zhil@zhil_arf
Salah satu main character masa Reformasi dan musuh bebuyutan gerombolan Cendana adalah Jaksa Agung Marzuki Darusman.
Sayang ia tak terlalu dikenal.
Dulu, begitu banyak orang yang ingin membunuhnya.
Salah satu gerombolan mafia yang sangat ingin membunuh Marzuki adalah kelompok Tommy Soeharto dan gerombolan preman FPI yang menjadi anjing peliharaan Tommy.
Marzuki sampai jadi orang dengan pengamanan terketat no. 3 di Indonesia, setelah Presiden Gus Dur dan Wapres Megawati.
Meskipun begitu, bukan hanya Tommy Soeharto yang menjadi musuh Marzuki, melainkan berbagai kelompok koruptor masa Orde Baru.
Menteri Industri dan Perdagangan masa Orde Baru, Bob Hasan, ditangkap. Gubernur Bank Indonesia yang jadi tokoh kunci kasus megakorupsi perampokan dana BLBI sebesar Rp 138 triliun oleh 48 bank, Syahril Sabirin, ditangkap.
Tetapi jangan lupa, Marzuki bukan ketua KPK. Ia adalah Jaksa Agung. Semua pidana menjadi kewenangannya, termasuk kasus HAM.
Bahkan, atas dorongan Marzuki, Presiden Gus Dur pun memutuskan untuk mencopot Menteri Pertahanan saat itu yang diduga keras terlibat kejahatan HAM berupa pembantaian di Timor Timur.
Marzuki dan stafnya sampai sering mengungsi dan bekerja di berbagai hotel rahasia karena begitu banyaknya ancaman bom, penembakan, dan pembunuhan terhadap orang-orang Kejaksaan Agung.
Pada Januari 2001, atas bantuan dukun Ki Joko Bodo yang awalnya sering memberikan konsultasi pada gerombolan Cendana yang musyrik sebelum berbelot ke pihak bangsa, polisi berhasil menangkap orang yang ditunjuk Tommy untuk membunuh Marzuki.
Tidak tanggung-tanggung, Marzuki direncanakan akan mati meledak bersama gedung Kejaksaan Agung dan seluruh pegawai di dalamnya.
Tommy juga berencana meledakkan gedung Kementerian Perindustrian dan Perdagangan serta gedung Direktorat Jenderal Pajak.
Bom-bom yang sudah Tommy siapkan untuk ini berhasil ditemukan dan disita oleh polisi.
Ketika Tommy buron setelah divonis penjara oleh Hakim Syafiuddin Kartasasmita dan dicari tim buru yang dikomandoi Tito Karnavian, polisi kerap menemukan senjata api dan bom di rumah-rumah yang diduga menjadi tempat persembunyian Tommy.
Ketika Presiden Gus Dur digoyang dan digulingkan pada pertengahan 2001, Marzuki sebagai anggota kabinet ikut jatuh.
Meskipun begitu, kiprah Marzuki tak berhenti di situ.
Ia direkrut Sekjen PBB, Ban Ki Moon, untuk membaktikan kepakarannya untuk seluruh dunia.
Tugas Marzuki boleh jadi lebih mengerikan lagi: mengusut penjahat-penjahat HAM internasional.
Selama 6 tahun, ia menjadi orang kepercayaan PBB untuk mengusut segala kasus HAM yang terjadi di Korea Utara.
Akan tetapi, dari berbagai kasus HAM yang ia usut, kasus terbesar adalah kasus Genosida Muslim Rohingya oleh gerombolan sit-tat (junta militer) di Myanmar.
Pada saat itu, dunia tutup mata ketika populasi Muslim Rohingya dibantai dan dibunuh massal oleh tentara sit-tat sampai musnah dan terusir. Desa-desa mereka dibakar dan diratakan.
Tidak tanggung-tanggung, Marzuki Darusman dipercaya PBB untuk menjadi Ketua Tim Pencari Fakta PBB terhadap kasus genosida mengerikan ini.
Dalam kasus ini, Marzuki berhasil membongkar suatu skandal HAM internasional yang melibatkan Indonesia.
Ternyata, ada 3 BUMN yang diam-diam menyuplai senjata ke gerombolan militer Myanmar.
Padahal, hal seperti itu sudah tegas dilarang oleh resolusi PBB.
Meskipun skandal ini berhasil dibongkar oleh Marzuki, kelanjutannya tidak jelas.