Oni Suryaman@OniSuryaman
Dari Tailan, berakhir pada PEA, Turmenistan, dan Masedonia, A Tale of Exonym and Endonym
Gak nyangka ternyata twit kemarin soal Tailan ternyata bikin tsunami juga. Mumpung masih anget terusin ah.
Pertama, ternyata yang keberatan dan merasa aneh dengan nama Tailan bukan aku saja. Banyak sekali yang merasa nama resmi untuk negara Thailand ini tidak bisa di-Tailan-kan. Ada yang menyebut tetap Thailand, ada yang mengusulkan menjadi Tailandia, atau kembali ke Muangthai, seperti pada zaman dulu. Ini menunjukkan adanya penolakan yang cukup masif untuk pemakaian nama Tailan. Ada beberapa joke yang mengatakan apakah dengan demikian kita harus menggunakan taiti, atau makanan tai.
Kedua, setelah pengamatan lebih lanjut, ternyata bukan Tailan saja yang bermasalah. Muncul juga singkatan baru PEA (Perserikatan Emirat Arab) menggantikan UEA (Uni Emirat Arab) yang sudah lebih dikenal. Ada juga Turmenistan, tanpa "k" pada Turk, menggantikan Turkmenistan. Ada lagi Masedonia menggantikan Makedonia atau Macedonia.
Nama-nama resmi ini juga bermasalah. Nama "Thai" dan "Turk" itu mengacu pada bangsa tertentu, yang menurut hemat saya, tidak bisa kita utak-atik sembarang. Kalau kita ganti, berarti bangsa Thai akan menjadi bangsa Tai, dan bangsa Turk akan menjadi bangsa Tur, yang saya rasa tidak pada tempatnya.
Begitu pula dengan penggantian UEA menjadi PEA. Para penutur milenial ke bawah sudah ketawa-tawa aja mendengar nama negara yang dibaca "pea". Lagi pula, mengapa pula kita anti dengan kata "uni"? Bukan uni banyak ditemui di Minang? (dan juga uda). Apakah dalam buku sejarah nanti kita akan mengganti Uni Soviet menjadi Perserikatan Soviet. Dan Manchester United menjadi Perserikatan Manchester? Saya rasa ini juga tidak elok.
Yang terakhir Masedonia. Sesempit pergaulan saya, saya belum pernah mendengar orang mengucapkan Macedonia dengan s, selalu dengan k. Nama resminya pun adalah Република Северна Македонија, yang dibaca Makedonia, pakai k. Entah usulan siapa yang menyuruh menggunakan s. I rest my case...
Urusan endonim dan eksonim ini kadang memang gak ribet dan aneh. Kadang kita menyerap langsung dari ejaan Inggris, sebagai bahasa yang paling umum dipakai masa kini. Kadang juga dari bahasa Arab yang juga sudah panjang sejarahnya berhubungan dengan kita; misalnya Misr untuk Mesir, alih-alih menggunakan Egypt mengikuti Inggris. Kita juga menyerap banyak dari Portugis, misal Inggris yang diserap dari Ingres. Dan tentu saja kata Belanda dari Portugis, Holanda, yang kemudian terpeleset menjadi Belanda. Dengan kata lain, eksonim, alias nama asing sebuah negara yang dipakai oleh negara lain, sangat ditentukan dengan sejarah hubungan negara tersebut dengan negara penyebutnya.
Yang paling aneh misalnya Jerman. Eksonimnya lahir tergantung relasi bangsa Jerman dengan negara lain. Orang Jerman menyebut negaranya dengan Deutschland alias tanah rakyat. Orang Roma menyebut mereka Germania, yang berarti tanah tetangga, atau tanah pejuang, karena perang antara Romawi dengan mereka. Orang Prancis menyebut mereka Allemagne, karena mereka berhubungan dengan suku Alemanni dari Jerman. Orang Slavia menyebut mereka dengan Niemcy, yang artinya orang berbahasa asing. Orang Finlandia menyebut mereka Saksa, karena bersentuhan dengan suku Saxon dari Jerman, dst. Ruwet bukan. Pada intinya, sebutan nama sebuah negara sangat tergantung dengan sejarah hubungan antarnegara.
Nah, kembali ke laptop. Terus bagaimana kita seharusnya menyebut sebuah negara asing. Ya tergantung relasi kita dengan mereka. Misal, dulu kita banyak berelasi dengan Maladewa, mungkin lewat perdagangan Melayu. Tetapi generasi baru lebih banyak mengenalnya dengan Maldives, sebagai tempat wisata.
Lalu mana yang paling benar? Tidak ada. Biar masyarakat yang menentukan. Untuk negara-negara yang tidak banyak berelasi dengan Indonesia, silakan tanya ke kedutaan besar atau konsul kita di sana, atau diaspora Indonesia di sana. Mereka lebih berhak menentukan nama eksonim daripada para ahli bahasa, yang hanya berdasarkan aturan linguistik dan mengabaikan faktor sejarah dan sosiologis, yang jangan-jangan bahkan disuruh menunjuk letak negaranya di peta saja kesulitan.
Masih banyak PR nama negara lain yang belum selesai. Misal, Kiribati yang sebenarnya dilafalkan kiribas, bukan kiribati. Begitu pula dengan nama sulit yang bikin lidah melintir seperti Luxembourg, Liechtenstein, dan Seychelles. Poin saya tetap, serahkan ke pemakai bahasa. Mereka yang lebih tahu nama negara tersebut lebih tepat di-Indonesiakan seperti apa.