Nara Nugroho
13.5K posts













Bayern have terminated their "Visit Rwanda" campaign with immediate effect following the criticism and controversy over human rights. The club will no longer promote tourism to Rwanda. Instead, Bayern will intensify their support for the youth in the country. In cooperation with the Rwandan Ministry of Sports, the FC Bayern Academy in Kigali will continue to promote the country's talent [@cfbayern, @altobelli13]




@JalanArsenal Tidak menjawab pertanyaanku di awal apakah Arsenal melakukan sports-washing krn menerima duit dr rezim pelanggar HAM di Rwanda? Jangan whataboutism. Ayo diskusi yang tertib.



Mesut Özil confirms Arsenal closed the door on him after he posted about the Uygur genocide to his social media. Some things are bigger than football ❤️



Sebagai debut penyutradaraan Reza Rahadian, Pangku (2025) justru terasa mengkhianati judulnya sendiri. Alih-alih dieksplorasi secara mendalam, fenomena kopi pangku di pesisir pantai utara ini malah sekadar numpang lewat sebagai gimmick belaka. Memang sinematografi film ini patut diapresiasi karena berhasil menahan diri untuk tidak meseksualisasi para perempuan pekerja seks. Namun, kehati-hatian visual ini tidak dibarengi dengan keberpihakan wacana. Melalui narasinya, Pangku justru menyiratkan sebuah pandangan yang cukup problematis, bahwa pekerja seks yang “baik” hanyalah mereka yang terpaksa dan sebenarnya menolak profesi tersebut. Padahal pekerja seks, apapun alasannya, merupakan posisi yang rentan. Lalu, jika tujuannya memang ingin memotret kemalangan perempuan hamil, sendirian, dan tidak punya tujuan sebagai korban kemiskinan struktural akibat jerat kapitalisme dan patriarki, rasanya tidak perlu menempelkan unsur seksualitas pada plot apalagi judulnya. Terlebih ketika kopi pangku ini dilucuti sama sekali, kerangka cerita utamanya sebetulnya tidak akan banyak berubah. Penceritaannya juga seakan terjebak pada sekadar pin-pointing fenomena dan berhenti di titik itu saja. Film ini hanya menampilan bagaimana Sartika (Claresta Taufan) menghadapi keadaan sulit, dan kemampuannya untuk sekadar survive sudah cukup dianggap sebagai sebuah pencapaian akhir. Pertanyaan besarnya adalah, untuk siapa sebenarnya film ini ditujukan? Jika sasarannya adalah masyarakat akar rumput, realita kemiskinan sudah terlampau lekat dengan kehidupan sehari-hari mereka, tinggal tengok kiri atau kanan sudah ketemu. Atau mungkin Pangku memang diproduksi dari dan untuk kacamata kalangan elitis? Di mana penderitaan kelas bawah cukup disajikan di panggung sebagai tontonan bertegangan, namun hampa resistensi?


Filmnya jelek. Banyak yang nonton purely karena kredibilitas Jokan sebagai director. Salah satunya saya. Ekspektasi saya ketinggian 🥲 Terlalu banyak yg mau dibahas dan dikritik sampe keliatan maksa dari segi dialog maupun storytelling. Aku coba review. Spoiler dikit.





















