ochi

4.6K posts

ochi banner
ochi

ochi

@occchimol

to keep others warm, you don't have to set yourself on fire.

Katılım Ekim 2020
442 Takip Edilen413 Takipçiler
ochi
ochi@occchimol·
begadang ampe subuh, tidur bru 2 jam, blm sarapan sampe skrg, radiasi gara-gara buka laptop mulu. sehat-sehat deh gw smg gk pinksan di tengah jalann??!!!??
Indonesia
0
0
0
8
ochi
ochi@occchimol·
@xdiazepam001 kakk baru lewat tl, selamat yaaa 👏🏻
Indonesia
1
0
0
17
ochi retweetledi
elzgatza
elzgatza@liogtttscrp·
“Bapak pahlawan ekonomi saya pak”😭😭🥺😔 Bayangin ya… S1 di Brown University, S2 di Harvard University pada masanya sepintar apa coba?! Balik ke Indo ngasih kontribusi ke negara dengan bikin 4 juta lapangan pekerjaan buat rakyat, lanjut memperluas kontribusi lagi di Pemerintahan, eh tau-tau DITUNTUT TOTAL 27,5 tahun untuk KASUS GAIB (pidana penjara 18 tahun, denda 1M (subsidair 190 hari), dan pidana tambahan uang. Pengganti (809M) dan 4.8T (subsidair 9 tahun) atas SEDERET DENGAN DAKWAAN 0 BUKTI!! kasus yang sampe sekarang publik aja masih bingung “ini barang buktinya mana?” 😭😭
Indonesia
775
21.1K
71.3K
1.2M
ochi
ochi@occchimol·
adalah gw tiap harinya
ochi tweet media
Indonesia
0
0
1
52
ochi retweetledi
Culesian
Culesian@scrollsampah·
Biadab.. !! 😡😡😡 Dari kemarin gak viral2 ini kasusnya!! Bantu UP gaesshh.. !! Sampe pelaku di hukum seberat2nya! Seorang siswi sekolah dasar (SDN) berinisial AKS (12), yang diduga menjadi korban pencabulan oleh oknum TNI di wilayah Kodim 1417/Kendari, Sertu Majid Bone, dilaporkan mengalami depresi. Korban cenderung mengurung diri di dalam kamar, kerap melukai tubuhnya dengan cara mencakar, serta sering menangis histeris karena ketakutan. Tante korban berinisial VN mengungkapkan bahwa korban sebelumnya tinggal bersama keluarga di perumahan milik terduga pelaku di Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Namun, sejak kasus ini mencuat, keluarga memutuskan pindah dan kini tinggal di rumah nenek korban di Kota Kendari. Selama berada di rumah neneknya, korban disebut enggan keluar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Saat bersama keluarga, korban cenderung diam dan tidak ingin bercerita. VN menuturkan, kondisi korban justru memburuk saat berada sendirian. Korban kerap menangis histeris, menunjukkan rasa takut berlebihan, bahkan melukai tubuhnya sendiri hingga menimbulkan luka. “Kondisi korban semakin memprihatinkan karena mengalami depresi berat. Ia sering mencakar tubuhnya dan menangis histeris karena ketakutan,” ujar VN, Minggu (3/5/2026). Baca selengkapnya di kisahan.id
Indonesia
567
16.3K
30.1K
1.1M
ochi retweetledi
tired
tired@iamgoodgzb·
BACA NIH DONGO. LU TEMENAN SAMA LAKI2 ≠ MAU DICEKOKI ALKOHOL DAN DIPERKOSA RAME2 JANGAN KEBIASAAN NODONG KORBAN PAKE PERTANYAAN INI ITU. YG SEHARUSNYA LU TANYAK ITU PELAKU KNP BISA PERILAKUNYA BANGSAT BEGITU TERLEPAS TERLEPAS GUE LEPAS JUGA KEPALA LU
Arda guler@anisltva

@mudahtertawa_ Terlepas salah nya si cowo, kok si cewe jg mau diajak main sama cowo?

Indonesia
82
8.5K
29.6K
426.3K
ochi retweetledi
hani²⁶ ||
hani²⁶ ||@choocholala·
what if kuliah gratis, buku-buku gratis, transum merata ke seluruh daerah, tenaga pendidik digaji layak, lulus kuliah ga pusing cari kerja, perpusda buka 24 jam, trotoar layak pakai, UMR naik, ga ada parkir dan pungli. (omg mimpi basah ak as a wni hiks)
Indonesia
384
38.6K
102.1K
795.6K
ochi
ochi@occchimol·
@gyvnupin aku punyaa kakkk, pake gopayy yg merchant. buatnya cepet kokk palingan sekitar sehariii
Indonesia
0
0
0
32
rara
rara@gyvnupin·
adakah yg punya qris disini? klo punya pake apps apaa?
Indonesia
3
0
0
181
ochi
ochi@occchimol·
bangke jd gbs tidur
Indonesia
0
0
0
15
rr
rr@rrraaania·
lovrun fans go touch some grass kt gw, klian sakit y smuanya kompak
Indonesia
1
0
0
27
ochi retweetledi
Sisters in Danger x Simponi
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger·
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami: 1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan. 2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami. 3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah). 4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan. Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat. Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah. “Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903) Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya. Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu. Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun. Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan). Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger

Merayakan Kartini Secara Radikal Kita telah melampaui era memperingati hari Kartini dengan hanya melihat sosok tubuhnya dan memaknainya cukup sebatas busana kebaya, lomba memasak atau menyanyikan lagunya. Peringatan hari Kartini yang demikian menumpulkan pemikiran. Sebab Kartini tidak pantas hanya dinilai dari sosok tubuhnya semata melainkan ide-ide brilian yang lahir dari otaknya yang cemerlang tentang kesetaraan dan kebebasan perempuan, justru inilah yang harus kita rayakan. Jadi hendaknya kebaya Kartini disimbolkan sebagai pembebasan perempuan, bukan ornamen tubuh semata, namun untuk merangsang kegairahan pemikiran melawan dominasi. Segala bentuk dominasi seperti penjajahan, pembodohan, pengekangan agama, dan tradisi serta penindasan perempuan. Sebab Kartini perempuan Jawa yang hidup di abad ke-19 telah memikirkan semua itu dan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang dimuat di buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang” (HGTT). Kartini mengungkapkan kegeramannya pada tradisi yang mengekang anak perempuan termasuk dirinya yang “dipingit” dari umur 12 hingga 16 tahun.    "Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu mengempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepada dinding batu bengis itu." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:30). Perang melawan kebodohan dipahaminya sebagai cara untuk membawa bangsa Bumiputra maju dan keluar dari penjajahan. "Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi Pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu ada. Daya upaya itu ialah pengajaran. Memberi anak negeri pengajaran yang baik, sama halnya seolah-olah Pemerintah menyerahkan suluh ke dalam tangannya, supaya dapat ia sendiri mencari jalan yang benar, yang menuju ke tempat nasi itu. Bapak akan berusaha sekuat tenaganya akan mengajukan anak negeri, dan aku pun akan turut membantunya." (12 Januari 1900, HGTT, 2009:34). Sikapnya menentang poligami sangat jelas. Kadang Ia menganggap bahwa perkawinan itu menindas dan bukan membahagiakan. "Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sangat besar benciku akan perkawinan? Kerja serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:29). Pemikiran Kartini tentang agama termasuk permikiran yang moderat dan toleran. "...sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam... Orang diajar di sini membaca Qur’an tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu. Sekalipun tiada jadi orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati.." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). "Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu?" (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). Kartini memang tidak pernah terlibat dalam sebuah pergerakan apalagi mengorganisir sebuah protes di lapangan. Bentuk protes yang ia lakukan hanyalah lewat tulisan-tulisannya yang mencoba memahami apa yang terjadi di lingkungannya. Tulisan-tulisannya tidak dituangkan ke dalam bahasa Melayu atau Jawa melainkan ke dalam bahasa Belanda dan ditujukan kepada teman Belandanya di Belanda.  Apakah karena Kartini menyadari tulisan-tulisannya tidak akan ditanggapi bila ia menggugat masyarakatnya secara langsung?  Atau bahkan dapat membahayakan dirinya bila pemikirannya diketahui oleh masyarakatnya sendiri? Semangat Kartini pada zamannya adalah semangat yang juga dirasakan oleh sebagian perempuan pada zaman itu. Beberapa pemikir perempuan lainnya seperti Dewi Sartika juga memiliki pemikiran yang maju tentang hak-hak perempuan, dengan nyata membuat sekolah di tahun 1904 yang disebut dengan “Sekolah Istri”. Kartini memang bukan sekedar kebaya. Tapi makna kebaya Kartini hendaknya diinterpretasikan secara kritis. Pemikiran Kartini masih terus harus direnda agar “kebaya” itu menjadi sempurna. Merenda pemikiran Kartini di segala ruang dan sudut bangsa, menjadikan bangsa kritis yang menghargai kesetaraan. --- Satu lagi cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari @jurnalperempuan, yang ditulis oleh Gadis Arivia. Selamat Hari Kartini 21 April 1879–17 September 1904 Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜 (Link artikel lengkap di utas berikutnya)

Indonesia
59
6.5K
18K
1.3M
ochi retweetledi
risa-!
risa-!@biduanssa·
Ini kasusnya di India. Ada seorang istri yg di KDRT sm suaminya. Suatu hari suaminya mabok dan ditegur sama istrinya, tapi si suami sewot jadinya nyiksa istrinya. Diperkosa segala macem sampe masukin stang motor ke vagina istrinya. Si suami ngancem kalo sampe si istri ngeluarin atau ngomong ke orang lain, si istri bakal di bunuh. Akhirnya si istri mendem kesakitannya selama 2 tahun. Pas di periksa baru ketahuan kalo isi perutnya udah ancur karena infeksi🥺 SUAMINYA ANJINCCC BEJAT KNTLLLLLL
Indonesia
191
1.5K
11.3K
654.4K
ochi retweetledi
zhil
zhil@zhil_arf·
Mumpung isu KS lagi panas, ada baiknya kita mengingat lagi kejahatan seksual terbesar di sejarah Indonesia. Kejahatan itu ialah Pemerkosaan Massal Mei 1998. Pada Mei 1998, AsiaWeek melaporkan suatu mobilisasi preman yang raksasa. Gerombolan-gerombolan preman, bandit, rampok, dan penyamun dari hutan-hutan Lampung dan Timor Timur didatangkan dalam jumlah besar pakai pesawat kargo dan kereta ke Jakarta. Secara terencana, gerombolan preman dalam jumlah sangat besar digerakkan di seluruh wilayah Jakarta untuk menciptakan bencana kemanusiaan masif dan meluas. Hasilnya sangat ekstrem. Selama tiga hari nonstop, terjadi perburuan manusia di Jakarta. Gerombolan preman dalam jumlah besar menyerbu kampung yang didiami mayoritas suku Tionghoa, mengepung gang, memasuki rumah orang random, memukuli ibu-ibu random penghuninya dengan sadis sampai mati, menelanjanginya, memerkosanya, membakarnya, membakar rumahnya, mencuri sofa dan kulkas dan TV dan lemari bajunya. Seluruh keluarga si ibu-ibu juga mati dibantai. Kemudian gerombolan preman itu pindah ke rumah sebelah. Lalu setiap rumah di situ. Lalu ke kampung sebelah. Ribuan orang mati dibantai. Di jalanan Jakarta, perempuan diperkosa bergilir oleh massa dan dipukuli dengan sadis sampai mati dan rusak dengan mengerikan. Gerombolan pencuri, penyamun, pemerkosa, dan pembunuh dalam jumlah sangat besar merongrong dan meneror seluruh wilayah Jakarta selama tiga hari nonstop. Tidak ada aparat. Tidak ada kabar tentang apakah besok pemerkosaan massalnya sudah selesai atau masih lanjut. Soeharto lagi entah di mana di luar negeri. Orang capek. The Rape of Jakarta. Inilah "KS" terbesar di sejarah Indonesia. Ketika Nanking diperkosa penjajah, Jakarta malah diperkosa bangsanya sendiri, secara harfiah. Siapapun yang bertugas melindungi Jakarta saat itu jelas gagal total. Ternyata, di Jakarta saat itu ada tiga pasukan aktif yang besar: 1. Kostrad 2. Kodam Jaya 3. Kopassus Pertahanan Jakarta praktis menjadi tugas mereka yang sama sekali tidak boleh gagal. Kalau Jakarta sampai jatuh ke tangan musuh, merekalah yang tanggung jawab, karena gagal dalam tugasnya. Kalau bukan mereka, siapa lagi yang bisa melindungi Jakarta dari musuh? Oleh karena itu, semua anggota ketiga pasukan ini sudah bersumpah prajurit untuk melindungi rakyat tanpa gagal, bahkan jika harus mati sekalipun. Selama tanggal 13-15 Mei 1998, ketiga pasukan ini ngapain aja? Apa yang saat itu mereka lakukan untuk melindungi rakyat? Selama tiga hari, para tentara ini nggak cuma gabut nontonin ratusan perempuan diperkosa bergilir dan dipukuli sampai rusak dan mati oleh massa, kan? Tentu, tentara hanya mengikuti perintah. Apa yang komandan-komandan ketiga pasukan lakukan selama 13-15 Mei? Apakah mereka memerintahkan pasukannya untuk melindungi rakyat? Siapa sih komandan-komandannya saat itu? Oh, berarti muncul 3 nama: 1. Pangkostrad saat itu 2. Pangdam Jaya saat itu 3. Pangkopassus saat itu Tiga manusia inilah yang bertugas melindungi Jakarta selama 13-15 Mei 1998. Merekalah yang pegang pasukan. Siapakah nama-nama ketiga orang yang spesifik itu? Tentu saja tidak boleh gw sebut. They-Who-Must-Not-Be-Named. Ikan busuk dari kepala. Kalau Kostrad, Kodam Jaya, dan Kopassus entah mengapa bisa-bisanya kompak gagal bersamaan, tiga orang inilah yang harus minta maaf sebagai pemimpin. Tiga orang inilah yang harus minta maaf karena kicep gagal mencegah pemerkosaan dan pembantaian di Jakarta oleh gerombolan preman, termasuk oleh gerombolan preman dari hutan Timor Timur.
tempo.co@tempodotco

Terima Hercules di Kantornya, Seskab Teddy: Kawan Lama

Indonesia
118
12.5K
26.2K
1.5M
ochi retweetledi
Mac Karyo
Mac Karyo@Makaryo0·
Yang dicuri 28 Miliar, ditawarin balik cuma 7 miliar. Btw yang dicuri ini bukan uang gereja, tapi uang tabungan 1.900 umat yang backgroundnya macam2, ada yang buruh, petani, dll. Suster Natalia cerita kalau dia sampai utang kesana sini buat nalangin umat yang butuh dana mendesak karena berobat atau sekolah anak. Kita bantu viralin biar BNI ga ngeles mulu.
SobatMiskinTV@MiskinTV_

Baca dan mengikuti berita mengenai Suster Natalia ini, terkesan BNI seperti ingin lepas tangan, padahal pelaku (Andi Hakim) merupakan salah satu pejabat di bank tersebut. Ini bisa jadi preseden buruk untuk BNI. Bukan tidak mungkin sentimen negatif ini berubah menjadi seruan memindahkan rekening dari BNI ke bank lain.

Indonesia
384
17.4K
36.7K
1.8M