Sabitlenmiş Tweet
evin
3.4K posts

evin
@kelvinalfn
مَنْ جَدَّ وَجَدَ
Kab. Bogor, Jawa Barat Katılım Nisan 2013
255 Takip Edilen126 Takipçiler
evin retweetledi
evin retweetledi

Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Indonesia
evin retweetledi
evin retweetledi
evin retweetledi
evin retweetledi

Ada temen gw yang kerja di kantor pusat kawasan Gatot Subroto.
Posisinya udah Director level, belasan tahun hidup di dunia corporate.
Tiba-tiba dia announce di townhall kecil tim:
Dia pindah ke Malang.
Resmi relokasi base kerja ke sana.
Alasannya kedengeran dewasa banget.
“Gw mau deket sama orang tua. Kerja tetap serius, tapi hidup nggak cuma soal meeting room dan traffic.”
Gaji dia di Jakarta 55 juta.
Take home sekitar 47 jutaan.
Semua orang mikir: aman lah, mau tinggal di mana juga tetap tajir.
Perusahaan approve.
Tapi ada satu kebijakan yang jarang dibahas detail:
Regional Pay Adjustment Scheme.
Intinya simpel:
Base salary dan allowance mengikuti indeks biaya hidup sesuai lokasi penugasan resmi.
Dia tanda tangan addendum digital sambil jalan ke meeting berikutnya.
Scroll. Klik. Done.
Bulan pertama resmi berkantor dari Malang, gaji masuk.
Take home: 31,2 juta.
Turun lumayan jauh.
Dia nggak ngamuk.
Cuma chat gw satu kalimat:
“Ini final ya? Bukan sementara?”
Gw sempat duduk bareng dia di Zoom hampir sejam, bongkar satu-satu breakdown dari HR.
Yang hilang:
• Big City Incentive 4 juta
• Executive transport allowance 3,5 juta
• Urban living premium 2,2 juta
Yang muncul:
• Regional adjustment buffer 1,5 juta
• Area operational support 900 ribu
Di Jakarta dulu pengeluarannya kira-kira begini:
• Apartemen pusat kota 16 juta
• Supir + operasional mobil 6 juta
• Lifestyle & networking event 8–10 juta
• Total bisa nyentuh 38–40 juta
Di Malang sekarang?
• Rumah dua lantai sewa tahunan kalau dibagi per bulan sekitar 7 juta
• Mobil tetap ada tapi tanpa supir, operasional 2 juta
• Makan enak, ngopi, hangout paling 3–4 juta
• Total sekitar 14–15 juta
Secara angka?
Sisa uangnya justru lebih longgar.
Tapi dia tetap merasa ada yang “lepas”.
Karena 55 juta itu bukan cuma soal cash flow.
Itu simbol.
Simbol bahwa dia main di liga elite ibu kota.
Simbol bahwa dia masuk ruangan dan orang otomatis respek.
Sekarang nominalnya turun.
Egonya ikut goyang.
Dia sempat bilang di telepon:
“Rasanya kayak downgrade ya?”
Gw jawab pelan:
“Downgrade itu kalau tanggung jawab lo dikurangin.
Ini cuma lokasi kerja yang berubah.”
Empat bulan berlalu.
Update terbaru?
Dia tiap pagi bisa sarapan sama orang tuanya.
Sore olahraga tanpa harus mikirin macet.
Weekend nggak lagi habis di mall, tapi ke gunung atau kebun apel.
Dan yang nggak disangka:
Dia mulai investasi waktu buat bikin advisory kecil untuk bisnis manufaktur lokal.
Fee per proyek 20–30 juta.
Sekarang sebulan bisa ambil satu atau dua proyek ringan.
Total penghasilan?
Balik lagi bahkan kadang lewat dari masa Jakarta.
Tapi yang paling beda bukan nominalnya.
Ekspresinya.
Waktu terakhir gw video call sama dia, dia bilang:
“Dulu gw takut kalau nggak di Jakarta, karier gw mengecil.
Ternyata yang mengecil cuma gengsi.
Yang membesar itu hidup.”
Yang berubah bukan cuma kota.
Tapi standar tentang apa itu “naik level”.
Indonesia
evin retweetledi
evin retweetledi

@tanyarlfes Tergantung tokonya kak, ada yg 24 jam, ada yang baru buka jam 1, dan ada yg baru buka jam 4 sore. Kembali lagi dari kebijakan didaerah masing²
Indonesia
evin retweetledi

@thisisciki Yaudah nanti ke bengkel bareng² biar gak merasa dilupakan 🙄
Indonesia

@tanyakanrl Itu ada yg penyok ya kak? Siapin budget 1jt aja untuk ketok magic dan ngecat
Indonesia
















