FDJ. Indra Kurniawan
99.9K posts

FDJ. Indra Kurniawan
@othonks
Pecinta @lfc Berdarah Coklat @pramukaciamis Part of @garbiciamis Ayah Duo #Anfield (Anfielda Rabania Kasyafa & Anfield Rasyida Khalifa)
Indonesia Katılım Temmuz 2009
1.6K Takip Edilen1.2K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet

@udanudinudan @LambeSahamjja Orang pintar banyak, yg cerdas nol
Indonesia

@LambeSahamjja Prabowo jelas2 menyatakan tak ada tempat disekelilingnya untuk orang orang pintar. Pernyataan ini beberapa hari sebelum hari buruh
Indonesia

Guys, ada sesuatu yang sangat ironis yang terjadi dalam dua hari berturut-turut di Indonesia.
1 Mei — Hari Buruh.
Prabowo hadir di Monas.
Berdiri di panggung bersama puluhan ribu buruh. Bernyanyi.
Berpidato.
Mengumumkan cicilan KPR 40 tahun dan potongan ojol 8%. Kaos 200 ribu lembar dibagikan. Sangat meriah.
2 Mei — Hari Pendidikan Nasional.
Prabowo rapat tertutup di Hambalang.
Tidak ada seremoni khusus.
Tidak ada pidato untuk guru dan siswa.
Tidak ada satu pun agenda yang secara khusus merayakan atau memperingati Hardiknas.
Bukan kebetulan ini adalah pilihan.
Ketika seorang presiden memilih hadir secara dramatis di Hari Buruh dengan panggung besar dan ribuan orang tapi memilih rapat tertutup di rumah pribadi pada Hari Pendidikan Nasional itu bukan soal jadwal yang padat.
Itu adalah pernyataan tentang apa yang dianggap lebih penting secara politik.
Buruh hadir secara fisik dan bisa dimobilisasi.
Guru honorer yang gajinya Rp300 ribu per bulan tidak membawa massa ke Monas.
Anak-anak di sekolah rusak tidak bisa berteriak di depan istana.
Siswa disabilitas yang dibuang sistem tidak punya organisasi yang bisa mengancam stabilitas politik.
Makanya satu dirayakan dengan meriah.
Yang satu dilewati dengan rapat tertutup di Hambalang.
Dan ini bukan pertama kali Hambalang dijadikan tempat rapat kabinet:
8 Maret 2026 — lima rapat dalam satu hari di Hambalang. Membahas pendidikan, geopolitik Timur Tengah, mudik Lebaran.
2 Mei 2026 — rapat tertutup lagi di Hambalang. Membahas aspirasi buruh dan perguruan tinggi.
Pola ini konsisten.
Dan setiap kali hasil rapatnya dirilis isinya selalu berakhir dengan kalimat yang sama:
"Pemerintah terus berkomitmen untuk menghadirkan kebijakan yang melindungi, mencerdaskan, dan menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat Indonesia."
Tanpa angka.
Tanpa target.
Tanpa timeline.
Tanpa akuntabilitas.
Sementara di luar Hambalang kondisi pendidikan Indonesia hari ini:
Guru honorer masih ada yang menerima gaji Rp150-300 ribu per bulan. Ratusan ribu ruang kelas kondisinya rusak sedang hingga berat. Anak disabilitas masih bisa dikeluarkan sekolah secara diam-diam dan tidak ada yang menindak.
Perguruan tinggi terbaik masih terkonsentrasi di Jawa. Angka putus kuliah karena faktor ekonomi masih sangat tinggi.
Dan pada Hari Pendidikan Nasional 2026 solusi yang ditawarkan adalah: manfaatkan fakultas teknik perguruan tinggi untuk membangun daerah.
Bukan ide buruk.
Tapi itu bukan jawaban atas masalah struktural yang sudah puluhan tahun tidak selesai.
Ki Hajar Dewantara pasti sangat sedih:
Hardiknas ditetapkan untuk mengenang beliau — yang percaya bahwa pendidikan adalah hak setiap anak Indonesia tanpa kecuali.
Yang berjuang agar anak-anak pribumi bisa mengakses pendidikan yang bermartabat.
Yang mendirikan Taman Siswa karena sistem yang ada tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Dan di hari yang didedikasikan untuk mengenang perjuangannya presiden rapat tertutup di rumah pribadi.
Tanpa satu pun momen yang secara khusus menyapa guru, siswa, atau orang tua yang berjuang keras menyekolahkan anaknya.
"Ing ngarsa sung tulada."
Di depan memberi teladan.
Teladan seperti apa yang diberikan ketika Hari Buruh dirayakan dengan meriah tapi Hari Pendidikan Nasional dilewati tanpa pesan khusus untuk anak-anak Indonesia?
Indonesia merayakan Hari Buruh dengan kaos, panggung, dan janji-janji besar.
Dan keesokan harinya Hari Pendidikan Nasional dilewati dengan rapat tertutup di kediaman pribadi presiden yang hasilnya hanya satu paragraf rilis.
Bukan salah buruhnya.
Mereka memang harus diperjuangkan.
Tapi kalau energi, perhatian, dan kehadiran fisik presiden hanya muncul ketika ada massa yang bisa dimobilisasi dan tidak hadir ketika yang membutuhkan perhatian adalah guru honorer yang tidak punya serikat besar dan siswa yang tidak bisa berteriak di depan istana maka yang terjadi bukan keberpihakan.
Itu politik.
Dan politik yang mengorbankan pendidikan demi popularitas jangka pendek adalah utang yang akan dibayar oleh generasi berikutnya bukan oleh kita yang sekarang.

Indonesia

Kenangan Istimewa Bersama Kak Mutahar, Tokoh Pramuka yang Serba Bisa pramukadiy.or.id/kenangan-istim…
Indonesia

@prabowo hari ini juga banyak rakyat yg dituduh macam-macam, mrk ga bisa mengasingkan diri ke Yaman krn g sekaya bapak
Indonesia

Tapi memang itulah watak ilusi: menyamarkan kekosongan dan membiarkannya seolah sebagai kepastian.
from @panditfootball @vetriciawizach
Indonesia
FDJ. Indra Kurniawan retweetledi

Subuh 1945, ia justru mengirim telegram saat semua raja lain masih menunggu arah. Di meja istananya, keputusan itu langsung memotong masa depan keluarganya sendiri.
Namanya Sultan Syarif Kasim II. Raja terakhir Siak Sri Indrapura.
Isi pesannya singkat.
Tidak ada syarat.
Tidak ada negosiasi.
Kesultanan Siak berdiri penuh di belakang Republik Indonesia.
Beberapa hari kemudian, ia tidak berhenti di kata-kata.
Ia membuka kas kerajaan.
13 juta gulden keluar. Jumlah yang, jika dihitung hari ini, setara lebih dari Rp1 triliun.
Belum selesai.
Mahkota emas dilepas. Pedang bertatahkan berlian ikut diserahkan. Perhiasan kerajaan menyusul. Saat itu, Republik bahkan belum punya kas negara yang jelas.
Di titik ini, pilihannya sebenarnya masih terbuka. Ia bisa seperti Yogyakarta.
Tetap berkuasa...
Mendapat status istimewa !
Ia tidak memilih itu
Siak dilebur penuh ke dalam NKRI.
Tanpa syarat !
Tanpa kursi !
Tanpa jaminan masa depan politik !
Bersamaan dengan itu,
wilayahnya ikut masuk. Termasuk kawasan yang kelak dikenal sebagai Blok Minas. Salah satu ladang minyak terbesar Indonesia.
Negara tumbuh...
Devisa mengalir...
Hidupnya justru mengecil 😢
Ia meninggalkan istana. Pindah-pindah antara Jakarta, Aceh, lalu kembali ke Siak.
Tidak ada jabatan...
Tidak ada protokol...
Catatan tentang masa tuanya selalu sama : sederhana !
23 April 1968, ia wafat di RS Caltex, Rumbai.
Bukan di istana..
Bukan sebagai raja..
Tiga puluh tahun kemudian, negara baru memberi gelar.
Pahlawan Nasional, 1998.
Dan satu hal yang jarang disebut di awal cerita :
Ia tidak kehilangan tahta karena direbut.
Ia yang menyerahkannya sendiri !

Indonesia










