Pandjer_Wengie
46.2K posts

Pandjer_Wengie
@polocorner
https://t.co/ZO1uhZazbi
Jogja Mgl Katılım Şubat 2012
4.8K Takip Edilen1.7K Takipçiler

@allysadesu pripun kabare?. Td mase ke rmh, pas kebetulan ada kerjaan di sktr sini.
Magelang, Jawa Tengah 🇮🇩 Indonesia

Cerita pendek: hbs icip2 mie goceng mgl. Ada seorang taruna tingkat 1 beli take away. Sy selesai, tak tungguin di luar. Kekny kebingung. "Kenapa mas", gk bisa qris katanya. "Ini ada uang cash pakai dl". Bisa tf pak, ada bca katanya "ada". Ternya dia senasib dg sy (blm bisa qris)
Kota Magelang, Jawa Tengah 🇮🇩 Indonesia

Pandjer_Wengie retweetledi

Yess, tak ganti holder custom. Siang lampu senja doangan. Mlm br lampu utama
🅰️KU KAPERR 🇮🇩@Buntoroch
Diantara hal2 yg gw ga abis pikir, ada 1 hal yg paling berat utk dicari jawabannya. Kenapa motor harus nyalain lampu disiang bolong ya? Apa manfaatnya ya? Ada ga yg ngerasain sm ama gw? 😅
Depok, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
Pandjer_Wengie retweetledi

Tentang Keikhlasan Hati
Teman-teman, ini adalah cerita tentang Hati.
Organ yang begitu luar biasa, tapi sering terlupakan. Ia dipaksa kerja rodi oleh tubuh ini, diminta terus regenerasi, terus bertahan, bahkan saat dirinya sendiri mulai kehilangan inti. Kita sering lupa bahwa kalau Hati mati, kita tinggal menghitung hari.
Hati adalah organ dalam terbesar manusia. Ukurannya begitu besar, sampai menutupi separuh lambung, sebagian usus dua belas jari, dan sebagian ginjal kanan. Jika dilihat dari arah punggung, bentuknya seperti seorang ibu yang sedang menggendong balita, ya, hati dan ginjal berdampingan seperti kasih yang tak ingin dipisahkan.
Tak banyak yang tahu bahwa hati memiliki fungsi terbanyak dari semua organ di tubuh kita. Sementara jantung hanya punya satu tugas utama yaitu memompa darah, hati mengemban lebih dari 500 fungsi. Dan salah satu tugas paling mulianya adalah menjadi gerbang utama dari semua yang kita masukkan ke dalam tubuh.
Setiap kali kita makan, semua darah yang membawa zat gizi dari usus akan bermuara ke hati. Tak ada satu pun yang boleh langsung masuk ke sirkulasi tanpa pemeriksaan dari sel-sel hati. Bayangkan seperti di lobi kantor besar, ada petugas yang berkata, “Permisi, saya periksa dulu ya.” Begitulah kerja hati, setiap hari, tanpa protes.
Tapi apa yang terjadi kalau yang datang adalah racun, logam berat, atau zat yang berbahaya? Sel-sel hati akan jadi tameng. Mereka mati duluan, agar kita tetap hidup. Dan yang luar biasa, mereka langsung tergantikan oleh sel-sel baru. Cepat. Tanpa keluhan. Tanpa pamrih. Hati adalah organ dengan kemampuan regenerasi paling hebat di tubuh manusia. Ia rela mati, tapi tak mau kita celaka.
Namun sekuat-kuatnya hati, kalau kerusakan datang terlalu cepat dan terlalu sering, maka akan ada saat di mana regenerasi tak bisa mengejar kehancuran. Di sinilah hati mulai mengecil, mengeras, dan kehilangan fungsinya. Kondisi ini kita sebut sebagai sirosis hepatis.
Ketika hati mengeras, pembuluh darah besar dari perut yang seharusnya mengalir lancar mulai tersendat. Tekanan naik. Pembuluh-pembuluh darah jadi melebar, bahkan bisa pecah. Jika pecah di jalur makanan seperti esofagus, maka darah akan dimuntahkan. Banyak. Cepat. Dan sangat sulit dihentikan. Di momen-momen seperti itu, aku pribadi hanya bisa berdoa sekuat-kuatnya.
Lalu apa saja yang sanggup merusak hati sampai sejauh itu? Bisa berasal dari makhluk hidup, seperti virus hepatitis A, B, C
Di Indonesia, Hepatitis B adalah yang paling mudah menular. Selain virus, ada juga bakteri, jamur, dan parasit yang bisa merusak hati.
Tapi bukan cuma makhluk hidup. Obat-obatan pun bisa menjadi musuh dalam selimut. Terutama paracetamol, yang sering diminum sembarangan saat kepala sedikit saja terasa berat. Alkohol juga musuh berat bagi hati. Dan yang lebih sering tidak disadari: gula. Gula dalam jumlah berlebihan, perlahan tapi pasti, menumpuk dan menghancurkan hati dengan cara yang halus tapi mematikan.
Kadang orang bertanya, “Dok, temanku sering mabuk tapi kelihatannya sehat-sehat aja, tuh.” Jawabannya: tunggu saja. Hati memang kuat, tapi bukan berarti tak bisa kalah. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menjatuhkan hati. Tapi begitu tumbang, bangkitnya hampir mustahil.
Kalau kamu benar-benar mencintai seseorang, dan kamu tahu dia ikhlas menerima perlakuanmu, meski disakiti, meski dilukai… apakah kamu tega memukulinya setiap hari? Begitu pula dengan hati. Ia ikhlas, ia kuat, tapi apakah kita tega menyakitinya terus-menerus?
Kalau kamu ingin menyayangi hati, cukup beri ia waktu istirahat. Kurangi zat pengawet , perasa, pewarna. Perbanyak sayur dan buah. Olahraga rutin. Kurangi begadang. Karena saat hati sehat, seluruh tubuh pun ikut bahagia.
Dan percayalah… lebih baik sakit hati, daripada sakit Hati.

Indonesia
Pandjer_Wengie retweetledi

Rahasia Duduk di Antara Dua Sujud
Di antara ruku‘ yang meruntuhkan ego dan sujud yang meleburkan diri, ada jeda yang sering dipandang sederhana: duduk di antara dua sujud. Namun justru di sanalah kelembutan Ilahi menyapa. Ia bukan sekadar istirahat, tapi helaan napas ruhani setelah meruntuhkan segala keangkuhan di hadapan-Nya.
Imam al-Ghazālī dalam Iḥyā’ menulis, “Duduk di antara dua sujud adalah saat hamba berhenti sejenak untuk memohon semua kebutuhannya, merintih dalam ketenangan, lalu bersiap kembali menenggelamkan wajahnya dalam penghambaan.”
Di duduk ini, kita melafazkan doa singkat namun memuat lautan makna:
رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاجْبُرْنِي، وَارْفَعْنِي، وَارْزُقْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي، وَاعْفُ عَنِّي
Ampuni aku… rahmati aku… perbaikilah yang retak dalam hidupku… angkat aku dari keterpurukan… berilah aku rezeki halal dan barakah… tunjukkan jalan-Mu… lindungi aku dari bala… maafkan aku…
Ibnu al-Qayyim berkata, “Doa ini intisari segala permintaan hamba. Ia merangkum ampunan masa lalu, rahmat saat ini, petunjuk jalan, perlindungan, dan limpahan kebaikan yang akan datang.”
Lihatlah betapa lembutnya Allah. Setelah sujud, Dia tidak langsung memerintahkanmu bangkit. Dia memberi jeda agar kau duduk dalam keheningan, meneguk rahmat-Nya perlahan, sebelum kembali bersujud lebih dalam.
Para sufi memandang duduk ini sebagai tempat ruh bernafas. Setelah tenggelam dalam fana sujud, jiwa yang luluh diberi jeda untuk merasakan baqā’—kehadiran yang kembali pada hidup, namun lebih jernih.
Jangan anggap remeh duduk di antara dua sujud. Ia mengajarkan bahwa setiap kejatuhan butuh jeda untuk bangkit, dan setiap bangkit harus disertai pengakuan akan kelemahan.
Berhentilah sejenak, biarkan hatimu merayu pada-Nya. Duduk itu bukan sekadar transisi gerak. Ia adalah mushafahātul qalb—berbisiknya hati dengan Rabb-nya, dalam lirih yang tak terdengar telinga manusia, tapi disambut langit dengan kasih sayang.
Lantas mengapa harus sujud dua kali? Kok gak cukup sekali? Ada apa dengan sujud yang kedua dalam shalat? Nantikan pembahasan berikutnya yah, bi idznillah 🙏🏻
Tabik,
Nadirsyah Hosen

Indonesia
Pandjer_Wengie retweetledi

Sujud: Saat Diri Jatuh, Ruh Terangkat
Saat dahi menyentuh bumi, yang jatuh bukan hanya tubuhmu, tetapi keangkuhanmu. Sujud adalah titik di mana segala lapisan kebanggaan manusia runtuh. Ia menanggalkan gelar, harta, dan identitas; yang tersisa hanyalah seorang hamba di hadapan Allah.
Siapa yang ingin mengetuk pintu Tuhan, ketuklah bumi dengan dahimu. Bumi adalah saksi kerendahan hati. Sujud menyambungkan yang fana dengan Yang Abadi. Saat kening menempel pada bumi, jiwa justru diangkat ke langit kedekatan. Tidak ada yang lebih dekat kepada Allah daripada hamba yang merendahkan dirinya di hadapan-Nya.
Sujud itu doa tanpa kata, tangis tanpa suara, dan cinta tanpa syarat. Ia bahasa terdalam jiwa yang tak sanggup lagi mengungkapkan apapun selain pasrah.
Doa agar senantiasa bersujud:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الرَّاكِعِينَ السَّاجِدِينَ، الَّذِينَ خَفَّتْ أَجْسَادُهُمْ عَلَى التُّرَابِ، وَثَقُلَتْ قُلُوبُهُمْ بِحُبِّكَ.
وَإِذَا رَفَعْتَنَا مِنْ سُجُودِنَا، فَارْفَعْنَا إِلَيْكَ رَفْعَةً لَا سُقُوطَ بَعْدَهَا أَبَدًا.
وَاجْعَلْ آخِرَ أَنْفَاسِنَا خُضُوعًا، وَآخِرَ لَحَظَاتِنَا رُكُوعًا، وَآخِرَ أَعْيُنِنَا وَهِيَ تَفِيضُ بِرُؤْيَةِ وَجْهِكَ الكَرِيمِ.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba yang senantiasa ruku’ dan sujud, yang ringan jasadnya di atas tanah namun berat hatinya oleh cinta-Mu. Dan ketika Engkau angkat kami dari sujud kami, angkatlah kami menuju derajat yang tak lagi mengenal kejatuhan. Jadikanlah akhir napas kami dalam ketundukan, akhir pandangan kami dalam rindu, dan akhir hidup kami dalam cahaya memandang wajah-Mu Yang Maha Mulia.
Doa Penuh Kerinduan:
اَللَّهُمَّ يَا مَنْ لَا يَفْهَمُ خَفَقَاتِ قَلْبِي سِوَاكَ،
اِقْرَبْنِي إِلَيْكَ قُرْبًا لَا أَفْتَرِقُ بَعْدَهُ أَبَدًا،
وَافْتَحْ لِي فِي سُجُودِي بَابًا إِلَى لِقَائِكَ،
وَلَا تَجْعَلْ بَيْنِي وَبَيْنَ وَجْهِكَ الكَرِيمِ حِجَابًا.
Ya Allah, wahai yang tiada yang memahami detak rinduku selain Engkau, dekatkanlah aku kepada-Mu sedekat-dekatnya hingga tiada lagi jarak yang memisahkan. Bukakanlah dalam sujudku pintu menuju perjumpaan dengan-Mu, dan jangan biarkan ada hijab antara aku dan wajah-Mu Yang Maha Mulia.
Amin Ya Rabb 🙏🏻❤️🔥
Tabik,
Nadirsyah Hosen

Indonesia
Pandjer_Wengie retweetledi

Dakwah, Kitab Suci, dan Tantangan Adab di Era Konfrontasi
Oleh: Nadirsyah Hosen
Beberapa waktu lalu, saya menulis sebuah refleksi tentang metode dakwah Rasulullah yang mengedepankan kelembutan, hikmah, dan penghormatan dalam berdialog dengan umat lain. Tulisan tersebut menuai berbagai reaksi. Sebagian menganggap saya “melembekkan” perjuangan tauhid. Ada yang menyindir bahwa saya menggambarkan sosok seperti Buddha, bukan Nabi Muhammad yang revolusioner. Bahkan, sebagian merasa saya sedang menyudutkan gaya dakwah apologetik-konfrontatif seperti yang dipopulerkan oleh Dr. Zakir Naik.
Izinkan saya menjawab dengan jernih untuk meluruskan cara pandang kita dalam memahami warisan dakwah Nabi: warisan yang bukan hanya memuat isi kebenaran, tetapi juga cara dan adab menyampaikannya.
Konteks Sejarah: Ketika Polemik Lahir dari Ketegangan, Bukan Koeksistensi
Sebagian pembela gaya dakwah konfrontatif hari ini sering merujuk pada karya-karya ulama klasik yang menanggapi akidah agama lain—seperti al-Jawāb al-Ṣaḥīḥ karya Ibn Taymiyyah, al-Radd al-Jamīl yang dinisbatkan kepada al-Ghazālī, Iẓhār al-Ḥaqq oleh Rahmatullah al-Hindi, atau risalah al-Kindī yang penuh daya pukau intelektual. Tapi mari kita tarik napas sejenak dan bertanya: dalam konteks seperti apa karya-karya besar itu ditulis?
Sebagian besar dari teks tersebut lahir bukan dalam suasana damai dan koeksistensi, tapi justru dalam kondisi ketegangan geopolitik dan pertempuran ideologis. Ibn Taymiyyah menulis al-Jawāb al-Ṣaḥīḥ sebagai respons terhadap provokasi misionaris Kristen di wilayah Syam pasca Perang Salib—sebuah zaman di mana agama menjadi bagian dari strategi ekspansi militer. Rahmatullah al-Hindi menyusun Iẓhār al-Ḥaqq di tengah tekanan Kristenisasi kolonial Inggris di India, sebagai upaya membela aqidah umat Islam yang terjajah. Bahkan risalah al-Kindī, yang sering dikutip sebagai contoh literatur interfaith, ditulis dalam konteks kekhalifahan Abbasiyah yang dominan secara politik dan militer terhadap komunitas Nasrani Timur.
Artinya: karya-karya itu adalah senjata peradaban dalam medan perang ideologi—bukan undangan berdialog di zaman damai. Maka ketika kita membaca dan mengutipnya hari ini, kita tidak bisa menyalinnya mentah-mentah tanpa menyadari bahwa kita hidup di era yang sangat berbeda.
Di masa sekarang, kita tidak sedang berhadapan dengan misi kolonial atau krusade global. Kita hidup dalam masyarakat majemuk yang menjunjung undang-undang kebebasan beragama, di mana gereja dan masjid berdiri berdampingan, dan warga negara dari berbagai iman bekerja, belajar, dan berkeluarga dalam sistem sipil yang sama.
Menggunakan gaya polemik dari era konflik untuk berdakwah di era damai—tanpa pemilahan konteks—adalah seperti menggunakan bahasa pertempuran dalam ruang tamu silaturahim. Bukan hanya tak sopan, tapi juga bisa merusak ikatan yang selama ini dengan susah payah dibangun.
Tentang Scriptural Literalism dan Standar Ganda
Yang saya soroti adalah praktik scriptural literalism—yaitu mengambil potongan ayat dari kitab suci agama lain tanpa memahami konteks sejarah, bahasa asli, atau tradisi tafsirnya, lalu menyodorkannya sebagai “bukti kekeliruan” di hadapan publik yang tidak memahami konteksnya. Ini bukan hujjah yang elegan, ini hanya retorika yang memburu efek.
Jika metode ini kita anggap sah, maka seharusnya kita juga siap jika kitab suci kita diperlakukan serupa. Tapi kenyataannya, ketika seorang non-Muslim mengutip satu ayat Al-Qur’an secara literal dan menyebutnya bertentangan, kita buru-buru menyebutnya penistaan agama. Padahal itu metode yang sama: potong teks, abaikan konteks, dan olah secara satu arah.
Ini adalah standar ganda yang merusak etika berdakwah. Kita bebas menafsirkan kitab mereka, tapi tak mengizinkan mereka menyoal ayat kita.
Indonesia

Mencongak
Adjie Santosoputro@AdjieSanPutro
Kata yang bikin ketauan usianya udah tua selain “Ebtanas” … Apa lagi ya?
Magelang, Jawa Tengah 🇮🇩 Indonesia
Pandjer_Wengie retweetledi

Melempar Jamrah: Zikir dalam Lemparan
Di padang Mina, di antara desakan ribuan manusia yang bertalbiyah dan bertakbir, ada satu ibadah yang tampak sederhana tapi sarat makna: melempar jamrah. Tujuh batu kecil di tangan, dilempar ke tiga titik yang menjadi simbol bisikan setan—Jamrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Secara fikih, ini bagian dari rangkaian manasik, meneladani Nabi Ibrahim saat menolak godaan setan yang ingin menggagalkan perintah Allah.
Namun, jika kita tenggelam sejenak dalam keheningan batin, kita akan sadar: yang dilempar bukan sekadar batu, tapi rasa takut, keraguan, dendam, dan hawa nafsu yang tak kunjung kita tundukkan. Setiap lemparan adalah pernyataan cinta: bahwa kita memilih Allah di atas segalanya—bahkan di atas rasa aman, bahkan di atas logika dunia.
Melempar jamrah adalah simbol perang batin. Jamrah Ula untuk godaan pikiran: bisikan keraguan, hasrat berkuasa, keinginan untuk dikagumi. Jamrah Wustha untuk godaan hati: jebakan dunia, iri, cinta yang tak bermartabat. Dan Jamrah Aqabah—yang utama—untuk godaan tindakan: keputusan yang membawa pada kehancuran jiwa.
Tapi apakah ibadah ini hanya milik mereka yang menunaikan haji?
Tidak. Justru sejatinya, jamrah kita temui setiap hari. Karena syetan tidak hanya hadir di Mina—ia hadir di sela-sela niat baik yang berubah arah, di bibir yang hendak berdusta, di mata yang memandang dengan dengki, di jemari yang nyaris menulis keburukan. Kita bisa dan harus melempar jamrah setiap saat—dengan sabar, dengan dzikir, dengan keberanian untuk berkata tidak pada yang batil.
Mina itu ruang dalam jiwa. Dan setiap lemparan adalah sejenis zikir:
“Ya Allah, aku ingin bersih.”
“Ya Allah, aku ingin kembali kepada-Mu.”
Maka simpanlah tujuh ‘batu’ dalam hatimu: kejujuran, keteguhan, kesabaran, syukur, tawakal, kasih sayang, dan taubat. Lemparlah dengan itu semua setiap kali setan mendekat.
Karena jihad terbesar bukanlah di medan perang,
tapi saat kita menang melawan diri sendiri—
dan tetap memilih Tuhan,
meski sunyi, meski sulit, meski sendiri.
Tabik,
Nadirsyah Hosen

Indonesia
Pandjer_Wengie retweetledi

Beragam jalan menuju-Nya, tapi hanya satu cinta untuk-Nya
Di dunia yang sering gaduh oleh ambisi,
Idul Adha hadir seperti bisikan lembut dari langit—
bukan untuk menyuruh kita mundur,
melainkan untuk mengajak kita naik satu tangga lebih tinggi:
lebih jernih dalam niat,
lebih lapang dalam memberi,
dan lebih berani mencintai karena Allah.
Apa yang layak dikorbankan?
Segala hal yang membebani jiwa dari terbang menuju-Nya.
Dan kepada siapa cinta ini seharusnya ditujukan?
Kepada Dia yang tak pernah meninggalkan,
dan kepada sesama yang menjadi cermin kehadiran-Nya
Jadi, bagaimana cara mencintai-Nya?
Mulailah dari syariat—tegakkan rukun.
Lanjutkan dengan tarekat—latih hati.
Selami hakikat—pahami makna.
Dan pada akhirnya, tenggelamlah dalam makrifat—
hingga seluruh nafas adalah rindu yang tak henti.
Pengorbanan Ibrahim bukan sekadar sejarah,
tapi nyala harapan bagi siapa pun yang sedang belajar untuk meyakini
bahwa ada yang lebih kekal dalam genggaman Tuhan.
Syariat qurban adalah laku zahir,
namun ruhnya adalah tasawuf:
menyembelih hasrat agar hati bersih,
menanggalkan ego agar makna sejati lahir.
Syariah pun hadir bukan untuk membebani,
melainkan untuk menjaga:
jiwa yang rapuh (ḥifẓ al-nafs),
akal yang mencari (ḥifẓ al-‘aql),
agama yang menenangkan (ḥifẓ al-dīn),
harta yang dititipkan (ḥifẓ al-māl),
dan keturunan yang bermartabat (ḥifẓ al-nasl).
Semoga Idul Adha ini
menjadikan kita insan yang bukan hanya patuh secara lahir,
tapi juga luluh secara batin.
Tegas dalam sikap
Lembut dalam jiwa
Kukuh pada tujuan
Lentur pada cara
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Idul Adha Mubarak
Tabik,
Nadirsyah Hosen

Indonesia




