🍉 tea
1.1K posts

🍉 tea
@flowerbaechu
🎧 : 내 하루는 아름다워 oh you’re myday yeay! 💌 DAY6

@tang__kira Budaya korsel yg aku suka yaitu suka mengkritik harga makanan yg over Kalo di indo overprice malah dikatain "buat yg mampu beli aja" PREETTT

MENGAPA NADIEM HARUS di-KPK-kan Namaku Kandilo’. Guru biasa. Mengajar di sekolah kecil di pelosok Toraja. Sekolah yang kalau hujan deras, suara seng atap lebih nyaring daripada suara guru di kelas. Kadang listrik mati. Kadang sinyal hilang. Kadang kapur tulis habis sebelum bulan berganti. Saya sudah lama jadi guru. Sudah melihat banyak menteri pendidikan datang dan pergi. Ganti kurikulum. Ganti istilah. Ganti slogan. Tapi di sekolah kami, sering kali yang berubah hanya spanduk di dinding kantor. Dulu kami di kampung terbiasa pasrah. Dana sekolah datang entah kapan. Barang datang entah dari mana. Kadang jumlahnya tidak sesuai cerita di atas. Kepala sekolah bingung. Guru bingung. Orang tua murid lebih bingung lagi. Tapi semua dianggap biasa. “Memang begitu dari dulu.” Lalu datang era Nadiem Makarim. Awalnya saya juga ragu. Anak muda kota. Bekas pengusaha. Apa dia tahu susahnya sekolah di gunung? Apa dia pernah lihat murid jalan kaki satu jam hanya untuk belajar? Ternyata ada yang berubah pelan-pelan. Bukan gedung mewah. Bukan pidato besar. Tapi sistem mulai terbuka. Kami mulai bisa melihat data. Dana BOS mulai lebih jelas. Penggunaan anggaran lebih ketat. Banyak hal mulai masuk aplikasi. Awalnya kami para guru tua mengeluh. Ribet. Susah. Belajar lagi. Tapi lama-lama kami sadar: justru karena semuanya tercatat, orang mulai sulit bermain-main. Dulu kalau ada barang datang ke sekolah, kami hanya tanda tangan. Tidak tahu harga sebenarnya. Tidak tahu prosesnya bagaimana. Sekarang semuanya punya jejak. Ada laporan. Ada pengawasan. Ada transparansi. Pelan-pelan budaya takut mulai pindah. Bukan guru yang takut. Tapi mereka yang selama ini nyaman di ruang gelap. Saya ingat pertama kali sekolah kami dapat perangkat digital. Anak-anak kampung senangnya bukan main. Mereka pegang laptop seperti memegang jendela ke dunia lain. Ada muridku yang pertama kali melihat peta dunia bergerak di layar. Matanya berbinar. Saya masih ingat itu. Memang tidak semua berjalan mulus. Internet kami sering hilang. Guru-guru banyak yang belum siap. Tapi setidaknya ada usaha bergerak maju. Ada rasa bahwa sekolah kampung juga diperhatikan. Bahwa anak-anak desa juga punya hak mengenal dunia digital. Sayangnya, perubahan selalu punya musuh. Semakin sistem terbuka, semakin banyak orang gelisah. Saya ini cuma guru kampung. Tapi saya tahu satu hal: orang yang hidup dari sistem yang kacau pasti tidak suka kalau semuanya jadi transparan. Sebab kalau semua terang, permainan jadi sulit. Makanya saya sedih melihat Nadiem Makarim seperti diburu habis-habisan. Seolah-olah semua yang ia lakukan salah. Padahal kami di bawah ini merasakan sendiri ada sesuatu yang mulai berubah. Tidak sempurna, iya. Tapi bergerak. Yang paling saya takutkan bukan soal satu orang menteri jatuh. Yang saya takutkan: orang-orang baik setelah ini jadi takut masuk memperbaiki pendidikan. Takut dicurigai. Takut dikriminalisasi. Takut dilawan oleh mereka yang terganggu kenyamanannya. Dan kami di kampung akhirnya kembali begini lagi. Menunggu spanduk baru. Menunggu slogan baru. Tapi aku, si Kandilo' akan komitmen pada satu hal, bahwa korupsi yang paling berbahaya adalah mencuri masa depan anak-anak. Salam pembebasan Kandilo' Kisah guru diatas sama seperti kesaksian para saksi di pengadilan. Semoga dibaca @habiburokhman @BennyHarmanID






Ril jae panitia pjf 2026, soalnya jawabannya bener semua. INI DIA KUNCI JAWABAN SESUNGGUHNYA


Ril jae panitia pjf 2026, soalnya jawabannya bener semua. INI DIA KUNCI JAWABAN SESUNGGUHNYA

Something is blooming because we are incredibly honored to welcome The Rose to our DAY 3 lineup! 🌹 Get ready to hear the soaring vocals of "Back To Me" and the infectious groove of "Red" echoing across the Prambanan temple grounds because WOOSUNG, DOJOON, HAJOON, and TAEGYEOM are bringing their immaculate sonic evolution straight to Jogja! 🎤🤘🏻 Prambanan Temple, Yogyakarta Sunday, 5 July 2026 So, Black Roses, it’s time to assemble. Let’s drape our chicest wastra, bring our loudest singing voices to celebrate the joy at DAY 3! 🥂🎶 Tickets in our bio! #PrambananJazz #PJF2026 #CelebrateTheJoy #TheRose










