
....
3.7K posts



Padahal urutan idealnya tuh gini: 1. B.J. Habibie (Real MVP. Beresin negara awur-awuran dalam waktu sekejap, padahal cuma sebentar ngejabatnya. Bayangin kalo 5-10 tahun menjabat). 2. SBY (ekonomi bagus, kebebasan ekspresi bener kerasa, konflik di Aceh berhenti). 3. Gusdur (perekat bangsa yang terpecah-pecah, bersikap akomodatif pada berbagai golongan bangsa). 4. Sukarno (ekonomi awur-awuran, tapi minimal Indonesia dihormati dunia). 5. Megawati (bikin KPK, tapi netapin DOM di Aceh) 6. Soeharto (ekonomi bagus tapi gak bebas, rezim otoriter) 7. Jokowi (ekonomi awur-awuran, banyak buzzer buat membungkam, ngomong X yang terjadi Y) 8. Prabowo (ekonomi awur-awuran, ngomong suka asbun, tone deaf, banyak buzzee yg ingin membungkam)



eh emg iya guys!?? ada yang tau tahun berapa ga


Penampakan gunungan uang Rp 10 triliun yang ditata bak piramida di kantor Kejagung. ~RS







Visi misi capres setelah prabowo gausah aneh - aneh dah. Cukup: “Saya akan hentikan MBG” Fix langsung kepilih.




Peneliti dari Universitas Brawijaya, Rosalina Ariesta Laeliocattleya, berhasil 'sulap' limbah rambut jagung jadi sunscreen SPF 50. Photo: Santi/Lentera





















@Outstandjing Th 2016 jaman pak Jonan jd menhub bikin double track 80 km rel d sumsel dgn anggaran 1,6 T agar angkutan barang bisa meningkat, dampaknya ke KAI pendapatany meningkat 3X lipat dr 3T tahun 2016 jadi 11 T di tahun 2024 Bisa dibayangkan jika uang 118 T ini jd rel KA di sumatra




Lanjutan kemarin. Megawati Wanita tangguh.🤟 x.com/i/status/20476…







Gini nih tololnya pemerintah kelen. Selama ini peternak lokal direpotkan dengan biaya operasional yang ga sedikit, harusnya MBG ini menjadi berita baik bagi peternak, kenapa? Pemerintah wajib menyediakan pasokan dalam urusan ternak, termasuk harga yang terjangkau. Jika peternak tidak terbebani dengan biaya operasional yang tinggi, tentu produksi mereka akan lancar bahkan terjadi lonjakan produksi karena harus menyuplai kebutuhan MBG. Jika pemerintah dan peternak mampu menciptakan "oversupply" telur, maka tidak akan pernah ada ide untuk mengimpor telur dari China. Nah masalahnya, peternak lokal dibikin pusing dengan mahalnya biaya operasional, di mana mereka sulit untuk melakukan invansi. Jika MBG mengambil produksi lokal, tentu akan terjadi over demand yang tidak dibarengi dengan kenaikan supply dan akan berimbas pada inflasi atau kenaikan harga telur lokal. Lalu jalan pintasnya? YA IMPOR! Makin nyungsep aja tuh nilai tukar rupiah.


