Kifli Andalo

967 posts

Kifli Andalo banner
Kifli Andalo

Kifli Andalo

@kandaloe

Kadang hidup itu kadang kadang...

Bogor Timur, Indonesia Katılım Ocak 2014
227 Takip Edilen27 Takipçiler
luqman
luqman@LNurzen·
@KopiCobalagi @Stakof sy tidak benci krn sy sdg mencari kebenaran yg ilmiah. cuma dr beberapa ceramahnya sangat menyimpang dr nilai ilmiah. justru coba sekali2 anda pakai kacamata ilmiah untuk mencerna, jangan terpatri kalau Gus ini itu pasti otomatis benarnya
Indonesia
16
0
3
3.9K
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
Let me introduce: Gus Baha (Baha'uddin Nursalim). One of Indonesia's most respected Muslim intellectuals. He preaches in a regional language: Javanese. Audience: millions of Indonesian Muslims, many of whom don't speak Javanese. FYI, Indonesia has 718 regional languages.
Rumail Abbas tweet media
MuslimMatters@MuslimsMatters

Who is your preferred speaker?

English
26
141
700
37.1K
Juventini Indonesia
Juventini Indonesia@JCIndonesia·
Kawan saya sejak 5 tahun lalu sudah pindah ke Jepang. Masih WNI, tapi cerita terakhir sedang mengusahakan jadi warga Jepang. Alasannya ya sudah gak kuat jadi WNI. 2 Tahun pertama ia cerita memang berat, tapi setelah masuk tahun ketiga ia tak menyesali langkahnya untuk menetap di Jepang. Sebagai audio enggineer, ia sangat dihargai, baik nilai salary maupun skill set yang dimilikinya.
txtdaripodcast@txtruangpodcast

"mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa desa ga pake dolar, yang pusing yang sering keluar negri" guys, boleh nyerah jadi WNI ga sih kalo pemimpinnya aja kyk gini???😭😭

Indonesia
29
80
628
82.4K
Sapiens🙈🙉🙊
Sapiens🙈🙉🙊@Homo_sapiens21·
FYI dulu gw juga anti LGBTQ sebelum ambil S2 dan belajar DSM V dan human developmental.
Indonesia
38
164
2.5K
821.4K
amara
amara@anolepz·
@Farandd3f @senogp tp WHO sndiri yg blg itu ga termasuk penyakit gmn dong? apa lu mo blg WHO itu propaganda barat😂
Indonesia
5
0
122
5.2K
Kifli Andalo retweetledi
Joel Picard
Joel Picard@sociotalker·
proyek 3 juta rumah gmn progressnya? udh brp juta yg jadi dan kejual?
#AyoMoveOn2024@Fahrihamzah

PRABOWONOMICS Vs Neoliberal: Menjawab The Economist! Dalam dua tulisan terbarunya, majalah The Economist kembali mengayunkan gada kritik klasiknya terhadap Indonesia. Melalui artikel berjudul "Indonesia, the biggest Muslim-majority country, is on a risky path" dan "Indonesia’s president is jeopardising the economy and democracy", media benteng liberalisme barat ini menyuarakan kecemasan mendalam: Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto dianggap sedang melangkah ke jalur berbahaya karena memperkuat intervensi negara, mengaburkan batas disiplin fiskal, dan mengonsolidasikan kekuatan politik. Namun, jika kita menembus kabut kecemasan tersebut, kita akan mendapati sebuah bias lama yang usang. The Economist sedang melihat Indonesia menggunakan kacamata usang cetak biru Konsensus Washington (Neoliberalisme). Mereka gagal memahami satu hal mendasar: bagi Indonesia, terus berjalan di atas rel ekonomi liberal murni bukanlah sebuah pilihan keselamatan, melainkan sebuah jaminan untuk terjebak selamanya dalam kutukan negara pendapatan menengah (Middle-Income Trap). Prabonomomics hadir bukan untuk merusak ekonomi, melainkan sebagai tesis tandingan (counter-thesis) yang berani untuk menata ulang struktur ekonomi nasional demi keadilan sosial. Kekeliruan Paradigma Pasar Bebas: Belajar dari Sejarah. Selama puluhan tahun, resep neoliberal mendikte negara-negara berkembang untuk menjadi "murid yang patuh": buka pasar selebar-lebarnya, batasi peran negara hanya sebagai wasit, privatisasi sektor publik, dan biarkan modal global mendikte arah pembangunan. Hasilnya? Indonesia terjebak menjadi eksportir bahan mentah. Kita mengalami deindustrialisasi dini, di mana kontribusi manufaktur terhadap PDB terus menyusut. Kita kaya akan nikel, tembaga, dan bauksit, namun nilai tambah terbesar dari kekayaan alam tersebut dinikmati oleh negara-negara industri maju di Barat dan Asia Timur. Pasar bebas murni, dalam realitasnya, melanggengkan ketimpangan struktural dan menciptakan apa yang disebut para ekonom sebagai commodity curse (kutukan komoditas). Ketika Presiden Prabowo memilih untuk keluar dari jebakan ini, langkah tersebut tidak lahir dari ruang hampa ideologis. Ini adalah kalkulasi pragmatis yang berakar pada konstitusi Pasal 33 UUD 1945: bahwa bumi, air, dan kekayaan alam harus dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat. Tiga Pilar Prabowonomics: Melawan Skeptisism Barat. Kritik The Economist runtuh ketika dihadapkan pada logika pembangunan jangka panjang yang diusung oleh Prabowonomics, yang bertumpu pada tiga pilar utama: 1. Investasi Manusia (SDM) Bukan Pemborosan Fiskal. The Economist cemas terhadap program-program sosial masif seperti Makan Bergizi Gratis dan perumahan rakyat, menuduhnya sebagai ancaman bagi batasan defisit anggaran 3%. Ini adalah cara pandang akuntansi jangka pendek, bukan ekonomi pembangunan. Dalam Prabowonomics, memberi makan bergizi bagi anak-anak dan ibu hamil adalah investasi infrastruktur manusia terpenting untuk memotong rantai stunting. Bagaimana sebuah negara bisa melompat menjadi negara maju jika angkatan kerjanya mengalami malnutrisi kronis? Belanja ini adalah restrukturisasi modal manusia (human capital) yang akan menaikkan produktivitas nasional 10 hingga 20 tahun ke depan. Disiplin fiskal tetap dijaga, namun anggaran dikelola secara ekspansif-terukur, bukan hemat defensif yang mencekik pertumbuhan.

Indonesia
15
58
353
24K
Kifli Andalo
Kifli Andalo@kandaloe·
Hehe. Kalau yg dosa itu zina bukan orientasinya, kenapa kaum sodom diazab? Habis reply, terus diblok., hmmm.. Semoga anda sehat selalu ya.
young and dumb@iacceptthatpain

@snowonirori @kandaloe @ssmpivy @asvillainn Menghakimi lah, seolah olah orientasi seksual itu diajak dan mengajak Emang kalian ngerasain ya? Kalau balik ke agama terus bahasannya, kan zina yg dosa bukan orientasinya Dikira orientasi tuh kaya ngajak orang ikut pemuda pancasila?

Indonesia
0
0
0
4
Kifli Andalo retweetledi
young and dumb
young and dumb@iacceptthatpain·
@snowonirori @kandaloe @ssmpivy @asvillainn Menghakimi lah, seolah olah orientasi seksual itu diajak dan mengajak Emang kalian ngerasain ya? Kalau balik ke agama terus bahasannya, kan zina yg dosa bukan orientasinya Dikira orientasi tuh kaya ngajak orang ikut pemuda pancasila?
Indonesia
0
1
0
40
Muhammadiyah
Muhammadiyah@muhammadiyah·
LGBT sebagai Penyimpangan dari Sunatullah Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Asep Setiawan menyoroti fenomena LGBT dan transgender dalam khutbah Jumat yang disampaikan di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Jumat (15/05). Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa perilaku seksual menyimpang bertentangan dengan fitrah manusia sebagaimana diajarkan dalam Islam. Asep mengawali khutbah dengan menyampaikan data mengenai populasi LGBT di Indonesia. Ia mengutip data Kementerian Kesehatan RI tahun 2022 yang menyebut jumlah populasi LGBT mencapai sekitar 0,44 persen atau sekitar 1,1 juta jiwa. “Ini tentu data yang cukup miris, data yang cukup memprihatinkan bagi kita warga negara Indonesia yang mayoritas muslim,” ujarnya. Ia juga menyoroti adanya upaya normalisasi perilaku LGBT dengan alasan hak asasi manusia dan kebebasan individu. Menurutnya, seorang muslim semestinya memahami bahwa tubuh dan kehidupan manusia pada hakikatnya merupakan titipan Allah SWT yang harus dipertanggungjawabkan. Asep menegaskan bahwa prinsip inna lillahi wa inna ilaihi raji’un mengandung makna bahwa manusia beserta seluruh yang dimilikinya adalah milik Allah SWT. Karena itu, manusia tidak dibenarkan menggunakan kebebasan pribadi dengan mengabaikan ketentuan syariat. “Allah hanya menitipkan kepada kita dan di balik titipan itu ada amanah dan tanggung jawab yang akan Allah mintai pertanggungjawaban,” katanya. Dalam khutbah tersebut, Asep menjelaskan sejumlah ayat Al-Qur’an yang menurutnya menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia hanya dalam dua jenis kelamin, yakni laki-laki dan perempuan. Ia mengutip Surah Al-Hujurat ayat 13 serta Surah An-Nisa ayat 1 untuk menjelaskan penciptaan Nabi Adam dan Hawa sebagai dasar fitrah manusia. Selain itu, ia juga mengutip Surah Ali Imran ayat 14 yang menjelaskan kecenderungan alami laki-laki kepada perempuan dan perempuan kepada laki-laki. Menurutnya, ketertarikan seksual sesama jenis merupakan penyimpangan dari fitrah dan sunatullah manusia. Asep turut mengangkat kisah Nabi Luth AS dan kaum Sodom yang disebut dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa praktik homoseksual yang dilakukan kaum Nabi Luth mendapat kecaman keras dan azab dari Allah SWT. Dalam penjelasannya, ia mengutip Surah Al-A’raf ayat 80–84 yang mengisahkan teguran Nabi Luth kepada kaumnya karena melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan umat sebelumnya. Ia juga menyebut Surah Hud ayat 82 yang menggambarkan azab Allah terhadap kaum Sodom. Menurut Asep, fenomena LGBT tidak boleh didiamkan begitu saja. Ia mengajak umat Islam untuk menjalankan amar makruf nahi mungkar sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sosial. “Mari kita perhatikan lingkungan sekitar kita. Sekiranya ada di lingkungan kita fenomena gejala LGBT ini, jangan kita diamkan,” tuturnya. Ia kemudian mengutip Surah Al-Anfal ayat 25 yang mengingatkan agar masyarakat takut terhadap fitnah atau musibah yang tidak hanya menimpa pelaku kemaksiatan, tetapi juga orang-orang saleh yang tidak menjalankan kewajiban amar makruf nahi mungkar. Selain membahas LGBT, Asep juga menyinggung fenomena transgender. Ia mengutip hadis riwayat Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas RA mengenai laknat Rasulullah SAW terhadap laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Menurutnya, hadis tersebut menunjukkan larangan bagi laki-laki maupun perempuan untuk menyerupai lawan jenis dalam gaya hidup maupun penampilan. Dalam khutbahnya, Asep mengajak jamaah untuk tetap menjaga fitrah manusia sesuai tuntunan Islam serta memperkuat kepedulian sosial terhadap berbagai bentuk penyimpangan moral di masyarakat. Sumber: muhammadiyah.or.id/2026/05/lgbt-s…
Indonesia
25
130
393
17.8K
Kifli Andalo retweetledi
beta tester12
beta tester12@Tester12Be85411·
@Arkadesu @Doyoung_1601 @muhammadiyah berani gay, dari dulu orang orang tua kami negur kalo ada yg pacaran, berduaan atopun zina. Ga ada yg ngehalalin, dosa jangan dinormalisasi. Dan jangan ubah" ajaran islam buat menuhin ego elu
Indonesia
0
1
7
97
Kifli Andalo retweetledi
Angga PF
Angga PF@AnggaPutraF·
@Fahrihamzah Saya sudah baca tulisan ini. Sayangnya ga menjawab isi tulisan di the economist, oh iya saya sudah bikin summarnya buat yang belum sempet baca. —> PRABOWO Bikin Indonesia di Ujung Tanduk? Bedah The Economist 2026 youtu.be/4f2o5pvMB5A
YouTube video
YouTube
Indonesia
0
8
58
6.9K
Dimar
Dimar@dimarsasongko98·
Hmm lo bilang Disiplin fiskal tetap dijaga tapi ekspansif terukur. Kedengerannya keren. Tapi defisit 2025 sudah di 2,9% PDB, debt service ratio naik di atas 47%, dan ada pembiayaan lewat SOE & Danantara yang ga masuk angka resmi APBN. Kalau lo ga kasih angka konkret soal keberlanjutannya, lo lagi nulis puisi, bukan analisis ekonomi. anak SD juga bisa kalau cuman bikin puisi😄 Lo bilang Korea Selatan, Singapura, China semua butuh stabilitas politik yang kuat. Bener. Tapi lo skip bagian pentingnya: mereka punya institusi kuat, rule of law ditegakkan, birokrasi bersih. Sekarang di Indonesia: KPK dilemahkan sejak 2019 dan tren itu lanjut, revisi UU TNI 2025 buka pintu bagi 2.500–4.400 personel aktif masuk jabatan sipil. Itu bukan stabilitas ala Korea , itu completely beda cerita.😁 ok deh lo bilang Konsolidasi politik bukan membunuh demokrasi. Tapi koalisi lo sekarang kuasai lebih dari 80% kursi DPR. Oposisi nyaris ga ada. Pers makin hati-hati. Kalau lo mau sebut itu "national consensus" , yo wis monggo. Tapi konsensus yang lahir bukan dari perdebatan terbuka, itu namanya kartel politik, bukan demokrasi.🥱 Lo tuding The Economist pakai "kacamata usang Konsensus Washington." Tapi solusi lo apa? Nasionalisme SDA + BUMN superholding + eksekutif kuat. Itu resep yang juga dipakai Orde Baru , dengan konteks berbeda, tapi strukturnya mirip. Lo kritik kacamata usang sambil pakai kacamata yang lebih tua lagi.😩😩
Indonesia
2
5
10
750
#AyoMoveOn2024
#AyoMoveOn2024@Fahrihamzah·
PRABOWONOMICS Vs Neoliberal: Menjawab The Economist! Dalam dua tulisan terbarunya, majalah The Economist kembali mengayunkan gada kritik klasiknya terhadap Indonesia. Melalui artikel berjudul "Indonesia, the biggest Muslim-majority country, is on a risky path" dan "Indonesia’s president is jeopardising the economy and democracy", media benteng liberalisme barat ini menyuarakan kecemasan mendalam: Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto dianggap sedang melangkah ke jalur berbahaya karena memperkuat intervensi negara, mengaburkan batas disiplin fiskal, dan mengonsolidasikan kekuatan politik. Namun, jika kita menembus kabut kecemasan tersebut, kita akan mendapati sebuah bias lama yang usang. The Economist sedang melihat Indonesia menggunakan kacamata usang cetak biru Konsensus Washington (Neoliberalisme). Mereka gagal memahami satu hal mendasar: bagi Indonesia, terus berjalan di atas rel ekonomi liberal murni bukanlah sebuah pilihan keselamatan, melainkan sebuah jaminan untuk terjebak selamanya dalam kutukan negara pendapatan menengah (Middle-Income Trap). Prabonomomics hadir bukan untuk merusak ekonomi, melainkan sebagai tesis tandingan (counter-thesis) yang berani untuk menata ulang struktur ekonomi nasional demi keadilan sosial. Kekeliruan Paradigma Pasar Bebas: Belajar dari Sejarah. Selama puluhan tahun, resep neoliberal mendikte negara-negara berkembang untuk menjadi "murid yang patuh": buka pasar selebar-lebarnya, batasi peran negara hanya sebagai wasit, privatisasi sektor publik, dan biarkan modal global mendikte arah pembangunan. Hasilnya? Indonesia terjebak menjadi eksportir bahan mentah. Kita mengalami deindustrialisasi dini, di mana kontribusi manufaktur terhadap PDB terus menyusut. Kita kaya akan nikel, tembaga, dan bauksit, namun nilai tambah terbesar dari kekayaan alam tersebut dinikmati oleh negara-negara industri maju di Barat dan Asia Timur. Pasar bebas murni, dalam realitasnya, melanggengkan ketimpangan struktural dan menciptakan apa yang disebut para ekonom sebagai commodity curse (kutukan komoditas). Ketika Presiden Prabowo memilih untuk keluar dari jebakan ini, langkah tersebut tidak lahir dari ruang hampa ideologis. Ini adalah kalkulasi pragmatis yang berakar pada konstitusi Pasal 33 UUD 1945: bahwa bumi, air, dan kekayaan alam harus dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat. Tiga Pilar Prabowonomics: Melawan Skeptisism Barat. Kritik The Economist runtuh ketika dihadapkan pada logika pembangunan jangka panjang yang diusung oleh Prabowonomics, yang bertumpu pada tiga pilar utama: 1. Investasi Manusia (SDM) Bukan Pemborosan Fiskal. The Economist cemas terhadap program-program sosial masif seperti Makan Bergizi Gratis dan perumahan rakyat, menuduhnya sebagai ancaman bagi batasan defisit anggaran 3%. Ini adalah cara pandang akuntansi jangka pendek, bukan ekonomi pembangunan. Dalam Prabowonomics, memberi makan bergizi bagi anak-anak dan ibu hamil adalah investasi infrastruktur manusia terpenting untuk memotong rantai stunting. Bagaimana sebuah negara bisa melompat menjadi negara maju jika angkatan kerjanya mengalami malnutrisi kronis? Belanja ini adalah restrukturisasi modal manusia (human capital) yang akan menaikkan produktivitas nasional 10 hingga 20 tahun ke depan. Disiplin fiskal tetap dijaga, namun anggaran dikelola secara ekspansif-terukur, bukan hemat defensif yang mencekik pertumbuhan.
Indonesia
371
66
197
220.7K
Kifli Andalo retweetledi
Dimar
Dimar@dimarsasongko98·
Lo ini nulis lebih dari 1000 kata cuma buat bilang "Prabowo bener, The Economist salah." Tapi satu angka pun yang dia kasih buat buktiin Prabowonomics BERHASIL: nol. Ini mah bukan counter-thesis. Ini fan fiction ekonomi yang dibungkus bahasa keren.🤣 Lo bilang hilirisasi nikel adalah "harga mati kedaulatan." Faktanya: hampir 75% kapasitas smelter nikel Indonesia dikuasai modal China . Tsingshan, CATL, Huayou, dll. Investasi mereka sudah tembus >$65 miliar. Nilai tambah terbesar tetap ngalir ke sana. Lo ngusir ekspor bahan mentah, tapi yang dateng gantinya bukan kedaulatan , itu ganti tuan.😄 Lo samain Danantara sama Temasek & Khazanah. Temasek butuh puluhan tahun buat bangun kepercayaan pasar, diaudit publik, boardnya independen. Danantara baru lahir Februari 2025. Governancenya masih jauh dari standar itu, dan akses DPR pun terbatas. Itu bukan Temasek , itu Temasek versi press release.🤣 Lo tuduh The Economist pakai "cara pandang akuntansi jangka pendek" soal MBG. Tapi lo sendiri ga jawab: dari mana duitnya? Anggaran MBG Rp171 T di 2025, naik Rp335 T di 2026 ,ngambil porsi besar dari anggaran pendidikan dan sektor lain. Distribusi awalnya kacau. Investasi manusia lo bilang, tapi sektor lain yang harusnya bangun manusia malah dikanibal.🤮
Indonesia
6
50
218
5.8K
Kifli Andalo
Kifli Andalo@kandaloe·
Hilih hilih... Habis jokowinomics terbit prabowonomics. Seakan akan mereka sudah merumuskan sesuatu yg berharga dan bermanfaat. Pidihil....
#AyoMoveOn2024@Fahrihamzah

PRABOWONOMICS Vs Neoliberal: Menjawab The Economist! Dalam dua tulisan terbarunya, majalah The Economist kembali mengayunkan gada kritik klasiknya terhadap Indonesia. Melalui artikel berjudul "Indonesia, the biggest Muslim-majority country, is on a risky path" dan "Indonesia’s president is jeopardising the economy and democracy", media benteng liberalisme barat ini menyuarakan kecemasan mendalam: Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto dianggap sedang melangkah ke jalur berbahaya karena memperkuat intervensi negara, mengaburkan batas disiplin fiskal, dan mengonsolidasikan kekuatan politik. Namun, jika kita menembus kabut kecemasan tersebut, kita akan mendapati sebuah bias lama yang usang. The Economist sedang melihat Indonesia menggunakan kacamata usang cetak biru Konsensus Washington (Neoliberalisme). Mereka gagal memahami satu hal mendasar: bagi Indonesia, terus berjalan di atas rel ekonomi liberal murni bukanlah sebuah pilihan keselamatan, melainkan sebuah jaminan untuk terjebak selamanya dalam kutukan negara pendapatan menengah (Middle-Income Trap). Prabonomomics hadir bukan untuk merusak ekonomi, melainkan sebagai tesis tandingan (counter-thesis) yang berani untuk menata ulang struktur ekonomi nasional demi keadilan sosial. Kekeliruan Paradigma Pasar Bebas: Belajar dari Sejarah. Selama puluhan tahun, resep neoliberal mendikte negara-negara berkembang untuk menjadi "murid yang patuh": buka pasar selebar-lebarnya, batasi peran negara hanya sebagai wasit, privatisasi sektor publik, dan biarkan modal global mendikte arah pembangunan. Hasilnya? Indonesia terjebak menjadi eksportir bahan mentah. Kita mengalami deindustrialisasi dini, di mana kontribusi manufaktur terhadap PDB terus menyusut. Kita kaya akan nikel, tembaga, dan bauksit, namun nilai tambah terbesar dari kekayaan alam tersebut dinikmati oleh negara-negara industri maju di Barat dan Asia Timur. Pasar bebas murni, dalam realitasnya, melanggengkan ketimpangan struktural dan menciptakan apa yang disebut para ekonom sebagai commodity curse (kutukan komoditas). Ketika Presiden Prabowo memilih untuk keluar dari jebakan ini, langkah tersebut tidak lahir dari ruang hampa ideologis. Ini adalah kalkulasi pragmatis yang berakar pada konstitusi Pasal 33 UUD 1945: bahwa bumi, air, dan kekayaan alam harus dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat. Tiga Pilar Prabowonomics: Melawan Skeptisism Barat. Kritik The Economist runtuh ketika dihadapkan pada logika pembangunan jangka panjang yang diusung oleh Prabowonomics, yang bertumpu pada tiga pilar utama: 1. Investasi Manusia (SDM) Bukan Pemborosan Fiskal. The Economist cemas terhadap program-program sosial masif seperti Makan Bergizi Gratis dan perumahan rakyat, menuduhnya sebagai ancaman bagi batasan defisit anggaran 3%. Ini adalah cara pandang akuntansi jangka pendek, bukan ekonomi pembangunan. Dalam Prabowonomics, memberi makan bergizi bagi anak-anak dan ibu hamil adalah investasi infrastruktur manusia terpenting untuk memotong rantai stunting. Bagaimana sebuah negara bisa melompat menjadi negara maju jika angkatan kerjanya mengalami malnutrisi kronis? Belanja ini adalah restrukturisasi modal manusia (human capital) yang akan menaikkan produktivitas nasional 10 hingga 20 tahun ke depan. Disiplin fiskal tetap dijaga, namun anggaran dikelola secara ekspansif-terukur, bukan hemat defensif yang mencekik pertumbuhan.

Indonesia
0
0
0
12
txt bacotan warga +62
txt bacotan warga +62@txtdariyapping·
@throwsnpe @Tank_tob @Homo_sapiens21 > homo ternyata masih bisa punya anak, banyak homo punya anak istri > si monyet tolol ini masih ngotot kalo jadi homo = ganggu fungsi berkembang biak Lu paham ga sama yang lu tulis sendiri, nyet? ternyata dungu memang ga ada batasnya
Indonesia
2
0
0
46
Kifli Andalo
Kifli Andalo@kandaloe·
@txtdariyapping @throwsnpe @Tank_tob @Homo_sapiens21 Hidup bukan sekedar HS bro. Tapi yang bikin manusia ada ya HS, at least pertemuan antara sel telur dan sperma. Masa ya manusia homo itu hasil perkawinan apel dan ubur2? Atau sperma manusia yg jatuh ke tanah, terus jadi laki laki gay?
Indonesia
1
0
0
17
txt bacotan warga +62
txt bacotan warga +62@txtdariyapping·
@throwsnpe @Tank_tob @Homo_sapiens21 Lah kalo GAK MAU kan bukan berarti GAK BISA, kan berarti emg gak mau membuahi aja? Sedangkan fungsi reproduksi masih normal? Sama aja konsepnya ky misal ada org straight tolol ky lu, lalu dia memutuskan ga mau punya anak Sekali lagi, hidup lo emang cuman tentang NGENTOT kah???
Indonesia
2
0
3
93