nay
11K posts

nay
@nayoyf
quarter life crisis enjoyer
Jakarta Pusat, DKI Jakarta Katılım Haziran 2011
357 Takip Edilen567 Takipçiler

@GIBOLofficial Bisa ga sih rekrut 15 pemain asing, tp didaftarin buat d asia aja, daftarin d indo mah sesuai regulasi aja. Pertengahan musim tinggal coret yg masuk squad liga jd gaperlu rekrut pemain baru d pertengahan musim
Indonesia

Kompetisi 🇮🇩ISL musim 2025/26 belum sepenuhnya rampung
Namun jadwal untuk musim kompetisi 2026/27 sudah diketahui 👀
Jadwal Sepakmula Kompetisi Utama Sepakbola Indonesia musim 2026/27
1️⃣ 🇮🇩ISL: 4 September 2026 - 5 Juni 2027
2️⃣ Championship: 18 September 2026 - 9 Mei 2027
🇮🇩ISL akan memasuki masa libur persiapan/main event 🇸🇦Piala Asia 2027 pada 28 Desember 2026 hingga 8 Februari 2027.
Sementara turnamen antar negara Asia paling bergengsi tersebut bakal digelar pada 7 Januari - 5 Februari 2027.
Sebelum memasuki periode tersebut, 🇮🇩ISL bakal telah merampungkan putaran pertamanya (P1 - P17).
Jadwal tersebut juga sudah menyesuaikan dengan kalender klub di Kompetisi Asia (Resmi) dan Kompetisi ASEAN (Non-Resmi).
Wow sekali sayangku @ileague_id 😅
Kita kawal teruusss ✊

Indonesia

nay retweetledi

Indonesian authorities used online disinformation campaigns to brand activists and journalists as "foreign agents" and silence dissent, sometimes leading to physical threats, Amnesty International said. ebx.sh/zikbcA
English

@kinandaputriii Kobisa ig nya ke banned kak kinan, apakah gara2 terlalu banyak engagement?
Indonesia

@harts_ashh2 @Ikhwanhsn Tp gue ga pernah dapet project bahkan udah beli coin, kalo subscribe upwork nya lebih menjanjikan ga ya?
Indonesia

@Ikhwanhsn Di luar ngibul atau engga tuh akun, emng bener UpWork nih bagus bnget buat batu loncatan buat nyampe salary 40++ per bulan
Indonesia

Ngerii, hampir 100jt dari freelance.
Buat yang ga tahu apa itu Upwork, simpelnya aplikasi buat kamu freelance cari job.
Bayarannya gede apalagi jika projectnya adalah dari luar, bukan Indonesia.
Gaji gede emang karena standart harga disana segitu, yang mana di Indo itu gede.
Aiiiii@bvtrass
Gajian bousss, ngopi pulang makan gajian. Sesimpel itu pake @Upwork
Indonesia

Keanehan kembali terjadi🤧🤧
SIMAMAUNG SPORT@simamaung
Tidak ada nama Teja Paku Alam di daftar nominasi Best Goalkeeper BRI Super League 2025/26. 🙂
Indonesia
nay retweetledi

@LambeSahamjja Ngeri ya segala sesuatu nya dibuat “asal bapa senang” dari segala aspek semua nya di manipulasi, semoga pak pur segera menjawab dan tweet sy ini salah
Indonesia

Guys, Ferry Irwandi baru merilis video yang menurut gue paling berbahaya untuk reputasi Purbaya sebagai Menteri Keuangan.
Bukan berbahaya karena mengandung fitnah.
Tapi berbahaya karena menggunakan matematika.
Dan matematika tidak bisa dibantah dengan narasi.
Tidak bisa dibantah dengan wawancara di TV One.
Tidak bisa dibantah dengan bilang "Anda tidak mengerti ekonomi."
Matematika hanya bisa dibantah dengan matematika yang lebih benar.
Apa yang Purbaya klaim:
Pertumbuhan ekonomi 5,61%
adalah capaian yang membanggakan.
Fundamental kita kuat.
Konsumsi yang menjadi komponen terbesar bukan government spending yang menggerakkan pertumbuhan itu.
Kalimat Purbaya yang paling terkenal soal ini: pertumbuhan 5,61% tidak digerakkan oleh belanja pemerintah yang besar.
Konsumsinya 54,36% jauh lebih besar dari government spending yang hanya 6,72%.
Kedengarannya masuk akal.
Sampai Ferry Irwandi membuka spreadsheet dan mulai menghitung.
Dan inilah yang sebenarnya terjadi dan ini yang membuat gue berhenti:
Ferry tidak membantah bahwa konsumsi lebih besar dari government spending secara persentase komposisi GDP. Itu benar.
Tidak ada yang menyangkal itu.
Yang Ferry bantah adalah logika yang digunakan Purbaya untuk menarik kesimpulan.
Karena yang penting bukan porsi komposisi tapi kontribusi persentase poin terhadap pertumbuhan.
Dan ketika dihitung dengan benar:
Konsumsi menyumbang 2,94 persen poin dari 5,61%. Investasi menyumbang 1,79 persen poin.
Government spending menyumbang 1,26 persen poin.
Sekarang pertanyaannya:
government spending naik berapa persen untuk menghasilkan kontribusi 1,26 persen poin itu?
21,81%.
Kenaikan tertinggi dalam sejarah modern republik ini. Dalam 10 tahun terakhir range normalnya antara 3 sampai 6 persen. Tidak pernah 21,81%.
Dan Ferry Irwandi melakukan sesuatu yang sangat mematikan:
Dia menghitung counter faktual.
Pertanyaannya: kalau government spending tumbuh normal sesuai rata-rata 10 tahun terakhir yaitu 4,8% bukan 21,81% berapa pertumbuhan ekonomi kita yang sesungguhnya?
Dengan akuntansi: 4,63%.
Dengan ekonometrika memasukkan multiplier effect dari konsumsi dan investasi yang ikut terpengaruh: antara 4,23% sampai 4,43%.
Bukan 5,61%.
Tapi sekitar 4,2 sampai 4,6 persen.
Dan ini yang paling mematikan dari seluruh analisis Ferry:
Purbaya bilang 5,61% adalah salah satu yang tertinggi. Perlu dirayakan. Perlu dibanggakan.
Ferry Irwandi berkata dengan sangat dingin:
"Kalau government spending-nya normal ini bukan salah satu yang paling tinggi.
Ini salah satu yang paling buruk."
Selama 10 tahun terakhir dengan government spending yang normal pertumbuhan 4,2 sampai 4,6% itu ada di bawah rata-rata historis Indonesia.
Jadi yang sedang dirayakan Purbaya setelah dibedah sebenarnya adalah pertumbuhan di bawah rata-rata yang dimanipulasi tampilannya dengan belanja negara yang tidak berkelanjutan.
Dan ini yang bikin gue benar-benar tidak bisa tidur:
Dari mana uang belanja pemerintah yang naik 21,81% itu?
Pendapatan negara naik 10%.
Belanja naik 31,8%. Defisit Q1 saja sudah Rp240 triliun ditutup dengan utang tambahan Rp258 triliun.
Artinya: pertumbuhan 5,61% yang dirayakan itu sebagian besar dibeli dengan utang. Bukan dihasilkan dari aktivitas ekonomi organik rakyat.
Dan utang itu harus dibayar. Dengan bunga. Oleh generasi yang sekarang masih sekolah.
Rakyat yang tabungannya turun dari Rp3 juta ke Rp1,5 juta yang kelas menengahnya menyusut dari 57 juta ke 46 juta tidak merasakan pertumbuhan itu.
Karena pertumbuhan itu bukan untuk mereka.
Pertumbuhan itu adalah angka di kertas yang dibiayai dari kantong masa depan anak-anak mereka.
Dan sementara Ferry Irwandi membuktikan ini dengan ekonometrika:
Purbaya tetap keliling media bilang fundamental kita kuat. Gubernur BI mengganti definisi stabilitas supaya rupiah yang di Rp17.600 bisa disebut stabil. Presiden bilang "mau dolar berapa ribu kek." Dan Ketua Komisi XI DPR bilang yang terdampak orang kaya saja.
Market tidak percaya. D
olar tetap ngacir.
IHSG tetap ambruk.
Investor asing terus kabur.
Karena market membaca data bukan narasi.
Dan yang paling telak dari Ferry Irwandi:
"Kalau memang ada yang salah dari matematika saya mohon dikoreksi.
Dengan keilmuan yang benar.
Pak Purbaya kan sering ngaku ekonom.
Tentu ekonom tidak bernarasi.
Tentu Menteri Keuangan tidak beropini.
Jawablah dengan data."
Sampai hari ini belum ada jawaban dengan data.
Yang ada hanya wawancara di TV One.
Narasi tentang fundamental kuat.
Dan kalimat yang menurut Ferry sendiri tidak perlu direspons tapi tetap menggelikan: "
Anda tidak mengerti ekonomi."
Sementara rupiah terus melemah. Defisit terus melebar. Dan orang yang disebut tidak mengerti ekonomi itu punya 2,3 juta subscriber yang menonton matematikanya dan tidak ada satu pun angka yang bisa dibantah.
Purbaya bilang pertumbuhan 5,61% adalah bukti fundamental kuat.
Ferry Irwandi membuktikan dengan ekonometrika bahwa tanpa government spending yang naik 21,81% angka itu tidak akan tercapai.
Dan kalau spending-nya normal pertumbuhannya salah satu yang paling buruk dalam satu dekade.
Ini bukan soal siapa yang lebih pintar. Ini soal siapa yang jujur dengan data.
Dan ketika Menteri Keuangan memilih cherry picking angka untuk membuat kondisi terlihat lebih baik dari kenyataan bukan hanya dia yang menanggung akibatnya.
Yang menanggung akibatnya adalah rakyat yang tidak tahu bahwa pertumbuhan yang dirayakan itu sebagian besar adalah utang yang sedang dicicilkan ke masa depan mereka.

Indonesia



















