpa menjadi manusia yg seutuhnya."
Indonesia
5
644
5.9K
238.1K
emotiPont retweetledi
indi
indi@indiratendi·
Apalah gunanya nebang jutaan hektar hutan untuk perkebunan kelapa sawit; bikin masyarakat adat, gajah, dan orangutan kehilangan ruang hidup; bikin ratusan orang kena ISPA karena kabut asap; dan harga minyak goreng tetep mahal??
Indonesia
58
4.5K
8.9K
93.9K
emotiPont retweetledi
MBG Jelek
MBG Jelek@menuembegejelek·
Daftar profesi yang terang-terangan dilecehin marwahnya karena kehadiran embege sejauh ini: - Guru ✅ - Nakes ✅ - Pegawai Dinkes ✅ - Ahli Gizi ✅ - Jajaran Pegawai BPOM ✅
MBG Jelek tweet media
Indonesia
543
9.2K
23.4K
285.9K
emotiPont retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada usulan dari DPR yang menurut gue seharusnya jadi topik paling ramai dibicarakan hari ini tapi sayangnya tenggelam di antara semua berita geopolitik dan drama pengadaan. Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris mengusulkan: negara tanggung 100 persen iuran BPJS Kesehatan seluruh rakyat Indonesia. Dan hitungannya sudah dia paparkan langsung di rapat dengan Kementerian Kesehatan. Angkanya dulu: 225,94 juta orang peserta di luar kategori Pekerja Penerima Upah. Dikali iuran Rp42.000 per bulan. Dikali 12 bulan. Hasilnya: Rp113 triliun per tahun. Dan Charles langsung melempar pertanyaan yang menurut gue paling tepat sasaran: Mampu enggak negara? Mampu Pak. Membiayai program lain yang jauh lebih besar saja mampu. Dan ini yang paling pedas dari seluruh pernyataan Charles: Program lain malah dipakai buat motor trail, Pak. Ini buat kesehatan rakyat, Pak. Satu kalimat. Tapi isinya sangat berat. Karena kita semua tahu angka-angkanya: MBG: Rp171 triliun per tahun. Dengan 8 potensi korupsi yang sudah diidentifikasi KPK. Dengan pengadaan sikat semir sepatu Rp1,6 miliar. Dengan motor listrik Rp1,2 triliun. Dengan kaos kaki Rp100.000 per pasang. BPJS Kesehatan 100 persen untuk seluruh rakyat: Rp113 triliun per tahun. Dengan manfaat yang langsung terasa setiap orang yang sakit bisa berobat tanpa takut tidak bisa bayar. Selisihnya bahkan lebih murah. Dan dampaknya jauh lebih terukur. Masalah yang mendorong usulan ini dan ini realita yang menyakitkan: Sistem BPJS sekarang punya lubang besar yang sudah lama diketahui tapi tidak kunjung diselesaikan: data kepesertaan yang kacau. Ada ratusan ribu bahkan jutaan warga miskin yang secara data masuk kategori mampu karena kesalahan pendataan. Mereka masuk desil 8 atau lebih tinggi di atas kertas. Tapi di lapangan mereka tidak sanggup bayar iuran bulanan. Charles mencontohkan seorang ibu di Jakarta suaminya kerja serabutan, penghasilan tidak menentu. Tapi karena data administrasinya salah dia tidak masuk kategori penerima bantuan. Harus bayar BPJS mandiri. Sementara hidup di Jakarta dengan Rp2 juta sebulan saja sudah susah. Dan ketika mereka tidak bayar kepesertaannya nonaktif. Mereka jatuh sakit tidak bisa berobat dengan BPJS. Harus bayar penuh. Ini adalah ironi terbesar dari sistem yang seharusnya melindungi rakyat yang paling rentan. Kenapa solusi verifikasi data" tidak cukup: Pemerintah selalu menjawab masalah ini dengan satu jawaban: kita akan perbaiki data Tapi perdebatan soal verifikasi data sudah berlangsung bertahun-tahun. Sementara itu setiap hari ada orang yang sakit dan tidak bisa berobat karena terjebak di limbo administratif antara "mampu" di atas kertas dan "tidak mampu" di lapangan. Charles menyebut ini dengan sangat tepat: perdebatan verifikasi data yang tidak kunjung selesai hanya memperpanjang ketidakpastian bagi warga yang paling butuh kepastian. Solusi paling simpel: tanggung semuanya. Selesai. Tidak perlu verifikasi. Tidak perlu data yang sempurna. Semua warga negara Indonesia dapat BPJS gratis. Apakah ini fiskal realistis? Rp113 triliun per tahun terdengar besar. Tapi mari bandingkan: MBG 2026: Rp171 triliun dalam satu tahun, dengan tata kelola yang menurut KPK sendiri belum memadai. Kalau dari anggaran-anggaran itu ada yang bisa dirasionalisasi Rp113 triliun untuk BPJS gratis 100 persen bukan angka yang tidak mungkin dijangkau. Dan ini investasi yang paling langsung dampaknya ke rakyat terbawah yang sekarang tidak punya jaring pengaman kesehatan yang efektif. Yang paling bikin gue geleng-geleng: Ini bukan ide baru. Konsep universal health coverage sudah lama dibicarakan. Negara-negara yang jauh lebih miskin dari Indonesia sudah menjalankannya. Thailand menjalankan sistem kesehatan universal sejak 2002 dengan premi nol untuk semua warga. Sri Lanka. Bangladesh. Bahkan beberapa negara Afrika. Indonesia dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara masih berdebat soal siapa yang berhak dapat BPJS subsidi dan siapa yang tidak. Sementara di sisi lain anggaran negara mengalir ke motor trail, kaos kaki Rp100.000, dan sikat semir sepatu dengan harga tiga kali lipat pasar. Rp113 triliun untuk kesehatan gratis semua rakyat Indonesia atau Rp171 triliun untuk program makan yang menurut survei 88% manfaatnya dinikmati pejabat dan pengelola dapur? Ini bukan pertanyaan yang sulit dijawab secara moral. Yang sulit adalah menjawabnya secara politik karena selalu ada kepentingan yang lebih besar dari kesehatan rakyat yang masuk dalam kalkulasi anggaran negara. Charles sudah berani mengajukan pertanyaan yang tepat. Sekarang tinggal satu pertanyaan lagi: Adakah yang berani menjawabnya dengan aksi nyata?
Lambe Saham tweet media
Indonesia
92
795
1.4K
61.9K
emotiPont retweetledi
gustri
gustri@agustrih13·
“Saya gak mau ada anak didik saya yang hanyut lagi. Cukup sekali kejadian tragis itu, gak boleh terulang lagi,” kata Pak Rudi. Kejadian itu bikin Pak Rudi bersiap lebih pagi di pinggir Sungai Muara Kulam Sumsel, untuk menyeberangkan para muridnya, di samping bersemangat mengajar di ruang kelas, beliau juga dengan ikhlas peduli terhadap pulang pergi para murid dari sekolah ke rumah. Kendati sang guru sudah mengabdi beberapa tahun namun bulanan yg di dapatkan baru sekitar 300 ribu....
Indonesia
314
4.8K
8.2K
258.9K
AttarArya
AttarArya@attararya·
Galaxy Ranger (kartun) Isaura (telenovela) Little House on The Prairie (serial)
P@PikamonID

English
1
0
0
27
emotiPont
emotiPont@emotiPont·
@gembrit I am all alone and I need you now ~
English
0
0
0
11
CHS
CHS@gembrit·
It's a quarter after one
English
1
0
1
179
emotiPont retweetledi
Tukang Ngider 🏃🏻‍♂️🏃🏻‍♂️
Gak kebayang dari kejadian ini, kalau ada seruan untuk mindahin dana, i think they will done karena krisis kepercayaan. Umat Katolik itu terlihat sedikit secara persentase, tapi sejujurnya banyak yang berduit. Gak cuma itu, banyak afiliasi seperti yayasan, rumah sakit, sekolah. Dan salah satu institusi agama tertua dan terbesar di dunia, gak akan main-main sih. Beneran kalau gak ditangani serius, respek publik bakal hilang sih. Bakal merembet ke banyak hal.
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ini gilaa sihh Suster Natalia. Perempuan yang tidak menikah. Tidak punya harta pribadi. Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara. Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya. bahkan dia bilang ke teman dia yang suster juga dia akan masuk penjara. dia cerita Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu, saya selalu katakan: mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung. Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya. Kronologi yang perlu semua orang pahami: Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah. Umat menabung perak demi perak. Untuk sekolah anak. Untuk biaya sakit. Untuk masa depan. Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota. Di 2019 Andi Hakim Febriansyah Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara mendatangi pengurus CU. Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment dengan bunga 8% per tahun. Lebih tinggi dari deposito biasa. Pengurus percaya. Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015? Tujuh tahun berjalan. Bunga masuk rutin setiap bulan. Tidak ada masalah. Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh: CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota. Bertahap minta Rp2 miliar dulu. Januari 2026 tidak cair. Februari 2026 tidak cair. 5 Februari Suster Natalia panggil Andi. Andi bilang besok. Besok tidak cair. Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya. Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti. Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang. Tapi kepala kas baru. Dengan kalimat yang mengubah segalanya: Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi. Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI. Suster Natalia pingsan lima menit. Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu: Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti. Tapi Andi salah hitung. Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan. Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata. Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand. Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster." Masih janjikan pencairan. Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu. Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya. Uangnya? Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU. Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan: BNI melakukan verifikasi internal sendiri. Tanpa transparansi. Tanpa melibatkan korban dalam proses. Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar. Dari Rp28 miliar lebih. Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak. Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai. Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras. Karena: Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya. Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun. Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban. POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya. Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal. Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban: Enam kali mediasi. Satu kali aksi damai. Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban. Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung. Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri. Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI. Bukan di tangan korban. Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin. Satu hal yang tidak bisa diabaikan: Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang. Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses. Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya. "Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak." BNI adalah bank BUMN. Bank milik negara. Diawasi oleh OJK. Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia. Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka. BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya. Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim. Korban menyimpan uang kepada BNI. Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian. Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa. Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.

Indonesia
50
371
1.4K
59.1K
emotiPont retweetledi
Billy
Billy@Billy_Naravit·
Kalian tau apa yang bakal bikin BNI ketakutan dan bertekuk lutut buat ganti semua uang Gereja ini yang dimalingin manajemen mereka sendiri, bikin seruan supaya semua umat katolik Indonesia untuk memindahkan dananya ke Bank selain BNI atas nama solidaritas. Gw yakin dgn seruan itu manajemennya ketakutan pasti.
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ini gilaa sihh Suster Natalia. Perempuan yang tidak menikah. Tidak punya harta pribadi. Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara. Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya. bahkan dia bilang ke teman dia yang suster juga dia akan masuk penjara. dia cerita Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu, saya selalu katakan: mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung. Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya. Kronologi yang perlu semua orang pahami: Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah. Umat menabung perak demi perak. Untuk sekolah anak. Untuk biaya sakit. Untuk masa depan. Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota. Di 2019 Andi Hakim Febriansyah Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara mendatangi pengurus CU. Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment dengan bunga 8% per tahun. Lebih tinggi dari deposito biasa. Pengurus percaya. Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015? Tujuh tahun berjalan. Bunga masuk rutin setiap bulan. Tidak ada masalah. Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh: CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota. Bertahap minta Rp2 miliar dulu. Januari 2026 tidak cair. Februari 2026 tidak cair. 5 Februari Suster Natalia panggil Andi. Andi bilang besok. Besok tidak cair. Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya. Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti. Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang. Tapi kepala kas baru. Dengan kalimat yang mengubah segalanya: Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi. Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI. Suster Natalia pingsan lima menit. Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu: Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti. Tapi Andi salah hitung. Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan. Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata. Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand. Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster." Masih janjikan pencairan. Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu. Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya. Uangnya? Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU. Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan: BNI melakukan verifikasi internal sendiri. Tanpa transparansi. Tanpa melibatkan korban dalam proses. Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar. Dari Rp28 miliar lebih. Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak. Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai. Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras. Karena: Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya. Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun. Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban. POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya. Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal. Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban: Enam kali mediasi. Satu kali aksi damai. Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban. Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung. Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri. Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI. Bukan di tangan korban. Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin. Satu hal yang tidak bisa diabaikan: Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang. Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses. Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya. "Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak." BNI adalah bank BUMN. Bank milik negara. Diawasi oleh OJK. Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia. Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka. BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya. Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim. Korban menyimpan uang kepada BNI. Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian. Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa. Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.

Indonesia
878
12.4K
44.7K
3.2M
emotiPont retweetledi
emotiPont
emotiPont@emotiPont·
Sepertinya kali ini aku setuju dengan Soe Hok Gie. "Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda."
Mulyorejo, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
2
1
2
606