re maltise
2.6K posts

re maltise
@refmaltise
A catto. dumping gallery

Mending bikin indomi di rumah 🙏🏻🙏🏻

Purbaya bilang salah satu faktor knp rupiah melemah gara2 sentimen publik yg blg indonesia mau bubar, jd investor2 gamau berinvestasi di indo. Ya gimana sentimen publik ga negatif kalo tiap hari ada aja kebijakan yg gelontorin anggaran triliunan di saat keadaan kyk gini?

Coba tanya mantan anak buah Bahlil di kemen Inves dan Kem ESDM, lalu kamu bandingkan dengan mantan anak buah Nadiem di Kemdinas. Tau ga apa yg membedakan? Bahlil dateng² ga ngerasa jagoan trus nginjak² PNS² di kementeriannya. Nadiem dateng² bawa shadow team nginjak² semua.

Gak cuma 2, tp puluhan Dirjen dan Direktur dicopot dr jabatan trs dijadiin Plt (Pelaksana Tugas) ! Tp 2 org itu (Dir. SD dan Dir. SMP) lebih krusial karena mereka anggota tim teknis dan menolak chromebook. Netizen mana tau fakta ini. Pokoknya Nadiem dikriminalisasi !

kebanyakan org jurusan Humaniora ga belajar logika matematika dan berfikir runut serta sistematis + rakus masuk menjadi pengatur negara. kamu yg memberitakan keilmuan secara logis adalah musuh buat mereka yg modal bacot hasil ilmu ngarang ngawang mereka 🤌🏻

kebanyakan org jurusan Humaniora ga belajar logika matematika dan berfikir runut serta sistematis + rakus masuk menjadi pengatur negara. kamu yg memberitakan keilmuan secara logis adalah musuh buat mereka yg modal bacot hasil ilmu ngarang ngawang mereka 🤌🏻

Pernah masuk toko buku terus iseng nanya, “Bang urutan seri Bumi Tere Liye apa aja?” atau “Dee selain Supernova punya semesta apa lagi? Dan lucunya, beberapa pramuniaganya malah bengong 😭 Ada yang baca blurb belakang, ada yang googling, ada juga yang akhirnya saya yang jelasin. Kadang saya mikir, kasihan juga industri buku di Indonesia. Campaign literasi di mana-mana, tapi orang paling depan yang ketemu pembaca langsung malah sering gak dikasih ruang buat kenal sama bukunya sendiri. Karena yang penting sekarang display rapi, promo jalan, target aman, membership naik, stok muter cepat. Buku akhirnya diperlakukan kayak barang retail biasa, cuma bedanya ini dibungkus kertas dan ada nama penulis di cover. Padahal bookstore should feel more than transactional. Harusnya ada obrolan, rekomendasi, dan rasa “orang sini ngerti buku.” Kalau enggak, toko buku lama-lama cuma jadi minimarket yang jual bacaan. Literasi tinggal jargon marketing, bukan kultur.

Oke Tere-Liye pengarang paling laris se-Indonesia. Tapi apa perlu satu rak buku didominasi oleh bukunya (dan satu judul sampai makan 8-10 baris buku?). Sepanjang aku keluar masuk puluhan toko buku di Eropa, gak pernah aku lihat buku-buku Sally Rooney atau J.K. Rowling, yang notabene paling laris, sampai makan satu rak penooooh gitu! Kapan dan gimana lagi memperkenalkan pengarang Indonesia lain selain yang laris dan populer kalau satu rak cuma pamerin buku satu orang aja?

Purbaya (01/12/2025) : "Dia (The Economist) bilang saya salah, saya ini, gue bilang dasar majalah bego. Oh iya dong, kan dia punya ekonomnya kan harusnya. Ternyata emang dugaan saya betul, dia gak sepintar saya"



Pernah masuk toko buku terus iseng nanya, “Bang urutan seri Bumi Tere Liye apa aja?” atau “Dee selain Supernova punya semesta apa lagi? Dan lucunya, beberapa pramuniaganya malah bengong 😭 Ada yang baca blurb belakang, ada yang googling, ada juga yang akhirnya saya yang jelasin. Kadang saya mikir, kasihan juga industri buku di Indonesia. Campaign literasi di mana-mana, tapi orang paling depan yang ketemu pembaca langsung malah sering gak dikasih ruang buat kenal sama bukunya sendiri. Karena yang penting sekarang display rapi, promo jalan, target aman, membership naik, stok muter cepat. Buku akhirnya diperlakukan kayak barang retail biasa, cuma bedanya ini dibungkus kertas dan ada nama penulis di cover. Padahal bookstore should feel more than transactional. Harusnya ada obrolan, rekomendasi, dan rasa “orang sini ngerti buku.” Kalau enggak, toko buku lama-lama cuma jadi minimarket yang jual bacaan. Literasi tinggal jargon marketing, bukan kultur.















