Sabitlenmiş Tweet
raa.
18.3K posts

raa. retweetledi
raa. retweetledi
raa. retweetledi

udah sadar dan... stres mikirin timeline 😭
keritingrambut 𐂂@bgkiting
Siapa yang baru sadar kalau: 1,2,3 Mei: Libur (Hari Buruh) 14 Mei: Libur (Waisak) 15 Mei: Libur (Cuti Bersama Waisak) 16,17 Mei: Libur (Sabtu & Minggu) 27 Mei: Libur (Hari Raya Idul Adha) 28,29 Mei: Libur (Cuti Idul Adha) 30,31 Mei: Libur (Sabtu & Minggu)
Indonesia
raa. retweetledi

“Para bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimu”
Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang.
Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: “mendidik anak laki-laki itu mudah.”
TIDAK.
Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan:
Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan)
Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi.
Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki.
“Namanya juga laki-laki.”
“Cuma bercanda.”
“Nanti juga ngerti sendiri.”
"Boys will be boys"
Tidak.
Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan.
Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun.
Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh.
Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam.
Dan akan mereka ulang.
Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban.
Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat.
Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap “sepele.”
Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras"
Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.


Indonesia
raa. retweetledi

From this to this
Sehat selalu papaku 🤍


teh susu 🥛@tehsususatu_
IH AK PEN POST FROM THIS TO THIS APAKAH BOLEH TEMAN TIMUNNNNN
Indonesia
raa. retweetledi

men to men: tolong banget evaluasi isi obrolan tongkrongan atau grup WA (or apapun) circle lo pada. kalo temen lo udah mulai objektifikasi perempuan, ngelecehin fisik pake bahasa kotor buat becandaan, and you do absolutely nothing about it? you're part of the problem
jangan pernah berlindung di balik "namanya juga cowok" atau "ah elah cuma locker room talk doang, aslinya mah kita respect kok". it's a fucking bullshit.
mindset jelek itu tumbuhnya dari hal-hal sampah yang lo normalisasi di circle lo sendiri. kalo lo udah terbiasa ngeliat perempuan cuma sebatas objek buat bahan fantasi di grup, pelan-pelan empati lo ke mereka bakal mati
solid sama temen tuh ada batasnya. diem dan ikut ketawa pas temen lo ngelecehin orang itu bukan solid, tapi lo lagi jadi enabler
gausah muluk-muluk sok pahlawan. minimal kalo ada temen lo yang mulai sangean ga jelas di obrolan langsung tegor. kalo ditegor malah ngegas dan ngatain lo so suci, mending leave. tongkrongan kek gitu ga ada valuenya sama sekali buat lo
buat lo yang milih diem aja pas temen lo ngerendahin perempuan di grup, sadar ga sih kalo diemnya lo itu yang ngasih validasi ke mereka buat terus jadi predator?
sampahfhui@sampahfhui
[anak fhui bikin grup isinya lecehin perempuan tiap hari???]
Indonesia

@urmoonchild7 wkwkwkw ini juga enakkk kwnya berylssssss dan harganya jauh lebi murah
Indonesia
raa. retweetledi

@unmagnetism @excalilburned Dulu selalu bisa nyisihin duit buat dana darurat, eh sekarang rasanya tiap hari darurat 😭😭
Indonesia
raa. retweetledi

Gw punya temen namanya si A, tinggal di Bekasi kerja di Sudirman.
Senin sampai Jumat rutinitasnya sama terus.
Bangun setengah lima pagi.
Siap siap.
Berangkat sebelum jam enam karena kalau kesiangan macetnya tidak manusiawi.
Sampai kantor jam tujuh.
Kerja sampai jam lima sore.
Sampai rumah jam tujuh atau delapan malam.
Dua jam lebih di jalan.
Tiap hari.
Pulang pergi.
Dan ini bukan keluhan dia ini memang realita yang dijalani jutaan orang yang tinggal di penyangga Jakarta setiap harinya.
Jadi waktu weekend datang orang lain mungkin langsung mikir mau hangout ke mana.
Si A mikir hal yang berbeda.
Sabtu pagi dia bangun siang.
Tidak ada alarm.
Tidak ada jadwal.
Buka Netflix yang episodenya sudah lama tidak dilanjutin.
Siapkan snack.
Dan tidak kemana mana sampai Minggu malam.
Dan dia bahagia.
Genuinely bahagia.
Bukan karena dia antisosial.
Bukan karena tidak punya teman.
Tapi karena dia paham persis apa yang paling dia butuhkan setelah lima hari menguras energi di jalan dan di kantor.
Kita hidup di kota yang desainnya tidak ramah waktu. Jarak rumah ke tempat kerja yang tidak masuk akal. Transportasi yang belum cukup untuk semua orang. Dan budaya kerja yang masih menganggap hadir lebih awal dan pulang paling telat sebagai tanda dedikasi.
Akibatnya banyak orang yang secara fisik ada di rumah tapi energinya sudah habis sebelum sampai pintu.
Dan weekend bukan lagi soal hiburan atau eksplorasi.
Tapi soal pemulihan.
Jadi kalau ada yang nanya memang ada orang yang genuinely senang di rumah seharian sendirian tanpa ketemu siapapun?
Jawabannya ada.
Banyak malah.
Dan mereka bukan aneh atau kurang pergaulan.
Mereka cuma orang yang sudah terlalu lelah oleh perjalanan yang bahkan belum dimulai sebelum matahari benar benar terbit.
✦ 𝓢𝓱𝓲𝓷𝓮 ✦🪐@upshine3
Serious question, do people actually exist who genuinely enjoy staying home all day, completely alone, without seeing anyone?
Indonesia
raa. retweetledi
raa. retweetledi

@policetipman @tanyarlfes huaaa iya yg aku tanya yg velvety kyk agak bludru gt :( oke makasi nder
Indonesia

@rchh__ @tanyarlfes Kasih aja odol agak lama terus sikat, kalau diakut aman aja sih noda nyaa ilangg
Indonesia

@policetipman @tanyarlfes kak yang velvet kan?? bukan yang kayak karet2 gt?? ini beneran garusak dan baunya gailang? omg 😭😭😭🤝🤝🤝

Indonesia

@rchh__ @tanyarlfes Iyaa samaa, pakai sabun sikat gigi sih nyuci biasa aja kayak sepatu biasa, gak gampang rusak kok
Indonesia

@policetipman @tanyarlfes kak kamu bersiinnya pake apa? itu yg velvety gt bukan bahannya?
Indonesia

@tanyarlfes AKU MAKE MELISA UDAH HAMPIR SETAON DAN MAKEK WARNA ITU DAN JUJUR ITU KANCING SPATUNYA GAMPANG LEPAS JADI HATI HATI MAKEKNYA TAKUT ILANGAN, TAPI BUAT WORTH NYA BAGUS SIH GAMPANG DIBERSHIN DAN MASIH WANGI MELISA DAN GA BIKIN LECET KAKI
Indonesia
















