Sabitlenmiş Tweet
dee
9.2K posts


@bareda @vikatae1 @massalahuddin @myohan_shi @xcintakiehlx @ghozyulhaq @zanatul_91 FYI data mentah dari grafik di atas diambil dari data.kemendikdasmen.go.id/dataset/datase…
Indonesia

@bareda @vikatae1 @massalahuddin @myohan_shi @xcintakiehlx @ghozyulhaq @zanatul_91 gausah denial, nyatanya setelah kurikulum merdeka efektif berlaku, capaian literasi & numerasi pelajar meningkat cukup pesat. mempermasalahkan persentase yg tdk mencapai 50% disaat tahun sblmnya bahkan tdk mencapai 15% itu aneh. krn dalam 4 tahun, kenaikannya sudah mencapai 233%
Indonesia
dee retweetledi

18 tahun. Itu tuntutan jaksa buat seseorang yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun mencoba memajukan negara ini. Terlepas dari kamu setuju atau gak sama pandangan politiknya, coba deh renungin baik-baik angka itu.
Ini bukan kejadian yang pertama kali. Indonesia itu punya pola yang diam-diam menghancurkan: orang-orang pinter, kompeten, dan punya niat tulus masuk ke pemerintahan, tapi ujung-ujungnya malah dihancurin sama sistem. Gak selalu karena mereka bersalah, tapi seringnya cuma karena kehadiran mereka "dianggap mengganggu".
Tapi anehnya, kita terus-terusan nyuruh anak-anak muda terbaik kita: "Masuk dong ke pemerintahan. Mengabdi dong buat negara. Bawa perubahan."
Siapa juga yang mau kalau mereka ngelihat langsung kejadian kayak gini di depan mata?
Siapa pun dalang di balik semua ini, mereka sama sekali gak lagi ngelindungin Indonesia. Mereka justru lagi ngajarin satu generasi orang-orang berbakat kalau jalan paling aman itu ya mending diam aja. Atau sekalian pergi ke luar negeri.
Buat yang suka nyinyir, "Ya udah, pergi aja sana!", tolong berhenti nutupin ego kalian dari kenyataan. Banyak kok orang Indonesia yang super cerdas dan bener-bener cinta sama negara ini. Mereka tetap stay di sini. Mereka ngebangun sesuatu. Mereka nyari cara lain buat berkontribusi di luar pemerintahan, karena masuk ke dalam sistemnya itu terlalu bahaya.
Tapi ini realita yang lebih pahit: sehebat apa pun startup, kreator, atau inovator kita di kancah dunia, KALAU pemerintahnya tetap korup dan gila kuasa, KALAU aturannya gak ngelindungin rakyat atau gak ngasih ruang buat industri berkembang dengan sehat, terus kita sebagai masyarakat bisa berharap apa?
Ini momen yang sedih banget buat Indonesia. Bukan cuma karena ada satu orang yang lagi diadili, tapi karena pesan yang ditangkap sama semua orang pintar dan idealis yang lagi ngelihatin kasus ini: bahwa negara ini sepertinya belum siap buat ngelindungin orang-orang yang berani membawa perubahan.
Indonesia
dee retweetledi

@bareda @vikatae1 @massalahuddin @myohan_shi @xcintakiehlx @ghozyulhaq @zanatul_91 paham baca grafik ga sih? contoh image kedua utk capaian numerasi kab. bangka selatan (kab paling atas dalam grafik), tahun 2021 di kabupaten tsb, hanya sekitar 13% siswa yg mencapai nilai > 60. sementara tahun 2025 di kabupaten yg sama, hampir 50% siswa yg mencapai nilai > 60
Indonesia

@vikatae1 @massalahuddin @myohan_shi @xcintakiehlx @ghozyulhaq @zanatul_91 Dibaca, lihat sebelah kanan (sisanya), berapa persen yg tidak memenuhi kompetensi minimum.
Indonesia
dee retweetledi

Yg 'males' baca artike di bawah, intinya gini..👇
- Prabowo Subianto terlalu boros (spendthrift) dan terlalu otoriter (authoritarian), sehingga membahayakan stabilitas ekonomi dan demokrasi Indonesia.
- Prabowo punya sifat mercurial (mudah berubah-ubah): kadang terlihat ramah & menerima kritik, tapi sering marah-marah dan menuduh kekuatan asing mendanai LSM untuk mengganggu stabilitas.
- Masalah Ekonomi: Program-program populis yang sangat mahal (terutama makan bergizi gratis) menekan anggaran negara, melemahkan rupiah, dan mengancam stabilitas makroekonomi.
- Masalah Demokrasi: Tendensi sentralisasi kekuasaan, pembungkaman kritik, dan gaya kepemimpinan yang semakin otoriter.
- Latar belakang: Prabowo mantan jenderal yang punya masa lalu “thuggish” (kasar), kini berubah image jadi kakek penyayang kucing, tapi watak aslinya masih muncul dan mengkhawatirkan sekutu sendiri.
- Inti kritik dari Economist: Prabowo sedang membawa Indonesia ke jalur berbahaya dengan kombinasi pengeluaran berlebihan + gaya kepemimpinan yang kurang demokratis.
The Economist@TheEconomist
Prabowo Subianto is too spendthrift and too authoritarian economist.com/briefing/2026/…
Indonesia
dee retweetledi

korea UMR 25 juta protes americano harga 50rb banyak yg setuju, di indo umr 4 - 5 juta protes matcha harga 100rb langsung rame “BERARTI TARGET MARKETNYA BUKAN ELUUUUU”
siti kusmini@babymetaall
@tang__kira Budaya korsel yg aku suka yaitu suka mengkritik harga makanan yg over Kalo di indo overprice malah dikatain "buat yg mampu beli aja" PREETTT
Indonesia
dee retweetledi
dee retweetledi
dee retweetledi

Pembunuh mimpi nomor 1 itu bisa jadi kemiskinan yang struktural.
- bisa jadi, ada anak super genius seperti Einstein di Indonesia Timur yang gabisa lanjut sekolah karena jaraknya yang amat jauh.
- bisa jadi, ada anak yang berbakat musik seperti Bach di Depok tapi karena harus ngehidupin adiknya dan ditinggal ortunya, akhirnya jadi pemulung.
- bisa jadi, ada anak di Sumatera yang sangat suka bola dan jika diterusin bisa kayak Messi, tapi kena gizi buruk dan sakit-sakitan, ga mampu berobat.
Maka dari itu, fasilitas publik seperti kesehatan, pendidikan, transportasi, dsb tuh penting agar kita ga kehilangan bakat2 terpendam begini.
𝕟𝕒𝕓𝕚𝕝@letstrydude
ternyata bener, pembunuh mimpi nomer 1 tuh ekonomi ya.
Indonesia
dee retweetledi

Ada mutuals yang rajin pakai CC tapi disiplin sebagai Alat Bayar ? dapat cashback diskon, dan miles.
ayra@airmineralle
Sebenernya kartu kredit menguntungkan atau merugikan menurutmu?
Indonesia
dee retweetledi
dee retweetledi

Semua prodi jadi tak relevan dengan industri kalau industrinya nggak ada. #taraktakcess
tempo.co@tempodotco
JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri
Indonesia
dee retweetledi










