emotiPont
134.8K posts

emotiPont
@emotiPont
food-enthusiast. streetfood lover.
almaskaramina.tumblr.com Katılım Ekim 2009
538 Takip Edilen940 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
emotiPont retweetledi

Sorotan harian kompas ini, menunjukan situasi terjepitnya para guru, ditengah aturan yang makin ketat, anggaran makin dipersempit, sementara kebutuhan guru makin tinggi.
Ironinya, yang terjepit ini adalah guru-guru harapan yang mengajar di daerah 3T. Tanpa mereka, pendidikan tidak terselenggara.

Indonesia
emotiPont retweetledi
emotiPont retweetledi

TK Swasta dinasionalisasikan, jadi TK Negeri. Gurunya tidak bisa ngajar lagi, karena harus ASN.
Gurunya sudah 25 tahun mengabdi, mencari sekolah swasta lain sulit, kalau mau mengajar di sekolah yang sama sudah tidak bisa, tidak ada jalan keluar. Udah selesai gitu aja karirnya. Sertifikasi hangus.

Indonesia

emotiPont retweetledi

Guys, di tengah semua drama MBG yang bocor, BUMN yang merugi Rp50 triliun per tahun, dan rupiah yang kalah dari Zimbabwe hari ini ada satu angka baru yang bikin gue berhenti sebentar dan geleng-geleng kepala.
Habis MBG
terbitlah sekolah rakyat
Rp700.000 per pasang sepatu.
Untuk anak-anak termiskin di Indonesia.
Kementerian Sosial mengalokasikan Rp27,5 miliar untuk pengadaan 39.345 pasang sepatu bagi siswa Sekolah Rakyat program yang khusus menyasar anak-anak dari keluarga desil 1 alias kemiskinan ekstrem.
Faktanya dulu:
Dokumen Rencana Umum Pengadaan Kemensos 2026 yang terdaftar di sistem SiRUP menunjukkan harga satuan sepatu dipatok Rp700.000 per pasang. Total nilai pengadaan: Rp27.541.500.000. Sumber dana: APBN alias uang pajak rakyat.
Spesifikasi sepatunya?
Dalam dokumen itu hanya tertulis "produk dalam negeri." Tidak ada keterangan bahan. Tidak ada standar kualitas. Tidak ada detail teknis apapun.
Rp700.000 per pasang sepatu tanpa spesifikasi yang jelas.
Mari kita bandingkan dengan realita di pasar:
Sepatu sekolah standar yang layak dan tahan lama untuk anak SD bisa didapat di harga Rp150.000 sampai Rp300.000 di pasaran umum.
Merek lokal berkualitas seperti Bata, Carvil, atau Pro-Feet menawarkan sepatu sekolah yang solid di kisaran itu.
Sepatu sekolah seharga Rp700.000 itu sudah masuk kategori sepatu yang lo beli di mal. Bukan sepatu untuk anak SD dari keluarga miskin ekstrem yang sekolah di program pemerintah.
Selisihnya minimal Rp400.000 per pasang. Dikali 39.345 pasang selisih itu bisa mencapai sekitar Rp15 miliar. Lima belas miliar rupiah yang kalau digunakan dengan harga pasar yang wajar — bisa membeli sepatu untuk 50.000 anak tambahan.
Respons Gus Ipul dan ini perlu dikritisi:
Menteri Sosial Saifullah Yusuf alias Gus Ipul merespons dengan dua kalimat yang menurut gue sangat familiar polanya:
Pertama: "Penganggaran kita semua untuk siswa."
Kedua: "Nanti kan ada proses lelang, bisa jadi harganya lebih murah dari alokasi yang ada."
Gue perlu tanya langsung: kalau memang ada kemungkinan harganya bisa lebih murah lewat lelang kenapa harga pagu-nya dipasang Rp700.000 per pasang? Angka pagu dalam dokumen pengadaan bukan angka asal tempel.
Itu adalah batas atas yang diizinkan untuk dibayarkan. Dan angka itu ditetapkan berdasarkan Harga Perkiraan Sendiri yang harus punya dasar justifikasi yang jelas.
Kalau justifikasi harga Rp700.000 per pasang untuk sepatu sekolah anak miskin tidak bisa dijelaskan secara transparan itu adalah masalah akuntabilitas yang sangat serius.
Dan ini yang paling mengkhawatirkan tidak ada spesifikasi:
Dalam dokumen RUP yang sudah dipublikasikan tidak ada keterangan bahan, standar kualitas, atau detail teknis apapun tentang sepatu senilai Rp700.000 itu.
Ini adalah celah pengadaan yang sangat berbahaya. Karena tanpa spesifikasi yang jelas siapapun bisa memenangkan lelang dengan sepatu apapun yang harganya di bawah Rp700.000.
Tidak ada standar minimum yang harus dipenuhi. Tidak ada ukuran kualitas yang bisa dijadikan dasar penolakan kalau sepatu yang datang ternyata tidak layak.
Pola ini sangat dikenal dalam kasus-kasus pengadaan bermasalah di Indonesia. Anggaran besar, spesifikasi kosong, celah untuk mengisi dengan produk yang nilainya jauh di bawah harga yang dibayarkan.
Konteks yang lebih besar dan ini yang bikin semakin miris:
Sekolah Rakyat adalah program untuk anak-anak dari keluarga desil 1 yang paling miskin di Indonesia. Mereka yang orang tuanya tukang tambal ban, petani gurem, pemulung. Anak-anak yang mungkin belum pernah punya sepatu baru dalam hidupnya.
Program ini seharusnya menjadi simbol negara hadir untuk yang paling terpinggirkan. Bukan menjadi arena pengadaan dengan harga yang tidak masuk akal.
Dan ini terjadi di saat yang sama ketika Prabowo hari ini berapi-api di Cilacap berbicara soal patriotisme. Soal tidak mau uang rakyat diambil ke luar negeri. Soal intelektual yang tidak boleh menutupi korupsi dan perampokan uang negara.
Sementara di dokumen RUP Kemensos yang bisa diakses publik ada alokasi Rp700.000 per pasang sepatu untuk anak miskin tanpa spesifikasi yang jelas.
Ini bukan satu-satunya ini adalah pola:
MBG: dari triliunan anggaran hanya Rp340 miliar menurut Mahfud MD yang sampai ke makanan. 1.720 SPPG tutup tapi tetap dapat Rp6 juta per hari. BGN anggarkan Rp1,2 miliar untuk opini publik.
Sekolah Rakyat: sepatu Rp700.000 per pasang tanpa spesifikasi untuk anak-anak termiskin Indonesia.
BUMN: 52% dari 1.046 entitas merugi dengan total Rp50 triliun per tahun. Direksinya tetap bergaji ratusan juta.
Perlintasan kereta: Rp4 triliun baru diumumkan setelah 14 orang mati. Padahal 1.800 titik berbahaya sudah diketahui puluhan tahun.
Polanya sangat konsisten: uang ada. Selalu ada. Yang tidak ada adalah kemauan untuk memastikan uang itu benar-benar sampai ke tujuannya dengan cara yang paling efisien dan paling adil.
Yang harus terjadi sekarang:
BPK Badan Pemeriksa Keuangan harus mengaudit pengadaan ini sebelum proses lelang dimulai. Bukan sesudahnya ketika uang sudah keluar.
Spesifikasi sepatu harus dipublikasikan secara lengkap dan transparan. Bahan apa, standar kualitas minimum apa, ketahanan minimum berapa lama. Itu bukan hal yang rumit untuk ditetapkan.
Justifikasi harga Rp700.000 per pasang harus dijelaskan ke publik. Berdasarkan survei pasar yang mana? Dengan spesifikasi seperti apa? Di mana dokumennya?
Dan kalau setelah lelang harganya memang turun signifikan dari Rp700.000 itu bukan prestasi. Itu konfirmasi bahwa pagu harganya memang terlalu tinggi dari awal.
Anak-anak miskin di Sekolah Rakyat berhak mendapat sepatu yang layak. Bukan sepatu Rp700.000 yang tidak jelas spesifikasinya yang mungkin setelah proses pengadaan berlapis akan berubah menjadi sepatu Rp150.000 yang beli di grosir Tanah Abang sementara selisihnya menghilang entah ke mana.
Kalau negara sungguh-sungguh ingin hadir untuk yang paling miskin mulailah dengan pengadaan yang transparan, harga yang wajar, dan spesifikasi yang jelas. Bukan dengan angka besar di dokumen pengadaan yang tidak bisa dijelaskan.
Karena yang dikorbankan bukan angka di spreadsheet. Yang dikorbankan adalah kepercayaan anak-anak paling miskin di negeri ini bahwa negara benar-benar peduli pada mereka.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan dokumen RUP Kemensos 2026 yang terpublikasi di SiRUP dan pernyataan Menteri Sosial Gus Ipul yang dikutip media. Proses pengadaan masih berjalan dan harga final akan ditentukan melalui lelang. Ini analisis berbasis dokumen publik bukan tuduhan hukum.

Indonesia

Agak chaos di Stasiun Pasar Turi pagi ini @KAI121.
Face recognition matiii, trus Ambarawa Express berhenti melebihi peron.
Jadi penumpukan penumpang di pintu gerbong 12 buat masuk ke 12, 13, 14.
Gak ada petugas, sampe semenit sebelum jalan masih ada orang di luar gerbong.
Indonesia
emotiPont retweetledi

BREAKING
History is made, but not the kind Indonesia wanted.
Eliminated from #ThomasCup2026 - Indonesia's first-ever group stage exit from the Thomas Cup.
Before this, Indonesia's worst result was a quarter-final exit in 2012.
Unprecedented.
#TUC2026 #Horsens2026
English
emotiPont retweetledi
emotiPont retweetledi
emotiPont retweetledi

buat mbg per hari, unlimited anggarannya.
buat uji sampel, gak ada anggaran.
istilahnya dalam bahasa inggris: ramashokk
tempo.co@tempodotco
BPOM Belum Menguji Sampel MBG akibat Keterbatasan Anggaran tempo.co/politik/bpom-b…
Indonesia
emotiPont retweetledi
emotiPont retweetledi

Guys, ada usulan dari DPR yang menurut gue seharusnya jadi topik paling ramai dibicarakan hari ini tapi sayangnya tenggelam di antara semua berita geopolitik dan drama pengadaan.
Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris mengusulkan:
negara tanggung 100 persen iuran BPJS Kesehatan seluruh rakyat Indonesia.
Dan hitungannya sudah dia paparkan langsung di rapat dengan Kementerian Kesehatan.
Angkanya dulu:
225,94 juta orang peserta di luar kategori Pekerja Penerima Upah.
Dikali iuran Rp42.000 per bulan.
Dikali 12 bulan.
Hasilnya: Rp113 triliun per tahun.
Dan Charles langsung melempar pertanyaan yang menurut gue paling tepat sasaran:
Mampu enggak negara?
Mampu Pak.
Membiayai program lain yang jauh lebih besar saja mampu.
Dan ini yang paling pedas dari seluruh pernyataan Charles:
Program lain malah dipakai buat motor trail, Pak.
Ini buat kesehatan rakyat, Pak.
Satu kalimat.
Tapi isinya sangat berat.
Karena kita semua tahu angka-angkanya:
MBG: Rp171 triliun per tahun.
Dengan 8 potensi korupsi yang sudah diidentifikasi KPK.
Dengan pengadaan sikat semir sepatu Rp1,6 miliar. Dengan motor listrik Rp1,2 triliun.
Dengan kaos kaki Rp100.000 per pasang.
BPJS Kesehatan 100 persen untuk seluruh rakyat: Rp113 triliun per tahun.
Dengan manfaat yang langsung terasa setiap orang yang sakit bisa berobat tanpa takut tidak bisa bayar.
Selisihnya bahkan lebih murah.
Dan dampaknya jauh lebih terukur.
Masalah yang mendorong usulan ini dan ini realita yang menyakitkan:
Sistem BPJS sekarang punya lubang besar yang sudah lama diketahui tapi tidak kunjung diselesaikan: data kepesertaan yang kacau.
Ada ratusan ribu bahkan jutaan warga miskin yang secara data masuk kategori mampu karena kesalahan pendataan.
Mereka masuk desil 8 atau lebih tinggi di atas kertas.
Tapi di lapangan mereka tidak sanggup bayar iuran bulanan.
Charles mencontohkan seorang ibu di Jakarta suaminya kerja serabutan, penghasilan tidak menentu.
Tapi karena data administrasinya salah dia tidak masuk kategori penerima bantuan.
Harus bayar BPJS mandiri.
Sementara hidup di Jakarta dengan Rp2 juta sebulan saja sudah susah.
Dan ketika mereka tidak bayar kepesertaannya nonaktif.
Mereka jatuh sakit tidak bisa berobat dengan BPJS.
Harus bayar penuh.
Ini adalah ironi terbesar dari sistem yang seharusnya melindungi rakyat yang paling rentan.
Kenapa solusi verifikasi data" tidak cukup:
Pemerintah selalu menjawab masalah ini dengan satu jawaban:
kita akan perbaiki data
Tapi perdebatan soal verifikasi data sudah berlangsung bertahun-tahun.
Sementara itu setiap hari ada orang yang sakit dan tidak bisa berobat karena terjebak di limbo administratif antara "mampu" di atas kertas dan "tidak mampu" di lapangan.
Charles menyebut ini dengan sangat tepat: perdebatan verifikasi data yang tidak kunjung selesai hanya memperpanjang ketidakpastian bagi warga yang paling butuh kepastian.
Solusi paling simpel:
tanggung semuanya.
Selesai.
Tidak perlu verifikasi.
Tidak perlu data yang sempurna.
Semua warga negara Indonesia dapat BPJS gratis.
Apakah ini fiskal realistis?
Rp113 triliun per tahun terdengar besar.
Tapi mari bandingkan:
MBG 2026: Rp171 triliun dalam satu tahun, dengan tata kelola yang menurut KPK sendiri belum memadai.
Kalau dari anggaran-anggaran itu ada yang bisa dirasionalisasi Rp113 triliun untuk BPJS gratis 100 persen bukan angka yang tidak mungkin dijangkau.
Dan ini investasi yang paling langsung dampaknya ke rakyat terbawah yang sekarang tidak punya jaring pengaman kesehatan yang efektif.
Yang paling bikin gue geleng-geleng:
Ini bukan ide baru.
Konsep universal health coverage sudah lama dibicarakan.
Negara-negara yang jauh lebih miskin dari Indonesia sudah menjalankannya.
Thailand menjalankan sistem kesehatan universal sejak 2002 dengan premi nol untuk semua warga.
Sri Lanka.
Bangladesh.
Bahkan beberapa negara Afrika.
Indonesia dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara masih berdebat soal siapa yang berhak dapat BPJS subsidi dan siapa yang tidak.
Sementara di sisi lain anggaran negara mengalir ke motor trail, kaos kaki Rp100.000, dan sikat semir sepatu dengan harga tiga kali lipat pasar.
Rp113 triliun untuk kesehatan gratis semua rakyat Indonesia atau Rp171 triliun untuk program makan yang menurut survei 88% manfaatnya dinikmati pejabat dan pengelola dapur?
Ini bukan pertanyaan yang sulit dijawab secara moral.
Yang sulit adalah menjawabnya secara politik karena selalu ada kepentingan yang lebih besar dari kesehatan rakyat yang masuk dalam kalkulasi anggaran negara.
Charles sudah berani mengajukan pertanyaan yang tepat.
Sekarang tinggal satu pertanyaan lagi:
Adakah yang berani menjawabnya dengan aksi nyata?

Indonesia
emotiPont retweetledi

“Saya gak mau ada anak didik saya yang hanyut lagi. Cukup sekali kejadian tragis itu, gak boleh terulang lagi,” kata Pak Rudi.
Kejadian itu bikin Pak Rudi bersiap lebih pagi di pinggir Sungai Muara Kulam Sumsel, untuk menyeberangkan para muridnya, di samping bersemangat mengajar di ruang kelas, beliau juga dengan ikhlas peduli terhadap pulang pergi para murid dari sekolah ke rumah.
Kendati sang guru sudah mengabdi beberapa tahun namun bulanan yg di dapatkan baru sekitar 300 ribu....
Indonesia

emotiPont retweetledi

emotiPont retweetledi

emotiPont retweetledi








