Sabitlenmiş Tweet
caaa
2.7K posts


Bayangin loh, pagi-pagi buta di Semarang, ribuan anak muda udah ngantri berjam-jam di job fair KAI. Gedung penuh sesak, bau keringat campur harapan, cuma buat rebutan puluhan lowongan di BUMN.
Foto itu viral, dan langsung bikin kita geleng-geleng kepala: kok masih susah banget cari kerja di 2026 ini?
Kisahnya mulai dari dulu, waktu era Jokowi. Pemerintah bikin UU Cipta Kerja, janji kemudahan berusaha, investasi banjir, ekonomi tumbuh 5% tiap tahun.
Tujuannya sih buat ciptain lapangan kerja massal. Tapi yang terjadi? Pertumbuhan ada, tapi kerjanya nggak ikut tumbuh secepat itu. Jadi disebut jobless growth.
Ekonomi naik, pabrik hilirisasi nikel dibangun, infrastruktur megah, tapi yang ngerasain cuma segelintir orang. Yang lain? Masih berebut kursi di BUMN yang dianggap “paling aman”.
Sekarang, giliran Prabowo. Kebijakan publiknya langsung gaspol: hilirisasi diterusin, Koperasi Desa Merah Putih diluncurkan 80 ribu unit, Makan Bergizi Gratis, Kampung Nelayan, sampe program satu juta rumah. Di atas kertas, ini paket lengkap buat ciptain jutaan kerja baru harusnya yaa dari desa sampai kota.
Framework kebijakan publiknya jelas: tahap perumusan (agenda setting) udah kuat, instruksi presiden keluar, anggaran dialokasikan. Tujuannya satu: ubah bonus demografi jadi bonus kerja, bukan bonus pengangguran.
Tapi di sini muncul oposisinya yang bikin pusing. Di satu sisi, kebijakan makro keren bangetlah kelihatannya buat ekonomi Q4 2025 tumbuh 5,39%, TPT November 2025 turun jadi 4,74% (7,35 juta penganggur), dan 1,37 juta lapangan kerja baru tercipta.
Di sisi lain, realita mikro di job fair Semarang: ribuan orang rebutan ratusan posisi. Kenapa? Karena ada gap besar di tahap implementasi dan administrasi publik.
Administrasi publiknya masih lemah. Kementerian pusat bikin program bagus, tapi koordinasi sama daerah, BUMN, dan industri swasta belum nyambung. Pelatihan vokasi SMK-SMK masih teori doang, nggak match sama kebutuhan pabrik. Hasilnya? Skill mismatch parah 50% tenaga kerja kita overeducated atau under-skilled.
Lulusan sarjana nganggur, tapi perusahaan bilang “susah cari yang punya skill praktis”. Ditambah, sektor padat karya seperti UMKM dan pertanian tumbuh pelan, sementara hilirisasi lebih suka mesin daripada manusia.
Jadi, oposisi tematiknya gini: kebijakan publiknya sudah “pro-rakyat” di level atas, tapi pelaksanaan administrasinya belum “pro-rakyat” di level bawah.
Pemerintah pusat janji cepat, tapi birokrasi di lapangan masih lambat, data mismatch belum update, dan job fair cuma jadi tempat pelampiasan sementara.
Yang bikin harapan tetap hidup: sekarang 2026, 25 ribu Koperasi Desa Merah Putih mulai jalan di Maret-April. Kalau dieksekusi bener ini bisa jadi game changer. Bukan cuma kasih kerja di desa, tapi bangun rantai pasok lokal yang bikin UMKM naik kelas. Tapi berita-berita yang beredar kebijakan ini malah terkesan agak ngawur. Mau nutup alfamart indomart lah, dll.
MBG? Tiba-tiba ada kabar impor ribuan motor. Ini gila banget sih, asli.
Framework-nya sederhana ya gampangnya gini.
Kalau tahap evaluasi kebijakan dilakukan terus-menerus (monitor mismatch, reskilling massal, koordinasi pusat-daerah lebih ketat), maka antrean job fair panjang kayak di Semarang bisa berkurang.
Intinya, bukan orangnya yang malas atau pilih-pilih. Strukturnya yang belum pas. Kita lagi di tengah perjalanan: dari kebijakan yang bagus di kertas, menuju pelaksanaan yang beneran ngena di perut rakyat.
Kalau pemerintah terus dorong, dan kita semua ikut dorong juga bisa lewat kritik sehat, skill upgrade, atau dukung UMKM mungkin 2-3 tahun lagi, cerita antrean job fair jadi kenangan lama. Gak cuma kepentingan semata. Kurang-kurangin deh.
Semangat ya, buat yang lagi ngantri atau lagi cari kerja. Ini bukan akhir cerita, tapi bab yang lagi kita tulis bareng. Indonesia emang lagi berubah pelan, tapi pasti. Kita kawal terus berbagai kebijakan pemerintah. Karena dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.
řé@dukeofsemarang
antrian pendaftar KAI di campus jobfair semarang 😭🔥
Indonesia

2 tahun lalu saya sempat tinggal dan kerja di Manado sama Gorontalo. Makan ikan di sana? beda banget. Rasanya manis, kenyal, gurih alami. Bukan cuma enak, tapi beda banget sama yang biasa saya makan di Jawa.
Balik ke Jawa, ceritanya langsung berubah. Pergi ke pasar tradisional atau supermarket, ikan laut yang sama jenisnya terasa agak “letoy”. Dagingnya lebih lembek, aromanya kurang segar, kadang amisnya lebih kuat.
Padahal harga nggak murah. Saya sempat mikir, kok bisa ya? Padahal Indonesia negara kepulauan, lautnya luas banget. Ternyata ini bukan soal “ikan timur lebih enak genetiknya”, tapi soal perjalanan yang ditempuh ikan itu.
Ini bukan cuma cerita pribadi. Data KKP dan BPS nunjukin produksi perikanan tangkap nasional memang besar di timur seperti Maluku, Papua, Sulawesi.
Perairannya lebih bersih, terumbu karangnya masih relatif terjaga, pakan alaminya beragam. Sementara di Laut Jawa? Sudah puluhan tahun overfishing.
Nelayan harus ke laut lebih jauh, hasilnya berkurang, kualitas habitatnya juga tertekan.
Jadi oposisinya jelas: timur dekat sumber, barat dekat konsumen. Konsumsi ikan di Jawa gede banget, tapi suplai lokalnya terbatas. Akhirnya ikan-ikan premium harus “jalan-jalan” panjang dulu baru nyampe piring kita.
Saya lihat ini dari kacamata analis kebijakan publik. Ini bukan cuma soal selera lidah doang. Ini soal ketimpangan infrastruktur logistik perikanan. Cold chain yang bagus memang penting, tapi kalau terlalu lama dan terlalu banyak rantai, kualitas segar hilang.
Kebijakan kita selama ini lebih fokus pada volume produksi dan ekspor, tapi kurang banget perhatian ke distribusi dalam negeri yang cepat dan berkualitas.
Padahal kalau infrastruktur pelabuhan, jalan, dan cold storage di timur lebih merata, plus insentif buat nelayan kecil supaya bisa jual langsung lebih banyak, kualitas ikan nasional bisa naik semua. Bukan cuma orang timur yang menikmati, tapi kita di Jawa juga.
Makanya setiap kali saya makan ikan di Jawa, saya selalu ingat malam-malam di Manado atau Gorontalo. Bukan cuma nostalgia, tapi pengingat bahwa ada yang bisa diperbaiki di level kebijakan. Kalau kamu juga pernah ngerasain bedanya, atau punya cerita serupa, tulis di reply ya.
Siapa tahu cerita kecil-kecil ini bisa jadi bahan buat dorong perubahan yang lebih besar.
Indonesia lautnya kaya. Tinggal bagaimana kita atur supaya kekayaan itu sampai ke piring semua orang dengan kualitas terbaik.
MahaKersa@mahakersa
Percayalah… Semakin timur Indonesia makin enak hasil lautnya, ikannya seger2. Beda halnya dgn pulau jawa. POV saya orang pulau jawa yg pernah ke daerah timur
Indonesia

Syarat monetize memiliki followers sesama cenblue minimal 500 followers.
Impressions 5jt dalam 3 bulan terakhir
5jt : 90hari (3bulan) = 55.555 tayangan perhari
Pertanyaannya apakah gua mampu?
Remahan krikil ditengah bebatuan besar😭
Plisss semangat gua meredup, gajadi menggebu-gebu. Syok ga lupada?😂😂

Indonesia

@khiryaria_13 @afrkml Widih kayanya aura kecipratan selebtwit nya kenceng nih😆
Indonesia

Iya aku jg, jadi nyesal bgt pake akun baru hehe
caaa@shxxrm
Syarat monetize memiliki followers sesama cenblue minimal 500 followers. Impressions 5jt dalam 3 bulan terakhir 5jt : 90hari (3bulan) = 55.555 tayangan perhari Pertanyaannya apakah gua mampu? Remahan krikil ditengah bebatuan besar😭 Plisss semangat gua meredup, gajadi menggebu-gebu. Syok ga lupada?😂😂
Indonesia

@shxxrm Ayo, bisa~
Temenan dulu, yuk, biar diramein.
Indonesia

Dulu seharian tahan di warnet aja kenapa sekarang kok pegel pegel duduk bentar aja
HRD GEN Z@hrdgenz
gen z angkatan akhir mana tau ini
Indonesia
caaa retweetledi

Hati kecil pedagang pasti ingin ngusir tapi takut di ributin dagangannya
Abid@abid0588
Mau makan ke warteg tapi ada tukang parkir, mending cari tempat lain
Indonesia




