gwntod

13 posts

gwntod

gwntod

@gwntodd

Katılım Ocak 2026
54 Takip Edilen8 Takipçiler
gwntod retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys buat lu yang porto nya lagi minus karena saham banking leon baren rivan ada berbagi info nih.... market lagi turun. IHSG sudah minus dari puncaknya. Banyak orang panik. Banyak yang bilang pensiun dari saham. Dan justru di momen seperti inilah mereka breakdown empat saham yang paling banyak ditanya Big 4 bank Indonesia dari perspektif value investing yang paling konkret. BCA. BRI. Mandiri. BNI. Semuanya turun dari all-time high. Semuanya terlihat "murah." Tapi murah saja tidak cukup pertanyaannya adalah mana yang paling menarik dan kenapa. Konteks dulu kenapa bank-bank ini turun: Dua alasan utama. Pertama — kinerja 2025 memang melambat. Hampir semua big bank labanya turun atau tumbuh hanya single digit. Padahal waktu all-time high valuasinya premium. Ketika valuasi premium tapi kinerja tidak deliver ekspektasi market menghukum. Kedua — asing keluar. Dan ini bukan karena Indonesia jelek. Ini karena ada ancaman Indonesia turun dari kategori emerging market ke frontier market akibat evaluasi MSCI. Kalau Indonesia jadi frontier market investor asing yang mandatnya hanya boleh pegang emerging market wajib jual. Mau semurah apapun sahamnya. Ditambah rupiah yang melemah investor asing yang dapat cuan 15-20% dari saham bisa habis terkena currency loss kalau rupiahnya turun 7-8%. Cara membaca kesehatan bank ini yang perlu dipahami: Sebelum bandingkan empat bank ini, ada enam rasio kunci yang perlu dipahami: CAR — Capital Adequacy Ratio. Rasio kecukupan modal. Semakin tinggi semakin resilien kalau terjadi krisis. Batas BI minimal 14%. Keempat big bank semuanya jauh di atas 14%. NIM — Net Interest Margin. Selisih antara bunga yang diterima dari kredit dan bunga yang dibayarkan ke nasabah. Semakin tinggi semakin menguntungkan. ROE — Return on Equity. Dari modal yang ada, perusahaan bisa cetak laba berapa. Semakin tinggi semakin efisien. CASA Ratio. Rasio dana murah tabungan dan giro dibanding deposito. Semakin tinggi CASA, semakin murah cost of fund bank itu. NPL Gross. Persentase kredit yang gagal bayar. Harus di bawah 5%. LAR — Loan at Risk. Lebih luas dari NPL menghitung kredit dari kategori "dalam perhatian khusus" sampai macet. Indikator awal tekanan kualitas aset. BCA — Jagoannya Timothy Ronald: BCA adalah satu-satunya dari big 4 yang labanya masih tumbuh double digit di 2025. Kinerja paling konsisten dan paling stabil. Fokus utamanya di segmen consumer dan corporate. CASA ratio tertinggi di antara semua bank artinya cost of fund paling murah. Itu yang membuat margin BCA sangat terjaga. Kelemahannya: valuasinya tidak pernah benar-benar murah. Bahkan setelah koreksi, PBV BCA masih di atas 3-4 kali. Buat value investor yang cari diskon dalam BCA bukan kandidat utama karena market selalu ready to pay premium untuk kualitasnya. Bank Mandiri — Jagoannya Andri: Mandiri masih tumbuh di 2025 tapi hanya single digit. Fokus utama di segmen corporate dan commercial. Kelebihan: basis korporasi besar yang cash flow-nya relatif terjaga. Risiko gagal bayar per nasabah lebih rendah karena perusahaan besar lebih likuid. Kelemahannya: sekali ada corporate besar yang gagal bayar dampaknya langsung besar ke laporan keuangan karena tiket kredit ukurannya jumbo. Dan di segmen corporate — Mandiri bersaing ketat dengan BNI yang posisinya hampir sama. Valuasi sekarang PE sekitar 7-8 kali. Murah secara historis. BNI: Labanya turun di 2025 bersama BRI. Juga fokus di corporate dan commercial, sehingga sering dianggap mirip Mandiri tapi dengan skala yang lebih kecil. Satu hal menarik: PBV BNI sekarang di bawah 1 — artinya harganya di bawah nilai buku. Secara teoritis ini sangat murah. Tapi "murah" tidak otomatis berarti menarik kalau tidak ada katalis yang jelas untuk perbaikan. BRI — Dan ini yang paling menarik untuk dibahas secara mendalam: BRI adalah satu-satunya dari big 4 yang punya diferensiasi jelas. Fokusnya bukan di corporate tapi di segmen mikro dan UMKM. Dari total penyaluran kredit BRI: 42,6% ke segmen mikro. 15,8% ke SME. Total lebih dari 58% ke mikro dan UMKM. Bandingkan dengan Mandiri atau BNI yang mayoritas ke corporate. Kenapa BRI labanya turun di 2025: Ini yang paling penting dipahami sebelum menilai BRI. Pendapatan bunga BRI tetap naik. Tapi labanya turun. Kenapa? Satu hal: provision expense beban CKPN naik 24%. Dari Rp33 triliun menjadi Rp41 triliun. CKPN adalah cadangan yang dibentuk bank untuk mengantisipasi risiko gagal bayar. Ketika ekonomi melambat dan segmen mikro-UMKM tertekan — BRI harus memperbesar cadangannya. Dan itu yang memangkas laba. Tapi ini bukan berita buruk permanen. Ini adalah biaya temporer yang dibentuk untuk mengantisipasi risiko yang sudah teridentifikasi. Sinyal bahwa BRI sedang turn around: Tiga indikator yang menunjukkan aset quality BRI membaik: LAR terus turun. Artinya kredit yang berisiko gagal bayar semakin berkurang. Ini langsung berimplikasi pada CKPN yang akan turun juga. Write-off turun dari Rp8,7 triliun per Februari 2025 menjadi Rp5,7 triliun per Februari 2026. Special mention turun dari 4,6% ke 3,9%. Ketiga indikator ini menunjukkan satu hal: masalah kualitas aset BRI sedang membaik. Dan kalau CKPN turun di 2026 laba akan rebound signifikan meskipun pendapatannya flat. Dan ini sudah mulai terbukti: per Februari 2026, laba BRI sudah naik 17% year on year. Ekosistem BRI yang tidak dimiliki bank lain: BRI bukan hanya bank. Di bawah BRI ada Pegadaian dan PNM yang sama-sama melayani segmen paling bawah dari piramida ekonomi Indonesia. Dengan harga emas yang terus naik — bisnis gadai Pegadaian ikut tumbuh signifikan. Dan itu dikonsolidasikan ke laporan BRI. Ini adalah sumber pendapatan tambahan yang tidak dimiliki BCA, Mandiri, atau BNI. Valuasi saat ini perbandingan langsung: BCA: PE sekitar 20+ kali. PBV 3-4 kali. Stabil tapi tidak murah. Mandiri: PE sekitar 7-8 kali. PBV sekitar 1,5-2 kali. BNI: PE sekitar 7-8 kali. PBV di bawah 1 kali. BRI: PE sekitar 9 kali. PBV sekitar 1,5-1,6 kali. Dari perspektif valuasi murni BNI paling murah. Tapi valuasi bukan satu-satunya faktor. Kalau digabungkan dengan turn around story, ekosistem, dan diferensiasi segmen BRI punya kombinasi yang paling menarik untuk investor yang berpikir jangka panjang. Soal dividen BRI yang 10% yield ini yang bikin banyak orang bingung: Payout ratio BRI di 2025 terlihat 92% — sangat tinggi. Banyak yang khawatir: ini sehat enggak? Jawaban singkatnya: ya, untuk bank ini normal. Bank adalah bisnis yang low capex tidak butuh banyak belanja modal untuk ekspansi seperti perusahaan manufaktur. Uang yang tidak dipakai untuk ekspansi lebih baik dikembalikan ke pemegang saham dalam bentuk dividen. Dan alasan payout ratio terlihat tinggi bukan karena dividennya naik drastis tapi karena labanya turun di 2025. Kalau laba kembali naik di 2026 seperti yang diindikasikan payout ratio akan turun sendiri sementara dividen per lembar tetap atau bahkan naik. Berapa modal yang dibutuhkan untuk passive income Rp25 juta per bulan: Dengan asumsi dividend yield rata-rata 4%: Rp25 juta per bulan = Rp300 juta per tahun. Modal yang dibutuhkan: Rp300 juta ÷ 4% = Rp7,5 miliar. Kalau menggunakan yield lebih tinggi seperti BRI yang sekarang di sekitar 10% modalnya bisa lebih kecil. Tapi untuk konservatif selalu pakai asumsi 4% karena yield bisa berubah. BCA untuk yang mau stabilitas maksimal dan tidak keberatan bayar premium. Mandiri dan BNI untuk yang mau lebih murah dan fokus di corporate exposure. BRI untuk yang percaya pada UMKM sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia jangka panjang dan melihat kondisi sekarang sebagai momen turn around yang menarik. Dan untuk semua ini satu prinsip yang paling penting dari value investing yang disampaikan dengan jelas: Market crash bukan waktu untuk pensiun. Market crash adalah waktu untuk belajar dan membeli. Orang yang buy high sell low itu karena ikut euforia saat semua orang sedang cuan dan panik saat semua orang sedang takut. Investor yang sukses melakukan sebaliknya.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
11
175
1K
60.3K
gwntod retweetledi
Arvin Honami | Investor Pakai Data Bukan Drama
Weekend weekend gini gua lagi mau bikin tulisan soal Banking dan BBCA kenapa dropnya cukup signifikan..👀 Dan mungkin bisa kalian share juga ke temen temen kalian yang lagi invest di BBCA✅ (A Thread)
Arvin Honami | Investor Pakai Data Bukan Drama tweet media
Indonesia
14
173
1.2K
103K
gwntod
gwntod@gwntodd·
@binance my delution because of u i was get manipulated
English
0
0
0
2
Binance
Binance@binance·
You are my _______
Binance tweet media
English
2.9K
328
3.6K
397.4K
Deni
Deni@0x_Deni·
@binance In Crypto: You are my liquidity 💛 — without you, I’m stuck .
English
8
0
47
3.5K
gwntod retweetledi
Jesse Cohen
Jesse Cohen@JesseCohenInv·
This is absolutely wild. Anduril has developed a VR headset that lets soldiers see through walls. What a time to be alive.
English
53
164
1.5K
201.4K
gwntod retweetledi
Fardi Yandi
Fardi Yandi@fardiyandi·
Kenapa sebagian orang justru lebih kreatif pas lagi kepepet? Ada kawan, karena lagi kepepet dia maksain buat bikin 10 video TikTok setiap hari. 3 Bulan kemudian, dapat double digit. Ada juga yg malu jualan. Punya skills editing dan design tapi karena di posisi aman jadinya skip. Pas kepepet, semuanya dipaksakan. Akhirnya berhasil jualan jasanya. Manusia cenderung jalan di tempat pada saat dia ngerasa aman dan nyaman. Kreativitasnya biasa aja dan gak ada alasan yg kuat buat ambis. Saat kepepet, kita gak ada waktu buat overthinking. Kalau mikirnya lama, risikonya lebih besar. Kreativitas sering lahir dari keterbatasan. Karena terbatas, jadinya otak mikir 2-3x lebih keras. Adanya tekanan bikin lebih fokus. Inilah alasan kenapa banyak inovasi atau ide lahir dari kondisi krisis. Nah buat kamu ngerasa lagi menurun, jadikan momen ini sebagai batu loncatan buat kembali ambis lagi. Hindari denger lagu galau dan meratapi nasib sendirian di dalam kamar. Golden momentnya bakalan lewat. Mulai lihat dunia luar. Isi dompetmu hari ini bukan representasi nilai dirimu. Kamu punya ilmu, pengalaman, kapasitas yang sebelumnya belum dimaksimalkan. Ini saatnya.
Indonesia
39
598
3.4K
136.9K
gwntod retweetledi
Mikel
Mikel@mikelsaham·
Mau cerita soal MSCI. Sebenarnya gejolak tahun ini adalah hasil yang dipupuk sejak lama. Bayangin aja dari tahun 2013 MSCI Indonesia ($EIDO) turun terus, tapi ISHG malah naik. Cara paling mudah buat investor asing yang mau masuk ke suatu negara adalah lewat indeks. Contoh saya bisa investasi saham Perusahaan China yang listing di Hongkong lewat $FXI. Kalo Asing mau masuk indonesia paling gampang ya lewat $EIDO. Kenapa $EIDO turun padahal bursa naik? Karena sebelum masuk MSCI saham2 nya udah naik ratusan persen, jadi pas masuk MSCI beneran, retail malah keluar, pas asing masuk cuma dapet getahnya aja. Padahal MSCI itu dibuat untuk 'menjamin' investasi mereka. Ibaratnya emiten2 ini udah di seleksi ketat sama MSCI. Kalo di negara2 lain, MSCI itu udah jadi patokan investasi. MSCI Vietnam $VNAM dalam 1 tahun itu bisa naik 80% karena memang isinya saham2 bagus yang sudah di seleksi. Investor merasa aman dan ga perlu kebanyakan mikir lagi. Itulah kenapa asing terus keluar dari market kita sejak bbrp tahun terakhir (bukan baru keluar 1 tahun kebelakang) karna investor asing yang beli $EIDO ga dapat return yang optimal. Akhirnya MSCI pun mulai sadar kalo bukan mereka yang salah pilih saham. Setelah di investigasi jadilah bursa kita hari ini.
Mikel tweet mediaMikel tweet mediaMikel tweet mediaMikel tweet media
Indonesia
15
219
1.3K
151.1K
gwntod retweetledi
Black Panther Capital
Black Panther Capital@BlackPantherCap·
🚨PREPARE FOR A -20% MARKET DROP: Everyone thinks the Iran conflict is an oil story. It’s not. Let me explain what this is really about. The Strait of Hormuz has been closed for 8 days. Markets are focused on crude prices. That’s the wrong variable. The real cascade nobody’s mapping: 92% of the world’s sulfur comes from refining oil and gas. Close Hormuz, you don’t just lose 20 million barrels of crude per day. You lose the feedstock for sulfuric acid m, the single most produced chemical on Earth. Sulfuric acid is how we extract copper. How we extract cobalt. Without it, you can’t make transformers, EV batteries, or the substrates inside every data center on the planet. One chemical. One feedstock. One 21-nautical-mile chokepoint. It gets worse. Qatar ships 30% of Taiwan’s LNG through Hormuz. Taiwan has 11 days of reserves. $TSMC, the company making 90% of the world’s advanced chips, draws 8.9% of Taiwan’s entire electricity grid. No gas → no power → no chips. Then food. 33% of global nitrogen fertilizer feedstock moves through that same strait. Half of all humans alive exist because of synthetic nitrogen. Sulfur. Semiconductors. Food. Three supply chains. One chokepoint. Zero domestic alternatives at scale. The economic math from here: Oil holds $80-100+ per barrel if closure persists beyond weeks. Inflation climbs 0.5-1% above baseline. Fed delays rate cuts, 1-2 reductions instead of 3. GDP growth slows to 1.5-2%. Stagflation risk over the next 3-6 months is real. S&P/Nasdaq: 5-10% correction base case. Tech/growth down 10-15% on higher yields and risk-off. Energy and defensives up 5-10%. Market is currently pricing a 4-week conflict duration. If this extends? 15-20% drawdown. What I’m watching: The US objective isn’t just degrading Iran’s military. It’s economic strangulation, destroy the refinery infrastructure, induce blackouts, impair logistics, accelerate regime instability without a full ground invasion. The short-term pain is intentional and accepted. The strategic calculus: weaken Iran’s ability to project power, sever proxy support, and neutralize a nuclear threat permanently. China feels this differently. Iran was supplying 1M+ barrels daily of discounted sanctioned crude. That’s gone. Now Beijing is forced into costlier alternatives while already under U.S. economic pressure. This isn’t about oil. Oil is just the vector. The real targets are the supply chains that run through it. How I’m positioning into this: If this escalates and markets reprice, here’s my expected drawdown map on BETA stocks: > $ASTS, -15 to -35% (beta amplification, rate sensitivity in space telecom) > $IREN, -20 to -30% (rising energy costs crushing margins) > $CIFR, 15-20% (rising energy costs crushing margins) > $AMPX, -15 to -30% (cobalt + sulfur supply chain disruption hits batteries hard) > $RKLB, -10% to 25% (higher yields compressing aerospace valuations) > $ONDS, -10% to 25% (industrial wireless demand slowdown in tight credit) > $NBIS, -5% to 20% (AI cloud risk-off but lower beta buffers the downside) > $KRKNF, -5% to 15% (low beta, robotics holds relatively well) > $OSS, -5% to 15% (hardware stability, limited tech sector contagion) I still hold cash. That cash exists for exactly this scenario. My plan: I don’t hold enough cash as of now, which is why my strategy will be to buy the hardest-hit names on the way down, DCA monthly through the pressure, and let the timeline work. If this plays out as I expect, escalation through summer, then resolution, the relief rally sets up Oct/Nov. That’s 7-8 months of accumulation before the market re-rates. The biggest mistakes in geopolitical dislocations are panic selling and waiting for the all-clear. By the time the all-clear comes, the move is already over. Note: This is not financial advice.
Black Panther Capital tweet media
Gaurab Chakrabarti@Gaurab

The Strait of Hormuz has been closed for 8 days. Everyone thinks this is about oil. This is about what oil becomes. 92% of the world's sulfur comes from refining oil and gas. Close the Strait of Hormuz and you don't just lose 20 million barrels of crude per day. You lose the feedstock for sulfuric acid, the single most produced chemical on Earth. Sulfuric acid is how we extract copper. It's how we extract cobalt. Without it, you can't make transformers, EV batteries, or the substrates inside every data center on the planet. One chemical, made from one feedstock, shipped through one chokepoint. The cascade goes further: Qatar ships 30% of Taiwan's liquefied natural gas through Hormuz. Taiwan has 11 days of reserves left. TSMC, the company that makes 90% of the world's advanced chips, draws 8.9% of Taiwan's total electricity. No gas, no power, no chips. Then food. 33% of the world's nitrogen fertilizer feedstock moves through the Strait. Half of all humans alive today exist because of synthetic nitrogen. Sulfur, semiconductors, food. That makes three supply chains, one 21-nautical-mile chokepoint, and zero domestic alternatives at scale.

English
173
431
2.2K
1.7M
gwntod
gwntod@gwntodd·
@CryptoAnbu_ for the first time it was dead cat bouce.. after all wait for 40k... maybe need to be more calm and wait till the storm end..
English
1
0
1
61
Crypto Anbu
Crypto Anbu@CryptoAnbu_·
I was wrong, I didn't look at the bigger picture. After a more careful look, here's what i realized: Bitcoin 2022. Bitcoin 2026. The similarities are too hard to ignore. $BTC is in a dead-cat bounce, with lower lows still to be made. Patience, halfway there.
Crypto Anbu tweet media
English
6
5
34
8.5K
gwntod retweetledi
Blue Candle
Blue Candle@bluecandleway·
IHSG dalam rupiah❌ IHSG dalam USD ✅ Sederhana, tapi belum banyak yang tahu. Untuk dapat persepektif baru saya sajikan chart bulanan (1M) IHSG dalam notasi USD. Periode 2010 sd 2026. Lalu di gambar kedua adalah chart IHSG dalam notasi rupiah. Dalam notasi USD, highest poin 0,54 USD terjadi di bulan Januari 2026. Lowest poin 0,23 terjadi di bulan Maret 2020 (Covid era). Secara umum hanya terlihat ranging (mondar-mandir). Berbeda dengan saat dilihat menggunakan notasi rupiah. Jelas sekali uptrendnya. *** Kamu juga perlu tahu bagaimana investor asing memandang hal ini: Investor asing biasanya menghitung "real return" investasi mereka dalam mata uang asal, contohnya USD. Saat investor asing masuk ke pasar saham Indonesia, mereka harus menukar USD ke IDR untuk membeli saham. Sebaliknya, saat outflow (keluar), mereka menjual saham dalam IDR, lalu menukar kembali ke USD untuk berinvestasi di aset lain seperti US bonds atau market di negara lain. Fluktuasi nilai tukar IDR/USD bisa membuat performa IHSG dalam IDR terlihat berbeda saat dikonversi ke USD, karena apresiasi atau depresiasi Rupiah memengaruhi return bersihnya. Misalnya, jika IHSG naik 10% dalam IDR tapi Rupiah melemah 5% terhadap USD, return dalam USD hanya sekitar 5%. Ini karena investor asing "kehilangan" nilai saat menukar kembali ke USD. Sebaliknya, jika Rupiah menguat, return dalam USD bisa lebih tinggi. Hal ini membuat chart IHSG dalam USD lebih mencerminkan risiko mata uang (currency risk), yang krusial bagi investor asing untuk memutuskan inflow/outflow. Tanpa penyesuaian ini, investor bisa salah persepsi tentang performa pasar Indonesia dibandingkan aset global seperti US bonds atau indeks lain dalam USD.
Blue Candle tweet mediaBlue Candle tweet media
Indonesia
25
166
1K
82.1K
gwntod retweetledi
Republik Rupiah
Republik Rupiah@RepublikRupiah·
🚨 Krisis Ekonomi Disebabkan AI? Menurut Arthur Hayes, kejatuhan harga Bitcoin dari $126K ke $60K menjadi sinyal ekonomi global tidak beres: 1. Sinyal Kehancuran Nasdaq (kuning) vs Bitcoin (putih) Biasanya, Bitcoin bergerak seirama dengan Nasdaq. Tapi sejak Oktober 2025, bitcoin terjun bebas sementara Nasdaq masih sideways. Ini merupakan sinyal awal ekonomi, khususnya kredit dan deflasi, karena bitcoin adalah aset yang sangat sensitif terhadap likuiditas. 2. AI vs Pekerja Kantor Dulu kita melihat era revolusi industri khususnya di pabrik (manufaktur). Manusia digantikan mesin agar menghasilkan output yang efisien. Saat ini yang terancam adalah pekerja kantoran, seperti bidang administrasi, marketing/sales, akuntan, dan semacamnya. 3. Penyebab Krisis Ekonomi Jika banyak pekerjaan kantoran digantikan AI, maka ini berdampak besar di Ekonomi, khususnya kredit (utang). Ingat krisis 2008? Jika pekerja mengalami gelombang PHK dan tidak mampu bayar cicilan utangnya (kartu kredit, KPR, kendaraan), maka dampaknya membunuh bank secara cepat. Asumsikan ada 20% yang terkena PHK dari 72 juta pekerja kantoran, nilai kerugian bisa ditafsir hingga $557 Miliar, dan harga saham perusahaan terancam hingga berujung bangkrut. Ingat awal 2023? Beberapa bank di AS bangkrut, dan tidak semua bisa diselamatkan pemerintah, hanya segelintir bank yang terbesar saja. Sementara ada ribuan bank kecil di AS yang tidak dijamin oleh pemerintah. Siklusnya: Bad credit -> Harga saham jatuh -> Bank run -> Selamat tinggal 4. Indikator Awal Pasar selalu bergerak lebih awal, istilahnya "front running". Sektor software (SaaS) dan kredit privat terkena hantaman keras akhir tahun lalu, bergerak melawan arus Nasdaq. Pola belanja masyarakat juga mulai berubah drastis, lebih mengutamakan kebutuhan pokok daripada keinginan. 5. FED AS Bisa Apa? Pada dasarnya, FED tidak akan menghidupkan printer uangnya jika tidak ada krisis. Di satu sisi, FED harus menyelamatkan bank yang terancam dan membutuhkan pinjaman karena efek kredit deflasi tadi. Bank butuh dana -> Ajukan kredit sebagai jaminan -> Nilai aset NOL (karena yang meminjam adalah pengangguran) -> Pinjaman ditolak -> Pusing berujung bangkrut Lantas apa solusinya? Deflasi kredit adalah musuh besar, ketika banyak bank regional yang runtuh, FED "terpaksa" melakukan QE untuk menyelamatkan ekonomi. "Brrrrrrr" 💵💵💵
Republik Rupiah tweet mediaRepublik Rupiah tweet mediaRepublik Rupiah tweet mediaRepublik Rupiah tweet media
Indonesia
19
178
676
92.8K
gwntod retweetledi
SMI Official
SMI Official@SMI_Core·
Dia selalu benar tebak bitcoin sejak 2015 retail cuma boneka pasar ?
SMI Official tweet media
Indonesia
23
145
768
53K