f..nished
1.5K posts

f..nished retweetledi

YOUR PERSONAL EVOLUTION (BY AGE)
Age 20 – Ego
You think you know everything.
Age 21 – Chaos
Nothing feels stable yet.
Age 22 – Distraction
Too many goals, no direction.
Age 23 – Pain
Reality hits. Lessons begin.
Age 24 – Purpose
You start asking why.
Age 25 – Focus
You cut the noise and choose one path.
Age 26 – Discipline
Consistency replaces motivation.
Age 27 – Emotional Control
You react less and think more.
Age 28 – Vision
You see clearly where you are going.
Age 29 – Accountability
You stop blaming others.
Age 30 – Leadership
People begin to trust you.
Age 31 – Strength
Your mind and body grow tougher.
Age 32 – Self-Control
You master your impulses.
Age 33 – Direction
Every move has meaning.
Age 34 – Power
Quiet confidence appears.
Age 35 – Stability
You become reliable.
Age 36 – Legacy
You think beyond yourself.
Age 37 – Authority
Your words carry weight.
Age 38 – Protection
You protect what truly matters.
Age 39 – Wisdom
You choose peace over ego.
Age 40 – Peace
You fully know who you are.
Which Stage of your Personal Evolution are You in Right now?
English
f..nished retweetledi

Aldi Taher hadir bersama istri dan anak-anaknya.
Diundang ke salah satu stasiun tv
Dan yang keluar dari obrolan ini jauh lebih dalam dari yang kelihatan di permukaan.
Di balik semua gimmick dan konten viralnya:
Banyak orang kenal Aldi Taher sebagai sosok yang selalu bikin heboh — lawak, kontroversi, viral.
Tapi di episode ini dia bicara soal sesuatu yang jauh lebih berat.
Ibunya stroke selama 25 tahun.
Bukan setahun dua tahun.
Dua puluh lima tahun.
Dan di stroke kelimanya leher ibunya sampai miring, makan harus pakai sonde.
Saya tidak boleh terlihat sedih di depan ibu saya.
Dan Aldi sendiri adalah penyintas kanker.
Dan dari dua beban berat itu muncul satu filosofi hidup yang sederhana tapi dalam:
Enggak apa-apa disumpahi netizen asal jangan disumpahi langit.
Sekasar apapun komentar yang masuk gambar apapun yang dikirim responnya sama:
istigfar. Lewat. Selesai.
Bukan karena tidak sakit.
Tapi karena dia sudah memilih menggunakan energinya untuk hal yang lebih penting merawat ibu yang sakit, menjaga kesehatannya sendiri, dan membesarkan anak-anaknya.
Soal istrinya Shika:
Shika hadir dan berbicara jujur awalnya kaget dengan haters dan komentar negatif.
Tapi lama-lama belajar bahwa memang tidak ada public figure yang bebas dari itu.
Dan ada satu kalimat Aldi ke istrinya di akhir yang menurut gue sederhana tapi berat maknanya:
Makasih ya sudah jadi istri yang baik, salehah, sudah jadi ibu.
Shika nangis.
Aldi becanda untuk mencairkan suasana karena memang begitu caranya.
Tapi bukan berarti tidak serius.
Yang paling gue ingat dari episode ini:
Aldi bilang dua hal soal kesetiaan yang menurut gue worth disimpan:
Kesetiaan perempuan itu diuji ketika tak berharta. Kesetiaan laki-laki itu diuji ketika sudah segala ada.
Dan soal Al-Qur'an yang dia baca rutin:
Efek baca Quran ada ujian apapun kita bawa husnuzan sama Allah dan bawa happy aja.
Ini bukan motivasi kosong.
Ini dari orang yang ibunya stroke 25 tahun dan dirinya sendiri pernah divonis kanker.
Di balik semua kegilaan konten Aldi Taher yang sering bikin orang geleng-geleng kepala ada seseorang yang setiap hari bangun dan memilih untuk tidak kelihatan hancur di depan ibunya yang sakit.
Yang memilih tertawa bukan karena hidupnya mudah tapi karena dia tahu tertawa adalah satu-satunya cara dia bisa terus berdiri.
Dan itu bukan hal kecil.

Indonesia
f..nished retweetledi

DOPAMIN TERBURUK
Drugs
Pornografi
Minum alkohol
Taruhan, Judi online
Scrolling sepanjang malam
Ngecek notifikasi HP terus2an
Makan makanan yang high-ultra proses
Marah2 sama orang gak dikenal di internet
--------------------------------
DOPAMIN TERBAIK
Mengistirahatkan otak dari stimulasi berlebih
Membaca cerita/buku fiksi dan nonfiksi
Ambil waktu berenang di air laut
Berolahraga ringan setiap hari
Bersihkan/rapikan rumah
Jalan kaki tanpa gadget
Memberi/kontribusi
Belajar skill baru
Indonesia
f..nished retweetledi

bukan soal “jin” atau energi gaib gitu, tapi pure psikologi + neurokimia.
(setau gw)
kalau di psikologi namanya: premature sense of accomplishment atau social reality substitution.
orang punya rencana yang masih vague (gak jelas, gak ada deadline, gak ada step konkrit), terus dia cerita ke orang-orang → langsung dapet reaksi positif:
“wah keren bro!”
“mantap tuh rencananya”
“semangat ya!”
otak langsung ngerasa “udah dong, udah diakuin”.
dopamine naik, tapi itu dopamine murahan dari pujian, bukan dari progress beneran.
akhirnya motivasi asli (yang seharusnya datang dari ngerjain) malah drop, jadi males gerak, rencananya mandek.
“dia udah puas duluan karena pujian → semangatnya berkurang.”
malah ada penelitian klasik dari Peter Gollwitzer (nyeritain “when intentions go public”) yang nunjukin:
orang yang share goal ke orang lain cenderung kurang achieve goal-nya dibanding yang diem-diem.
karena otaknya udah ngerasa “goalnya udah sebagian tercapai” gara-gara diomongin.
tapi ada caveat:
kalau goal lu super jelas, spesifik, dan lu share ke orang yang bener-bener bisa kasih accountability (misal mentor, partner, atau circle kecil yang strict), justru bisa nambah motivasi.
tapi banyak kasus orang Indonesia?
mereka share ke temen-temen yang cuma bisa bilang “mantap bro” doang dan efeknya malah negatif.
jadi intinya bukan rencananya yang gagal karena diceritain, tapi cara orang nyeritainnya + kualitas rencananya yang bikin gagal.
gw sendiri kalau ada target gede, lebih sering diem dulu sampe ada progress nyata baru cerita.
lebih aman buat dopamine-nya, kalau kalian biasanya gimana? kalau ada rencana penting, kalian share atau diem?
gara@anggarasamvdr
kalian percaya ini ga?
Indonesia
f..nished retweetledi

Lu bisa kerja sampe hampir mampus di Jakarta sampe pensiun tapi:
- tanah dan rumah yang lu beli bisa diambil karena sengketa lahan
- anak yang lu didik baik2 bisa terbunuh dan diframing sbgai pelaku tawuran
- proyek yang lu bantu dgn ikhlas sampe ninggalin kesempatan kerja ke luar negeri bs bikin lu masuk penjara
- semua tabungan lu bisa raib karena abis pengobatan sakit karena menghirup polusi dan kecapekkan krn macet2an di jalan kena angin malam bertahun2
jakartalk@Jakartalk
Fakta yang paling gak bisa lo terima
Indonesia
f..nished retweetledi

jujur muhammadiyah tuh GACOR ABISSSS, semua bidang ditrabas😫🤲🏼
bahkan yg paling GONG lagi mereka juga produksi MIE INSTAN SEHAT… bahan bakunya dari singkong petani lokal 😭✋🏼


folkative@insidefolkative
Muhammadiyah akan bangun pabrik cairan infus raksasa, ditargetkan akan beroperasi 2028.
Indonesia
f..nished retweetledi

Selepas dzuhur kemarin internet kantor mati. Akhirnya divisi kami malah jadi deeptalk soal relationship.
Ada satu hal menarik yang baru saya sadari.
Sebagian perempuan masih kurang menyadari bahwa sikap nurut dalam arti memahami, menghargai dan tidak selalu berkompetisi dengan pasangannya sering kali justru menjadi cara sederhana untuk melunakkan hati laki-laki.
Bukan soal siapa lebih tinggi atau lebih rendah.
Tapi tentang bagaimana hubungan berjalan dengan keseimbangan.
Karena salah satu ciri perempuan yang beriman adalah sikap lemah lembut ada pada dirinya.

It's sea ✶@seameou
Siapa sih yang set the system up kalo istri harus berbakti sama suami anjing
Indonesia
f..nished retweetledi

Kisah Menteri Paling Miskin, Menguasai 9 Bahasa Dunia tapi Hidup Mengontrak Dari Gang ke Gang Sampai Akhir Hayatnya
Dunia mengenalnya sbg "The Grand Old Man" Diplomat jenius yg menguasai 9 bahasa asing.
Pria yg disegani lawan debatnya di Liga Bangsa Bangsa (sekarang PBB). Dialah H. Agus Salim
Tapi dibalik jas mentareng dan rokok kreteknya tersimpan kehidupan asli yg jauh dari kata mewah, bahkan bisa dibilang sangat melarat untuk ukuran seorang pejabat Negara.
Di balik keteguhan Agus Salim ada seorang wanita hebat bernama Zainatun Nahar. Beliau bukan sosok isteri pejabat yg sibuk arisan atau pamer kemewahan, Zainatun adalah wanita yg rela hidup Nomaden. Selama mendampingi suaminya mereka tidak pernah memiliki rumah pribadi, mereka selalu berpindah dari kontrakan sempit ke kontrakan lain di gang-gang becek Jakarta (Tanah Abang, Jatinegara, Karet)
Gaji Agus Salim sebagai pejabat sering kali habis untuk perjuangan dan sedekah. Saking sulitnya ekonomi mereka, Zainatun sering memutar otak agar anak2nya bisa makan. Pernah suatu hari tidak ada uang belanja tapi Zainatun tidak mengeluh, ia mengolah apa yg ada, ia tetap tersenyum menyambut suaminya pulang meski di meja makan hanya ada nasi dan kecap.
Kisah paling legendaris terjadi saat mereka mengontrak di gang sempit Tanah Abang, saat itu hujan deras dan rumah mereka bocor parah, air masuk ke ruang tamu. Kebetulan ada tamu penting (Tokoh Pergerakan) yg datang berkunjung.
Apakah Agus Salim malu? Tidak, ia justru mengajak isterinya bernyanyi sambil menaruh ember2 di bawah bocoran air.
Dengan jenaka Agus Salim berkata kpd tamunya "Maaf, nyonya (Zainatun) sedang sibuk mengatur bendungan, sebentar lg kita akan punya kolam renang di dalam rumah".
Mereka tertawa bersama, Zainatun tidak merasa hina ia justru bangga. Bahwa kemiskinan harta tidak bisa merampas kebahagiaan dan harga diri keluarga mereka.
Sebenarnya mudah saja bagi Agus Salim untuk menerima "hadiah" rumah atau uang dari kawan2nya, tapi ia dan Zainatun sepakat menolaknya. Mereka memegang prinsip "Leiden is Lijdn" Memimpin itu menderita. Mereka tidak mau hidup enak dari fasilitas Negara sementara Rakyatnya masih sengsara.
Hingga Agus Salim wafat pada 4 November 1954 ia tetap tidak punya rumah sendiri.
Ia mewariskan nama besar tapi tidak harta benda.
Zainatun melepas kepergian suaminya dgn tegar. Ia tahu suaminya adalah mutiara yg tak perlu dibungkus kotak emas untuk bersinar
Semoga saja kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi pejabat kita
terutama para petinggi BGN yg beli mtr listrik tanpa izin DPR

Indonesia
f..nished retweetledi

@seameou saran gua, touch some grass
jangan idup di sosmed doang, bergaul, punya temen. kalo lo gak asik sampe gaada yang mau temenan sama lo, ya berubah dulu biar bisa punya temen
liat cara dunia ini berjalan, jangan semuanya kudu sama dan ngikutin dengan pemikiranmu yang cetek itu
Indonesia
f..nished retweetledi

Gue punya tetangga. Sebut aja Pak Hendra.
Dua tahun lalu dia masih naik motor beat butut ke warung.
Belinya eceran kopi sachet, rokok sebatang, mie instan satu bungkus.
Sekarang?
Alphard putih parkir di depan rumah.
Renovasi total.
Pagar besi custom.
Kamera CCTV empat titik.
Usahanya?
Katanya bisnis properti.
Yang gue tahu dia jual tanah warisan bapaknya di pinggir kota yang tiba-tiba nilainya meledak karena ada tol baru lewat sana.
Satu malam kaya.
Bukan proses panjang.
Bukan kerja keras bertahun-tahun.
Rejeki nomplok yang nyata.
Dan yang berubah bukan cuma mobilnya.
Cara dia nyapa orang berubah.
Dulu kalau papasan di gang senyum duluan, tanya kabar, kadang nawarin kopi.
Sekarang?
Jalan lurus.
Tatapan ke depan.
Senyum tipis yang terasa seperti basa-basi yang tidak dia nikmati.
Anaknya yang dulu main bareng anak-anak kampung sekarang sekolah di tempat lain.
Istrinya yang dulu arisan bareng ibu-ibu kompleks sekarang jarang kelihatan katanya sibuk
Bukan jahat.
Bukan sombong yang ngomong kasar.
Tapi ada jarak yang tumbuh perlahan, tanpa drama, tapi nyata.
Dan ini yang bikin gue mikir.
Komentar orang kaya lebih sopan dari orang miskin itu tidak sepenuhnya salah.
Tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Yang lebih akurat mungkin ini:
Orang kaya punya lebih banyak ruang untuk terlihat sopan.
Mereka tidak dalam kondisi terdesak.
Tidak rebutan antrian.
Tidak stres soal tagihan yang jatuh tempo besok.
Tidak capek setelah 12 jam kerja berdiri.
Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi otak punya lebih banyak kapasitas untuk berpikir tentang cara bicara, cara bersikap, cara memilih kata.
Itu bukan moral superiority.
Itu privilege dari rasa aman.
Dan yang terjadi pada Pak Hendra adalah pola yang gue lihat berulang pada OKB Orang Kaya Baru di Indonesia.
Kekayaan datang lebih cepat dari kesiapan mental untuk menghadapinya.
Tiba-tiba ada gap antara dia dan lingkungan lamanya. Dan gap itu tidak nyaman untuk kedua belah pihak. Tetangga lama mulai hitung-hitungan dulu dia biasa aja, sekarang sok.
Pak Hendra sendiri mungkin bingung mau tetap akrab tapi takut dimanfaatkan, mau jaga jarak tapi takut dibilang sombong.
Tidak ada pilihan yang benar.
Apapun yang dia lakukan akan disalahkan oleh satu pihak.
Dan ini yang paling jarang dibahas:
Sopan santun itu bukan produk dari kekayaan.
Tapi kekayaan memberikan kondisi yang lebih kondusif untuk menampilkan sopan santun itu.
Orang yang kelelahan, tertekan, dan tidak punya ruang bernafas secara psikologis memang lebih mudah tersulut.
Bukan karena karakternya buruk. Tapi karena resources mentalnya sudah habis sebelum hari berakhir.
Dan orang kaya yang kelihatan lebih sopan belum tentu lebih baik karakternya.
Mereka hanya punya lebih banyak energi sisa untuk menjaga penampilan sosial mereka.
Jadi kalau ada yang bilang orang kaya lebih sopan:
Mungkin. Tapi tanya dulu sopan karena memang baik karakternya?
Atau sopan karena hidupnya tidak sedang dalam mode survival?
Dua hal yang sangat berbeda.
Dan Pak Hendra?
Gue tidak judge dia.
Gue hanya berharap suatu hari dia sadar bahwa Alphard putih itu tidak akan pernah bisa menggantikan rasa nyaman yang dia punya waktu masih bisa senyum duluan di gang sempit itu.
sosmed keras@sosmedkeras
Indonesia
f..nished retweetledi










