F

75.3K posts

F banner
F

F

@nutanews

nut personal

Katılım Temmuz 2009
631 Takip Edilen788 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
F
F@nutanews·
F tweet media
ZXX
1
0
1
1.7K
EPL Bible
EPL Bible@EPLBible·
Do I need to remind you that Arsenal are the only team to not concede a penalty this year Arsenal are the only team to not receive a red card this year Seems a bit suspicious if you ask me 🧐
EPL Bible tweet media
English
80
334
2.1K
34.8K
Chompy
Chompy@lukestanley03·
I genuinely cannot believe my eyes that I’ve not seen Havertz get sent off there. The game is beyond gone.
English
421
437
11.1K
287.6K
F retweetledi
Ͻᖵ∀
Ͻᖵ∀@NeverWrongg·
Disgraceful
Ͻᖵ∀ tweet media
English
2
156
786
35.6K
B.
B.@InvertTheWing·
HE GOES STUD INTO THE FUCKING CALFFFFFFFFFF. HIEPTORDFGHIOGDSIP. ABSOLUTELY FUCKING PGMOL MANUFACTURED TITLE HAHAHAHAHA.
English
152
607
13.8K
166K
17 (fan)
17 (fan)@DxBruyne17·
Oi not even Fergie cheated like this Arteta been on his knees doing overtime🤣🤣 First league title in 22 years and you couldn’t win it without PGMOL
English
136
31
362
17K
17
17@DxBruyneSZN·
PGMOL title
17 tweet media
Filipino
305
4.6K
22.9K
291.2K
F
F@nutanews·
COME ON BOURNEMOUTH
English
0
0
0
6
F retweetledi
SW News - SOFT WAR NEWS
SW News - SOFT WAR NEWS@SoftWarNews·
Ini di luar batas mengerikan. Data terbaru menunjukkan Israel telah membunuh lebih dari 680.000 warga Palestina di Gaza. Di antaranya: • 380.000 bayi di bawah 5 tahun • 99.000 anak-anak di atas 5 tahun Itu berarti 479.000 anak-anak telah dibunuh oleh Israel. Israel tidak sedang "membela diri". Israel sedang memusnahkan kehidupan warga Palestina.
SW News - SOFT WAR NEWS tweet media
Indonesia
41
2.5K
2.5K
33.2K
F retweetledi
Sumatera Adil & Federal
Sumatera Adil & Federal@indepenSumatera·
Masih ingat kasus Wakil Bupati Sangihe yang tiba-tiba meninggal setelah menolak proyek tambang emas? Tambang ilegal itu ada samgkut pautnya dengan ini tambang ini lho dan dibekingi seorang jenderal yang sekarang masih berada di lingkaran kekuasaan regime "nyawit". Tahu nggak siapa jenderal itu?
Sumatera Adil & Federal tweet media
LIPUTAN6@liputan6dotcom

Geger WN China Garap Tambang Ilegal di Sangihe, Nilainya Tembus Rp 200 Miliar liputan6.com/bisnis/read/65…

Indonesia
95
8.2K
19.1K
420.2K
tempe.co
tempe.co@tempedotc0·
Anggota DPRD Jember Sebut Dirinya Bablas Main 'Mobile Legends' saat Rapat demi Capai Rank 'Mythic' "Awalnya cuma login harian buat klaim peti, pas coba segame tahu-tahu winstreak 7 kali jadi saya lanjut."
tempe.co tweet media
Indonesia
750
875
5.8K
586.7K
F retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada nama yang menurut gue perlu dibahas lebih serius dari yang selama ini dibahas media. Letkol Teddy Indra Wijaya. Sekretaris Kabinet. Bukan menteri. Bukan jenderal bintang empat. Tapi dalam konteks kebebasan pers dan kontrol informasi di pemerintahan Prabowo dia adalah satu nama yang paling banyak disebut oleh para jurnalis yang berbicara di balik anonimitas. Apa yang terjadi di bencana Sumatra dan di mana Teddy masuk: Akhir November 2025. Banjir dan longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. BMKG sudah memberikan peringatan delapan hari sebelumnya. Tidak ada rapat darurat. Tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah pusat. Saat bencana meluas Prabowo tetap menjalani agenda seperti biasa. Rapat soal koperasi. Ketemu Menteri Kelautan. Menerima Ratu Belanda. Baru di tanggal 27 November setelah 72 orang meninggal dan 54 orang hilang rapat penanganan bencana digelar. Dan per Januari 2026, korban tercatat 1.199 orang meninggal dan 114 orang hilang. Di tengah semua itu ada wartawan bernama Rina yang dikirim liputan ke Aceh. Lebih dari tiga minggu di lapangan. Dia melihat beras menumpuk di posko tapi tidak disalurkan. Seorang pria yang istrinya harus diamputasi tapi tidak bisa karena tidak ada alat. Orang-orang yang mengaku sudah siap bunuh diri karena tidak kuat lagi. Rina melakukan siaran langsung. Dia tumpahkan semua yang dia lihat. Dan Teddy Indra Wijaya Sekretaris Kabinet menonton siaran itu dari Jakarta. Lalu Teddy menghubungi pemilik media tempat Rina bekerja. Mengamuk. Dan meminta pemimpin redaksi media itu diganti. Bukan insiden tunggal ini pola: Wartawan lain bernama Indira yang dikirim ke Padang mengalami hal serupa. Setelah dia melapor bahwa bantuan belum datang dan pemerintah belum terlihat atasannya langsung menelepon. "Next, jangan sebut kalau belum ada bantuan masuk, ya." "Tapi memang belum ada bantuan. Faktanya begitu." "Cerita soal dampaknya aja. Tapi jangan kasih tahu kalau bantuan belum masuk." Indira akhirnya siaran langsung di depan sebuah ekskavator yang membersihkan sisa longsor bukan karena ada kemajuan nyata, tapi karena itu satu-satunya hal yang bisa terlihat seperti "pemerintah bekerja." "Maksa banget," kata Indira. Teddy dan pola Orde Baru yang sangat familiar: Project Multatuli yang menginvestigasi ini menarik perbandingan yang sangat tepat dan sangat tidak nyaman. Di era Orde Baru tidak ada larangan tertulis soal apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan. Yang ada adalah telepon. Pejabat atau perwira militer tertentu menelepon petinggi redaksi untuk memberi arahan, teguran, atau larangan atas isu tertentu. Tidak perlu SK. Tidak perlu aturan resmi. Cukup satu telepon dari orang yang tepat dan seluruh redaksi paham apa yang harus dilakukan. Apa yang dilakukan Teddy? Persis sama. Menelepon pemilik media. Mengamuk. Meminta pemred diganti. Tanpa surat resmi. Tanpa proses hukum. Cukup satu telepon. Yang paling ironis Teddy adalah simbol harapan yang berubah menjadi simbol yang lain: Banyak yang dulu berharap besar pada sosok militer muda yang masuk lingkaran dalam Prabowo. Ada harapan bahwa generasi baru perwira akan membawa cara kerja yang berbeda. Lebih profesional. Lebih terukur. Yang kita saksikan sekarang adalah seseorang yang menggunakan posisinya sebagai Sekretaris Kabinet posisi administratif, bukan posisi keamanan untuk mengontrol arus informasi tentang kegagalan pemerintah dalam menangani bencana. Bukan mengontrol berita palsu. Bukan melawan disinformasi. Tapi meminta media tidak memberitakan bahwa bantuan bencana belum datang saat bantuan memang belum datang. Dan Teddy tidak merespons pertanyaan dari Project Multatuli: Pertanyaan dikirim ke nomor pribadinya dan ke email resmi humas Setkab. Tidak ada respons sampai artikel diterbitkan. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada bantahan. Hanya diam. Ketika seorang Sekretaris Kabinet bisa menelepon pemilik media dan meminta pemimpin redaksi diganti hanya karena wartawannya melapor bahwa bantuan bencana belum datang itu bukan soal satu orang yang arogan. Itu adalah sistem yang memang dirancang untuk memastikan bahwa rakyat hanya mendengar apa yang penguasa mau mereka dengar. Dan sistem seperti itu pernah kita kenal. Namanya Orde Baru. Dan kita butuh 32 tahun untuk keluar dari sana. ⚠️ Disclaimer: Berdasarkan investigasi Project Multatuli dalam serial Dead Press Society. Semua nama wartawan disamarkan untuk melindungi sumber. Teddy Indra Wijaya tidak merespons pertanyaan yang diajukan sampai artikel diterbitkan.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
262
5.2K
9.4K
407.5K
F retweetledi
The Economist
The Economist@TheEconomist·
Prabowo Subianto is centralising power, marginalising opposition and spending beyond Indonesia’s means. He could undo 20 years of economic and political progress economist.com/briefing/2026/…
English
269
9.2K
14.4K
603.5K
F retweetledi
Basem Alhabel
Basem Alhabel@BAlhabel·
massacre tonight in the Gaza Strip. They are trying to recover the body of a boy who is under the rubble after the indiscriminate bombing by the Israeli terrorist army #CIJ_ICJ 🇵🇸🌎⚖️
English
635
18.3K
23.9K
421.8K
F
F@nutanews·
Fak unai
Indonesia
0
0
1
9