10N | Klp. Gading–Blok M

46.5K posts

10N | Klp. Gading–Blok M banner
10N | Klp. Gading–Blok M

10N | Klp. Gading–Blok M

@rafenditya

Tukang adonan yg sesekali memanggang persoalan 'kebijakan' #KulinerTransum

Indobubar 2025 Katılım Aralık 2011
757 Takip Edilen2.1K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
10N | Klp. Gading–Blok M
10N | Klp. Gading–Blok M@rafenditya·
Kumpulan utas / thread kue kreasi gue ~ A Thread of Threads 🧵🧵
10N | Klp. Gading–Blok M tweet media10N | Klp. Gading–Blok M tweet media10N | Klp. Gading–Blok M tweet media10N | Klp. Gading–Blok M tweet media
English
3
42
165
96.8K
Rido
Rido@ridoarbain·
@AcilCerita @fiksigpu Padahal jelas tujuan dasar institusi pendidikan kayak SMK tuh untuk mengimplementasikan konsep BMW: Bekerja, Melanjutkan Pendidikan, dan Wirausaha. Jadi bebas milih.
Indonesia
2
0
77
17.6K
Rido
Rido@ridoarbain·
Ada yang masih ingatkah berita viral tahun lalu, saat akun Instagram SMK PGRI Lubuklinggau mencuri perhatian publik setelah mengunggah ucapan selamat untuk dua alumninya yang diterima bekerja di minimarket? Respons publik terhadap unggahan tersebut cukup beragam; meski banyak yang memuji sikap sekolah, ada pula yang justru meremehkan karena menganggap profesi (kasir) karyawan minimarket bukan termasuk karier impian yang cukup layak untuk diapresiasi seperti halnya ASN, TNI, Polri, dll.. Pandangan sinis semacam itu sebetulnya persis apa yang dialami oleh tokoh bernama Keiko Furukara dalam novel CONVENIENCE STORE WOMAN (GADIS MINIMARKET) karya Sayaka Murata. Keiko adalah sosok wanita dewasa berumur 36 tahun yang telah bekerja di sebuah minimarket (konbini) hampir sepanjang hidupnya. Ia mulai bekerja di sana sejak usianya 18 tahun dan menjadi karyawan angkatan pertama saat minimarket itu baru dibuka.⁣ Bagi kebanyakan orang, kehidupan Keiko dianggap tak normal. Mereka menganggap, pada usia matang tersebut, idealnya Keiko sudah menikah dan memiliki pekerjaan tetap, bukan malah melajang dan menjadi pekerja paruh waktu, apalagi di minimarket. ⁣Apa yang dialami Keiko, begitu pun alumni SMK yang diterima bekerja di minimarket, merupakan bias pandangan masyarakat dalam menilai dan memberi label normal dan abnormal. Di samping itu, masalah yang tak kalah pelik dalam kehidupan bersosial ialah tuntutan masyarakat yang menginginkan seseorang berlaku sesuai dengan "standar" tidak resmi yang mereka buat sendiri. “Dunia normal adalah dunia yang tegas dan diam-diam selalu mengeliminasi objek yang dianggap asing. Mereka yang tak layak akan dibuang.” Gagasan tentang menghargai pilihan setiap individu tanpa memandang jenis pencapaian mereka, sejatinya juga selaras dengan filosofi pendidikan yang dikembangkan oleh Alexander Sutherland Neill dalam bukunya yang populer berjudul Summerhill School. Summerhill, sebuah sekolah alternatif yang didirikan Neill pada 1921 di Inggris, menekankan kebebasan, kebahagiaan, dan penghargaan terhadap individualitas siswa. Neill percaya bahwa para siswa dapat berkembang dengan baik ketika mereka diberi kepercayaan untuk membuat pilihan sendiri dan dihargai sebagai individu, bukan dinilai berdasarkan standar akademik atau sosial yang kaku. Dalam bukunya itu, Neill menulis bahwa tujuan pendidikan bukanlah mencetak siswa yang seragam, tetapi membantu mereka menemukan jati diri dan potensi unik mereka. Ia menentang sistem pendidikan yang terlalu menekankan prestasi akademik dan kompetisi, karena hal tersebut sering kali menghancurkan kepercayaan diri siswa yang tidak sesuai dengan standar tersebut. Sebaliknya, Neill mendorong pendidik untuk memberikan afirmasi positif dan menciptakan lingkungan di mana siswa merasa diterima apa adanya. Langkah kecil yang diambil oleh SMK PGRI Lubuklinggau ketika mengunggah ucapan selamat kepada alumninya, seolah-olah mencerminkan semangat Summerhill dalam beberapa cara. Pertama, dengan mengapresiasi lulusan yang bekerja di minimarket, pihak sekolah menunjukkan bahwa mereka menghargai pilihan personal setiap siswa, seperti yang diadvokasi Neill. Kedua, sekolah menciptakan suasana yang mendukung perkembangan psikologis siswa dengan menunjukkan bahwa setiap langkah menuju kemandirian adalah prestasi yang patut dirayakan. Hal ini sejalan dengan pandangan Neill bahwa kebahagiaan dan rasa percaya diri siswa lebih penting daripada konformitas terhadap ekspektasi masyarakat. Meski begitu, segelintir komentar negatif dari beberapa warganet dalam menilai unggahan viral tersebut, menunjukkan masih adanya stigma sosial terhadap pekerjaan tertentu. Oleh karena itu, sekolah, institusi, dan juga KITA, perlu terus mengedukasi masyarakat bahwa seyogianya keberhasilan tidak hanya diukur dari status atau gaji, tetapi dari tanggung jawab dan kontribusi pada masyarakat.
Rido tweet media
𝚌𝚊𝚛𝙾𝙻𝙸𝙽𝚊 𝚛𝚒𝚊 𝚘𝚔𝚝.@credOLIN

Akhir Sang Gajah Di Bukit Kupu-kupu sudah selesai! Mari kita lanjutkan membaca di hari Minggu dengan buku ini: GADIS MINIMARKET ~ Sayaka Murata. 💛💙💚✨

Indonesia
29
671
4.9K
370.6K
Hidup sebagai +62
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62·
PAJAK BOS BPJS DIBAYAR PAKAI UANG BPJS, NILAI HAMPIR 12 MILYAR/TAHUN SAAT BPJS SENDIRI DEFISIT RP2 TRILIUN PER BULAN Dua lembar dokumen resmi berlogo Garuda dan kop bertuliskan "Presiden Republik Indonesia" ini bukan dokumen sembarangan. Ini adalah Peraturan Presiden yang mengatur secara terperinci siapa yang mendapat apa di tubuh BPJS dan salah satu klausulnya cukup membuat publik terdiam ketika dibaca secara saksama. Dokumen yang terlihat di foto adalah bagian dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 110 Tahun 2013 tentang Gaji atau Upah dan Manfaat Tambahan Lainnya serta Insentif bagi Anggota Dewan Pengawas dan Anggota Direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Beleid ini hadir untuk mendukung pelaksanaan BPJS yang mulai beroperasi sejak 1 Januari 2014. Peraturan ini berlaku untuk dua lembaga sekaligus: BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Dan yang diatur di dalamnya adalah seluruh paket kompensasi para petinggi lembaga ini mulai dari gaji pokok, tunjangan, fasilitas, insentif, hingga soal siapa yang membayar pajak penghasilan mereka. Ini bukan rahasia, tapi juga tidak banyak yang tahu perinciannya. Gaji atau upah anggota Direksi ditetapkan sebesar 90% dari gaji atau upah Direktur Utama. Ketua Dewan Pengawas mendapat 60% dari gaji Direktur Utama, sementara anggota Dewan Pengawas mendapat 54% dari gaji Direktur Utama. Gaji pokok Direktur Utama ditaksir berada di kisaran Rp 150 juta per bulan, sehingga kompensasi seorang anggota Dewan Pengawas menyentuh kisaran Rp 81 juta per bulan. Tapi gaji pokok hanya sebagian dari cerita. Paket kompensasinya jauh lebih luas. Berdasarkan Pasal 8 dan 9 dokumen yang terlihat, selain gaji mereka juga mendapat tunjangan hari raya keagamaan, santunan purna jabatan, tunjangan cuti tahunan, tunjangan asuransi sosial, dan tunjangan perumahan. Belum berhenti di situ ada juga fasilitas pendukung tugas berupa kendaraan dinas, layanan kesehatan, pendampingan hukum, fasilitas olahraga, pakaian dinas, biaya representasi, dan biaya pengembangan diri. Ditambah Pasal 9 yang menyebut bahwa Dewan Pengawas dan Direksi juga bisa mendapat insentif berbasis capaian kinerja yang dibayarkan dari hasil pengembangan aset BPJS. KLAUSA YANG PALING MENGUNDANG PERTANYAAN: PASAL 7 Di sinilah bagian yang paling menyentil nurani publik. Tertulis jelas dan terang di Pasal 7 yang disorot kuning dalam dokumen itu: "Pajak atas Gaji atau Upah anggota Dewan Pengawas dan anggota Direksi ditanggung dan menjadi beban BPJS." Artinya: bukan hanya gaji yang besar yang mereka terima pajak penghasilan atas gaji itu pun dibayarkan oleh BPJS, bukan dari kantong pribadi mereka. Dalam bahasa fiskal, ini disebut gross-up atau pajak ditanggung pemberi kerja. Penghasilan bersih yang mereka terima adalah take-home pay penuh, tanpa potongan pajak sama sekali. Di satu sisi, dokumen ini menunjukkan para petinggi BPJS menerima paket kompensasi kelas atas yang lengkap gaji ratusan juta, tunjangan berlapis, fasilitas mewah, plus pajak mereka pun ditanggung institusi. Di sisi lain, institusi yang membayar semua itu sedang dalam kondisi darurat finansial yang semakin memburuk. BPJS Kesehatan saat ini defisit Rp 2 triliun setiap bulan. Tunggakan iuran peserta sudah melampaui Rp 28 triliun. Cadangan kas diperkirakan tidak sehat di November 2026 dan berpotensi gagal bayar awal 2027. Suntikan APBN Rp 20 triliun pun belum juga cair. Dan dalam kondisi itu, BPJS masih menanggung pajak penghasilan para petingginya dibayarkan dari dana yang sama yang seharusnya digunakan untuk membayar klaim operasi jantung, cuci darah, dan kemoterapi rakyat miskin. Pada akhirnya, pertanyaan ini bukan soal dengki pada gaji tinggi. Ini soal keadilan sistemik: ketika peserta BPJS iuran tiap bulan agar bisa berobat, dan ketika sistem itu sedang sekarat secara finansial siapakah yang seharusnya merasakan penghematan paling pertama?
Hidup sebagai +62 tweet mediaHidup sebagai +62 tweet media
Indonesia
86
884
1.2K
37.8K
10N | Klp. Gading–Blok M retweetledi
Ricky Ho
Ricky Ho@rickyho_1989·
This chart is a brutal reflection of why public frustration toward political elites in many emerging markets continues intensifying because it shows that Indonesian lawmakers are compensated at levels that look extraordinarily disconnected from the underlying economic reality faced by the average citizen, with parliament salary reaching roughly 14.7x GDP per capita, among the highest ratios globally and second only to the Philippines in this dataset, despite Indonesia still remaining a country where purchasing power remains relatively weak, informal employment is massive, public service quality remains uneven, infrastructure bottlenecks persist, legal enforcement often feels inconsistent, and upward economic mobility for large parts of the population remains structurally difficult. And this is precisely why charts like this become politically toxic because citizens naturally begin asking a very simple question: what exactly are taxpayers receiving in return? In high-income countries, lawmakers may also earn very large nominal salaries, but those economies simultaneously generate far stronger productivity, higher institutional quality, better healthcare systems, stronger education outcomes, more efficient bureaucracy, higher legal predictability, and materially better public goods overall, meaning political compensation exists within a much larger and wealthier economic ecosystem. But in Indonesia, the optics become far more uncomfortable because the political class increasingly appears capable of extracting upper-middle-class or even developed-market lifestyles from an economy that still struggles to generate broad-based prosperity for much of the population itself. And perhaps the harshest part is that compensation alone is probably not even the real issue. The real issue is performance. Citizens are generally willing to tolerate highly compensated leaders if the country visibly becomes richer, more efficient, more meritocratic, less corrupt, and economically stronger over time. But when corruption scandals remain persistent, policymaking appears inconsistent, infrastructure projects repeatedly face rent-seeking concerns, and wealth creation remains concentrated among political insiders, conglomerates, and connected elites, high political compensation begins looking less like professionalization and more like institutionalized extraction. Importantly, this also helps explain why anti-elite sentiment, populism, and distrust toward institutions continue rising globally because once the gap between elite living standards and ordinary household realities becomes too visible, citizens increasingly stop believing the system operates primarily for collective national advancement and instead begin viewing politics as a mechanism for self-enrichment among those already close to power. Ultimately, this chart reflects something much deeper than salary levels alone because it exposes the uncomfortable reality that in many emerging markets, the political class often succeeds in upgrading its own prosperity far faster than the nation it supposedly represents, and over time that divergence itself becomes corrosive to institutional trust, social cohesion, and long-term political legitimacy.
Ricky Ho tweet media
English
4
388
613
171.6K
10N | Klp. Gading–Blok M
Positif yang negatif. Lu ga bisa nyopot capaian seseorang atas suatu hal dari statusnya, jabatannya, dll. Dia bisa berangkat kuliah naik jet pribadi, bayar pengasuh bayi di luar negeri, bajunya ada yg nyuciin.
Kopi Pahit ☕️@galihiyahiya

@kamarlintang boleh ga suka politiknya, boleh ga suka keluarganya — tapi IPK 4.0 UPenn sambil hamil, melahirkan, nyusuin, dan magang di UNESCO itu achievement yang berdiri sendiri. apresiasi prestasi ya prestasi, ga harus dikaitkan yang lain 🙂

Indonesia
0
0
3
138
Royce GS
Royce GS@GiovanoRoyce·
@entalpih 1Z: Kota - Manggarai 2Z: Pulo Gadung - Manggarai via Cempaka Mas 4Z: umm, 4 udah basenya di Manggarai (kecuali mau bikin Manggarai-Manggarai) 6Z: Ragunan-Manggarai 9Z: Pinang Ranti-Manggarai 12Z: Pluit-Manggarai 13Z: Puri Beta-Manggarai 14Z: JIS-Manggarai JosJIS ✨🗿
Indonesia
1
0
0
123
enthalpy (焓)
enthalpy (焓)@entalpih·
untuk mendukung stasiun manggarai sentral yg dipaksakan ini, transjakarta dapat menambah 6 rute ke segala arah: 3Z: Kalideres - Galunggung - Manggarai sentral 5Z: Harmoni sentral - Senen sentral - Manggarai sentral 8Z: Lebak bulus - Galunggung - Manggarai sentral
enthalpy (焓) tweet media
Txt Transportasi Umum@txttransportasi

Kemarin ada yang tanya, tanjakan & jalur stabling kereta api jarak jauh di sisi selatan Stasiun Manggarai desainnya seperti apa? Kurang lebih seperti ini ya. Kalau dilihat pada gambar, sebelah kanan jalur ke arah Jatinegara, sedangkan sebelah kiri jalur ke arah Bogor.

Indonesia
6
38
323
30K
ame
ame@taurosze·
@rafenditya Kak apa ga capek 2hari ga berhenti cegukan😭
Indonesia
1
0
0
434
ame
ame@taurosze·
Ada yang pernah diresepin dokter obat ini? Sebagai apoteker, tiap kali ada pasien tebus resep Braxidin buat “nyeri lambung” hatiku selalu campur aduk 🥺 Kenapa sih emanganya? Karena obat ini bukan cuma buat fisik. Chlordiazepoxide salah satu kandungan di dalamnya adalah anti-anxiety. Artinya? Lambungmu sakit bukan cuma soal makan. Tapi soal beban yang kamu pendam sendirian. Stres bisa jadi maag. Bisa jadi IBS. Bisa jadi nyeri dada yang dikira jantung. Tubuhmu nggak diam kalau kamu menderita. Dia berteriak lewat rasa sakit 🫀 Jangan tunggu fisikmu yang kasih tahu duluan. Cerita, ya💙
ame tweet media
Indonesia
139
464
2.8K
236.2K
10N | Klp. Gading–Blok M retweetledi
R___________________________
R___________________________@GenksBoss______·
Voters 58% harus bertanggung jawab sih ini..!!?!? Karena pilihan kalian hewan langkah pun harus terusir dari habitatnya ...
Indonesia
173
5K
10.1K
101.6K
10N | Klp. Gading–Blok M retweetledi
Al Jazeera English
Al Jazeera English@AJEnglish·
Indonesian authorities have shut down several screenings of a new documentary on alleged human rights abuses in Papua, including Indigenous land seizures. Rights groups and international media still face restricted access to the region. Al Jazeera’s @JesWashington reports.
English
178
13.3K
18.5K
1.1M
hikari || 7A Term. Bratang - Stasiun Psr Turi
sorry aku orang jatim, tapi aku protes knp pembangunan di Jawa itu Solo Raya-sentris. gk cuma jakartasentris kenapa Toll Trans Jawa gk disambung dr demak ke timur? kenapa KRL lebih dulu ada di Jogja-Solo drpd Surabaya Raya? kenapa Bandara Juanda gk bisa punya kereta bandara?
Danang Hendrawan@dananghendraone

@SnaiperMask mereka itu suka protes kalo daerah lain dibangun mas, serius. pengennya itu cuman daerah mereka doang. boro boro luar pulau jawa, kalo misal jabar sampe ke jatim ada pembangunan masif tuh mereka ya suka misuh misuh. ngerasa superiornya ituloh yang menganggu sekali

Indonesia
109
258
1.9K
152.2K
10N | Klp. Gading–Blok M retweetledi
kale
kale@kalistohenituse·
Pak anies menang pilkada tapi dapet cap politik identitas sampe sekarang. Padahal yg maju paling depan nuntut Ahok juga prabowo wkwk sini gw jelasin satu satu: 1. Sejak 2012 ahok udah sering singgung masalah politik identitas (anies masih rektor), puncaknya ya pas penistaan agama 'al maidah' 2. Yang menunggangi demo, prabowo sama jokowi 3. Yang ikut laporin itu habiburrahman dari gerindra. 4. Yang memberatkan di persidangan, kesaksian dari ma'ruf amin yg kemudian diangkat jadi wapres (politik identitas??) 5. Cuma karna Anies lawannya dan menang, celakanya dia yg harus menanggung semua tuduh2an itu sampe sekarang wkwkwk
kale tweet mediakale tweet media
Fajar Nugros@fajarnugros

Andai pas Pilgub gak bawa2 politik identitas mungkin saya udah jadi pendukungnya..

Indonesia
299
6.9K
20.5K
675.6K
10N | Klp. Gading–Blok M retweetledi
Mak imah
Mak imah@mak_imahhybs·
Saya tahu ini cuma insert dari Kompas TV but ini langkah cerdas juga. IHSG ditampilin pas blionya bicara dalam 2 menit beliau pidato, IHSG Anjlok 5 poin It was like: keep talking, but IHSG will keep sliding
Mak imah@mak_imahhybs

2013 (sebelum jadi presiden) : Mengkritik pelemahan rupiah sebagai tanda ekonomi salah urus. 2026 (setelah jadi presiden ) : Meminta masyarakat tidak panik soal dolar karena rakyat desa tidak pakai dolar Beda posisinya ternyata beda juga pemikirannya

Indonesia
84
8.1K
21.4K
1.8M
10N | Klp. Gading–Blok M
@koganenohikari TJ 10 cuma dari Sunter Kelapa Gading sampe Priok TJ 12 Sunter Boulevard–Danau Agung TJ 14 JIS–Danau Agung TJ 9 Penjaringan–Pluit
Indonesia
1
0
1
456
10N | Klp. Gading–Blok M retweetledi
Ivan Lanin
Ivan Lanin@ivanlanin·
Konjungsi Antarkalimat 1. Temporal - Kelanjutan: Selanjutnya, Sesudah itu, Setelah itu, Kemudian, Akhirnya - Pendahuluan: Sebelumnya - Keserentakan: Sementara itu 2. Kontingensi - Kausalitas: Oleh karena itu, Oleh sebab itu, Karena itu, Akibatnya - Persyaratan: Jika demikian, Kalau begitu - Penyimpulan: Dengan demikian, Jadi, Untuk itu 3. Perbandingan - Kekontrasan: Akan tetapi, Namun, Di pihak lain, Sementara itu - Kekonsesifan: Biarpun begitu, Meskipun demikian, Sungguhpun begitu, Walaupun demikian - Kebalikan: Sebaliknya 4. Perluasan - Penambahan: Selain itu, Lagi pula, Tambahan pula, Tambahan lagi, Berkaitan dengan itu, Sehubungan dengan itu, Dalam hal ini, Dalam hubungan ini, Dalam konteks ini - Penguatan: Bahkan, Malahan - Reformulasi: Artinya, Dengan kata lain - Percontohan: Misalnya, Contohnya - Klusivitas: Kecuali itu, Di samping itu 5. Modalitas - Keraguan: Agaknya, Kalau tidak salah - Klarifikasi: Sesungguhnya, Sebenarnya, Sebetulnya, Pada dasarnya, Pada hakikatnya, Pada prinsipnya - Penilaian: Sebaiknya, Paling tidak Catatan: Daftar ini bukan daftar lengkap. Kategorisasinya pun merupakan penyederhanaan. Beberapa konjungsi antarkalimat dapat berpindah kategori sesuai dengan konteks pemakaiannya.
Ivan Lanin tweet media
Indonesia
5
129
458
10.3K