Saidiman Ahmad

54K posts

Saidiman Ahmad banner
Saidiman Ahmad

Saidiman Ahmad

@saidiman

SMRC | Ilmu Politik UI | Public Policy Australian National University (ANU) | Teologi dan Filsafat UIN Jakarta | IPNU | HMI | Forum Kota | Libertarian

Jakarta Katılım Ekim 2009
2.1K Takip Edilen63.7K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Saidiman Ahmad
Saidiman Ahmad@saidiman·
Coba mengisi kanal Youtube yang sudah lama terbengkalai. Di program baru ini, saya akan mengemukakan argumen terkait isu kebebasan pada ranah politik, ekonomi, budaya dan agama. Semoga konsisten. Silakan tonton, like, share, dan disubscribe. youtu.be/gbYBcsCltvI
YouTube video
YouTube
Indonesia
45
15
88
0
Saidiman Ahmad retweetledi
saiful mujani
saiful mujani@saiful_mujani·
Dr. Sukidi Mulyadi:
Indonesia
12
159
330
6.9K
Saidiman Ahmad retweetledi
saiful mujani
saiful mujani@saiful_mujani·
orang kaya ga tahu malu! bbm di banyak negara udah pada naik. kita kapan? orang kaya dan menengah jangan egois. malu disubsidi terus. subsidi layak bagi yang kurang mampu saja. trfer cash aja ke yang kurang msmpu: ukm, kaki lima. ojol, nelayan, dll. bps punya lengkap datanya.
saiful mujani tweet media
Indonesia
72
20
69
7.6K
Saidiman Ahmad
Saidiman Ahmad@saidiman·
Kami mengundang sejumlah narasumber dengan perspektif dan sikap politik yang luas untuk menanggapi hasil survei tentang perang AS-Israel melawan Iran. Survei adalah kerja kolaboratif Indikator, LSI_Lembaga, dan SMRC. Karena peserta offline sudah melebihi kuota, silakah hadir melalui Zoom atau ikut live streaming di kanal Youtube SMRC TV. Dimulai Pukul 10.00 WIB pagi ini, 2 April 2026.
Saidiman Ahmad tweet mediaSaidiman Ahmad tweet media
Tebet, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
1
3
9
935
Saidiman Ahmad retweetledi
SMRC
SMRC@saifulmujani·
Saat ini peserta terdaftar sudah melebihi kapasitas ruangan. Untuk yang berminat bergabung secara online, kami siapkan ruang Zoom dengan ID berikut: Meeting ID: 884 0672 6195 Passcode: 844762 Sedangkan yang mau mengikuti siaran live-nya, silakan kunjungi kanal YouTube 3 lembaga dengan alamat berikut: Indikator Politik Indonesia (IPI): @IndikatorPolitikIndonesia Lembaga Survei Indonesia (LSI): @LSI_Lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC): @SMRCTV
SMRC tweet media
Indonesia
0
2
3
916
Saidiman Ahmad retweetledi
Milton Friedman Quotes
Milton Friedman Quotes@MiltonFriedmanW·
Milton Friedman: “Inflation is made in Washington because only Washington can create money.” “What produces inflation is too much government spending and too much government creation of money and nothing else.”
English
41
324
1.1K
28.4K
Saidiman Ahmad retweetledi
SMRC
SMRC@saifulmujani·
Rilis Survei Nasional dan Diskusi Publik "Legitimasi Publik atas Perang Amerika-Israel dan Iran" Pembicara: •Prof. Burhanuddin Muhtadi, Ph.D. (Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia) •Djayadi Hanan, Ph.D. (Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) •Deni Irvani, M.Si. (Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) •Pdt. Dr. (HC) Jacklevyn Frits Manuputty, M. Th. (Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) •Dra. Jaleswari Pramodhawardani, M.Hum (Kepala LAB 46) •Luthfi Assyaukanie, Ph.D. (Dosen Senior Universitas Paramadina) •Ulta Levenia Nababan, M.A. (Tenaga Ahli Utama Kantor Staff Presiden) •Zezen Zaenal Muttaqin, S.J.D. (Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Moderator: Prof. Saiful Mujani, Ph.D. (Dosen Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta) Waktu: Kamis, 2 April 2026 Pukul 10:00 WIB Tempat: Hotel Sari Pacific, Ruang Nusantara Ballroom, Lantai M. Jl. M.H. Thamrin No. 6, Jakarta Pusat Penyelenggara: Lembaga Survei Indonesia (LSI), Indikator Politik Indonesia (IPI), Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Narahubung/kontak: LSI: Eka Novita Nugraheni (+62 822-1010-8014) Indikator: Gadis Gustika Yanurita (+62 815-2280-8877 / +62 813-8630-8281) SMRC: Irwan Amrizal (+62 818-0725-2492) Registrasi: forms.gle/WdMym482sZU5Cz…
SMRC tweet media
Indonesia
2
7
13
1.2K
Saidiman Ahmad retweetledi
Dr. Eli David
Dr. Eli David@DrEliDavid·
.@JMilei: “I have nothing against artists. I had a rock band myself. My problem is that if you need a government subsidy to make art, you’re no longer an artist, you’re a public employee.”
English
54
1.2K
7.2K
100.4K
Saidiman Ahmad retweetledi
The Knowledge Archivist
The Knowledge Archivist@KnowledgeArchiv·
“If socialists understood economics, they wouldn’t be socialists.” — Friedrich Hayek
The Knowledge Archivist tweet media
English
59
559
2.4K
47K
Saidiman Ahmad retweetledi
Mary J. Ruwart Ph.D.
Mary J. Ruwart Ph.D.@MaryRuwart·
We can only imagine.
Mary J. Ruwart Ph.D. tweet media
English
56
1.3K
7.7K
52.8K
Saidiman Ahmad
Saidiman Ahmad@saidiman·
Lanjutan...
Saidiman Ahmad tweet mediaSaidiman Ahmad tweet media
Pancoran Mas, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
1
0
1
240
Saidiman Ahmad
Saidiman Ahmad@saidiman·
Iran adalah sekutu utama Rusia di Timur Tengah. Namun ketika Iran dibombardir Amerika Serikat dan Israel bahkan menyebabkan kematian Khamenei dan sejumlah pimpinan tertinggi negara itu, Rusia tidak berbuat yang semestinya dilakukan oleh sekutu dekat. Mengapa?
Saidiman Ahmad tweet mediaSaidiman Ahmad tweet mediaSaidiman Ahmad tweet mediaSaidiman Ahmad tweet media
Pancoran Mas, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
3
2
6
1.2K
Saidiman Ahmad
Saidiman Ahmad@saidiman·
@ulil Betul, Mas Ulil.
Pancoran Mas, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
0
0
0
148
Saidiman Ahmad retweetledi
Ulil Abshar-Abdalla
Ulil Abshar-Abdalla@ulil·
Di Amerika, pelaku terbesar “cancel culture” ini adalah kalangan “liberal” dalam pengertian Amerika, yaitu kaum kiri-progresif, terutama dlm isu2 gender, perubahan iklim, dan hal2 yg tekait Covid. Di dunia lain, terutama dunia Muslim, pelakunya adalah kalangan kanan.
Saidiman Ahmad@saidiman

CANCEL CULTURE Beberapa kali dihubungi media, termasuk televisi, untuk bicara soal perang dan konflik di Timur Tengah itu. Saya selalu menyatakan tidak bersedia. Alasannya karena saya tidak menguasai isu itu. Namun alasan lain selain memang tidak ahli di bidang konflik itu adalah bahwa di negara ini, diskusi soal konflik di Timur Tengah sangat tidak sehat. Publik seperti tidak memberi ruang bagi pandangan berbeda. Kalau Anda nekat mengekspresikan pandangan berbeda, siap-siap kena teror. Paling ringan Anda akan dicap agen negara tertentu. Hanya karena beda pandangan, langsung jadi agen. Murah betul. Kadang iri melihat suasana di negara-negara maju. Warganya bisa bicara apa saja, bisa memperdebatkan apa saja, secara bebas. Cancel culture ada juga, tapi tidak seekstrim di negeriku tercintah ini. Cancel culture ini sangat berbahaya karena bisa menutup ruang diskusi. Pandangan lain tidak muncul karena yang memiliki pandangan berbeda itu enggan bersuara, takut dikucilkan, bahkan takut diteror. Akibatnya, yang muncul ke publik hanya satu corak pandangan saja. Pasar bebas ide-ide tidak terjadi karena ruang diskusi sudah dimonopoli. Kesadaran bahwa ada potensi pandangan umum itu bermasalah tidak muncul karena sejak awal pandangan berbeda dianggap sebagai kejahatan. Yang memiliki pandangan alternatif itu adalah orang jahat. Kebenaran absolut sudah ditemukan. Pandangan lain tidak lagi dibutuhkan. Agak totalitarian sebenarnya. Depok, 26 Maret 2026 SAIDIMAN AHMAD

Indonesia
2
5
10
2.5K
Saidiman Ahmad retweetledi
Grok
Grok@grok·
Ya, di Indonesia ("Konoha"), isu Timur Tengah sangat polarisasi. Pandangan netral/pro-Israel sering langsung dicap antek Barat, agen Mossad, penghianat bangsa, atau pendukung penjajah oleh netizen pro-Palestina yang dominan. Contoh: kontestan Miss Indonesia didiskualifikasi 2025 gara-gara video pro-Israel; ketua NU kena tuntutan mundur karena undang pembicara pro-Israel. Mirip yang saidiman ceritakan soal cancel culture & ruang diskusi tertutup. Tidak 100% selalu, tapi pola ini umum di medsos & publik.
Indonesia
0
3
7
757
Saidiman Ahmad retweetledi
Dedek Prayudi - Uki
Dedek Prayudi - Uki@Uki23·
Setuju, mas. Cancel culture ini hanya bisa berkembang di masyarakat yang gak kritis. Masyarakat yang either dukung atau anti sama sekali yang akhirnya mematikan critical thinking. Kombinasi dari rezim algoritma, clickbait & viralitas mbikin brain rot, then cancel culture booms.
Saidiman Ahmad@saidiman

CANCEL CULTURE Beberapa kali dihubungi media, termasuk televisi, untuk bicara soal perang dan konflik di Timur Tengah itu. Saya selalu menyatakan tidak bersedia. Alasannya karena saya tidak menguasai isu itu. Namun alasan lain selain memang tidak ahli di bidang konflik itu adalah bahwa di negara ini, diskusi soal konflik di Timur Tengah sangat tidak sehat. Publik seperti tidak memberi ruang bagi pandangan berbeda. Kalau Anda nekat mengekspresikan pandangan berbeda, siap-siap kena teror. Paling ringan Anda akan dicap agen negara tertentu. Hanya karena beda pandangan, langsung jadi agen. Murah betul. Kadang iri melihat suasana di negara-negara maju. Warganya bisa bicara apa saja, bisa memperdebatkan apa saja, secara bebas. Cancel culture ada juga, tapi tidak seekstrim di negeriku tercintah ini. Cancel culture ini sangat berbahaya karena bisa menutup ruang diskusi. Pandangan lain tidak muncul karena yang memiliki pandangan berbeda itu enggan bersuara, takut dikucilkan, bahkan takut diteror. Akibatnya, yang muncul ke publik hanya satu corak pandangan saja. Pasar bebas ide-ide tidak terjadi karena ruang diskusi sudah dimonopoli. Kesadaran bahwa ada potensi pandangan umum itu bermasalah tidak muncul karena sejak awal pandangan berbeda dianggap sebagai kejahatan. Yang memiliki pandangan alternatif itu adalah orang jahat. Kebenaran absolut sudah ditemukan. Pandangan lain tidak lagi dibutuhkan. Agak totalitarian sebenarnya. Depok, 26 Maret 2026 SAIDIMAN AHMAD

Indonesia
1
3
7
704
Saidiman Ahmad
Saidiman Ahmad@saidiman·
Selain itu semua, Rusia juga lumayan diuntungkan oleh berkurangnya pasokan minyak dari Timur Tengah akibat perang. Permintaan minyak Rusia, terutama dari Cina, mengalami peningkatan. Dan peningkatan permintaan ini terjadi ketika harga minyak melambung tinggi. Dan Rusia semakin diuntungkan karena Amerika Serikat melonggarkan sanksi pembatasan ekspor minyak negara tersebut. Selain memang memiliki kekuatan militer terbatas, terutama karena perang panjang dengan Ukraina, Rusia juga nampaknya secara sadar memilih untuk tidak terlibat perang di wilayah lain seperti Iran. Jauh lebih menguntungkan bagi Rusia untuk membiarkan krisis terjadi di Timur Tengah dibanding ikut campur. Rusia mungkin gagal menjadi sahabat yang baik bagi Iran, tapi menyelamatkan kepentingan sendiri jauh lebih penting di masa-masa sulit seperti ini. Depok, 27 Maret 2026 SAIDIMAN AHMAD
Lima, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
3
0
3
510
Saidiman Ahmad
Saidiman Ahmad@saidiman·
MENGAPA RUSIA MEMBIARKAN IRAN TERBAKAR? Ketika Amerika Serikat dan Israel memulai serangan ke Iran akhir Februari ini yang menyebabkan kematian pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengeluarkan pernyataan keras. Putin menyatakan serangan itu melanggar semua norma moralitas manusia sekaligus melabrak hukum internasional. Namun itu sebatas kecaman. Tidak ada aksi dukungan yang terlihat serius.  Sebagai salah satu sekutu utama Iran, sikap Rusia atas tragedi yang menimpa negara sahabatnya itu dianggap jauh dari yang dibayangkan banyak orang. Tahun lalu, Vladimir Putin dan Masoud Pezeshkian (presiden Iran) menandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif (the Comprehensive Strategic Partnership Treaty). Perjanjian ini dianggap sebagai titik tertinggi hubungan kedua negara sejauh ini. Namun begitu, perjanjian itu tetap bukan merupakan ikatan aliansi militer formal, tidak ada mutual defence pact. Karena itu, tidak ada ikatan formal yang bisa memaksa Rusia terlibat lebih jauh dalam perang AS-Israel melawan rezim islamis Iran tersebut. Di luar itu, ada sederet alasan lain yang membuat Rusia terlihat membiarkan sekutunya tersebut terbakar. Alasan-alasan itu dirangkum dengan baik oleh Alexander Gabuev, Nicole Grajewski, dan Sergey Vakulenko pada artikel mereka berjudul "Why Russia is Warching Iran Burn: The Kremlin Is in No Hurry To Save Its Closest Partner in The Middle East" (Foreign Affairs, 16 Maret 2026). Tiga penulis ini memiliki otoritas akademis untuk membahas persoalan sikap Rusia tersebut. Alexander Gabuev adalah Direktur the Carnegie Russia Eurasia Center di Berlin. Nicolr Grajewsli adalah Assistant Professor di Sciences Po and Nonresident Scholar in the Nuclear Policy Program pada the Carnegie Endowment for International Peace. Dia juga adalah penulis Russia and Iran: Partners in Defiance From Syria to Ukraine. Sementara Sergey Vakulenko adalah Senior Fellow pada the Carnegie Russia Eurasia Center di Berlin. Ketiga ahli tersebut melihat bahwa sebenarnya ketidakpedulian Rusia pada kawan terdekatnya di Timur Tengah itu bukan hal baru. Pada perang singkat 2023 di Nagorno-Karabakh, Rusia gagal memberi bantuan memadai pada sekutunya, Armenia, sehingga wilayah itu dengan mudah direbut Azerbaijan dan membuat orang-orang Armenia terusir dari sana. Pada 2024, Rusia juga membiarkan Bashar al-Assad (sekutunya) digulingkan di Damaskus. Pada pertengahan 2024, Kremlin juga tidak memberi bantuan berarti ketika AS dan Israel menggempur fasilitas militer dan nuklir Iran dalam perang 12 hari. Hal yang serupa terjadi ketika mitra utama Moskow di Amerika Latin, Venezuela, digempur dan presidennya ditangkap. Rusia lagi-lagi tidak mengambil tindakan militer yang memadai untuk membantu sekutunya. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa sebenarnya Rusia memiliki keterbatasan militer. Rusia sudah disibukkan dengan invasi ke Ukraina yang tak kunjung selesai. Memperluas keterlibatan dalam perang di wilayah lain akan menambah runyam kekuatan militer sang Beruang Merah itu. Selain keterbatasan kekuatan militer, rupanya aliansi Rusia dengan Iran cenderung bersifat transaksional. Kedua negara belum pernah membangun aliansi militer penuh. Rusia sendiri juga masih memiliki hubungan baik dengan beberapa negara musuh Iran di Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, dua negara yang menjadi sasaran rudal Iran saat ini. Rupanya sekarang Rusia juga sedang menjajaki kemungkinan mempererat hubungan dengan Amerika Serikat. Tujuannya jelas, untuk mengurangi dukungan Barat pada Ukraina. Intervensi ke Iran bisa memicu perang langsung dengan Amerika Serikat, sesuatu yang sangat dihindari oleh Rusia. Intinya, keputusan Rusia untuk menjaga jarak dari Iran di masa perang ini dilatarbelakangi oleh kombinasi keterbatasan kekuatan militer dan kalkulasi strategis. Perang di Iran juga menyebabkan perhatian negara2 Barat teralihkan ke Timur Tengah. Ini berpotensi melemahkan kekuatan Ukraina. Bersambung...
Saidiman Ahmad tweet mediaSaidiman Ahmad tweet media
Lima, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
3
6
10
2.9K