Sabitlenmiş Tweet
Lulu Ratna
27.8K posts

Lulu Ratna
@lu2ratna
short film activist • collagemaker • film festival goers • mama plants • be what you want to be 😊 • IG: @lu2ratna, @kaiku_id, @boemboeforum • FB Group: boemboe
Jakarta, Indonesia Katılım Aralık 2010
1K Takip Edilen2.9K Takipçiler
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi

Papua tengah diincar proyek food estate dan bioetanol, menjadikannya salah satu pemusnahan hutan terbesar dalam sejarah.
Di tengah ancaman itu, warga Papua terus berjuang demi tanah kelahirannya. Seperti apa perjuangan mereka?
Saksikan dalam film Pesta Babi, gala premier 12 April 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Kamu juga bisa bikin nobar sama komunitas atau organisasimu. Pendaftaran Musim Nobar Pesta Babi dibuka mulai 12 April 2026. Daftar dan cek ketentuannya di bit.ly/musimnobar_pes…
Indonesia
Lulu Ratna retweetledi

Setiap kali ngebahas Si Doel Anak Sekolahan, wacana seringkali mentok di perdebatan "mendingan Sarah atau Zaenab?"
Padahal, kalau kita mau menelisik lebih dalam, sinetron ini adalah salah satu arsip kritik sosiologis yg oke di era Orde Baru soal omong kosongnya meritokrasi pendidikan.
Sinetron ini merekam dengan jelas patah hatinya kelas pekerja Jakarta yang dibohongi oleh janji manis bahwa "sekolah tinggi adalah tiket pasti buat naik kelas sosial."
Coba kita ingat-ingat core ceritanya.
Babe Sabeni rela jual tanah dan narik oplet siang-malam cuma demi satu utopia: bikin Doel jadi "insinyur". Orde Baru saat itu memang gencar mempropagandakan pembangunan dan pendidikan. Tapi begitu Doel lulus dan dapat ijazah, apa yg terjadi? Realitas menamparnya habis-habisan. Bertahun-tahun Doel luntang-lantung masuk-keluar gedung bertingkat di Sudirman pakai kemeja kegedean, cuma buat ngetes ombak pahitnya bursa kerja.
Kalau meminjam konsep sosiologi dari Bourdieu, ijazah Doel (Modal Kultural) itu ternyata gak ada artinya karena dia miskin Modal Sosial (networking/orang dalam).
Doel punya otak, tapi dia nggak punya privilege yg cuma dimiliki kelas menengah ke atas kayak keluarganya Sarah.
Sinetron ini dengan jujur mengungkap fakta bahwa di sistem kapitalisme yg korup, ijazah sarjana kalah telak sama yg namanya "titipan koneksi".
Yg bikin sinetron ini masterpiece adalah bagaimana mereka mengemas keputusasaan struktural itu lewat elemen komedi yg satir banget.
Ingat scene legendaris pas Atun kejepit tanjidor? Atau gimana apesnya Mandra yg selalu diomelin Babe karena narik opletnya sepi penumpang?
Di permukaan itu emang kocak. Tapi kalau ditarik lebih jauh, komedi Mandra dan Atun itu adalah potret kepanikan kelas bawah yg tergagap dipaksa masuk ke mesin modernisasi.
Tanjidor yg menjepit perut Atun itu alegori yg pas buat menggambarkan kebudayaan lokal yg makin sesak dan terhimpit di tengah Jakarta yg berubah jadi hutan beton.
Sementara itu, Mandra adalah representasi ketidakberdayaan. Dia cuma tamatan SD, narik oplet butut yg pelan-pelan rutenya digilas sama angkot dan mikrolet moderen. Dia adalah korban pergeseran zaman yg gak punya jaring pengaman (ijazah/modal).
Ironisnya, saat Doel si sarjana teknik pengangguran bingung nyari kerjaan formal, satu-satunya tulang punggung ekonomi keluarga Sabeni yg paling nyata justru ada di tarikan oplet reyot Mandra dan warung kecil Maknyak.
Jadi, kalau hari ini Gen Z banyak yg mengeluh soal fenomena loker fiktif, gila-gilaan syarat kerja, atau capeknya bersaing sama anak pejabat lewat jalur ordal, sebenarnya Si Doel udah meramalkan penderitaan struktural itu sejak 30 tahun yg lalu.
Sinetron ini boleh saja dilihat sekadar dari drama cinta segitiga, tapi di layer selanjutnya ini adalah tragedi sebuah keluarga yg percaya pada sistem, namun akhirnya dikhianati oleh sistem itu sendiri.




Indonesia
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi

Apakah pakaian kita bisa jadi racun bagi tubuh dan bumi?
Di balik tren fast fashion yang murah dan instan, terdapat ancaman serat plastik yang kini masuk ke tubuh lewat air, tanah, dan udara. Kita terjebak dalam siklus konsumsi yang tak pernah puas, sementara limbah pakaian menumpuk menjadi polutan yang perlahan menghancurkan ekosistem.
Ironisnya, di tengah ketergantungan pada 99% kapas impor, budaya sandang slow fashion seperti tenun ikat yang ramah lingkungan justru berada di ambang kepunahan. Film ini memotret kontradiksi besar bangsa ini: bagaimana simbol kapas di lambang negara kontras dengan realita industri tekstil yang sekarat dan kedaulatan sandang yang kian runtuh.
MENOLAK PUNAH, sebuah dokumenter kolaborasi Ekspedisi Indonesia Baru, The Body Shop Indonesia, Sunspirit, dan Sejauh Mata Memandang. Karya sutradara Dandhy Laksono dan Aji Yahuti ini mengajak kita menelusuri jejak kapas hingga limbah fesyen untuk menemukan jalan pulang menuju bumi yang lebih sehat.
Segera tayang April 2026.
Indonesia
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi

celamat hari film nasional (apanya yg perlu diselametin ya/terlalu self obsessed not sexxee buat diselamatkan)
my baker's top 10:
1. liburan keluarga - tunggul banjaransari
2. polah - arie surastio
3. violetta - bachtiar siagian
4. ibunda - teguh karya
5. hulahoop soundings - edwin
6. bayi ajaib - tindra rengat
7. keramat - monty tiwa
8. realita cinta dan rock n roll - upi
9. ekskul - nayato
10. mawar merah - rosnani jamil (indo-malay coproduction)
11. negeri di bawah kabut - shalahuddin siregar




Indonesia
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi
Lulu Ratna retweetledi



















