

Saidiman Ahmad
54K posts

@saidiman
SMRC | Ilmu Politik UI | Public Policy Australian National University (ANU) | Teologi dan Filsafat UIN Jakarta | IPNU | HMI | Forum Kota | Libertarian













CANCEL CULTURE Beberapa kali dihubungi media, termasuk televisi, untuk bicara soal perang dan konflik di Timur Tengah itu. Saya selalu menyatakan tidak bersedia. Alasannya karena saya tidak menguasai isu itu. Namun alasan lain selain memang tidak ahli di bidang konflik itu adalah bahwa di negara ini, diskusi soal konflik di Timur Tengah sangat tidak sehat. Publik seperti tidak memberi ruang bagi pandangan berbeda. Kalau Anda nekat mengekspresikan pandangan berbeda, siap-siap kena teror. Paling ringan Anda akan dicap agen negara tertentu. Hanya karena beda pandangan, langsung jadi agen. Murah betul. Kadang iri melihat suasana di negara-negara maju. Warganya bisa bicara apa saja, bisa memperdebatkan apa saja, secara bebas. Cancel culture ada juga, tapi tidak seekstrim di negeriku tercintah ini. Cancel culture ini sangat berbahaya karena bisa menutup ruang diskusi. Pandangan lain tidak muncul karena yang memiliki pandangan berbeda itu enggan bersuara, takut dikucilkan, bahkan takut diteror. Akibatnya, yang muncul ke publik hanya satu corak pandangan saja. Pasar bebas ide-ide tidak terjadi karena ruang diskusi sudah dimonopoli. Kesadaran bahwa ada potensi pandangan umum itu bermasalah tidak muncul karena sejak awal pandangan berbeda dianggap sebagai kejahatan. Yang memiliki pandangan alternatif itu adalah orang jahat. Kebenaran absolut sudah ditemukan. Pandangan lain tidak lagi dibutuhkan. Agak totalitarian sebenarnya. Depok, 26 Maret 2026 SAIDIMAN AHMAD


CANCEL CULTURE Beberapa kali dihubungi media, termasuk televisi, untuk bicara soal perang dan konflik di Timur Tengah itu. Saya selalu menyatakan tidak bersedia. Alasannya karena saya tidak menguasai isu itu. Namun alasan lain selain memang tidak ahli di bidang konflik itu adalah bahwa di negara ini, diskusi soal konflik di Timur Tengah sangat tidak sehat. Publik seperti tidak memberi ruang bagi pandangan berbeda. Kalau Anda nekat mengekspresikan pandangan berbeda, siap-siap kena teror. Paling ringan Anda akan dicap agen negara tertentu. Hanya karena beda pandangan, langsung jadi agen. Murah betul. Kadang iri melihat suasana di negara-negara maju. Warganya bisa bicara apa saja, bisa memperdebatkan apa saja, secara bebas. Cancel culture ada juga, tapi tidak seekstrim di negeriku tercintah ini. Cancel culture ini sangat berbahaya karena bisa menutup ruang diskusi. Pandangan lain tidak muncul karena yang memiliki pandangan berbeda itu enggan bersuara, takut dikucilkan, bahkan takut diteror. Akibatnya, yang muncul ke publik hanya satu corak pandangan saja. Pasar bebas ide-ide tidak terjadi karena ruang diskusi sudah dimonopoli. Kesadaran bahwa ada potensi pandangan umum itu bermasalah tidak muncul karena sejak awal pandangan berbeda dianggap sebagai kejahatan. Yang memiliki pandangan alternatif itu adalah orang jahat. Kebenaran absolut sudah ditemukan. Pandangan lain tidak lagi dibutuhkan. Agak totalitarian sebenarnya. Depok, 26 Maret 2026 SAIDIMAN AHMAD



