zhil@zhil_arf
Biang kerok Krisis Ekonomi 1998 yang jarang dibahas adalah Tutut Soeharto.
Saat itu para pebinis, bank, investor sangat menunggu susunan Kabinet Pembangunan VII.
Kalau menteri yang dipilih jenius, mungkin Indonesia masih bisa diselamatkan.
Yang dipilih malah Tutut.
Tutut malah ditunjuk jadi *menteri* dan duduk di dalam kabinet. Ini terjadi di tengah-tengah krisis 1998.
Bukan hanya Tutut. Bob Hasan juga muncul.
Bob Hasan "si raja hutan", oligarki kroni Soeharto yang sudah lengket sejak mereka sibuk merampok hasil perkebunan gula di Jawa Tengah pada tahun 1950an ketika Soeharto masih jadi kolonel, malah ikut ditunjuk jadi menteri.
Posisinya tidak kaleng-kaleng. Bob Hasan ditunjuk menjadi *Menteri Industri dan Perdagangan*. Ini terjadi ketika seluruh industri di Indonesia sedang meledak hancur dan seluruh perdagangan di Indonesia sedang meledak hancur.
Ternyata, Soeharto yang sudah sakit-sakitan, tua, pikun, dan stroke menunjuk Tutut sebagai perwakilan utamanya untuk mengendalikan kabinet.
Soeharto yang sudah sangat uzur dan ringkih tak lagi bisa mengontrol dan mendisiplinkan anak buahnya secara langsung seperti dahulu. Ini sangat meresahkannya, mengingat semua anak buahnya sedang berontak melihat negara yang semakin kacau.
Karena alasan itulah, Soeharto menunjuk Tutut sebagai perwakilan utama de facto nya di kabinet. Hanya anak biologisnya sendiri yang benar-benar Soeharto percayai.
Secara praktis, Tutut sebagai anak sulung dan ketua anak-anak Cendana pun ditugaskan Soeharto untuk menjadi Ahli Negara, seperti Luhut di zaman Jokowi.
Padahal Ahli Negara diharapkan sangat kompeten, jenius, dan berkomitmen dalam menangani krisis ekonomi 1998 dan melakukan berbagai reformasi yang sangat diperlukan.
Ahli Negara jelas tidak boleh hanya fokus menyelamatkan pundi-pundi raksasa kekayaan bisnis pribadi keluarganya sementara seluruh negara roboh dan terbakar.
Efeknya drastis.
Pasar panik.
Kepercayaan semua aktor bisnis domestik dan internasional jatuh.
Ekonomi semakin roboh.
Krisis menggila.
Kebijakan kenaikan harga BBM oleh pemerintah yang sudah tak punya uang langsung memicu demo besar-besaran.
Demo meluas.
Kekacauan.
Konspirasi faksi elite.
Ketegangan.
Penembakan mahasiswa di Trisakti.
Ledakan kemarahan.
Kerusuhan.
Kota-kota besar diduduki massa ngamuk.
Penjarahan.
Pembakaran.
Pembantaian di jalanan.
Jakarta jatuh. Medan jatuh. Solo jatuh. Rakyat ternganga melihat pemerintah kehilangan kendali atas kota-kota besar ini di TV.
Ketua DPR/MPR, Harmoko, terang-terangan mengumumkan di depan parlemen bahwa Soeharto sebaiknya mundur saja.
DPR diduduki mahasiswa.
14 dari 34 menteri mundur massal.
ABRI di bawah Jenderal Wiranto menolak melakukan "Tiananmen" hanya untuk sekadar melindungi cengkram kekuasaan pribadi keluarga Cendana yang rampok dan sia-sia.
Opini Pangkostrad saat itu, yang menganjurkan penumpasan demonstran dengan pasukan militer untuk mengembalikan kewibawaan kekuasaan pribadi keluarga Cendana, kalah dan diabaikan.
Soeharto pun mundur pada 21 Mei 1998. Ia langsung digantikan Habibie hari itu juga pada jam 9 pagi.
4 jam kemudian, laporan-laporan mulai masuk ke Istana bahwa ada pasukan tentara yang bergerak tanpa perintah menuju lokasi Habibie untuk melakukan entah apa.
Kehebohan melanda Istana. Kudeta?
3 jam kemudian, yang muncul adalah Pangkostrad bersama sekelompok kecil pasukan yang membawa-bawa senjata. Ia datang menuntut Habibie untuk memecat Wiranto dari posisi Panglima ABRI, dan dengan demikian, meminta implisit dijadikan Panglima ABRI yang baru.
Alhamdulillah Habibie selamat dan tidak sampai ditembak, diculik, ditangkap, atau dibunuh pasukan tentara apapun. Padahal belum sehari beliau menjabat. Peristiwa ini di kemudian hari dicatatkan Habibie dalam memoarnya.
Besoknya, Pangkostrad saat itu langsung dipecat.
Tutut juga langsung dipecat dan diganti Prof. Justika Baharsjah, Guru Besar Pertanian IPB.
Bob Hasan juga langsung dipecat dan diganti Prof. Rahardi Ramelan, anak buah Habibie sejak masih di industri pesawat.
Ekonomi Indonesia berhasil dipulihkan, meski lewat teori ekonomi yang tidak lazim (ekonofisika).
Tutut dan adik-adiknya sendiri dimaafkan dan kini hidup santai bersama seluruh pundi-pundi kekayaan raksasa yang mereka tumpuk selama 2 dekade kekuasaan ayah mereka.
Kekayaan raksasa ini termasuk hasil rampokan dari ekspor impor pasokan bensin se-Indonesia via Petral dan monopoly cengkeh BPPC milik Tommy Soeharto.
---
Pada tahun 2009, Tommy Soeharto mencoba menggunakan pundi-pundi kekayaan raksasa itu untuk membeli Partai Golkar dan menjadi ketua umumnya.
Ia dikalahkan oleh Aburizal Bakrie yang memasang harga lebih besar yaitu Rp 1 triliun. Aburizal Bakrie akhirnya berhasil membeli Golkar, menjadi ketua umum, dan dari situ mencoba mencalonkan diri menjadi presiden tahun 2014.