Marlina Lumban Gaol

19.2K posts

Marlina Lumban Gaol banner
Marlina Lumban Gaol

Marlina Lumban Gaol

@marlinalumban

Indonesia Katılım Mayıs 2012
284 Takip Edilen261 Takipçiler
Marlina Lumban Gaol retweetledi
Gita Wirjawan
Gita Wirjawan@GWirjawan·
Had a thoughtful discussion with Sigit Puji Santosa, Nadia Habibie, and Bagus Muljadi. Asserted and exerted a possible idea, even hypothesis: one that mandates as much intellectual resource as possible into the realization of building 30 gigawatts of power generation capabilities on an annual basis. A feat attributable to the following considerations: (1) Increasing per capita electrification from the current 1,300 kWh to 10,000 kWh is necessary not only for modernization, but more importantly, for the nation to be able to be a stakeholder (instead of a spectator) of the AI narrative. The AI narrative will pervasively be much more agentic, not generative, which requires disproportionately more energy. Should we have the right resources, Indonesia could possibly create a non-linear event, a Sputnik or DeepSeek event, someday. (2) Yet a 30 gigawatt per year initiative requires around USD 45 billion capital allocation per year. Building this annually will, in around 20 years, take us from 1,300 kWh to 10,000 kWh per capita, an additional 600 gigawatts beyond the pre-existing 90-100 gigawatts already built so far. A precursor to modernization and a robust renewable energy narrative. This amount of capital allocation involves not only the arrival of new technology and liquidity, but also employment: at least a net increment of 12 million jobs per year. This will help formalize the large chunk of the informal sector (known as gig economy) estimated to hover around 75 million informal jobs. This could be remedied in a finite number of years. (3) A multipolar world order requires geopolitical dexterity that allows one to swing as if no one is an enemy and a thousand friends are too few. Yet multipolarity also entails a higher degree of proliferation of many variables, one of which is technology. Technologically, humanity is gifted with an exponential increase in cost efficiency and effectiveness in renewable energy. Solar energy cost has dwindled from 44 cents to 4 cents per kWh, while battery storage has gone from USD 3,000 to around USD 100 per kWh. This fits squarely into the affordability of Indonesians and the citizenry of the Global South. The sustainability narrative essentially consists of energy transition and circularity. The latter is equally complex. Yet resolving the former will set the necessary foundation to more expediently resolve the latter. Two possible key elements in constructing such a foundation: (1) recruiting and properly compensating high quality teachers who will infuse imagination, ambition, and smart luck across the nation; (2) and managing and democratizing talent in picking the best, including through collaboration with great universities around the world, so that there's an optimal intersection between talent and power - technocratization. Managing talent involves four dimensions: brain train, involving local indigenous talent of scale (Japan); brain gain, opening the gate for talent from around the world to help build (Australia, the US); brain circulation, sending scales of raw talent abroad to seek and polish, then return (China); and brain linkage, sending raw talent abroad to seek, polish, and link wisdom back to the origin (India). Indonesia can learn, adopt, and embellish these playbooks for its own nation building. But it’s important to note that: supply side economics requires meticulous thinking about ways and forms of execution. This ostensibly and inevitably involves decision-making technocracy, increasingly an endangered species. Once done right, wonders arrive. May this possible hypothesis be contemplated upon, and tested.
Gita Wirjawan tweet mediaGita Wirjawan tweet media
English
5
9
38
4.5K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
folkative
folkative@insidefolkative·
Pria asal Jakarta, Mochammad Asri atau Mocha, sukses pimpin tim NVIDIA di AS, dan punya cita-cita ingin balik ke Indonesia untuk benahi sistem pendidikan disini. via: ig/thereselearns
folkative tweet media
Indonesia
1.2K
730
7.7K
1.6M
Marlina Lumban Gaol retweetledi
👀
👀@saludosparatii·
Aneh banget yang bilang alam Amerika seadanya. Mereka punya banyak bioma, mulai dari gurun, taiga, tundra, padang rumput, hutan hujan iklim, bahkan hutan hujan tropis pun ada. Justru saking luas dan beragamnya bentang alam Amerika, orang Amerika sampai dikenal jarang ke luar negeri dan kepemilikan paspornya rendah (dibanding Eropa). Karena mereka sudah cukup liburan di dalam Amerika dengan destinasinya yang beragam. Simpelnya, kalo orang Eropa harus ke Afrika untuk lihat gurun, maka orang US tinggal ke Southwest. Kalo orang Eropa harus ke Bali untuk liburan eksotis di iklim tropis, maka orang US cukup ke Hawaii. Dan kalo yang ngikutin sejarah US pasti tau, dulu proyek rel kereta yang menghubungkan pantai timur dan pantai barat US itu sempat terkendala lama salah satunya karena kondisi alamnya yang ekstrim.
sya@arsenatasyas

Miskonsepsi tentang Amerika: Alamnya seadanya 🥲

Indonesia
27
598
3.7K
143.3K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
R
R@hiro1233548·
"kenapa harus cari temen yang setara?" agar bicaramu tidak dianggap sombong, impianmu tidak di sepelekan, travelingmu tidak dianggap pemborosan, gaya hidupmu tidak menjadi julidan, dan pencapaianmu tidak membuatnya cemburu, justru bahagiamu menjadi bahagia untuknya juga.
Indonesia
25
331
1.2K
16.7K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
dr. Adam Prabata
dr. Adam Prabata@AdamPrabata·
Pagi ini saat sedang nyetir, gue dengerin podcast dr. Tirta di Nizar Talks. Jujur awalnya ekspektasi gue adalah update ilmu kesehatan, nah tapi di sini dr. Tirta mode SERIUS BANGET, dan malah gue banyak dapat insight tentang kehidupan. Sumpah. Bagus Banget. Ini 3 insight menariknya. 1. 𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻𝗹𝗮𝗵 𝗣𝗿𝗶𝘃𝗶𝗹𝗲𝗴𝗲, 𝗠𝗲𝗹𝗮𝗶𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗯𝘂𝘁𝘂𝗵𝗮𝗻 (𝗣𝗿𝗲𝘀𝘀𝘂𝗿𝗲 𝗶𝘀 𝗮 𝗡𝗲𝗰𝗲𝘀𝘀𝗶𝘁𝘆) Menurut gue ini POV yang unik. dr. Tirta memandang tekanan sebagai sebuah kebutuhan hidup atau necessity. Jika hidup terlalu tenang tanpa adanya tekanan, maka beliau akan kehilangan arah dan tujuan. Oleh karena itu, dr. Tirta membutuhkan tekanan agar tetap produktif dan termotivasi untuk terus bergerak maju mengejar target-target baru. Gue termasuk orang yang banyak target dalam hidup, dan kalau tercapai malah kadang kok jadi kehilangan motivasi hidup, jadi POV ini "sangat relate." 2. 𝗦𝗲𝗸𝗼𝗹𝗮𝗵 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗞𝘂𝗹𝗶𝗮𝗵 𝗕𝗲𝗿𝗳𝘂𝗻𝗴𝘀𝗶 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗠𝗲𝗺𝗽𝗲𝗿𝗯𝗮𝗶𝗸𝗶 𝗣𝗼𝗹𝗮 𝗣𝗶𝗸𝗶𝗿, 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗡𝗶𝗹𝗮𝗶 Pendidikan formal itu memberi struktur berpikir, sementara kesuksesan setelahnya bergantung pada kemauan individu untuk tidak pernah berhenti belajar dari mana saja. Opini saya kalau belajar sekadar nilai saja, maka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai tersebut, tanpa punya struktur dan kemampuan berpikir yang baik. Contohnya mencontek atau bahkan full menggunakan AI untuk tugas, tanpa membaca atau memahami pembelajaran di balik tugasnya. 3. 𝗣𝗿𝗶𝗻𝘀𝗶𝗽 𝗛𝗶𝗱𝘂𝗽 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗞𝗮𝗸𝘂 Bagi kalian yang sering mengalami krisis identitas atau merasa terjebak pada keputusan masa lalu, dr. Tirta mengingatkan bahwa prinsip hidup bukanlah sesuatu yang kaku. Kebanyakan kegagalan terjadi bukan karena salah melangkah, melainkan karena seseorang terlalu gengsi untuk mengakui kesalahannya dan enggan merubah arah hanya karena terlanjur mempertahankan prinsip lamanya. Mengubah prinsip hidup demi kebaikan adalah tanda pendewasaan emosi dan proses belajar yang tidak pernah telat 𝗔𝗸𝗵𝗶𝗿 𝗞𝗮𝘁𝗮 Sumpah gue belajar banyak banget tentang kehidupan dari podcast ini! Best! Gue gak di endorse dan gak kenal juga sama Host-nya, tapi thanks to Nizar Talks yang bisa mengeluarkan "sisi lain" dari dr. Tirta ini, sehingga gue bisa banyak banget belajar.
dr. Adam Prabata tweet media
Indonesia
15
180
851
24.1K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
Gita Wirjawan
Gita Wirjawan@GWirjawan·
80 mahasiswa Indonesia di Harvard, dibanding Tiongkok yang lebih dari seribu dan ratusan dari Korea. Dalam gambaran lebih luas, hal serupa terjadi. Pada 2023, Tiongkok mengirim sekitar 1 juta mahasiswa ke luar negeri, India sekitar 800 ribu, sementara Indonesia hanya 70 ribu mahasiswa. Dan kalau kita lihat lanskap politik Indonesia, 88% kepala rumah tangga & 93% orang dengan hak untuk memilih tidak memiliki pendidikan tinggi. Angka di atas menunjukkan gejala dari masalah struktural, yang selama ini tidak berhasil membebaskan kita dari middle income trap. Bahwa skor IQ bangsa masih jauh di bawah yang dibutuhkan. Pertanyaannya bagaimana kita bisa membawa skor itu naik?
Indonesia
87
524
2K
217.2K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
Hidup sebagai +62
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62·
DEFINISI BOCIL NGK SADAR DIPRANK MERASA DIHORMATI, PADAHAL MEDIA PRANCIS MENCEMOOH !! REAL NGK ADA HARGA DIRI !!! Salah satu media prancis memberitakan Kunjungan Prabowo Subianto dengan kata2 gini : "l’interventionnisme du président Prabowo provoque des turbulences sur les marchés La mesure a provoqué une fuite massive des capitaux étrangers." artinya : Intervensionisme Presiden Prabowo Menyebabkan Kekacauan Pasar. Langkah tersebut memicu pelarian modal asing secara besar-besaran. Mereka aja paham apa yg terjadi di Indonesia wok !!!!
Hidup sebagai +62 tweet mediaHidup sebagai +62 tweet media
Indonesia
282
5.7K
19.1K
496.3K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
Dino Patti Djalal
Dino Patti Djalal@dinopattidjalal·
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
Indonesia
951
16.7K
34.5K
2.5M
Marlina Lumban Gaol retweetledi
Blake Burge
Blake Burge@blakeaburge·
Underrated life advice: Have more hobbies and fewer opinions. Learn an instrument. Plant a garden. Build something with your hands. Cook. Paint. Run. The happiest people I know spend less time debating life and more time actually living it.
English
186
3.7K
22.3K
367.6K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
Al Jazeera English
Al Jazeera English@AJEnglish·
Indonesian authorities have shut down several screenings of a new documentary on alleged human rights abuses in Papua, including Indigenous land seizures. Rights groups and international media still face restricted access to the region. Al Jazeera’s @JesWashington reports.
English
180
13.3K
18.6K
1.2M
Marlina Lumban Gaol retweetledi
𝐎𝐦𝐉_𝙹eռɢɢօtȶ
𝐎𝐦𝐉_𝙹eռɢɢօtȶ@OmJ_J3Nggott·
Hewan Langka Khas Papua Kangguru Pohon Wondiwoi ia sudah pernah di nyatakan punah sejak puluhan tahun yang lalu Hewan langka ini kembali ditemukan di Papua Barat dan juga kembali terancam punah akibat pembabatan Hutan yang terus berlangsung di Papua
Indonesia
206
8.9K
18.7K
238.7K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
M. Chatib Basri
M. Chatib Basri@ChatibBasri·
Membaca kembali berita2 saat Taper Tantrum. Saat itu rupiah melemah dan kekuatiran krisis keuangan terjadi. Indonesia di kategorikan masuk ke dalam fragile five waktu. Namun dg kombinasi pengetatan fiscal, BI menaikkan bunga, dan expenditure switching policy, Indonesia, bersama dg India, keluar dari Fragile Five dalam waktu 7 bulan. Kekuatiran kiris keuangan berhasil diatasi Ini salah satu contoh assesment dari media saat itu “ Indonesians Shrug-off Taper Tantrum thediplomat.com/2014/02/indone… “Fragile-five days long gone as funds pile into India, Indonesia” m.economictimes.com/news/economy/f…
M. Chatib Basri tweet mediaM. Chatib Basri tweet mediaM. Chatib Basri tweet media
Indonesia
16
154
495
24.1K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
dl
dl@drlrst·
BI itu cuma punya satu target utama: inflasi. Dan ranahnya melalui kebijakan moneter, ada 3 channel utama (this is basic monetary economics). Kurs itu sebenarnya bukan target utama bank sentral. Di modern practice, bank sentral gak mengelola kurs, inflasi, dan GDP bersamaan.
Indonesia
11
524
2K
83.5K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
folkative
folkative@insidefolkative·
Ferry Irwandi berikan pendapat terkait narasi "rupiah sengaja dilemahkan, demi ekspor" yang lagi rame di medsos. Dia bilang: "Itulah mengapa lo perlu sekolah, dan kenapa lo perlu kuliah. Pelemahan mata uang itu mungkin dilakukan oleh negara yang mata uangnya terlalu kuat, (cont)
Indonesia
74
709
3.8K
285.6K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
M. Chatib Basri
M. Chatib Basri@ChatibBasri·
Tadi sore saya ngobrol dg Richardo Hausmann Guru besar ekonomi di Harvard Kennedy School. Hausmann dikenal dg complexity index nya. Kami mendiskusikan growth strategy di emerging economies. Hausmann selalu mencerahkan. Alih alih berdebat soal sektor mana yg memberikan value added tinggi vs rendah, manufaktur vs services, Hausmann menyampaikan yg penting bukan debate memilih sektor yg memberikan value added tinggi (downstreaming vs commodities) tapi bagaimana membangun capabilities. Dia cerita bagaimana Jepang mulai dg textile, yg akhirnya mesin utk membuat textile menghasilkan toyota. Kisah negara-negara Nordik menunjukkan bahwa teknologi tinggi sering lahir dari proses yang panjang dan tampak sederhana. Finland dan Sweden mula-mula bertumpu pada hutan, kayu, pulp, dan kertas. Tetapi dari industri itulah tumbuh kemampuan engineering, manufaktur, kimia, dan riset. Perusahaan seperti Nokia bahkan berawal dari industri pulp sebelum akhirnya menjadi raksasa telekomunikasi dunia. Intinya apakah mampu meningkatkan capabilities. Kapabilitas utk mampu mengubah industri berbasis sumber daya alam menjadi pijakan untuk membangun kemampuan teknologi yang lebih kompleks. Saya setuju dichotomy antara manufacturing dg services tidak sepenuhnya akurat, krn sektor manufaktur yg produktifitasnya tinggi justru yg service intensive, istilahnya servicification. Belajar banyak dari Hausmann.
Indonesia
69
661
2.3K
100.4K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
Wicaksono Management LC
Wicaksono Management LC@bigdigjohnny·
Buat yang MALAS MEMBACA tapi BUKAN PARJO PARCOK. Saya bantu translasi article the Economist biar ga IKUTAN DUNGU teriak antek asing dan "semua akan hilang ketika IHSG bullish": "Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, pernah menyaksikan negaranya hancur sebelumnya. Itu terjadi pada tahun 1998, saat krisis keuangan Asia. Kala itu, runtuhnya ekonomi memicu protes massa dan tumbangnya bapak mertua Pak Prabowo, Suharto, seorang diktator yang terkenal korup. Peristiwa itu juga melemparkan Pak Prabowo, yang sempat berharap bisa menggantikan Suharto, ke dalam pengasingan politik. Butuh waktu seperempat abad baginya untuk merangkak kembali, hingga akhirnya berhasil meraih kursi nomor satu pada tahun 2024. Jadi, Anda mungkin berpikir dia akan sangat berhati-hati terhadap krisis fiskal lainnya: Anda salah. Pemimpin negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia ini telah memusatkan kekuasaan dan mengelilingi dirinya dengan sekelompok penjilat. Dia mendepak menteri keuangan yang dihormati dan menggantinya dengan Purbaya Yudhi Sadewa, yang pernah menyebut IMF "bodoh" dan mengatakan kepada The Economist pada bulan April bahwa presiden tidak perlu khawatir tentang "perkembangan ekonomi global [atau] harga minyak dunia". Para pelaku bisnis di Indonesia takut untuk bersuara, mungkin karena Pak Prabowo adalah mantan jenderal antikritik dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan, atau mungkin karena belakangan ini dia kerap mengintimidasi bisnis-bisnis besar. Pak Prabowo tampaknya mengisolasi diri dari kenyataan. Jadi, dia mungkin tidak akan mendengarkan nasihat yang masuk akal. Namun, inilah beberapa masukan untuknya. Proyek-proyek kesayangannya tidak terjangkau. Sebelum perang Iran, menghabiskan proyeksi 10% dari anggaran hanya untuk dua proyek saja—makan siang gratis di sekolah dan jaringan 80.000 koperasi desa—hanya sekadar pemborosan. Sekarang, krisis energi telah menghapus semua ruang untuk melakukan kesalahan. Pak Prabowo harus mengubah arah atau menghadapi risiko krisis. Dia harus memotong pengeluaran untuk proyek-proyek kesayangannya, atau memangkas subsidi bahan bakar fosil Indonesia yang sangat besar, atau melanggar undang-undang yang membatasi defisit anggaran sebesar 3% dari PDB. Setiap pilihan memiliki risiko. Memangkas proyek mubazirnya akan membuatnya tampak lemah. Membiarkan harga energi naik akan mengundang kerusuhan. Jadi, Pak Prabowo mungkin akan mengambil jalan ketiga: membiarkan defisit menembus batas hukumnya. Itu akan menjadi sebuah kesalahan. Memang benar, batas 3% adalah angka sewenang-wenang yang disalin-tempel dari Perjanjian Maastricht Eropa. Namun sejak krisis 1998, angka itu telah menjadi sinyal bahwa pemerintah Indonesia serius menjaga disiplin fiskal. Sekarang para investor mulai cemas. Pembayaran bunga sebagai bagian dari pendapatan pemerintah melonjak tajam. Lembaga pemeringkat kredit sedang bersiap untuk menurunkan peringkat. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, modal asing senilai $6 miliar telah keluar dan rupiah telah melemah sebesar 11% terhadap dolar ke rekor terendah. Menjebol batas anggaran akan mendorong biaya pinjaman menjadi lebih tinggi. Bahkan saat dia membuat ekonomi menjadi lebih genting, Pak Prabowo juga mengikis demokrasi Indonesia. Oposisi legislatif hampir sepenuhnya dilumpuhkan, dan proposal untuk mengakhiri pemilihan langsung gubernur provinsi bukan merupakan pertanda baik. Masyarakat sipil diintimidasi. Ruang untuk berbeda pendapat sangat sedikit, dan jika ada, minim pergulatan kreatif antar-gagasan yang saling bersaing. Terlalu banyak hal yang bergantung pada naluri seorang mantan tentara tunggal yang mendapat saran buruk. Dia perlu mendengar kebenaran yang pahit. Ya, bahan bakar murah memang populer. Namun hal itu mendorong konsumsi di tengah situasi kelangkaan. Ya, orang-orang menyukai makan siang gratis di sekolah. Namun memberikannya kepada semua orang adalah pemborosan. Lebih bijaksana untuk fokus pada ibu hamil dan balita dari keluarga miskin, yang membutuhkan nutrisi lebih baik guna mencegah stunting (tengkes). Ya, petani Indonesia kerap diperas oleh tengkulak saat membeli pupuk. Namun ada cara yang lebih murah untuk mengatasi hal ini ketimbang membangun 80.000 koperasi desa, yang kemungkinan besar justru rentan korupsi. Dan ya, batas defisit 3% bisa saja dinaikkan suatu hari nanti. Namun pertama-tama, Pak Prabowo harus meyakinkan pasar bahwa keuangan Indonesia berada di tangan yang aman. Persimpangan jalan baru Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam seperempat abad terakhir. Di bawah serangkaian pemerintahan yang cukup pragmatis, pendapatan per kapita telah meningkat lebih dari dua kali lapor dan demokrasi mulai berakar. Pak Prabowo bukanlah penguasa kleptokratis seperti mendiang bapak mertuanya, tetapi dia sedang mengikis kemajuan yang telah dicapai negaranya sejak masa-masa kelam dulu. Presiden harus berhenti mencoba membungkam oposisi di legislatif, media, dan masyarakat sipil. Perbedaan pendapat yang tidak menemukan saluran dalam politik akan tumpah ke jalanan, seperti yang terjadi dalam kerusuhan tahun lalu. Bersikeras bahwa oposisi harus "sopan" adalah resep yang suatu hari nanti justru bisa mengubahnya menjadi kekerasan. Masih ada harapan. Pak Prabowo peduli dengan warisan kepemimpinannya. Jadi, dia perlu menyadari bahwa negara kepulauan yang sangat besar, luas, dan multi-etnis seperti Indonesia tidak bisa begitu saja diberi perintah layaknya sebuah unit tentara. Indonesia membutuhkan seorang panglima tertinggi yang mendengarkan banyak suara, bukan yang mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang hanya bisa berkata "ya""
The Economist@TheEconomist

Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths econ.st/3RE0Fum Photo: Getty Images

Indonesia
168
19.8K
43.3K
1.3M
Marlina Lumban Gaol retweetledi
M. Ridha Intifadha
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha·
Kemarin, @TheEconomist mempublikasikan dua artikel soal Indonesia Judul artikel pertama: Presiden Indonesia sedang membahayakan ekonomi dan demokrasi Subjudulnya: Prabowo Subianto terlalu boros dan terlalu otoriter Perlu diketahui, Spendthrift artinya orang yang menghamburkan uang secara tidak bijak. Diksi ini lebih keras dari sekadar “boros”. Dalam konteks negara, ada kesan ceroboh dan tidak bertanggung jawab secara fiskal. ======== Judul artikel kedua: Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar, sedang menempuh jalur yang berisiko Subjudulnya: Prabowo Subianto sedang menggerogoti keuangan negara—dan demokrasinya. Di artikel ini, pemilihan diksi “Eroding” rasanya memperkuat artikel lainnya. Jeopardising (membahayakan) masih bicara soal risiko ke depan. Eroding (menggerogoti) berarti prosesnya sudah berlangsung. Rasanya pelan, diam-diam, tapi nyata. Bagaikan batu yang berlubang oleh tetesan air.
M. Ridha Intifadha tweet mediaM. Ridha Intifadha tweet media
Indonesia
352
21K
39.8K
593.7K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
Hasyim Muhammad
Hasyim Muhammad@hasyimmah·
Saya punya teman yang anaknya kuliah di Universitas Binus. Dia cerita kalau di Binus ada aturan: ketahuan mencontek, mahasiswa di-DO. Wow! Saya terkesima. Lalu dia menambahkan: jika ada alumni Binus tertangkap korupsi, maka namanya akan dihapus dari daftar alumni Binus. Wow! Wow! Wow! Saya triple terkesima. Saya jadi mikir, kenapa kampus PTN tidak mengajarkan integritas seperti itu ke mahasiswanya? Itu adalah sebuah aturan, sekaligus pelajaran, yang menurut saya sangat penting untuk "memperbaiki" bangsa ini. Sebuah langkah dasar dalam membentuk mental anak didik mereka. Kenapa cuma Binus yang melakukan kebaikan itu? Kenapa cuma Binus yang punya niat untuk membina nusantara ini menjadi lebih baik? -- Catatan: silakan share jika ada kampus lain juga yang mengajarkan integritas seperti itu.
Indonesia
215
787
4.7K
337.4K
Marlina Lumban Gaol retweetledi
Fauzan Muhajir 𝕏
Fauzan Muhajir 𝕏@fauzanmuhajir·
Just info, Basarnas Indonesia itu salah satu tim SAR terbaik di dunia. Tahun 2016 Basarnas masuk rank ke-7 terbaik di dunia. Setelah itu tahun 2022 naik jadi rank ke-4 terbaik di dunia.
Fauzan Muhajir 𝕏 tweet mediaFauzan Muhajir 𝕏 tweet media
⊹ rae & that ★ ssd pinned!@neptuneshinee

selalu amazed sih sm skills tim SAR/911 di seluruh dunia, it's not an easy thing buat nusuk infus di tempat yg sempit, kejepit, ga tenang but they did???? thanks for existing the world guys

Indonesia
144
11.6K
32.3K
612.6K