Contoh yg bikin orang jadi skeptis buat jadi orang baik:
- driver @GrabID minjem uang, bilangnya ban bocor
- sebenernya udh feeling sih, tapi kalo emg beneran musibah gimana? Jd ditolongin lah
- tapi sesuai dugaan tentu saja abis di trf chat berakhir wkwkwk
@zqhr Kalau menurut saya sih karena ini kata dari bahasa arab, yang mana bukan bahasa yang dipergunakan secara umum sehari-hari. Harusnya orang bisa memaklumi kalau ada sedikit kesalahan dalam penulisan huruf latin. Toh maksud yang akan disampaikan juga sama.
Penasaran, yang bilang khusnul khotimah artinya ‘meninggal dengan cara yang hina’ pertama kali siapa ya? Soalnya kalo kuketik خسن di Google Translate tuh ga ada artinya.
Memang secara transliterasi harusnya Husnul. Tapi kalo tiba-tiba mengubah arti sampe 180° ini dasarnya apa?
@boemino Masyarakat Indonesia memang sangat permisif sekali. Banyak kasusnya di mana-mana. Sudah jelas pemerkosa, malahan dipaksa dinikahkan dengan korbannya. Gila gila.
@boemino Tp emang ini negara sangat fucked up 😭 muridku kelas 4 sd, diperkosa kakeknya, sampek itu anak punya penyakit di kelamin. Malah sm tante dan budhenya dibilang itu anak emang menggoda ke kakeknya 😭 ya Allah kelas 4 sd menggoda gmn sih anjir, kudunya dibunuh itu kakek.
@Enough4444@Breaking911 Anything that you mentioned above is harmless. The one that should be banned is the guns. That is the one that can make people dead.
New disturbing video captures the moments leading up to the shooting at the Teotihuacán pyramids that left a Canadian woman dead and 13 others injured, showing the suspect walking with a mask and backpack before opening fire.
@Stakof Stop menormalisasikan kata "OKNUM" bagi penjahat. Jadi seolah-olah orang tersebut bukan bagian dari organisasi tersebut. Padahal secara sah, orang tsb nyata-nyata menggunakan atribut resmi organisasi tersebut.
Sewaktu nge-tag BNI, status saya akhirnya direspon oleh BNI lewat akun resminya.
BNI bilang mereka "juga pihak yang terdampak" dalam kasus Rp28 miliar dana umat Paroki Aek Nabara. Secara teknis benar. Tapi kan ada jurang besar antara "terdampak" dan "bertanggung jawab".
Apakah mereka sedang coba menyamarkan dua kata itu jadi satu?
BNI memang keluar Rp7 miliar talangan pada 26 Maret 2026. Reputasi mereka tergerus di mana-mana (lihat saja di X). OJK dan BI sedang mengawasi ketat, dan bisa saja ada sanksi kalau terbukti lalai awasi internal.
Secara bisnis, ya, mereka rugi.
Tapi "terdampak" bukan sinonim "korban", bukan?
Benarkah klaim BNI, yaitu "ada oknum di luar sistem resmi"?
1. Andi Hakim Febriansyah bukan tukang sapu. Dia Kepala Kantor Kas BNI Unit Aek Nabara resmi.
2. Selama 7 tahun (2019 sampai 2026), dia memakai fasilitas resmi BNI sepenuhnya: layanan pick-up service untuk jemput uang, bilyet deposito BNI, rekening koran BNI, seragam, kartu identitas pegawai.
3. Suster Natalia dan pengurus Credit Union tidak menyerahkan uang ke "Andi pribadi". Mereka menyerahkannya ke BNI sebagai institusi, lewat mekanisme yang BNI sendiri sediakan.
4. Semua data transaksi tercatat di sistem BNI. Tapi yang lucu, BNI justru meminta CU menyediakan "bukti pendukung" berulang kali. Padahal catatannya ada di server mereka sendiri.
Kalau seorang pegawai bank memakai jabatan, fasilitas, dan dokumen resmi bank untuk menipu 1.900 umat selama 7 tahun tanpa terdeteksi audit internal, itu bukan "oknum di luar sistem".
Itu namanya kegagalan sistem!
Secara hukum, ada prinsip tanggung gugat pengganti (Grok bilang, istilah ini disebut: vicarious liability). Bank wajib bertanggung jawab atas tindakan pegawainya yang dilakukan dalam kapasitas jabatan.
Ini bukan opini saya, Gais. Ini ada di UU No. 10/1998 tentang Perbankan dan POJK tentang perlindungan nasabah.
Di satu sisi, BNI adalah Bank BUMN, dengan aset triliunan rupiah, punya tim hukum dan tim humas korporat yang sibuk membangun narasi "kami juga korban".
Di sisi lain, ada 1.900 umat Paroki Aek Nabara. Mayoritas dari mereka adalah petani dan buruh kecil. Mereka menabung selama lebih dari 40 tahun, rupiah demi rupiah, untuk biaya sekolah anak, dan biaya sakit.
Rencana masa depan yang sederhana, bukan?
Jawaban BNI sah secara korporat. Strategi "oknum dan tunggu dokumen" itu klasik. Tapi dari sisi keadilan, ini sangat miskin empati. Uang itu tabungan umat kecil yang dikumpulkan selama 40 tahun, bukan duit korporasi yang bisa dihitung ulang di pembukuan kuartal berikutnya.
Kalau setiap kali ada pegawai berulah, jawaban resmi bank selalu "itu oknum, bukan kami", lalu kepada siapa nasabah harus percaya?
Besok saya mau menutup rekening saya. Kalau masih antre, ya, saya tarik semua uang saya dari sana.
Kalian sendiri gimana baca sikap BNI sejauh ini?
@Me_LiverpoolFC@nmixeis@ArchipelDaily@poetralr13@dwiputro89@ezash Keren bang penjelasan macronya. Saya jadi banyak belajar. Memang tidak semua kebijakan pemerintah yg favorable. Tapi dibelakang itu, pasti ada pertimbangan2 tertentu, untuk jangka pendek atau jangka panjangnya. Cuma bisa berharap pemerintah kita serius mensejahterakan rakyatnya.
Guys, ini baru keluar dan gue rasa ini salah satu berita paling penting soal MBG yang perlu semua orang tahu.
BGN beli 21.000 motor listrik untuk program MBG. Tanpa laporan ke DPR.
Tanpa persetujuan Kemenkeu.
Dan kantornya distributor motor itu belum jadi.
Baca lagi.
Kantornya belum jadi.
Tapi motornya sudah ada di Indonesia.
Kronologi yang perlu lo tahu:
2025 Menkeu Purbaya sudah menolak pengadaan motor listrik ini.
Secara resmi.
Diblokir.
2026 BGN tetap beli.
21.000 unit.
Sudah masuk ke Indonesia.
Komisi IX DPR tidak pernah dikonsultasi.
Tidak pernah dapat laporan.
Tidak pernah diminta persetujuan.
Kalau disampaikan ke kami di sini, pasti akan kami tolak, kata Wakil Ketua Komisi IX Charles Honoris.
Dan ini yang paling bikin gue speechless.
Charles bilang dia nonton video dari salah satu media dan yang dia lihat adalah:
kantor distributor motor listrik itu belum selesai dibangun.
Tapi di dalamnya sudah disiapkan satu SPPG Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang akan beroperasi di sana.
Terjemahannya:
motor sudah dibeli,
distributor sudah ditunjuk, l
okasi SPPG sudah disiapkan
semua sebelum kantornya selesai dibangun.
Something fishy, kata Charles.
Dan gue setuju.
Pertanyaan yang harus dijawab:
Satu siapa yang beli?
BGN beli 21.000 unit motor listrik.
Dari merek apa?
Importir mana?
Harganya berapa per unit?
Total anggarannya berapa?
Dua dari anggaran mana?
Kalau Kemenkeu sudah blokir di 2025 dari mana uangnya keluar di 2026?
Ada pos anggaran yang tidak terpantau?
Tiga siapa distributornya?
Kantornya belum jadi tapi sudah jadi distributor resmi pengadaan pemerintah itu bisa terjadi hanya kalau ada yang melindungi di belakang.
Empat kenapa motor listrik untuk program makan bergizi gratis?
SPPG adalah satuan dapur kepala dapurnya butuh motor untuk apa?
Untuk koordinasi antar lokasi?
Oke, mungkin.
Tapi 21.000 unit?
Tanpa laporan ke DPR?
Ini bukan soal motor listriknya.
Ini soal tata kelola yang berantakan dari program yang anggarannya Rp71 triliun per tahun.
Kalau pengadaan motor saja bisa bypass Kemenkeu, bypass DPR, masuk diam-diam, dan kantornya belum jadi apa lagi yang bisa bypass dengan cara yang sama?
Dan ini yang paling menyakitkan:
Program MBG lahir dari niat mulia memberi makan anak-anak Indonesia yang kekurangan gizi. Itu niat yang tidak bisa diperdebatkan kebenarannya.
Tapi niat mulia yang dieksekusi dengan tata kelola yang kotor ujungnya bukan anak-anak yang kenyang. Ujungnya distributor motor yang belum punya kantor yang panen.
Dan yang rugi? Sama seperti biasa.
Rakyat yang bayar pajak.
Dan anak-anak yang harusnya dapat makan bergizi tapi anggaran programnya habis di jalan.
Senin 13 April 2026 BGN dipanggil Komisi IX DPR.
Dan gue harap DPR kali ini tidak cuma memanggil tapi benar-benar minta jawaban yang konkret dan transparan.
Karena kalau rapat Senin itu berakhir dengan jawaban normatif dan tidak ada yang dipecat atau diselidiki berarti kita semua tahu ceritanya akan ke mana.
@LambeSahamjja Tetap saja bang. Yang kena cuma yang level bawah saja. Yang di atas, beserta aparat penegak hukum yg juga ikut bermain, tidak ada yg berani mengusik.
Guys, lu pada tau Gayus Tambunan?
Pegawai pajak.
Golongan 3A.
Gaji sekitar Rp12 juta sebulan.
Yang punya rekening Rp28 miliar.
Dan itu baru yang ketahuan.
Gayus Halomon Tambunan lahir 1979 di Jakarta. Kerja di Direktorat Jenderal Pajak tepatnya di subdirektorat banding pajak.
Posisinya bukan posisi strategis tingkat tinggi.
Dia bukan direktur.
Bukan pejabat eselon satu.
Tapi posisinya adalah posisi kunci.
Karena di situlah ditentukan nasib sengketa pajak antara perusahaan-perusahaan besar dan negara.
Di sinilah pajak miliaran bisa dikurangi.
Sanksi bisa dihapus.
Dan semua itu dengan imbalan tertentu.
Dan sistem pengawasannya?
Nyaris tidak ada.
Ini yang bikin gue diem lama.
Gayus bukan orang yang tiba-tiba jadi jahat.
Dia adalah produk dari sistem yang memberinya kekuasaan besar tanpa kontrol memadai.
Dalam kultur birokrasi yang sudah terlanjur permisif terhadap penyimpangan.
ICW bilang posisi Gayus adalah posisi kunci dalam ekosistem mafia pajak.
Dan hampir mustahil dia mengelola aliran dana miliaran sendirian tanpa bantuan atau perlindungan dari internal DJP, institusi perbankan, atau aparat penegak hukum.
Gayus bukan pelaku tunggal.
Dia simpul kecil dari jaringan yang jauh lebih besar.
Lalu kasusnya meledak.
Dan negara mulai bergerak.
Tapi geraknya aneh.
Dari rekening Rp28 miliar yang ditemukan penyidikan awal hanya menjerat Gayus dalam satu kasus penggelapan pajak senilai Rp395 juta.
Rp395 juta.
Dari rekening Rp28 miliar.
Ini bukan ketidakmampuan investigasi.
Ini pilihan.
Pilihan untuk melihat sesempit mungkin supaya yang di balik Gayus tidak perlu disentuh.
Dan hasilnya?
Maret 2010 Pengadilan Negeri Tangerang membebaskan Gayus.
Bebas.
Dengan rekening Rp28 miliar yang sumber uangnya tidak pernah dijelaskan secara memadai.
Publik marah.
Dan kemarahan itu masuk akal.
Tapi yang paling gila bukan vonisnya.
Yang paling gila adalah September 2010, ketika Gayus sudah berstatus tahanan, publik dikejutkan oleh foto yang beredar di media.
Gayus dengan rambut palsu dan identitas palsu ketahuan nonton turnamen tenis internasional di Bali.
Sebagai tahanan.
Yang seharusnya ada di balik jeruji.
Dan ini bukan kebetulan.
Ini bukan kelalaian.
Gayus sendiri mengaku dia membayar oknum petugas rutan dan aparat agar bisa bebas bergerak.
Dia tidak kabur lewat tembok.
Dia jalan keluar lewat pintu yang sengaja dibuka.
Dan dari sini semuanya mulai terbongkar bukan karena sistem bekerja.
Tapi karena media bekerja.
Foto-foto itu tersebar.
Investigasi jurnalistik masuk.
Publik menekan.
Dan baru setelah tekanan itu mencapai titik didih negara mulai bergerak serius.
Ini yang kemudian dikenal sebagai asal-usul istilah yang kita kenal sekarang no viral, no justice.
Tanpa foto itu mungkin Gayus selesai dengan dakwaan kecil dan hukuman ringan.
Dan dunia tidak pernah tahu.
Akhirnya Gayus masuk pengadilan serius.
Januari 2011 vonis 7 tahun.
Publik marah, jauh dari tuntutan jaksa yang 20 tahun.
Banding naik jadi 8 tahun.
Masih dianggap tidak sebanding.
Kasasi ditolak Mahkamah Agung.
Tapi kasus tidak berhenti di satu perkara.
Satu per satu kasus lain disidangkan terpisah pencucian uang, pemalsuan paspor, penyuapan pejabat rutan, suap aparat.
Total akumulasi hukuman dari semua perkara sekitar 30 tahun penjara.
Tapi ini yang paling penting dan paling jarang dibahas.
Di ruang sidang, Gayus mulai bicara.
Dia mengaku tidak bekerja sendirian.
Dia sebut nama-nama.
Dia klaim ada oknum polisi, oknum jaksa, oknum hakim yang terlibat dalam jaringannya.
KPK memeriksa.
Media meliput.
Publik berharap.
Dan kemudian sunyi.
Sebagian besar nama yang disebut Gayus tidak pernah benar-benar sampai ke meja pengadilan. Pengakuannya berhenti jadi wacana.
Tidak berkembang jadi tersangka baru dalam skala besar.
Dan ini adalah pola yang selalu berulang di Indonesia.
Individu dihukum.
Sistem diselamatkan.
Gayus dipenjara 30 tahun.
Tapi struktur yang memungkinkan mafia pajak dan mafia hukum tumbuh tidak pernah sepenuhnya dibongkar.
Pertanyaan yang paling jujur dari kasus ini bukan berapa tahun Gayus dipenjara.
Tapi apa yang benar-benar berubah setelah Gayus?
Apakah sistem perpajakan lebih bersih sekarang?
Apakah posisi-posisi kunci di DJP sekarang punya pengawasan yang memadai?
Apakah masih ada Gayus-gayus lain yang belum ketahuan kamera?
Kalau jawabannya tidak pasti maka kasus Gayus Tambunan bukan sejarah yang sudah selesai.
"Anda tidak bisa tertib, KELUARRR...," @AimanWitjaksono mengusir dan mempermalukan Abu Janda.
Terimakasih bung Aiman sudah membersihkan layar TV Indonesia dari sampah2 peradaban.
Tugasnya memprovokasi dan memancing supaya RRT komentar dan dikasuskan mungkin.
Sampah, manusia rendah.
"Beli mobil mewah lagi nih" (suara)
"Bagaimana seorang Eggi. Halal" (Eggi)
#GibranToxicBagiIndonesia#GibranToxicBagiIndonesia
Sejumlah pegawai ritel menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok orang di kawasan Jalan Ampera Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Sabtu (31/1) dini hari.
Berdasarkan keterangan warga, peristiwa bermula ketika sebuah mobil diduga menabrak sepeda motor yang terparkir di area toko ritel.
Pemilik motor kemudian meminta pengemudi mobil untuk bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
Pengemudi sempat menyatakan akan menyelesaikan persoalan dan menghubungi keluarganya untuk datang ke lokasi.
Namun, setibanya di tempat kejadian, sejumlah orang yang disebut sebagai keluarganya justru diduga melakukan penganiayaan terhadap para pegawai ritel.
Akibat insiden tersebut, beberapa pegawai mengalami luka-luka. Aksi kekerasan itu juga terekam kamera pengawas atau CCTV di lokasi.
Berdasarkan informasi yang diterima, sejumlah korban memilih tidak melapor ke pihak kepolisian karena khawatir terjadi serangan susulan.
Kiriman via DM
@Heraloebss Harusnya kepala sekolah memberikan sanksi kepada pengelola kantinnya dan diganti saja kedepannya. Karena mereka tidak peduli terhadap aturan di sekolah.
Momen Bu Uthii Nurmala Menciduk Siswa yang ngomongnya ke Toilet Taunya ke Kantin
Hati-hati Bu Guru, nanti ada yang ngelaporin ke Komisi Perlindungan Anak Badung.
Perbedaan fisik yang ekstrem antara hewan jantan dan betina disebut dengan "Sexual Dimorphism" yang sering kali melibatkan perbedaan ukuran yang sangat besar, variasi warna yang radikal, atau struktur morfologi khusus lainnya.
Video:
Sexual Dimorphism laba-laba genus Nephila.
Terima kasih atas laporan Anda.
Laporan Anda telah diteruskan dengan nomor referensi TW2601232OLC
Silakan pantau perkembangan laporan Anda melalui tautan berikut:
🔗 crm.jakarta.go.id/laporan/TW2601…
Anda juga dapat mengirimkan laporan melalui Aplikasi JAKI, yang dapat diunduh dari:
📱 Play Store: play.google.com/store/apps/det…
📱 App Store: apps.apple.com/id/app/jaki/id…
Sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan kami, setelah laporan Anda ditindaklanjuti sepenuhnya dan hasilnya telah divalidasi, silakan gunakan kode unik berikut: XI9826 untuk memberikan penilaian (peringkat) Anda terhadap hasil penanganan pengaduan.
Penilaian (peringkat) dapat dikirimkan paling lambat 7 × 24 jam setelah hasil tindak lanjut divalidasi.
Saya tinggal naik @gojekindonesia di St. Manggarai, tiba2 ada bapak2 Driver gojek digebukin 3 org. Situasi chaos. Si Bapak dihantam terus2an, sampai rubuh, dan terus saja dihantam. Orang2 yg berusaha melerai, termasuk saya, malah ikut2an diserang jg