@zoelfick Jaman kuliah, di tahun 80an akhir, sering pulang ke Jakarta naek KRL. Seru aja ngeliatin pedagang seliweran, pengamen atraktif, pengemis, dll. Hingga iseng ngewawancara pedagang es, penyemir sepatu, pengamen dan menuliskannya jadi sebuah feature. Skrg kondisinya sgt jauh beda.
Ada yang mau saya bagi buku saya ini?
Ini buku saya tentang kereta api dan bagaimana mereka memeliharanya setelah era Jonan sampai ke dirut-dirut setelahnya.
Jonan merevolusinya dan dilanjutkan Edi Sukmoro, Didiek Hartantyo, hingga Bobby Rasyidin.
Apa saja masalah dihadapi mereka, bagaimana mereka menemui masyarakat pengguna kereta api, menggali kebutuhan publik, hingga masyarakat bisa merasakan dunia kereta api spt sekarang, saya rekam di buku ini: Seribu Tangan Sejuta Tantangan.
Untuk menulis ini, saya merambah sampai stasiun terkecil hingga yang paling sibuk. Bicara dengan pejabat kereta api hingga tukang pecel yang sehari-hari bepergian dgn KRL.
Bagi yang tertarik, syaratnya sangat gampang:
- Tulis pengalamanmu sendiri di stasiun, dalam kereta api atau Commuter Line, yang bikin kamu yakin dunia transportasi kita bisa semakin berkembang lebih baik.
Sebanyak 12 buku saya siapkan untuk teman-teman yang memberikan catatan terbaik.
@KangSemproel Wow. Sebagai guru yang dapet THR hanya sebulan honor, merasa THR relawan SPPG ini sungguh terlaluh! Terlalu sedikit, dibandingkan keuntungan yayasan dan pengelola SPPGnya.. *apelo..apelo ..
Di tengah gencarnya kritikan atas "dipaksakannya" pemberian makan "gratis" selama libur sekolah dan bulan puasa. Yang seharusnya jadi moment utk efisiensi dan refleksi diri utk perbaikan kualitas.
Para penguasa program MBG tak bergeming.
Makanan tetap diberikan dalam segala bentuk dan segala cara.
Mungkin andai mereka tahu kapan waktu kiamat tiba, mereka tetap akan memaksa membagikan MBG sampai H-1 hari kiamat.
Segala kritik dan masukan dari orang tua dan masyarakat, dihadapi dengan pengingkaran, pembenaran diri, kadang disertai hukuman pada anak sang pengkritik. Merasa diri di atas jalan yg benar. Benar2 sudah kehilangan rasa malu.
Dan konyolnya... dibalik kualitas dan kuantitas yg diterima anak2 sekolah. Yang cukup jauh dari kata BERGIZI dan sesuai nilai yg dianggarkan per orang. Ada SPPG yg para pegawainya mendapatkan privilej THR jauh di atas para guru honoher, ujung tombak pencerdasan anak bangsa. Dan ini dipertontonkan secara terbuka. Dipamerkan secara massif di sosmed.
Tak ada rasa malu, mengabaikan empati.
Sangat memilukan sekaligus memalukan.
😡😡
@ardisatriawan Konon katanya MBG untuk mengatasi stunting. Helooo...kudunya kan buat anak PAUD & SD. Kenapa ini malah ribut ngejar2 anak SMP-SMA yg dapet duluan. Herman deh. Ini program selain bancaan politik juga investasi pemilih...ckckck.
Tahun 2029 nanti, pemilih termuda adalah yang lahir tahun 2012.
Sekarang umumnya mereka kelas 1 atau 2 SMP.
Dijaga interaksinya kepada pemerintah via MBG.
@GiaPratamaMD Mbahku juga mengalami penyakit yang sama, Dok. Selain pikun, bliio juga selalu mengulang perkataan dan pertanyaan yang sama. Semoga kita semua diberi kesehatan paripurna hingga ajal menjemput. Aamiin.
Suatu sore di Halte busway, rame tapi tidak riuh. Orang-orang berdiri antre, beberapa duduk di bangku panjang, menunggu bus yang tak kunjung datang. Udara Jakarta terasa gerah, menyisakan sedikit angin yang berhembus sesekali, sekadar memberi jeda dari udara yang lembab.
Seorang wanita muda, sekitar tiga puluh tahun, duduk di salah satu bangku halte. Perutnya yang membesar membuatnya sedikit menyesuaikan posisi duduk, mencoba mencari kenyamanan di tengah rasa lelah yang terus memeluk tubuhnya. Tangan kirinya mengusap pelan perut besarnya, sementara tangan kanannya menggenggam erat tali tas.
Di sebelahnya, seorang pria paruh baya dengan rambut yang putih duduk dengan santai. Pakaiannya rapi, tetapi sedikit gelisah, seperti sedang menunggu sesuatu yang penting tapi lupa apa itu.
Lalu, pria itu menoleh ke wanita muda di sebelahnya. Wajahnya penuh empati, matanya menatap dengan tulus seolah melihat seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan.
"Udah hamil berapa minggu, mbak?" tanyanya dengan suara ramah.
Wanita muda itu menoleh, sedikit terkejut. Matanya mengerjap, lalu raut wajahnya berubah menjadi ekspresi waspada.
"Delapan bulan," jawabnya.
Mata pria itu berbinar. "Wah, bentar lagi tuh mbak! Tenang aja, semua bakal baik-baik aja."
Wanita muda itu menghela napas panjang. "Gampang sih ngomong gitu."
Pria itu mengernyit. "Kok ketus banget, mbak?"
Wanita muda itu tidak segera menjawab. Matanya menatap jauh ke jalanan, mengikuti lalu lintas yang bergerak lambat. Hening sesaat sebelum akhirnya dia berkata, suaranya pelan, hampir berbisik.
"Aku gak punya suami. Gak punya keluarga lain. Cuma ada Ayah. Dan Ayahku lagi sakit."
Pria itu memiringkan kepalanya, seperti anak kecil yang baru saja mendengar sesuatu yang membingungkan. "Sakit apa?" tanyanya dengan tulus.
Wanita muda itu menoleh, menatap pria itu dalam-dalam. Ada kelelahan dalam matanya, kelelahan yang tidak hanya datang dari tubuh, tetapi juga dari hati dan pikiran yang terus bekerja tanpa henti.
"Demensia Alzheimer," jawabnya akhirnya.
Mata pria itu tiba-tiba berbinar. Wajahnya berubah, bukan dengan ekspresi sedih atau prihatin seperti yang biasa ia temui ketika seseorang mendengar diagnosis itu. Tidak, pria itu justru tampak bersemangat, seperti baru saja menemukan sesuatu yang menarik.
"Wih! Sakit apa itu?" tanyanya, antusias.
Wanita muda itu menghela napas pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke trotoar. Matanya menerawang, tetapi suaranya tegas saat mulai menjelaskan.
"Penyakit Otak, sel-selnya mati perlahan. Awalnya, cuma lupa hal-hal kecil, kayak lupa naruh kunci atau lupa nama orang. Tapi lama-lama, lupa jalan pulang, lupa wajah keluarga, sampai akhirnya... mereka gak bisa melakukan apa-apa sendiri. Mereka lupa cara makan, lupa cara bicara, mungkin bisa lupa cara bernapas sendiri."
Pria itu mengangguk-angguk, seolah memahami dengan baik. "Wah... kayak mesin yang rusak ya? Tapi kalau mesin rusak kan bisa diperbaiki?"
Wanita muda itu tersenyum pahit. "Kalau mesin, mungkin bisa diperbaiki. Tapi otak manusia beda. Begitu sel-selnya mati, mereka gak bisa diperbaiki. Itu kenapa sampai sekarang belum ada obatnya. Paling cuma bisa diperlambat dengan obat-obatan."
Pria itu tertawa kecil, matanya berbinar penuh ketertarikan. "Jadi, kayak... seseorang yang pelan-pelan kehilangan.. dirinya ya?"
Wanita muda itu menatap pria itu dengan dalam. Suaranya melembut, hampir seperti bisikan. "Iya. Dan yang paling menyakitkan bukan buat mereka, tapi buat orang-orang yang ada di sekitarnya. Kita yang lihat orang yang kita sayang pelan-pelan berubah jadi orang asing, sampai akhirnya... gak inget kita sama sekali."
Pria itu terdiam. Matanya menerawang ke jalanan yang mulai gelap, seakan mencerna setiap kata yang baru saja didengarnya. Lalu, perlahan, dia tersenyum, menatap wanita muda itu dengan penuh kehangatan.
"Kamu anak yang kuat, Mbak. Ayahmu pasti bangga punya anak kayak kamu."
@kegblgnunfaedh Sulungku waktu SMP selalu membawa dagangan berupa jajanan ke sekolah. Alhamdulillah sekolah dan teman-temannya mendukung. Sayangnya saat SMA, temannya beda dan kelakuan juga beda, ambil jajanan tapi gak mau bayar. Yowes, ku stop aja daripada rugi bandar. Hehehe
@bobatiramisyu Hallo semuanya anak-anakku, terimakasih untuk semua doanya, semoga barokah untuk kita semua🥰
Yang mau kenal lanjut dengan oma, silahkan berkunjung ke Kuntum Farmfield Bogor😍
🧕🏼 : “Dek kamu anak IPB?”
🧑🏻 : “Iya ibu, saya anak IPB”
🧕🏼 : “Angkatan berapa?”
🧑🏻 : “Angkatan 59 ibu”
🧕🏼 : “Oh iya?? saya dari angkatan 3”
ANGKATAN 3??
Pak Arif Satria aja angkatan 27 😭🙏🏻
@stacitarpeta18@aniesbaswedan@Lanoko_ Betul sekali! Setelah era sebelumnya PBB malah naik 100%! Terimakasih Pak Anies yang sangat memahami dan menghargai jasa para Pahlawan Bangsa!
@honeyincups@Luqbaehaqi Saya juga guru honorer, tapi level PAUD. Alhamdulillah, dapet juga dana hibah pertiga bulan. Bukan nilainya yang kami apresiasi, namun perhatian dari pemerintah daerah (saat PakGub Anies). Kami juga mendapat subsidi pangan murah melalui KPJ. Kini penyalurannya suka gak jelas.
@Luqbaehaqi Saya guru honorer swasta di DKI yg dapat dana hibah. Mungkin utk sebagian orang ini uang receh, tapi saya amat sangat terbantu dari kebijakan ini.
Harapan saya dukung 01 agar seluruh guru di Indonesia hidupnya sejahtera, krn rekam jejak blio di DKI yg terbukti nyata.
gua pengen yg udh nentuin pilih 01 share alasan rasional dibaliknya. Karna gua yakin pemilih 01 lebih mengedepankan rasional, bukan sensasi dan emosi
Gengsi dukung AMIN kalau gak mau kasi tau apa alasannya. Jangan2 milih karena sensasi juga kayak sebelah. nggak kan?
Yuk ah