Geger Riyanto
6.6K posts

Geger Riyanto
@gegerriy
Always in the liminal zone between paper-writing and meme-making | Department of Anthropology, Universitas Indonesia

Beberapa pengajar @jentera saling koordinasi agar bisa mengeluarkan mahasiswa2 (termasuk Andrie) agar tidak terkurung di gedung LBH semalaman. Saya jalan dari arah Megaria kira2 jam 8 malam dan massa (sebagian berjubah) sudah ramai depan gedung @LBH_Jakarta teriak-teriak anti PKI. #KitaBersamaAndrie

Guys Danantara mau terbitkan surat utang lagi. Rp7 triliun. Tenor 5 dan 7 tahun. Bunganya 2%. Gw ulangi. Dua persen. Deposito bank digital sekarang kasih 4 sampai 6%. SBN ritel kuponnya 6 sampai 7%. US Treasury yield-nya 4 sampai 5%. Dan Danantara mau jual surat utang dengan bunga 2%. Secara logika investasi paling dasar ini tidak masuk akal untuk investor retail biasa. Kenapa lo mau kasih duit ke Danantara dengan bunga 2% kalau opsi lain kasih dua sampai tiga kali lipatnya dengan risiko yang lebih jelas? Tapi sebelumnya Patriot Bond Rp50 triliun dengan bunga yang sama kata mereka terserap 100%. Yang beli siapa? Hampir pasti bukan ibu-ibu yang baca brosur di bank. Bukan anak muda yang scroll TikTok soal investasi. Yang beli besar adalah konglomerat Indonesia. Grup-grup besar yang punya kas besar dan punya kepentingan besar untuk tetap baik-baik sama pemerintah. Dan itu bukan filantropi. Itu kalkulasi bisnis yang sangat dingin. Kalau lo konglomerat Indonesia lo punya izin usaha, konsesi tambang, kontrak pemerintah, akses proyek infrastruktur yang semua bergantung pada hubungan baik dengan penguasa. Beli Patriot Bond Rp1 triliun dengan bunga 2% itu bukan rugi itu biaya politik. Lo bayar diskon dari return pasar demi akses dan proteksi yang nilainya jauh lebih besar dari selisih bunganya. Sekarang pertanyaannya apakah konglomerat mau beli lagi di putaran kedua ini. Kondisinya jauh berbeda. IHSG sudah turun lebih dari 20% dari puncak. Rupiah di 17 ribu. Perang Iran belum selesai. Rating outlook Indonesia sudah diturunkan Moody's dan Fitch. Saham-saham konglomerat sendiri sedang kena pressure MSCI free float. Kas mereka tidak sebebas dulu. Dan kalkulasi politiknya mungkin sudah berubah. Tapi ada satu hal yang tidak berubah. Selama pemerintah masih pegang kunci izin dan konsesi konglomerat tidak bisa benar-benar bilang tidak. Mereka mungkin tawar. Mungkin minta porsi lebih kecil. Mungkin minta konsesi lain sebagai kompensasi. Tapi keluar dari game ini sepenuhnya terlalu berisiko untuk bisnis mereka. Dan itulah yang paling menarik dari seluruh skema ini. Danantara tidak perlu jual produk yang kompetitif secara pasar. Mereka jual sesuatu yang jauh lebih berharga dari bunga 2% akses dan aman. Kalau lo investor retail biasa ini bukan untuk lo. Return-nya tidak masuk akal. Kalau lo konglomerat dengan kepentingan bisnis yang bergantung pada pemerintah ini bukan investasi. Ini iuran. Ibarat preman di pasar cuk Dan bedanya tipis sekali.











@LiterasiFess Bahkan di tingkat university aja dosen-dosen ngebagiin pdf bajakan. Lu knp dah min? Bacaan itu buat semua kalangan manusia. Ga ada siapa yang lebih berhak.











