404 not found
13.3K posts

404 not found
@imaaa_HS
you never be right if you never be wrong.
Bumi Katılım Mart 2013
258 Takip Edilen247 Takipçiler

@tanyarlfes Dulu alasan yang akhirnya bikin aku yakin putus sama mantan aku adalah karna dia gak ngelayat pas kakekku meninggal, padahal dia orang pertama yang aku kasih tau dan dia tau sedeket apa aku sama alm, disitu aku sadar dia gak bisa menghargai keluargaku apalagi perasaanku
Indonesia
404 not found retweetledi
404 not found retweetledi

Guys, Juansen Leo suaminya Evelyn Chrestella baru ngomong sesuatu soal punya anak yang menurut gue paling jujur dan paling tidak munafik yang pernah gue dengar dari seorang konten kreator.
Dan jawabannya bikin gue mikir ulang soal pertanyaan yang semua orang tanya tapi jarang ada yang jawab dengan benar.
"Udah siap belum punya anak?"
Jawaban Juansen:
tidak ada yang akan pernah siap:
Selama hamil orang pada tanya ke Juansen,
"Udah siap belum jadi ayah?"
Jawabannya selalu sama: belum.
Dan dia jelaskan kenapa dengan sangat konkret.
Pas lahiran, anak mereka langsung masuk NICU karena ada lendir di paru-paru.
Saturasi oksigen turun sampai 79.
Juansen yang biasanya tenang gemeteran.
Justru Evelyn yang backup dia.
Bilang "tenang, semua bakal baik-baik aja."
Lalu Evelyn kena mastitis infeksi payudara
karena ASI tersumbat,
demam sampai 40 derajat,
menggigil, satu tahap sebelum harus operasi.
Siap enggak Juansen menghadapi itu semua?
Tidak mungkin.
Karena tidak ada yang bisa mempersiapkan diri
untuk hal yang belum pernah dijalani.
Poinnya satu:
tidak ada yang akan siap kalau tidak dijalanin langsung. Tapi itu bukan alasan untuk tidak mulai.
Soal orang tua zaman dulu yang suka bilang "dulu mama enggak gini":
Juansen ngomong ini dengan sangat tegas dan minta maaf duluan ke yang lebih tua.
Punten.
Zaman sekarang sama dulu itu beda.
Dulu belum ada COVID.
Dulu belum ada virus-virus yang sekarang bermunculan.
Dulu standar sterilisasi barang bayi tidak seketat sekarang.
Dulu informasi medis tidak semudah sekarang diakses.
Jadi ketika orang tua bilang "dulu anak mama enggak diginiin juga sehat-sehat aja" itu bukan argumen yang valid. Itu nostalgia yang dibungkus jadi kritik.
Konteks berubah.
Ilmu berkembang.
Dan generasi baru yang mencoba menerapkan standar yang lebih baik untuk anak mereka tidak seharusnya dihakimi hanya karena caranya berbeda dari cara lama.
Yang paling penting untuk disiapkan
dan ini bukan soal uang:
Juansen bilang hal pertama yang harus disiapkan adalah ilmu.
Bukan finansial.
Finansial penting tapi punya uang banyak tidak otomatis membuat seseorang siap jadi orang tua.
Ilmu bisa dicari gratis.
Uang harus dicari susah payah.
Dan Juansen membuktikannya sendiri.
Setiap hari dia tanya ke ChatGPT dari yang serius sampai yang paling random.
Soal lahiran, soal ASI, soal perkembangan bayi,
soal mastitis.
Dia research pecah ketuban sebelum kejadian makanya waktu kejadian dia dan Evelyn bisa santai, tahu harus ngapain.
Ketenangan itu bukan karena tidak takut.
Tapi karena sudah tahu.
Soal baby blues dan kenapa Juansen siapkan support system jauh sebelum lahiran:
Juansen tidak menunggu Evelyn kelelahan dulu baru cari suster.
Suster sudah dipanggil satu bulan sebelum lahiran supaya Evelyn punya waktu untuk kenal dan cocok dulu.
Kalau dalam dua minggu tidak cocok, ganti.
Orang tua Evelyn sudah hadir sebelum lahiran.
Hasilnya:
tidak ada baby blues.
Bukan karena mereka kebal.
Tapi karena support system sudah dibangun jauh sebelum dibutuhkan.
Dan Juansen bilang sesuatu yang sangat penting soal ibu-ibu yang harus mengurus bayi sendirian tanpa suami yang bertanggung jawab,
tanpa bantuan apapun dia tidak bisa menghakimi mereka yang kena baby blues.
Karena setelah tahu sendiri betapa beratnya dia justru heran kenapa ada yang tidak baby blues dalam kondisi seperti itu
Siap punya anak bukan soal tabungan yang cukup. Siap punya anak adalah soal ilmu yang terus dicari, support system yang dibangun jauh sebelum dibutuhkan,
dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa banyak hal yang tidak akan pernah bisa diprediksi tapi bisa dihadapi kalau tidak dijalanin sendirian.
Dan untuk yang suka bilang "dulu mama enggak gini juga sehat" zaman sudah berubah. Standar yang lebih tinggi bukan berarti lebay.
Itu berarti kita peduli lebih dari generasi sebelumnya. Dan itu hal yang seharusnya dirayakan, bukan dikritik.

Indonesia
404 not found retweetledi
404 not found retweetledi
404 not found retweetledi

@IndiHome Ditunggu yah kak soalnya ini buat kerja dan banyak yang pake
Indonesia

@IndiHome min maaf ini wifi internet saya lost, gimana yah? Saya gak bisa pengajuan lewat telfon karna telfonnya juga mati, terima kasih
Indonesia

@IndiHome Kak sudah saya kirm IDnya yah, ditunggu yah kak, makasih
Indonesia

@tanyakanrl Waktu nikah bridesmaid cuma 2, bestie kentel parah dan sangat amat membantu, bahkan ketika kuku gue copot mereka mau bantu pasang lem dsb, pokoknya love parah ampe keluarga gue ngerasa sangat amat terbantu karna ada yang fokus ngurusin gue dan gue tidak merasa kesulitan
Indonesia
404 not found retweetledi

1. Suharti
Suami istri cerai, hak merk dipegang suami (logo 2 ayam), istri bikin logo baru (pas foto Bu Suharti)
2. Maicih
Kakak adik pecah kongsi karena beda visi, kakak pake logo emak2 dari depan, adik pake logo emak2 dari samping
3. Cap kaki tiga
Pecah kongsi lisensi antara pemilik merek di SG (Wen Ken Drug) dan mitra produksinya di Indonesia (Sinde Budi Sentosa), produksi sinde berubah nama jadi cap badak
4. Tanek Tjoan
Pecah kongsi antara ahli waris, satu tetap di Bogor pake gerobak cokelat, satu lagi pindah ke Ciputat pake gerobak putih
5. Holycow
Pecah kongsi 2 pendiri, Chef Afit pake logo sapi merah, Wynda pake logo steak Hotel
6. Tempo Gelato
Sengketa antara pendiri awal, Rudy Christian Festraets (WNA Prancis), dan direkturnya, Ema Susmiyarti. Ema udah daftarin merek Tempo Gelato tahun 2015, dan pengadilan memenangkan Ema karena belio pendaftar pertama
Ada lagi kasus seperti ini?

Indonesia

@tanyarlfes Cara cek nama kita di BI checking tuh gimana yah mateman?
Indonesia
404 not found retweetledi

Guys lu pada tau dulu presiden habibie pernah selamatin rupiah dari Rp17.000/USD ke level Rp6.500–Rp7.000-an per dolar AS dalam kurun waktu sekitar 17 bulan pada masa krisis ekonomi 1998–1999.
Bayangin lagi krisis tapi bisa buat nilai rupiah menguat
segila dan sejenius itu beliau
Bayangin ini dulu:
Tahun 1998, Indonesia itu hampir runtuh total:
Rupiah tembus hampir Rp17.000/USD
Bank-bank kolaps
Perusahaan bangkrut massal
Rakyat narik duit → panic everywhere
Dunia internasional:udah gak percaya sama Indonesia
Lalu masuk Habibie.
Bukan ekonom.
Bukan banker.
tapi Engineer.
Tapi justru di situ letak “gila”-nya.
Habibie ngerti satu hal:
Kalau bank hancur, ekonomi pasti mati.
Langkahnya brutal tapi perlu:
Bank yang gak sehat → ditutup
Bank yang masih bisa diselamatkan → direstrukturisasi
Hasilnya:
Lahir Bank Mandiri (gabungan 4 bank bobrok)
Bank Central Asia diselamatkan dan jadi raksasa
Banyak bank lain ikut pulih
Ini bukan sekadar “nyelamatin bank”
ni balikin kepercayaan orang buat naro uang lagi
Sebelum Habibie:
Bank sentral bisa “diatur” pemerintah
Habibie ubah total:
Lewat UU No. 23 Tahun 1999
Bank Indonesia jadi independen
Kenapa ini penting?
Karena dunia luar mikir:
Kalau bank sentral bisa diintervensi politik → negara ini gak bisa dipercaya.”
Dengan langkah ini:
Investor mulai balik
Rupiah mulai stabil
Indonesia dapat bantuan besar dari International Monetary Fund (~$43 miliar)
Tapi bedanya Habibie:
Dia gak nurut 100%
Contoh:
IMF mau subsidi dicabut
Habibie nolak
Kenapa?
Kalau subsidi dicabut saat rakyat lagi hancur → daya beli mati total
Jadi dia:
Pakai dana IMF buat stabilisasi
Tapi tetap jaga rakyat bawah
Ini yang bikin kebijakan dia tegas tapi manusiawi
Masalah waktu itu:
Banyak perusahaan utangnya dolar → tiba-tiba meledak
Solusi Habibie:
Restrukturisasi utang
Konversi ke rupiah
Bentuk lembaga khusus (INDRA)
Perusahaan yang selamat:
Astra International
Sinar Mas Group
Kalau ini gak dilakukan:
PHK massal bisa jauh lebih parah
Ekonomi gak akan pulih kalau politik chaos.
Habibie:
Buka kebebasan pers (UU Pers 1999)
Legalin banyak partai politik
Siapin Pemilu 1999
Dunia lihat:
Indonesia berubah.
Dari otoriter → demokratis.
Dan ini efeknya besar:
Kepercayaan internasional balik
Hasil Nyata (Bukan Teori)
Dalam ±17 bulan:
Rupiah: dari ~16.800 → ~7.000/USD
Inflasi mulai turun
Perbankan stabil
Investor mulai masuk lagi
Ini bukan recovery biasa
Ini comeback ekstrem dalam waktu super singkat
comeback tergila sepanjang republik ini berdiri
Tapi sekarang berbanding terbalik
bank indonesia mulai disusuti orang2 yang kompeten
gk pernah kerja di bank indonesia
tapi tiba2 bisa jadi deputi bank indonesia
karna keponakan presiden
jadi kalau lu lihat rupiah melemah
ihsg melemah
ekonomi lesu
asing keluar terus
yaa ini kebalikan dari semua yang dilakuin pak habibie dulu
ya tinggal copas aja deh
apa yang dilakuin sama pak habibie
pasti gk bakal mau
orang niat nya jadi pemimpin juga udah jelek
Kejeniusan Habibie bukan karena dia ekonom.
Tapi karena dia berpikir seperti engineer:
lihat masalah → bongkar sistem → perbaiki dari akar
Dia berani ambil keputusan gak populer, tapi benar.

Indonesia
404 not found retweetledi

Guys, Safiera cewek Indonesia yang SMA di Korea pakai beasiswa, lanjut S1 double major ilmu komputer dan bisnis teknologi di kampus riset top Korea, publikasi jurnal ilmiah tahun ketiga, nulis buku Kimchi Confessions tentang kehidupan nyatanya merantau baru ngobrol sesuatu yang menurut gua adalah salah satu obrolan paling penting yang perlu didengar oleh perempuan muda Indonesia sekarang.
Dan gua mau mulai dari kalimat yang paling nyakitin yang pernah dia terima dari teman sekolahnya sendiri.
"Ngapain belajar capek-capek, bukannya nanti nikah juga digituin?"
Safiera bilang waktu itu dia bingung mau jawab apa. Tapi sekarang setelah dia ngelewatin semua yang dia ngelewatin SMA di Korea, kuliah double major, publikasi jurnal, nulis buku dia punya jawaban yang sangat jelas dan sangat tidak bisa dibantah.
Perempuan yang tidak berpendidikan tidak hanya merugikan dirinya sendiri. Dia merugikan anak-anaknya. Karena ibu adalah madrasah pertama. Sekolah pertama yang pernah dimasuki setiap manusia di muka bumi adalah pangkuan ibunya.
Dan ibu yang tidak berpendidikan akan melahirkan generasi yang tidak berpendidikan. Bukan karena anaknya bodoh tapi karena fondasinya tidak dibangun dengan benar dari awal.
Dan ini bukan opini Safiera semata. Ini fakta yang sudah dibuktikan berkali-kali oleh data pendidikan global. Tingkat pendidikan ibu adalah prediktor terkuat dari tingkat pendidikan anak jauh lebih kuat dari pendapatan keluarga, fasilitas sekolah, atau bahkan tingkat pendidikan ayah.
Tapi gua mau mundur dulu dan cerita soal perjalanan Safiera karena ini yang bikin semua pemikirannya punya bobot yang beda dari sekadar teori.
Safiera bukan anak kaya yang tinggal di Jakarta dengan akses ke semua fasilitas. Keluarganya naik turun secara ekonomi.
Tapi orang tuanya punya satu prinsip yang tidak pernah diganggu gugat apapun yang terjadi dengan keuangan keluarga, pendidikan anak-anak tidak boleh dikompromikan.
Ketika ekonomi lagi di titik paling bawah, prioritas tetap sekolah dan les dan lomba. Karena kata orang tuanya kami tidak bisa mewariskan harta kepada kalian, tapi kami bisa mewariskan pendidikan.
Dan dari situ Safiera dan kakak-kakaknya semua perempuan, semua beasiswa luar negeri, semua jurusan STEM membuktikan bahwa investasi itu benar.
Safiera mulai ikut lomba matematika dari kecil. Dari situ dia ketemu kakak kelasnya yang SMA di Korea. Dari situ dia daftar beasiswa yang sama. Dan dari situ dimulailah perjalanan yang kata Safiera sendiri tidak pernah dia bayangkan seindah dan seberat itu secara bersamaan.
Korea itu bukan seperti di drama. Safiera bilang ini dengan sangat tegas dan sangat perlu didengar oleh siapapun yang punya romantisasi berlebihan tentang Korea dari tontonan K-drama atau K-pop.
Teman-temannya di Korea itu naturally gifted banyak yang memang lahir dengan kapasitas kognitif luar biasa. Tapi yang membuat mereka benar-benar menakutkan bukan kecerdasan bawaannya. Yang menakutkan adalah disiplinnya. Ketika Safiera pulang ke Indonesia liburan, teman-temannya di Korea malah masuk bimbel.
Ketika Safiera main, mereka belajar. Dan ketika Safiera baru mulai belajar dua minggu sebelum ujian dengan penuh persiapan ada teman Korea-nya yang belajar dua hari tapi tetap lebih bagus hasilnya karena fondasi mereka sudah dibangun selama bertahun-tahun tanpa henti.
Dan dari tekanan lingkungan sekeras itulah Safiera menemukan sesuatu yang sangat berharga dia tidak pernah tahu sejauh mana batas kemampuannya sampai dia dipaksa oleh lingkungan untuk mendorong batas itu.
Itu yang dia sebut sebagai hadiah terbesar dari pengalaman Korea. Bukan gelarnya. Bukan jaringannya. Bukan pengalamannya tinggal di luar negeri. Tapi kenyataan bahwa dia sekarang tahu ternyata dia bisa lebih dari yang dia kira.
Dan dari sini Safiera kasih tiga hal yang menurut dia paling menentukan keberhasilan dalam belajar dan ini berlaku untuk siapapun, bukan hanya pelajar beasiswa.
Yang pertama adalah mental baja. Bukan kecerdasan. Bukan bakat. Tapi kemampuan untuk tidak menyerah waktu gagal, waktu nilainya jelek, waktu teman-teman lebih bagus. Daya juang itu lebih penting dari IQ karena IQ tidak bisa berkembang kalau orangnya berhenti sebelum mencapai batasnya.
Yang kedua adalah disiplin. Dan Safiera bilang sesuatu yang sangat mengena dia lebih takut sama orang yang disiplin dan kerja keras daripada orang yang pintar. Karena orang pintar yang tidak disiplin sering berhenti sebelum potensinya keluar sepenuhnya. Tapi orang yang mungkin tidak sepintar dia tapi konsisten dan disiplin mereka secara mengejutkan bisa melampaui si genius yang tidak punya etos kerja.
Yang ketiga adalah time management berbasis prioritas. Safiera bilang dia belajar untuk membedakan mana pelajaran yang butuh 20 persen effort tapi menghasilkan 80 persen hasil dan mana yang butuh effort lebih besar. Tidak semua hal perlu diperlakukan dengan intensitas yang sama. Yang penting adalah tahu mana yang paling menentukan dan fokuskan energi terbesar ke sana.
Dan tentang pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke cewek pintar di Indonesia soal jodoh dan nikah dan apakah pendidikan tinggi tidak justru mempersulit mencari pasangan Safiera jawabnya sangat cerdas dan sangat tidak minta maaf.
Dia bilang perempuan yang mengejar pendidikan tinggi sebenarnya sedang melakukan seleksi alamiah terhadap calon pasangannya. Laki-laki yang minder melihat perempuan berpendidikan tinggi itu bukan kerugian bagi perempuan.
Itu informasi gratis bahwa dia bukan orang yang tepat. Karena kalau dari awal dia sudah tidak mendukung semangat belajar pasangannya, bagaimana dia akan mendukung semangat belajar anak-anaknya nanti?
Dan dari perspektif agama pun Safiera punya jawaban yang sangat kokoh. Nabi Muhammad bilang menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Farida. Wajib. Bukan anjuran. Bukan opsional. Wajib.
Dan ada bidang-bidang ilmu yang secara spesifik harus diisi oleh perempuan kedokteran kebidanan, pendidikan di sekolah perempuan, dan sebagainya. Jadi perempuan yang tidak berpendidikan bukan hanya merugikan dirinya dia meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapapun selain dirinya.

Indonesia
404 not found retweetledi
404 not found retweetledi

‼️ Nih buat yang bilang:
“Indonesia juga merdeka kan lewat meja perundingan-perundingan…”
Dengerin nih penjelasan Ustadz Felix supaya bisa nalar untuk komparasi dan analogi perundingan soal Indonesia. 👇🏻
Dulu di 1946 dan 1948 ada juga "Board Of Peace" versinya Belanda, pengen kuasai Indonesia lagi pasca merdekanya, ngatur-ngatur, bentuk negara boneka di Indonesia, intinya tetep mau menjajah Indonesia. Indonesia menolak dong, masak susah-susah merdeka mau dijajah lagi?
Tahun 2026, Indonesia dibawa presidennya masuk ke Board Of Peace yang isinya orang-orang NPD, orang gila, pembunuh biadab, orang sakit jiwa, penjahat perang, untuk ngobrolin "Perdamaian"
Sebenarnya hanya PENJAJAHAN dengan narasi baru. Padahal kita di UUD45 jelas-jelas menolak penjajahan. Eh malah nurut sama Trump yang jangankan perdamaian dunia, negaranya sendiri aja nggak damai.
Tugas kita, TETAP BERSUARA, jangan normalisasi kegilaan ini.
Sc : felix. siaw
Maria A. Alkaff@MariaAlkaff_
Semoga pemikiran ini meeakili kekecewaan dan rasa sakit di hati kita semua…
Indonesia
404 not found retweetledi











