pais
654 posts

pais
@faizrdisy
dari faucet mrai, xrb/nano, moderator airdrop, bikin media, ke p2e axie+stepn, learn solidity dev + degen evm & solana. sekarang belajar indonesian stock.






Menurut gua siapapun yang ngerti ekonomi (dan gak perlu punya gelar PhD) tau kenapa Rupiah kita melemah sangat signifikan.. 🤣 Dan coba gua jelasin pakai bahasa sesederhana mungkin ⬇️ (A Thread)

Setuju M0 naik karena policy Purbaya. Tapi itu bukan penyebab, itu hanya satu gejala dari masalah yang lebih fundamental. Logika di thread itu punya lubang besar. Inject Rp100T ke Himbara itu kecil secara order of magnitude. Di periode yang sama, foreign portfolio outflow Indonesia sudah sekitar US$14 miliar atau setara Rp237T sepanjang 2025 hingga Q3, rekor satu dekade. Kalau mau bicara likuiditas, net flow-nya sudah negatif jauh sebelum SAL disuntik. M0 naik tidak otomatis menutup lubang itu. Tapi masalah sebenarnya bukan di sini. Masalah sesungguhnya adalah stance "growth-first" yang agresif tanpa fiscal anchor yang kredibel secara langsung menaikkan sovereign risk premium Indonesia di mata investor asing. Dan ini yang menggerakkan rupiah paling dalam. Datanya, jatuh tempo utang 2026 Rp833,96T, tertinggi satu dekade. Beban bunga Rp599T sudah melampaui 22% dari total penerimaan pajak, jauh di atas threshold aman internasional 10%. Artinya lebih dari seperlima pajak yang kita bayar habis hanya untuk bayar bunga utang, belum pokoknya. Ruang fiskal untuk belanja produktif yang bisa menarik investor semakin sempit. Ketika sovereign risk premium naik, ada mekanisme yang bekerja otomatis. Yield SBN harus naik supaya pasar mau menyerap. Tapi ketika yield naik di tengah rupiah yang sudah terdepresiasi, total return investor asing dalam USD justru tidak kompetitif dibanding emerging market lain. Mereka tidak tunggu efek domino M0. Mereka kalkulasi expected return dalam mata uang mereka sendiri, angkanya tidak menarik, dan mereka exit. Jadi model yang benar bukan "M0 naik lalu growth lalu investor masuk lalu rupiah kuat." Sequence itu hanya bekerja kalau fiscal credibility terjaga. Kalau tidak, sequence-nya berbalik: risk premium naik, capital outflow terjadi, rupiah melemah, biaya refinancing utang dalam USD makin mahal, fiscal space makin sempit, lingkaran setan. Rupiah Rp17.289 hari ini bukan sinyal pasar salah baca policy. Ini sinyal pasar sudah baca full balance sheet-nya dan tidak suka apa yang mereka lihat.



🚨🇮🇷 BREAKING: IRGC Navy released footage of seizing the MSC Francesca and Epaminondas container ships in the Strait of Hormuz.

























