c.

1.3K posts

c. banner
c.

c.

@joowberries

a journal to vent-ing.

Katılım Ocak 2025
40 Takip Edilen10 Takipçiler
c.
c.@joowberries·
wts ticket laufey a matter of time cat 1b, under price yg minat dm aja. 🙏🏻
English
0
0
0
21
c. retweetledi
Ody Dwicahyo
Ody Dwicahyo@odydc·
Liat anak kecil trantrum di mall krn dia minta Cinnamon Roll ama ibunya dikasih roti kayu manis. Sambil nanges dia teriak "DIA TEMANNYA KUROMI... BUKAN ROTII"
Indonesia
459
7.6K
71.8K
1.4M
c. retweetledi
kale
kale@kalistohenituse·
Yang nanya "kronologi insiden kecelakaan" boleh disimak:
kale tweet media
Indonesia
19
612
5.4K
307K
c. retweetledi
ريمو
ريمو@remas_828·
بعد شهر من زواجي، حماتي قررت تقعد عندنا كم يوم. كنت متوترة… متوقعة نقد على كل حاجة أعملها. في يوم، زوجي دخل المطبخ وقال بنبرة عادية: “الأكل لسه ما خلصش؟ أنا جعان. كنت لسه راجعة من شغل ومتعبة، بس سكت وكملت. حماتي كانت قاعدة وسامعة كل حاجة… بس ما علّقت وقتها. بعد ما خرج، نادتني بهدوء وقالت: “هو فاكر نفسه جاي فندق؟” اتوترت وقلت يمكن أنا مقصّرة. بس بصت لي وقالت كلمة عمري ما أنساها: “إنتي مش خدامة عنده… إنتي شريكة. والتعب مش مفروض يكون من طرف واحد. وبعدين قامت قدامي ونادت عليه: تعالى يا حبيبي… مراتك مش شغالة عندك. لو جعان، قوم ساعدها أو حضّر لنفسك. سكت… ومكانش متوقع منها كده. من يومها، بقى يدخل المطبخ قبلي أحيانًا، ولو اتأخرت، هو اللي يقول: “اقعدي، أنا أعمل الأكل النهارده وقتها فهمت حاجة مهمة… مش كل أم بتدلّل ابنها على حساب مراته، في أمهات بيربّوا رجالة بجد.
ريمو@remas_828

Get to know me with the harshest truth

العربية
301
6K
87.4K
3.8M
c. retweetledi
Bintang
Bintang@tang__kira·
Staffnya Hyeri cerita kalau pas Hyeri perpanjang kontrak, salah satu syaratnya adalah bonus buat staff-staffnya. Bahkan Hyeri ngasih signing bonusnya pas ttd kontrak buat para staff. Hyeri juga nraktir staff-staffnya (dari Hair Stylist sampai makeup artist) buat liburan ke Maldives bareng. Bahkan staff yang ga punya paspor juga jadi bikin paspor gara-gara hadiah dari Hyeri m.entertain.naver.com/now/article/24…
Bintang tweet media
Indonesia
8
261
3.8K
161.2K
c. retweetledi
Sisters in Danger x Simponi
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger·
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami: 1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan. 2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami. 3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah). 4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan. Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat. Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah. “Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903) Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya. Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu. Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun. Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan). Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger

Merayakan Kartini Secara Radikal Kita telah melampaui era memperingati hari Kartini dengan hanya melihat sosok tubuhnya dan memaknainya cukup sebatas busana kebaya, lomba memasak atau menyanyikan lagunya. Peringatan hari Kartini yang demikian menumpulkan pemikiran. Sebab Kartini tidak pantas hanya dinilai dari sosok tubuhnya semata melainkan ide-ide brilian yang lahir dari otaknya yang cemerlang tentang kesetaraan dan kebebasan perempuan, justru inilah yang harus kita rayakan. Jadi hendaknya kebaya Kartini disimbolkan sebagai pembebasan perempuan, bukan ornamen tubuh semata, namun untuk merangsang kegairahan pemikiran melawan dominasi. Segala bentuk dominasi seperti penjajahan, pembodohan, pengekangan agama, dan tradisi serta penindasan perempuan. Sebab Kartini perempuan Jawa yang hidup di abad ke-19 telah memikirkan semua itu dan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang dimuat di buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang” (HGTT). Kartini mengungkapkan kegeramannya pada tradisi yang mengekang anak perempuan termasuk dirinya yang “dipingit” dari umur 12 hingga 16 tahun.    "Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu mengempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepada dinding batu bengis itu." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:30). Perang melawan kebodohan dipahaminya sebagai cara untuk membawa bangsa Bumiputra maju dan keluar dari penjajahan. "Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi Pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu ada. Daya upaya itu ialah pengajaran. Memberi anak negeri pengajaran yang baik, sama halnya seolah-olah Pemerintah menyerahkan suluh ke dalam tangannya, supaya dapat ia sendiri mencari jalan yang benar, yang menuju ke tempat nasi itu. Bapak akan berusaha sekuat tenaganya akan mengajukan anak negeri, dan aku pun akan turut membantunya." (12 Januari 1900, HGTT, 2009:34). Sikapnya menentang poligami sangat jelas. Kadang Ia menganggap bahwa perkawinan itu menindas dan bukan membahagiakan. "Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sangat besar benciku akan perkawinan? Kerja serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:29). Pemikiran Kartini tentang agama termasuk permikiran yang moderat dan toleran. "...sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam... Orang diajar di sini membaca Qur’an tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu. Sekalipun tiada jadi orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati.." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). "Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu?" (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). Kartini memang tidak pernah terlibat dalam sebuah pergerakan apalagi mengorganisir sebuah protes di lapangan. Bentuk protes yang ia lakukan hanyalah lewat tulisan-tulisannya yang mencoba memahami apa yang terjadi di lingkungannya. Tulisan-tulisannya tidak dituangkan ke dalam bahasa Melayu atau Jawa melainkan ke dalam bahasa Belanda dan ditujukan kepada teman Belandanya di Belanda.  Apakah karena Kartini menyadari tulisan-tulisannya tidak akan ditanggapi bila ia menggugat masyarakatnya secara langsung?  Atau bahkan dapat membahayakan dirinya bila pemikirannya diketahui oleh masyarakatnya sendiri? Semangat Kartini pada zamannya adalah semangat yang juga dirasakan oleh sebagian perempuan pada zaman itu. Beberapa pemikir perempuan lainnya seperti Dewi Sartika juga memiliki pemikiran yang maju tentang hak-hak perempuan, dengan nyata membuat sekolah di tahun 1904 yang disebut dengan “Sekolah Istri”. Kartini memang bukan sekedar kebaya. Tapi makna kebaya Kartini hendaknya diinterpretasikan secara kritis. Pemikiran Kartini masih terus harus direnda agar “kebaya” itu menjadi sempurna. Merenda pemikiran Kartini di segala ruang dan sudut bangsa, menjadikan bangsa kritis yang menghargai kesetaraan. --- Satu lagi cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari @jurnalperempuan, yang ditulis oleh Gadis Arivia. Selamat Hari Kartini 21 April 1879–17 September 1904 Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜 (Link artikel lengkap di utas berikutnya)

Indonesia
59
6.5K
18K
1.3M
c. retweetledi
Andreas Zu
Andreas Zu@ZuAndreas·
SMA saya di Seminari, asrama. Aturannya jam 17.00-19.00 itu studi mandiri. Wajib di kelas, tanpa suara. Silentium Magnum, istilahnya. Suatu hari waktu studi mandiri, semua di kelas dalam suasana hening. Pintu diketuk. Seorang teman dari kelas sebelah kepalanya nongol. “Teman-teman, boleh minta perhatiannya sebentar.” Kami semua menatap dan fokus pada seseorang di pintu itu. Hening. Dia melanjutkan: “Baik, cukup perhatiannya, terimakasih.” Lalu dia menutup pintu dan lenyap. Demi Tuhan, kami ingin melempar anak itu ke kolam. 😂
devartra@devartra

Cerita masa SMA yang kalian masih ingat?

Indonesia
68
453
5.5K
365.4K
c. retweetledi
kusuma Ndaru
kusuma Ndaru@kndaru·
@zakiberkata Pernah main ke rumah temen kuliah di SBY. rumahnya adem banget, padahal di SBY terkenal gerah panas. Bpk temen cerita kalau di bawah lapisan genteng di kash lembaran almunium plat 2 mm kalau gk slah . Cuma resikonya sinyal seluler susah masuk.
Indonesia
24
86
1.6K
126.9K
c.
c.@joowberries·
@noucampline Ini kejadian waktu gue makan di restoran, sekelompik ibu2 arisan bawa anaknya dan dari 10 anak cuma 2 yg tertib makan sisanya lari lari sampe mbak waitress nya takut bgt nganterin makan. Akhirnya gue pelototin anak anak yg lari sampe emaknya berasa trs galama mereka pergi.
Indonesia
0
0
1
309
Noucampline.
Noucampline.@noucampline·
Ah kasar banget, tapi fakta
Noucampline. tweet media
Indonesia
381
3.5K
28.2K
767.9K
c. retweetledi
PIMA
PIMA@twitnyapimma·
Zaman dulu memang sering pakai rebusan daun sirih karena sifatnya antiseptik kaa.. cm kalo bikin sendiri aku kurang tau yaa, proses kebersihan/ komposisis/sterilisasinya gimana. Kalo kata seniorku yg Sp.OG. vagina bisa dibersihkan pake sabun khusus kewanitaan tp sesekali aja, buat area luar dan gaboleh dimasukin kedalem (biasanya pas lg habis haid/or nifas), dan itupun sabun yg khusus sesuai ph, yg ga ada aroma, dan pakenya gak boleh setiap hr hanya 1-2 x/mgg atau bbrp mgg sekali aja.
Indonesia
2
6
68
11.6K
c.
c.@joowberries·
@olivinemay Semangat ya Kak, kamu juga jaga kesehatanmu dgn jaga makan dan istirahat. Ini mungkin akan jadi langkah panjang utk keadilanmu dan para korban. We'll pray for you and your closest persons, been support you 'til now. ❤️
Indonesia
0
0
0
365
Olivine May✨
Olivine May✨@olivinemay·
Teman-teman yang menunggu update kasusnya, sabar ya, aku sudah minta bantuan ke pihak yang berwenang. Pelan-pelan ya. Aku mohon dukungannya agar aku kuat untuk terus maju.
Indonesia
4
1
20
4.4K
c. retweetledi
TIRTA
TIRTA@tirta_cipeng·
Terkait kasus rame2 d grup wa. Hikmah yang diambil, tolong Biasakan jangan bercandaan mesum, karena bercandaan tersebut akan menjadi kebiasaan yg dibawa terus menerus sampe dewasa. Kalo ngacengan itu dikontrol. Bukan ngacengan sak nggon2. Otak kok isine kenta kentu
Indonesia
1.5K
41.9K
149.7K
2.6M
c. retweetledi
kale
kale@kalistohenituse·
thread update kasus FH UI: Gambar 1: Ini adalah tampang 16 pelaku pelecehan seksual verbal dan objektifiksasi terhadap perempuan di FH UI. Ini adalah moMen ketika mereka disidang oleh forum mahasiswa dan live di tiktok. Gambar 2: Ibu yang berpakaian batik dan dipeluk menjadi salah satu korban yang dilecehkan para pelaku di grup chatnya. Beliau adalah salah satu dosen di FH UI. Beliau saat forum bilang “pas saya lihat chatnya, saya kaget ada nama saya”.
kale tweet mediakale tweet media
sampahfhui@sampahfhui

[anak fhui bikin grup isinya lecehin perempuan tiap hari???]

Indonesia
656
26.8K
79.7K
3.8M
c. retweetledi
Tanyarlfes
Tanyarlfes@tanyarlfes·
💚 jd sender fist time mau cobain mandi kenang ala2 Amanda zahra gtu, di pikiran sender kya cantik gtu bunga2 Tp knp result nya agak horor ya🥲 Takut ditarik tangan dri dlm air 🥲🥲
Tanyarlfes tweet media
Indonesia
3K
3.9K
72.5K
3.2M
c. retweetledi
Ini Rakun
Ini Rakun@MasihRakunja·
CW // Sexual Harrasement Inilah muka muka yang harus dihindari ketika kamu ke event jejepangan.
Ini Rakun tweet mediaIni Rakun tweet media
Indonesia
268
15.4K
35.8K
1M
c. retweetledi
Shela ‘Oxfara’ Sundawa
Tren parenting masa kini yg bikin gw gedeg sebagai orangtua. Grup WA orang tua!! Ya walaupun anak gw masih SD, tapi anak itu musti belajar tanggung jawab sejak kecil. Jujur gw merasa aneh dan risih kalo pengumuman untuk kepentingan sekolah itu cuman di grup orang tua. Jadi yg dihimbau orangtuanya, bukan anaknya. Kan bisa ya pas di sekolah anaknya dikasih tahu. Urusan dia lupa ga ngerjain , ya itu salah dia dan di situlah saatnya dia belajar yg namanya tanggung jawab dan konsekuensi. Masa jadwal ulangan aja anak gw ga tau. Setiap ditanya, “kamu tau ga besok kamu ada ulangan ini?” “Gak tau, belum dibilang sih” 😩😣☹️
hanyur@menghanyurkan

ngapain ada grup orang tua mahasiswa???? Lu pada umur berapa gw tanya???? Ngapain bapak emak lu ngurusin urusan lu di kampus ampe bikin grup wa????😭😭😭

Indonesia
440
3.4K
11K
582.3K
c. retweetledi
Tubagus Siswadi W
Tubagus Siswadi W@tb_siswadi·
Lagi rame kasus grup wa mahasiswa UI mau berpendapat dari sisi medis khususnya psikologi, karena saya bukan polisi moral 😆 Kenapa banyak cowok bisa nyaman ngomongin perempuan secara objektifikasi di grup privat? Karena ada yang namanya “disinhibisi online”. Saat merasa aman, anonim, dan “cuma di grup”, otak kita jadi lebih berani ngeluarin sisi yang biasanya ditahan. Ditambah lagi efek peer pressure. Di otak, ini berkaitan dengan sistem reward: • Dapet respon “haha”, “anjir”, “setuju” • Dianggap lucu, dianggap bagian dari circle • Dopamin naik. Lama-lama, perilaku itu “dipelajari” sebagai sesuatu yang menyenangkan dan normal. Masalahnya? Kalau terus diulang, ini bisa mengarah ke desensitisasi. Empati ke perempuan turun. Perempuan gak lagi dilihat sebagai manusia utuh… tapi jadi objek. Ini bukan hal sepele. Dalam banyak studi psikologi, objektifikasi yang terus-menerus bisa jadi pintu awal ke: • Pelecehan verbal • Pelecehan seksual • Bahkan kekerasan seksual Jadi ini bukan cuma “becandaan cowok”. Ini soal pola pikir yang dibentuk pelan-pelan… sampai batasnya jadi kabur. Makanya penting banget buat sadar: Kalau kalian cuma bisa bonding dengan cara merendahkan orang lain, itu bukan bonding. Itu conditioning. Dan kalau dibiarkan, dampaknya bukan cuma ke orang lain… Tapi ke cara otak memandang manusia..
Indonesia
46
4.4K
10.2K
289.1K