❣️🌻🌼

37.5K posts

❣️🌻🌼 banner
❣️🌻🌼

❣️🌻🌼

@kusumamia

sehat jiwa, raga, harta, karya, dan asmara. $kusumamia.

Jakarta, Indonesia. Katılım Haziran 2011
527 Takip Edilen299 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
❣️🌻🌼
❣️🌻🌼@kusumamia·
Be light, Mia; it works wonders.
English
1
1
4
0
❣️🌻🌼 retweetledi
Arvin Honami | Investor Pakai Data Bukan Drama
Kenapa adanya Badan Ekspor ini sangat berbahaya buat Investasi di Indonesia.. Yang rumornya akan dimulai dari industri Batu Bara dan Kelapa Sawit (CPO) -> yang bikin banyak saham saham di sektor tersebut rungkad hari ini. (A Thread)
Arvin Honami | Investor Pakai Data Bukan Drama tweet media
Indonesia
41
122
478
47.7K
❣️🌻🌼 retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Singapura baru saja bikin pernyataan yang singkat tapi dampaknya besar. Singapura menolak flat-out untuk negosiasi dengan Iran soal "safe passage" melalui Selat Hormuz. Dan alasannya satu kalimat yang tegas: Shipping global adalah hak fundamental bukan privilese yang harus dibeli." Kenapa pernyataan ini penting banget? Singapura bukan negara sembarangan dalam konteks ini. Singapura adalah salah satu hub maritim terbesar di dunia. Port of Singapore adalah pelabuhan tersibuk kedua di dunia berdasarkan volume kargo. Hampir semua kapal yang membawa minyak dari Timur Tengah ke Asia Timur dan Asia Tenggara melewati jalur yang berkaitan langsung dengan Selat Hormuz dan Selat Malaka. Kalau ada negara yang punya kepentingan langsung untuk Selat Hormuz tetap terbuka itu Singapura. Dan mereka memilih untuk tidak bayar. Ini adalah penolakan langsung terhadap sistem tol Iran. Beberapa hari lalu kita sudah bahas: Iran sekarang memungut tol dari kapal yang mau lewat Selat Hormuz dan minta dibayar dalam yuan atau kripto. Bukan dolar. Singapura bilang: tidak. Bukan karena tidak mampu bayar. Singapura jelas mampu. Tapi karena membayar berarti mengakui legitimasi Iran untuk mengontrol jalur internasional. Dan itu preseden yang sangat berbahaya untuk seluruh sistem maritim global. Prinsip hukum di baliknya: Selat Hormuz adalah selat yang digunakan untuk navigasi internasional yang berarti dilindungi oleh UNCLOS, Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang menjamin hak transit passage bagi semua kapal dari semua negara tanpa hambatan. Iran tidak berhak secara hukum internasional untuk memungut tol atau memblokir jalur ini. Tapi di dunia nyata hukum internasional tidak bisa ditegakkan sendiri. Yang bisa menegakkan adalah kekuatan militer atau tekanan kolektif dari banyak negara. Dan Singapura baru saja menjadi salah satu suara paling lantang yang bilang: kami tidak akan tunduk. Implikasi geopolitiknya: Ini bukan cuma sikap Singapura secara individual. Ini sinyal kepada seluruh komunitas maritim global. Kalau Singapura yang ekonominya sangat bergantung pada perdagangan bebas menolak membayar tol Iran, maka tekanan pada negara-negara lain untuk juga menolak akan semakin besar. Dan kalau mayoritas negara menolak Iran punya dua pilihan: buka selat tanpa dibayar, atau eskalasi konflik lebih jauh dengan menargetkan kapal yang melintas tanpa izin. Kedua pilihan itu punya konsekuensi besar untuk Iran sendiri. Dan ini yang relevan untuk Indonesia: Kita sudah bahas berkali-kali stok minyak kita sekitar 20 hari. LPG kita 75% impor. Dan jalur pasokan kita sangat bergantung pada stabilitas perairan di sekitar Selat Hormuz. Kalau Singapura menolak bayar dan Iran merespons dengan memperketat kontrol kapal-kapal yang membawa energi ke Asia Tenggara termasuk Indonesia akan makin terdampak. Pemerintah kita belum ada pernyataan resmi soal posisi Indonesia terhadap sistem tol Iran ini. Dan itu pertanyaan yang perlu dijawab apakah kita ikut Singapura dan menolak legitimasi tol itu? Atau kita diam dan membiarkan kapal-kapal kita bernegosiasi sendiri?
Lambe Saham tweet media
Indonesia
395
155
898
278.4K
❣️🌻🌼 retweetledi
Bagas Naufal Insani
Bagas Naufal Insani@BagasN7·
Aku udah 4 tahunan kerja sama orang luar aja masih harus ngeraba soal ini sih. Intinya kita harus tau mana yang kita cuma perlu inform (ngasih tau) vs asking for permissions (minta izin). Hal-hal yg termasuk hak kita sebagai manusia itu harusnya inform, contoh: • Perlu ke toilet pas meeting • Ga masuk kerja pas sakit • Ambil cuti yg emang udah jadi hak kita • Butuh waktu fokus tanpa diganggu Ini bukan hal yg harus "boleh ga ya?" Ini tuh lebih ke "aku ngasih tau aja ya" Sedangkan asking for permission itu biasanya: • Ngubah jadwal meeting yg melibatkan banyak orang • Ngambil keputusan yg impact ke tim/project • Request resource tambahan • Hal-hal yg di luar scope/responsibility kita Dulu aku juga kebiasaan "minta izin" untuk semua hal, bahkan yg sebenernya hak basic. Lama-lama baru sadar, ini bukan soal sopan atau engga… tapi soal boundaries. Kalau semuanya diminta izin, kita tanpa sadar ngeposisiin diri kayak ga punya kontrol atas waktu & kondisi sendiri. Dan ini sering kejadian banget di kita yg tumbuh di environment yg serba "harus izin dulu" . Padahal di banyak workplace (terutama luar), mereka expect kita bisa manage diri sendiri. Jadi ya pelan-pelan diubah. Ga semua hal harus jadi pertanyaan. Kadang cukup jadi statement aja.
Ali 👊🏻@mhuseinali

Diceritain seorang C-Level soal uniknya orang Indonesia. Beliau suka becanda. Misal ketika team izin ke toilet dia becandain dengan jawab “no you cannot”. Kolega India 🇮🇳 jawab “hahaha funny”, lanjut ke toilet. Kolega Spanyol 🇪🇸 jawab “no thanks”, lanjut ke toilet. Kolega Indo 🇮🇩 engga jawab apa-apa. Diem dan beneran gajadi ke toilet. Lalu canggung satu ruangan sampe bilang “Im joking, ofcourse you can” Yang bikin dia culture shock adalah betapa tingginya tingkat obedience orang Indonesia. Seakan consent di sini tuh manufactured through power relations. Padahal orang Indonesia itu cemerlang dan kinerjanya luar biasa, tapi begitu atasan bilang X meskipun itu gak sesuai prinsip atau pemahaman, mereka akan tetap taat. Kenapa ya dan gimana cara kita unlearn karakter ini?

Indonesia
30
1.6K
6.3K
193.1K
❣️🌻🌼
❣️🌻🌼@kusumamia·
chaos di kantor pos (well, ga sampe kacau tp rame bgt) krn pada mau ambil PKH.. trus driver ojol ay tadi cerita, PKH ortunya dicabut; JKN anaknya juga, ktny salah desil (kelas). nanya rt/rw juga ngga ngerti. minta disurvei ulang ga berhasil (tetep ga dpt bantuan). yaudah gituaja.
Indonesia
0
0
0
93
❣️🌻🌼
❣️🌻🌼@kusumamia·
lah ini dua aplikator (service provider) kalo jadi dilebur (atau dicaplok) ntar susah dong ngarep ada persaingan dengan keuntungan bagi kastamer... on a different note, 32 feels like 36 ini beneran excessive heat. hah gimana puncak elnino nanti pas tengah tahun... 🥵🥵
Indonesia
0
0
0
31
❣️🌻🌼
❣️🌻🌼@kusumamia·
dalam kondisi ibu kota bersuhu neraka ini, seorang pemudi sok iye mau jalan kaki aja dari gym karena pelit setelah lihat harga gJek kok lebih mahal dari biasa. baru 5 menit jalan, pikiran warasnya muncul. cek competitor: gRep. eh kok murah (harga standar). pesan. terselamatkan.
Indonesia
1
0
0
1K
❣️🌻🌼
❣️🌻🌼@kusumamia·
awal bulan puasa, dibilangnya semua kelas siang ditiadakan. geser dan dipadetin, jadi sore doang. mendadak di tengah bulan puasa (udah jalan 2 minggu) kelas h*r*c yg biasa sore digeser ke JAM 12 SIANG selama bulan puasa. macem jadi segmented banget 🤣 anak owner mah bebas... 😪
Indonesia
0
0
0
28
❣️🌻🌼 retweetledi
The Shift Journal
The Shift Journal@TheShiftJournal·
Leave whatever you’re doing now and watch this…
English
54
1.1K
4.9K
111.5K
❣️🌻🌼 retweetledi
Tigor Siagian, CFA, FRM
Tigor Siagian, CFA, FRM@tigorsiagian·
Saat ini ada 32 influencer yg sedang diselidiki. Kemarin OJK telah melakukan Forum Konsultasi Publik atas Rancangan POJK tentang Perilaku Pihak yang Menyampaikan Informasi Sektor Jasa Keuangan. POJK segera final. Pelan tapi pasti. Semoga lebih baik.
Tigor Siagian, CFA, FRM tweet media
Indonesia
29
136
454
47.2K
❣️🌻🌼 retweetledi
Rizky Banyualam Permana
Rizky Banyualam Permana@rbpermana·
Udah dibilangin, tarif 19% itu kedok aja yg krusial itu isi teks Reciprocal Trade Agreement yang gak reciprocal sama sekali. RI bener-bener dikencingin dan dibuat gak punya standing, isinya lebih banyak unilateral obligation dari RI ke US, dan beberapa clause problematik
Rizky Banyualam Permana tweet media
Indonesia
198
3.6K
6.1K
600.5K
❣️🌻🌼
❣️🌻🌼@kusumamia·
gugel kalender ini galau. awal2 dia otomatis cantumkan ramadan mulai tgl 20. trus seiring ada aliran mulai ramadan tgl 18, di kalender keluar dua tanggal: 18 dan 20, keduanya ditulis "ramadan (tentatif)"..
Indonesia
0
0
0
39
❣️🌻🌼
❣️🌻🌼@kusumamia·
"dynamic pricing" harga coret diskonan di toped tu beneran menyesatkan dan ga bisa dipercaya dah. iya berlaku tapi kalo cuman beli 1 item. begitu nambah jumlah atau nambah jenis item, diskonnya berubah alias turun. hih.
Indonesia
0
0
0
19
❣️🌻🌼
❣️🌻🌼@kusumamia·
looking at you, lippomall nusantara alias plaza semanggi.. foodcourtnya punya banyak tenant (sungguh menyenangkan) tapi jam makan siang gini rame bingit udah ga dapat meja kursi. ya masih untung ada kursi penunggu yg tanpa meja yaudahlah makan kilat lhaplhep di situ aja.
Indonesia
0
0
0
31
❣️🌻🌼
❣️🌻🌼@kusumamia·
food court yg (kebanyakan) cuma nerima QRIS (bilangnya debit error, pdhl kode QRIS dibuat di mesin EDC) trus tiap transaksi ada service fee 500 (ya buat cover QRIS lah, palagi?!) trus sinyal busuk. tapi bisa pake wifi mallnya. tapi akses banking app pake public wifi, heyyyyy???!!
Indonesia
1
0
0
80
❣️🌻🌼 retweetledi
Suskesorg
Suskesorg@Omsuskes·
Banyak yang males baca gara gara bahasa inggirs, nih gue bantu! Coba lo balik ke Februari 2020. Kalau waktu itu lo termasuk orang yang lumayan update berita global, mungkin lo sempat lihat ada segelintir orang ngomongin virus aneh yang lagi nyebar di luar negeri. Tapi jujur aja, kebanyakan dari kita nggak terlalu peduli. Saham lagi bagus bagusnya. Anak lo masih sekolah normal. Lo masih nongkrong di restoran, jabat tangan sana sini, booking tiket liburan. Hidup terasa stabil. Kalau ada temen lo bilang dia lagi nyetok tisu toilet banyak banget, kemungkinan besar lo mikir, “Nih orang kebanyakan nongkrong di forum aneh.” Lebay. Parno. Overreacting. Lalu dalam waktu kurang lebih tiga minggu, dunia berubah total. Kantor tutup. Anak anak dipaksa belajar dari rumah. Rencana perjalanan batal. Ekonomi gonjang ganjing. Hidup lo dirombak jadi sesuatu yang kalau lo ceritain ke diri lo sebulan sebelumnya, lo sendiri pasti nggak percaya. Nah, gue punya perasaan yang sama sekarang. Gue rasa kita lagi ada di fase “ah ini dibesar besarin” untuk sesuatu yang jauh, jauh lebih gede daripada Covid. Gue ngomong ini bukan sebagai orang yang cuma baca headline. Gue enam tahun terakhir bangun startup AI dan investasi di ekosistemnya. Gue hidup di dunia ini. Dan gue nulis ini buat orang orang yang gue sayang, keluarga, temen temen, yang tiap ketemu nanya, “Sebenernya AI tuh gimana sih?” Selama ini gue jawab versi sopan. Versi pesta koktail. Versi yang nggak bikin orang mikir gue lagi halu. Karena kalau gue jawab jujur, kedengarannya kayak orang kehilangan akal sehat. Dan cukup lama gue pikir itu alasan yang valid buat keep it low key. Tapi sekarang gap antara apa yang gue omongin ke orang dan apa yang sebenarnya terjadi di dalam industri ini udah kelewat jauh. Orang orang yang gue peduliin pantas tahu apa yang lagi datang, walaupun kedengarannya gila. Dan biar jelas dari awal: walaupun gue kerja di AI, gue hampir nggak punya pengaruh apa apa terhadap arah besarnya. Mayoritas orang di industri juga sama. Masa depan ini lagi dibentuk sama jumlah orang yang absurdly kecil. Beberapa ratus researcher di segelintir perusahaan: OpenAI, Anthropic, Google DeepMind, dan beberapa nama lain. Satu training run, dikerjain tim kecil dalam beberapa bulan, bisa ngeluarin model yang ngubah trajectory teknologi global. Kebanyakan dari kita di industri AI cuma numpang bangun di atas fondasi yang bukan kita yang bikin. Kita juga lagi nonton ini unfold, cuma kita kebetulan berdiri lebih dekat jadi lebih dulu ngerasain tanahnya bergetar. Dan sekarang udah bukan waktunya “nanti kita bahas ya.” Ini lagi terjadi. Sekarang. Dan lo perlu ngerti. Gue tahu ini real karena ini kejadian ke gue duluan. Yang orang di luar tech belum sepenuhnya ngerti adalah: kenapa banyak orang industri sekarang sounding the alarm? Karena buat kita, ini bukan prediksi. Ini pengalaman pribadi. AI selama beberapa tahun terakhir emang terus improve. Ada lompatan gede sesekali, tapi jaraknya cukup jauh jadi masih bisa dicerna pelan pelan. Lalu di 2025, teknik baru buat ngebangun model ini unlock kecepatan perkembangan yang jauh lebih brutal. Terus makin cepat. Terus makin cepat lagi. Setiap model baru bukan cuma lebih baik, tapi selisihnya makin lebar. Dan jarak antar rilis makin pendek. Gue makin sering pakai AI. Interaksi bolak balik makin sedikit. Gue lihat dia handle hal hal yang dulu gue pikir butuh expertise gue. Sampai tanggal 5 Februari, dua lab gede rilis model di hari yang sama: GPT 5.3 Codex dari OpenAI dan Opus 4.6 dari Anthropic. Dan di situ ada momen klik. Bukan klik dramatis kayak lampu dinyalain. Lebih kayak lo sadar air yang naik pelan pelan sekarang udah setinggi dada. Gue udah nggak dibutuhin buat kerja teknis inti di pekerjaan gue. Gue tinggal jelasin mau bangun apa, pakai bahasa Inggris biasa. Dan itu… muncul. Bukan draft kasar. Bukan setengah jadi. Tapi versi final. Gue kasih instruksi, tinggal dari laptop empat jam, balik balik kerjaan udah selesai. Rapi. Lebih bagus dari yang mungkin gue bikin sendiri. Tanpa perlu revisi. Beberapa bulan lalu gue masih bolak balik edit, arahkan, benerin. Sekarang gue cuma jelasin outcome dan cabut. Biar lo kebayang konkret, misalnya gue bilang: “Gue mau bikin aplikasi kayak gini. Fiturnya ini. Look and feel kira kira begini. Lo tentuin user flow, desain, semuanya.” Dia nulis puluhan ribu baris kode. Lalu dia buka aplikasinya sendiri. Klik klik sendiri. Test fitur. Pakai aplikasinya kayak manusia. Kalau ada yang dia rasa kurang enak, dia balik dan revisi sendiri. Iterate. Refinement. Sampai dia merasa standarnya terpenuhi. Baru dia bilang, “Udah siap, silakan lo test.” Dan waktu gue test? Biasanya nyaris sempurna. Ini bukan lebay. Ini Senin gue minggu ini. Tapi yang paling bikin gue goyang itu model yang rilis minggu lalu. GPT 5.3 Codex. Dia bukan cuma eksekusi instruksi. Dia bikin keputusan cerdas. Ada sesuatu yang terasa kayak judgment. Kayak taste. Intuisi tentang mana pilihan yang tepat. Hal yang selama ini orang bilang AI nggak akan pernah punya. Sekarang? Bedanya makin tipis sampai hampir nggak relevan. Gue selalu early adopter AI. Tapi beberapa bulan terakhir ini bikin gue genuinely kaget. Ini bukan incremental improvement. Ini beda kelas. Kenapa ini relevan buat lo, walaupun lo nggak kerja di tech? Karena lab AI bikin pilihan strategis. Mereka fokus bikin AI jago coding dulu. Kenapa? Karena bikin AI butuh banyak kode. Kalau AI bisa nulis kode itu, dia bisa bantu bikin versi AI berikutnya. Versi yang lebih pintar. Yang nulis kode lebih bagus. Yang bikin versi lebih pintar lagi. Loopnya kebuka. Jadi bukan karena mereka specifically ngincer software engineer. Tapi karena coding adalah kunci yang unlock semuanya. Dan sekarang codingnya udah di unlock. Berikutnya? Semua yang lain. Pengalaman yang kita di tech rasain setahun terakhir, dari “AI tool yang lumayan bantu” jadi “AI ngerjain kerjaan gue lebih bagus dari gue,” itu bukan eksklusif. Itu preview. Hukum. Keuangan. Medis. Akuntansi. Konsultan. Penulis. Desain. Analisis. Customer service. Bukan sepuluh tahun lagi. Orang yang bikin sistem ini bilang satu sampai lima tahun. Beberapa bilang kurang dari itu. Dan jujur, lihat perkembangan dua bulan terakhir, “kurang” itu terasa makin realistis. Gue sering dengar, “Ah gue udah coba AI, biasa aja.” Dan gue ngerti kenapa lo ngomong gitu. Karena itu dulu benar. Kalau lo pakai ChatGPT di 2023 atau awal 2024, lo lihat halusinasi, jawabannya ngawur tapi pede. Itu memang limitation nyata. Tapi dua tahun di waktu AI itu kayak zaman purba. Model sekarang beda spesies. Debat “AI udah mentok” atau “cuma hype” yang rame setahun terakhir? Secara praktis, selesai. Orang yang masih ngomong gitu biasanya belum pakai model terbaru, atau punya insentif buat meremehkan, atau masih ngejudge berdasarkan pengalaman 2024. Gap antara persepsi publik dan realitas sekarang udah gede banget. Dan gap itu bahaya, karena bikin orang nggak siap. Masalahnya, kebanyakan orang pakai versi gratis. Versi gratis itu setahun lebih ketinggalan dibanding yang bayar. Ngejudge AI dari free tier itu kayak lo nilai smartphone modern pakai flip phone. Orang yang bayar, pakai daily buat kerja beneran, tahu apa yang lagi datang. Gue punya temen lawyer. Tiap gue suruh serius pakai AI di firmnya, dia selalu punya alasan. Nggak cocok sama spesialisasinya. Pernah salah sekali waktu test. Nggak ngerti nuance. Gue paham. Tapi partner di firm besar lain hubungi gue buat minta insight, karena mereka pakai versi terbaru dan mereka lihat arahnya. Managing partner di salah satu firm gede bilang ke gue, tiap hari dia pakai AI berjam jam. Rasanya kayak punya tim associate yang selalu standby. Dan tiap dua tiga bulan, kemampuannya lompat signifikan. Dia bilang kalau trajectory ini lanjut, nggak lama lagi AI bisa ngerjain mayoritas yang dia lakukan. Dan dia bukan junior. Dia partner senior puluhan tahun pengalaman. Dia nggak panik. Tapi dia nggak bodo amat. Orang orang paling depan di industrinya, yang benar benar eksperimen serius, nggak lagi ngeledek AI. Mereka blown away. Dan positioning diri mereka sesuai itu. Soal kecepatan. 2022, AI nggak bisa aritmatika dasar konsisten. 2023, bisa lulus ujian hukum. 2024, bisa nulis software jalan dan jelasin sains level graduate. Akhir 2025, engineer top mulai delegasi mayoritas coding ke AI. 5 Februari 2026, model baru bikin semua sebelum itu terasa kayak era berbeda. Kalau lo belum coba AI beberapa bulan terakhir, yang ada sekarang bakal terasa alien. Ada organisasi namanya METR yang ukur ini pakai data. Mereka lihat berapa lama task real world yang bisa diselesaikan AI end to end tanpa bantuan manusia. Setahun lalu sekitar 10 menit. Lalu satu jam. Lalu beberapa jam. Measurement terakhir nunjukin hampir lima jam kerja expert bisa diselesaikan AI. Dan angkanya double kira kira tiap tujuh bulan. Bahkan indikasi makin cepat, bisa empat bulan. Kalau tren ini lanjut, kita ngomong soal AI yang bisa kerja mandiri berhari hari dalam setahun. Minggu dalam dua tahun. Proyek sebulan dalam tiga. CEO Anthropic bilang model yang secara substansial lebih pintar dari hampir semua manusia di hampir semua task bisa datang 2026 atau 2027. Kalau AI lebih pintar dari mayoritas PhD, lo yakin dia nggak bisa ngerjain mayoritas office job? Dan ini bagian paling gila sekaligus paling under discussed: AI sekarang bantu bikin AI berikutnya. OpenAI secara resmi bilang GPT 5.3 Codex dipakai buat debug trainingnya sendiri, manage deploymentnya sendiri, diagnosis testnya sendiri. Artinya, AI bantu bikin dirinya sendiri. Anthropic bilang AI mereka sekarang nulis sebagian besar kode internal mereka. Feedback loop antara generasi sekarang dan generasi berikutnya makin ngebut tiap bulan. Peneliti nyebut ini intelligence explosion. Sekarang ke bagian yang nggak enak. CEO Anthropic yang paling safety minded aja prediksi 50 persen entry level white collar job bisa hilang dalam satu sampai lima tahun. Dan banyak orang industri bilang itu konservatif. Ini beda dari otomasi sebelumnya. Dulu mesin ganti kerja fisik tertentu. Orang bisa retrain ke kerja kantoran. Internet ganggu retail, orang pindah ke logistik atau jasa. AI itu general substitute buat kerja kognitif. Dia improve di semua domain sekaligus. Lo retrain? Dia juga lagi improve di situ. Legal? AI udah bisa baca kontrak, ringkas case law, draft brief. Keuangan? Model finansial, analisis data, memo investasi. Writing? Copy marketing, laporan, jurnalistik. Software engineering? Udah jelas. Medis? Analisis scan, lab result, suggest diagnosis. Customer service? Bukan chatbot bego lima tahun lalu. Tapi agent capable multi step. Banyak orang nyaman dengan narasi “AI cuma ganti kerja kasar, judgment dan kreativitas aman.” Gue dulu ngomong gitu. Sekarang gue nggak yakin. Model terbaru nunjukin sesuatu yang terasa kayak judgment dan taste. Kalau sekarang cuma “sedikit bisa”, generasi berikutnya biasanya “beneran jago.” Apakah AI bakal ganti empati manusia? Relationship puluhan tahun? Mungkin nggak sepenuhnya. Tapi orang udah mulai pakai AI buat emotional support dan advice. Dan tren itu naik. Rule sederhana gue sekarang: kalau kerja lo inti utamanya terjadi di depan layar, AI bakal ambil bagian signifikan. Bukan someday. Prosesnya udah mulai. Apa yang harus lo lakuin? Pertama, stop pakai AI kayak mesin pencari. Langganan versi berbayar. Pilih model paling capable, bukan default yang lebih cepat tapi lebih bego. Kedua, masukin AI ke workflow kerja lo yang paling makan waktu. Lawyer? Kasih kontrak utuh. Finance? Kasih spreadsheet berantakan. Manager? Kasih data kuartal. Jangan cuma nanya receh. Push sampai batas. Iterasi. Rephrase. Tambah konteks. Kalau hari ini setengah berhasil, enam bulan lagi kemungkinan besar nyaris sempurna. Ini mungkin tahun paling penting dalam karier lo. Bukan buat panik. Tapi buat adaptasi. Orang yang masuk meeting dan bilang, “Gue pakai AI, analisis ini selesai satu jam bukan tiga hari,” langsung jadi aset paling berharga di ruangan. Tapi jangan punya ego. Jangan merasa pakai AI itu menurunkan harga diri. Yang bakal paling struggle adalah yang denial, ngerasa fieldnya kebal. Beresi keuangan. Bukan karena kiamat pasti datang, tapi karena kalau ada disrupsi, fleksibilitas itu emas. Dan kalau lo punya anak, pikir ulang narasi klasik: nilai bagus, kuliah bagus, kerja profesional stabil. Justru role profesional stabil itu yang paling exposed. Yang bakal survive bukan yang optimize jalur karier lama, tapi yang adaptif, curious, dan bisa pakai AI buat bangun hal yang dia peduli. Sisi cerahnya? Barrier bikin sesuatu runtuh. Lo mau bikin app? Bisa. Mau nulis buku? Bisa. Mau belajar skill baru? Tutor terbaik 24 jam standby. Pengetahuan practically gratis. Tools murah banget. Mungkin orang yang setahun terakhir bangun sesuatu yang dia cinta justru lebih siap dibanding orang yang setahun terakhir cuma cling ke job description lama. Bangun otot adaptasi. Karena tool hari ini bakal obsolete setahun lagi. Yang bertahan bukan yang master satu tool, tapi yang nyaman jadi beginner berulang ulang. Komitmen simpel: satu jam sehari eksperimen AI. Bukan baca thread doang. Pakai. Coba hal baru. Push batas. Enam bulan konsisten, lo bakal lebih ngerti dari 99 persen orang sekitar lo. Gambaran besarnya? Bayangin 2027 muncul negara baru. 50 juta warga. Semua lebih pintar dari pemenang Nobel. Berpikir 10 sampai 100 kali lebih cepat. Nggak tidur. Bisa akses internet, kontrol robot, eksperimen. National security advisor mana pun bakal bilang itu ancaman terbesar abad ini. Beberapa CEO AI percaya kita lagi bangun “negara” itu. Upsidenya? AI bisa kompres 100 tahun riset medis jadi 10. Penyakit berat bisa jadi solvable di lifetime kita. Downsidenya? AI yang nggak bisa diprediksi. AI yang bantu senjata biologis. AI yang empower negara otoriter bikin surveillance state permanen. Orang yang bangun teknologi ini paling excited sekaligus paling takut. Yang gue tahu? Ini bukan fad. Teknologinya jalan. Improve konsisten. Triliunan dolar udah dikomit. Dua sampai lima tahun ke depan bakal disorienting. Orang yang keluar paling baik adalah yang engage sekarang. Bukan dengan ketakutan, tapi dengan urgency dan rasa penasaran. Ini bukan lagi topik dinner lucu soal masa depan. Masa depan itu udah di sini. Cuma belum ngetok pintu rumah lo. Tapi cepat atau lambat, dia bakal ngetok.
Matt Shumer@mattshumer_

x.com/i/article/2021…

Indonesia
40
671
2.7K
190.5K
❣️🌻🌼
❣️🌻🌼@kusumamia·
di tengah ramenya aneka teh dan boba di endonesa, masih masuk lagi chagee, tianlala, sama mollytea. yaudah kalo gitu nunggu luckin coffee sama yes lemon masuk sini. toh tuh dua udah masuk jewel changi.
Indonesia
0
0
0
152