Rumi

2.3K posts

Rumi

Rumi

@rumi_dj

Train Enthusiast, A living creature trying to enjoy life :) All written opinion expressed are my own view, does not reflect any other person or Institution

Jakarta, Indonesia Katılım Haziran 2009
290 Takip Edilen250 Takipçiler
Rumi retweetledi
Abul Muzaffar
Abul Muzaffar@abulmuzaffar10·
Kalau terpilih jadi manajer, saran gw hati-hati aja Selain betul2 peduli sama pembukuan, SOP dan semacamnya.. Diusahakan banget jangan pernah rugi. Harus sebisa mungkin laba. Kalau ga..lu bisa kena masalah hukum. Kalau kopdes lu rugi, lu nnti bisa aja diusut karena dianggap merugikan keuangan negara. Karena, sumber utama Kopdes itu APBN. APBN itu adalah keuangan negara. Masalahnya, di lapangan itu sangat mungkin rekan-rekan lu bermain2 di proyek kopdes ini. Jangan sampai lu jadi tumbal pasal 2 dan 3 UU Tipikor karena ada perbuatan yang merlawan hukum yang merugikan keuangan negara. Ingatlah, dirut-dirut BUMN banyak yang dijerat kasus korupsi gara-gara kurang hati-hati soal keuangan negara dan dijadikan tumbal oleh rekan-rekannya. Jangan sampai teman2 yang jadi Manajer Kopdes bisa mengalami nasib yang sama. Apalagi proyek ini juga diragukan beberapa pakar untuk mudah dilaksanakan di lapangan.
Abul Muzaffar tweet mediaAbul Muzaffar tweet media
tempo.co@tempodotco

Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas menyatakan dari 35.476 formasi yang tersedia, jumlah pelamar telah mencapai 639.732 orang.

Indonesia
57
831
2.2K
98.2K
Rumi retweetledi
Mohamad Safa
Mohamad Safa@mhdksafa·
In 1290 all Jews were driven out of England. In 1306 they were expelled from France. In 1430 exiled from Germany, followed by Spain and Portugal. Boycotted in Italy, and time after time tossed out of every major European city. After the centuries of expulsions, in 1492, Muslims (The Ottoman Empire) opened their doors for the Jewish. in the late 17th and 18th centuries, as the Ottoman Empire became less stable, Jews were finally allowed back into England after 366 years of total banishment. After 1848, hundreds of thousands of Jews left Central Europe to escape rising nationalism and "pogroms" (anti-Jewish riots). After WWI, Britain took control of Palestine from the Ottomans. From 1917 to 1939, Muslims (Palestine) opened their doors for the Jewish as usual. In 2026, some Western politicians lecturing us (Muslims) on how to live peacefully with Jews! Read some history.
English
252
3.1K
10K
308.3K
Rumi retweetledi
Colm Downes
Colm Downes@ColminIndonesia·
If you live in Jakarta, everywhere in Europe feels so empty that you start to worry there’s been some kind of zombie apocalypse.
English
48
182
1.7K
60.6K
Rumi retweetledi
λL-D1 | AI for Buzzer 🍉
Jangan sampai rasa ketidaksukaan kita terhadap seseorang membuat kita menutup mata atas ketidakadilan. Kalau mas ibam bisa kena, kita juga bisa kena. Diam hari ini berarti tidak ada yang berdiri untuk kita esok hari.
Ibrahim Arief@ibamarief

Ini Ririe istrinya Ibam. Makasih banyak atas dukungan yang terus mengalir untuk Ibam dari berbagai tempat. Teruntuk yang belum paham perkara suami saya, atau yang tidak mengikuti sidang, saya mohon sebesar-besarnya untuk mempelajari kasus Ibam secara jujur agar tidak menzalimi keluarga saya dengan mengutip setengah-setengah informasi yang tidak sesuai dengan fakta persidangan. Sebagai seorang istri yang terus mendampingi Ibam dalam setiap persidangan, izinkan saya membagikan empat fakta yang telah terungkap sepanjang sidang hingga tuntutan: 1.⁠ ⁠Pertama, terungkap di persidangan, Ibam diminta peserta rapat 17 April 2020 untuk menjelaskan masukan terkait kebutuhan laptop hanya untuk aplikasi asesmen/ujian. Namun, kemudian masukan Ibam dikutip tidak utuh oleh pejabat, dan dinarasikan seakan-akan masukan itu adalah "arahan" untuk SELURUH pengadaan. 2.⁠ ⁠Kedua, setelah rapat 17 April 2020 di atas, Ibam sudah memberi masukan tertulis spek yang netral, yaitu Windows dan Chromebook sekaligus, di tanggal 22 April 2020. Faktanya, terungkap dari kesaksian Tim Teknis, pada 27 April 2020 mereka ditunjukkan satu potongan dokumen masukan Ibam, namun oleh pejabat dipelintir bahwa masukan tersebut hanya Chromebook. Kemudian Tim Teknis diarahkan pejabat tersebut untuk buat survey dan kajian Chromebook, SEBELUM buat kajian Windows. Terus bagaimana dengan kesaksian pejabat yang bilang "kajian sebelumnya diabaikan, dikasih yang baru, dan spesifikasinya sudah ditentukan"? Tak lain tak bukan adalah upaya cuci tangan yang tidak sesuai dengan fakta-fakta yang terungkap sepanjang sidang-sidang berikutnya. Karena kemudian terungkap: pejabat itu sendiri yang ternyata menyuruh tim teknis untuk buat kajian Chromebook dulu, baru setelahnya buat kajian Windows. Jadi sudah terungkap bahwa narasinya dibolak-balik, agar yang disalahkan atas agenda pejabat tersebut adalah Ibam. Terungkap juga di fakta persidangan: pejabat tersebut mengubah spek masukan Ibam, membocorkan spek ke vendor, berkoordinasi dengan vendor untuk pilih merk pemenang, serta terima keuntungan dari vendor. 3.⁠ ⁠Ketiga, terkait narasi "Ibam buat kajian Chromebook", bahkan di dalam tuntutan akhir JPU sudah TIDAK ADA LAGI tuduhan Ibam sebagai yang buat kajian teknis Chromebook. Hal ini karena sudah dipatahkan oleh fakta-fakta persidangan, seperti rekaman sidang di bawah. Tim Teknis mengakui: Ibam tidak ikut pembuatan kajian Chromebook, 80% masukan Ibam ditolak dan tidak masuk kajian, bahkan bukti screenshot yang ditampilkan di sidang menunjukkan Ibam tidak tahu kapan kajian selesai dibuat. 4. Keempat, pegawai yang mengurusi pendanaan yayasan tempat Ibam jadi konsultan, sudah bersaksi di sidang, kalau gaji Ibam berasal dari CSR (donasi) dua perusahaan: Djarum Foundation dan Wardah. Keduanya tidak ada hubungannya dengan pengadaan dan tidak punya konflik kepentingan. Mereka berdonasi sebagai perusahaan yang punya kepedulian atas pendidikan Indonesia. Semuanya terang benderang, kalau saja lihat sidang secara keseluruhan, dan bukan sepotong-potong. Sekarang sudah H-2 putusan. Insya Allah semua fakta tersebut sudah terbuka di depan majelis hakim. Saya tak hentinya berdoa semoga Allah membukakan mata hati para majelis hakim agar bisa memberikan putusan yang seadil-adilnya untuk Ibam. Mohon juga dukungan dan doa teman-teman semua untuk yang terbaik bagi keluarga kami.

Indonesia
6
76
191
6.8K
Rumi retweetledi
Zulkifli Songyanan
Zulkifli Songyanan@zoeoul·
Saya rispek sama kerja2 Mas Iman dalam urusan advokasi guru. Namun dgn menyudutkan Ibam lewat narasi berikut, simpulan saya begini: kekecewaan Mas Iman kpd Nadiem membuat Mas Iman ga mau melihat dgn jernih berbagai kejanggalan di persidangan Ibam. Sangat disayangkan.
Iman Zanatul Haeri@zanatul_91

Aneh, sekarang orang-orang percaya chromebook itu baik dan berguna untuk pendidikan. Saat pengadaan itu disusun, kajian awal 2020 membuktikan bahwa 46% sekolah tidak punya akses internet. Survei pada kajian awal ini menunjukan hampir tidak ada sekolah yang menggunakan Chromebook. Kemudian tiba-tiba, kajian ini dirubah dengan kajian baru. Chromebook yang awalnya tidak direkomendasikan, jadi di rekomendasikan. Pada kajian kedua inilah ada IBAM sebagai Tim SKM (Staf Khusus Menteri). Dengan memegang dua dokumen ini saja, tentu mudah bagi kejaksaan untuk melihat peran sentral IBAM. Jadi agak aneh kalau IBAM mengaku tidak merekomendasikan Chromebook. Gunanya IBAM dihadirkan menteri ditengah-tengah tim teknis,besar kemungkinan untuk membelokan kajian supaya dukung Chromebook. Kalau IBAM tidak merekomendasikan Chromebook, untuk apa kajiannya di rubah? kan sejak awal tidak direkomendasikan? Meski mbantah, patut diduga, fungsinya IBAM adalah kebalikan dari kajian yang tidak merekomendasikan Chromebook. Pembelaan IBAM kontradiktif. Sejak awal Chromebook tidak memiliki fungsi dalam pendidikan kita. Itulah alasan kenapa Nadiem membuat kebijakan ANBK/AN. Supaya Chromebook seolah-olah bermanfaat. Karena saat itu kita gak butuh AN. Untuk apa mengukur lingkungan belajar di sekolah tapi sekolahnya kan tutup (pandemik/PJJ)? Laptop yang hanya efektif digunakan secara online, kini mendapatkan fungsinya karena semua sekolah menyelenggarakan AN yang mana menurut peraturan GTK "HARUS TERSAMBUNG INTERNET." Belakangan untuk menutupi ini kementerian membuat panduan menggunakan Chromebook secara offline. Meski ini tidak merubah bahwa Chromebook adalah laptop yang kurang berguna dengan kebutuhan sekolah. Saya tetap berpandangan bahwa Chromebook adalah korupsi besar. Bukan hanya Nadiem dan Ibam, dan PKK, tapi orang-orang dibalik ini semua harus diseret. Menurut saya kejaksaan harus memanggil lebih banyak orang lagi. Apalagi orang atau yayasan yang mempekerjakan IBAM dan menggajinya. Tim SKM tapi digaji yayasan? juga Jurist Tan yang masih buron. Saat ini maaf, semua orang bicara soal personal Nadiem dan IBAM yang katanya tulus dan sakit-sakitan. Bukan kasus korupsinya. Bahwa saya tidak terima, kalau kami guru-guru dipaksa memaklumi kebijakan Chromebook dan ketersambungan internet yang jadi dalih korupsi Chromebook. Saya tidak pernah lupa, bagaimana temen-temen guru di NTT melaksanakan AN. Alih-alih melaksanakan asesmen nasional, kita sedang didorong supaya menganggap korupsi pengadaan itu berguna. Jangan lupa, baik Nadiem dan IBAM melaksanakan pengadaan Chromebook dan AN ketika pandemik lagi galak-galaknya (2020-2021). Mereka tidak punya empati bahwa kebijakan ini akan menyengsarakan guru, karena harus berkumpul (datang ke sekolah) ketika pembatasan jarak (Covid-19) dan diberikan laptop yang tidak biasa mereka pakai. *Foto Pelaksanaan ANBK di NTT.

Indonesia
20
76
335
27.7K
Rumi retweetledi
Nathaniel Rayestu
Nathaniel Rayestu@rayestu·
Mulai banyak pendukung kriminalisasi Ibam ya di TL. Lucu jg argumennya: karena perlu device management, kalo konsultan bilang lebih murah Chromebook karena udah jadi 1 paket means itu mengarahkan. Berarti konsultan ga boleh bilang ada 2 opsi dan salah satu lebih murah 😅
Indonesia
32
136
548
36.9K
Rumi retweetledi
Nathaniel Rayestu
Nathaniel Rayestu@rayestu·
Kalau mau tax the rich dengan benar, naikan pajak bumi. Bukan wealth tax yang banyak distorsi ekonomi. If you wanna keep your wealth you best make good use of your land supaya gak pada dibiarin nganggur or satu persatu jadi lapangan padel. Build high rise buildings.
Indonesia
1
20
45
2K
Rumi retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Bismillahirrahmanirrahim. Hari ini, izinkan saya Ririe, mewakili Ibam dan anak-anak kami, menyampaikan Surat Terbuka kepada Pemimpin tertinggi negeri, Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto. Dengan segala kerendahan hati, kami memohon perlindungan hukum dari ketidakadilan yang kami hadapi. Agar kebenaran tidak dikalahkan oleh hal-hal di luar fakta persidangan. Agar keadilan benar-benar ditegakkan sebagaimana mestinya. Kami percaya, negara tidak boleh membiarkan warganya merasa sendirian dalam menghadapi ketidakadilan. Semoga surat ini sampai dan diterima dengan baik oleh Bapak Presiden. Demi keadilan berdiri setegak-tegaknya di negeri ini. Demi hilangnya rasa takut dari mereka-mereka yang dengan jujur dan tulus hendak membantu negara dengan keahlian mereka. Terima kasih, Bapak Presiden @prabowo 🙏🏻
Ibrahim Arief tweet media
Indonesia
229
7.7K
13K
378K
Rumi retweetledi
Rumi retweetledi
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
Kalau mau nerima kerjaan pemerintah atau deket-deketnya, pastikan: 1) Tahu birokrasi luar dalam, segala administrasi, surat, kuitansi, perintah, laporan. Salah dikit bisa kena. 2) Tahu politik internal, siapa teman siapa, siapa musuh siapa, kepentingan siapa yang lagi dijalankan. Jangan salah deketin atau jauhin orang. Salah dikit bisa kena. 3) Punya jaringan yang kuat di dalam. Teman, atau kalau bisa malah keluarga. Syukur-syukur yang lagi menjabat. Kalau gak ada, gampang banget ditumbalin. Salah dikit bisa kena. 4) Punya dukungan hukum. LBH. Pengacara. Advokat. Syukur-syukur yang biasa nanganin pejabat di sana. Kalau gak ada, bisa banget ditumbalin. Salah dikit bisa kena. 5) Punya organisasi, kumpulan orang-orang, ormas, yang cukup signifikan buat mendukung kalau kenapa-kenapa. Biar gak salah dikit bisa kena. 6) Pastikan uang yang mengalir masuk dan keluar tercatat. Sumbernya legal, gak lewat pihak ketiga. Jangan sampai ada aliran dana gak jelas dari mana dialirin ke pihak ketiga terus buat bayar kita. Salah dikit bisa kena. Kalau gak ada itu semua, jangan. Find other offer. Don't even think about it.
Indonesia
19
125
393
13.1K
Rumi retweetledi
Gandjar Bondan
Gandjar Bondan@gandjar_bondan·
Pola usang. Selama keberhasilan menghukum pelaku kejahatan jadi ukuran keberhasilan demi promosi pangkat/jabatan, selama itu pula akan terus berulang. Tapi ketika terjadi sebaliknya, tak setitikpun sanksi dijatuhkan. Padahal orang ditahan, hilang kebebasan, runtuh kehormatan.
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha

Setelah Ibam…. (Sebuah Refleksi Diri dari Lensa Kriminologi) Ibam menyatakan secara terbuka bahwa ia diancam sebelum jadi tersangka. Kita semua tahu itu bukan fakta hukum, melainkan sebuah pengakuan diri. Dan pengakuan tersebut... (ketika diselimuti oleh sidang tanpa bukti keuntungan, tanpa bukti arahan, tanpa bukti konflik kepentingan) telah menjadi sesuatu yang lebih berat dari sekadar kesaksian pribadi. Kalau kasus ini naik ke Komisi III DPR, pola yang akan terjadi sudah bisa dibaca dari sekarang. Seperti kasus-kasus viral yang sebelumnya kita saksikan di linimasa. Saya rasanya Déjà vu. Jaksa akan disorot kembali. Tuntutan 15 tahun untuk seseorang yang tidak terbukti menerima apa pun akan dipertanyakan. Akan ada rapat dengar pendapat. Lalu bermunculan cuplikan video para wakil rakyat. Lalu semuanya seolah selesai. Sampai muncul kasus berikutnya. Lingkaran setan itu kembali. Berulang kali. — — — — — — Dalam kriminologi, kami mendefinisikan kejahatan sebagai pola tingkah laku merugikan. Di sinilah, kami menyadari bahwa pola bukan sesuatu yang kebetulan terbentuk. Pola bisa hadir sebagai hasil dari sistem yang bekerja konsisten. Bagaikan dua sisi mata uang, konsistensi bukan hanya menghasilkan keadilan, tapi bisa jadi untuk menghasilkan sesuatu yang lain. Dari paradigma kritis, saya lalu menemukan konsep selective law enforcement. Penegakan hukum itu sejatinya tidak buta, meski patung dewi keadilan menunjukkan sebaliknya lewat penutup mata. Dalam praktiknya, Sistem Peradilan Pidana memilih siapa yang layak dihukum dan siapa yang tidak. Kadang "keputusan" ini berdasarkan pertimbangan yang tidak tertulis di undang-undang mana pun. Ibam menyebut mekanisme itu dengan jelas. Buat pernyataan yang "mengarah ke atas", atau kasusnya diperluas. Ia menolak. Tiga minggu kemudian ia ditetapkan jadi tersangka. Di titik inilah, saya tahu itu sejatinya bukan prosedur hukum. Itu "negosiasi" berbalut ancaman. Sebuah pola yang seolah membentuk siklus di lingkaran kleptokrasi. — — — — — — Yang membuat pola ini tahan lama bukan karena pelakunya jahat. Sistem yang rusak tidak membutuhkan orang jahat untuk mengoperasikannya. Sistem yang korup hanya membutuhkan orang-orang yang menjalankan tugasnya masing-masing, tanpa bertanya terlalu dalam mengapa tugasnya dirancang seperti itu. Polisi memeriksa. Jaksa menuntut. Hakim memutus. Rapat dengar pendapat digelar. Pernyataan dikeluarkan. Media Massa memberitakan. Media sosial riuh dengan pro dan kontra. Lalu semuanya kembali seperti semula. Seolah pemulihan telah terjadi, begitu saja. Padahal, pola tidak bisa putus karena di bawah lampu sorot atau menuai engagement tinggi. Pola terputus ketika ada yang mengubah struktur yang melahirkannya. Dalam kriminologi, saya diajarkan lewat istilah intervensi. — — — — — — Ibam memilih tidak berbohong. Ia tahu risikonya sembari berpasrah dan berserah. Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan akibatnya. Bagi saya, yang menyedihkan bukan sekadar bahwa ia harus menjalani serangkaian sidang karena pilihannya itu. Yang menyedihkan adalah... pilihan untuk tidak berbohong di hadapan ancaman seharusnya tidak perlu mendapatkan konsekuensi hukum. Pilihan itu seharusnya dilindungi dan dijamin konstitusi. Dan sejatinya itu adalah pilihan moral dan logis yang biasa. Seharusnya. Pada akhirnya, ketika kasus ini naik ke Komisi III DPR RI, polanya bisa jadi akan kurang lebih sama. Bukan karena sorotannya kurang terang. Bukan karena suara kita kurang lantang. Tapi karena pola ini tidak tinggal di 1-2 kasus. Ia hidup di dalam sistemnya. Dan selama yang diintervensi hanya kasusnya, bukan sistemnya, pola itu akan terus menemukan kasus berikutnya untuk diinangi.

Indonesia
1
5
17
1.1K
Rumi retweetledi
Drone Emprit Official
Drone Emprit Official@DroneEmpritOffc·
SENTIMEN PUBLIK TERHADAP IBRAHIM ARIEF DALAM KASUS CHROMEBOOK Kasus Chromebook Ibam picu debat panas. Profesional IT dituntut 15 tahun bui tanpa bukti aliran dana. Benarkah ini kriminalisasi yang ancam talenta digital kita? Mari kita bedah datanya! By DE (@ismailfahmi)
Drone Emprit Official tweet media
Indonesia
9
103
182
26.5K
Rumi retweetledi
DwiOktariyadi
DwiOktariyadi@dwioktariyadi·
🗣 : Om boleh minta no tlp, biar nanti gampang kalau mau order lagi... 👤 : Telpon aja temen Saya, karna dia yang kasih order 🙏 "Terlihat sederhana tapi ini ADAB"
Indonesia
37
89
2.2K
368.1K
Rumi
Rumi@rumi_dj·
@ridwanhr Technically bisa, tetapi tidak akan membuat orang beralih (kecuali kelas ekonomi bawah). Karena jika jalurnya sama dengan yg lain, maka sama2 kena macet, waktu tempuh lama (karena berhenti2), dan halte di pintu tol masih jauh dari tujuan akhir. Kalo LRT laku karena tidak macet
Indonesia
0
0
0
1.6K
Ridwan Hanif
Ridwan Hanif@ridwanhr·
Just wondering, kan toll di Jakarta itu udah ngeloop kan, bisa nggak sih dibuat bus yang rutenya muter in jalan tol, terus di tiap pintu tol ada semacam halte khusus gitu?
Ridwan Hanif tweet media
Indonesia
128
170
2.3K
218.5K
Rumi retweetledi
Clair 光
Clair 光@lynxluna·
Daripada entar dipidanakan. One is too many. Konsultan ga punya kewenangan mutusin. Video editor yang cuma ngedit filem. Ga punya kewenangan RAB. Dipidanakan negara. Itu udah lebih dari satu. We learnt the lesson ya, bapak2 pejabat. #NoMore
Zakka Fauzan@zakkafm

Baru banget pagi ini dapet tawaran kerjaan bantu digital transformation di sebuah perusahaan. Nilainya lumayan, di atas rata-rata rate pribadi saya. Tanpa pikir panjang, langsung saya tolak. Soalnya itu BUMN. Doi sepertinya tau, dan bilang "Gara-gara kasus Mas Ibam ya Mas?"

Indonesia
3
227
585
18.7K