esok🌥️

565 posts

esok🌥️ banner
esok🌥️

esok🌥️

@sokeesok

a learner

Katılım Ekim 2023
17 Takip Edilen3 Takipçiler
esok🌥️ retweetledi
B R I G I T T A
B R I G I T T A@brigitta_hadid·
Dulu waktu aku bestie-an sama suami, aku hafal dg hal2 ini. Bestie-ku (skrg udah jd suami) adl penggila buah, terutama pisang. Makanya aku selalu sediakan pisang di rumah. Bukan aku yg makan, tapi kalo dia datang ke rumahku, dia selalu blg "minta ya, Bri". Dia gak sadar bahwa dia yg menghabiskan semua pisang itu 😅 toh aku beli pisang itu untuk dia wkwk. Dia adl orang yg gak bisa menunda utk makan. Dijamin, moodnya bakalan jwelekkkk kalo telat makan. Waktu dia diundang sbg narasumber di kantorku, aku bawain nasi goreng kampung dan buah pisang. Ditanya sama temenku, "tumben bawa bekal". Aku senyum2 aja. Bener kan, jam 12, ketika acara belum selesai, aku bisa lihat mukanya bestie-ku ini. Mulai asem, mulai badmood, gak ada senyum. Aku pun buka bekal dan kasih ke dia. Sekejap, mukanya udah kembali ke mode normal. Gara2 hal ini, temen2 di kantornya berkomentar, "emang sih, Brigitta ini bisa mengerti gimana mengatur moodnya G. Jadi kita udh bete, 'kenapa sih si G ini marah2 mulu? Gak bisa nanti aja gitu marah2nya?' Panggil aja Brigitta. Pasti masalah kelar". *** Ternyata aku pernah sesayang dan sejatuh cinta itu sama bestie-ku, tapi selalu berlindung di balik "ya gue notice krn kita bestie kan?" 😅🙏 Dasar perempuan Gemini 😌
alora skay@pinksuf

baru sadar, orang yang beneran sayang itu yang notice sama hal-hal kecil. kayak tau kalo kita ga suka es teh manis, atau inget kita alergi sama beberapa makanan. selain itu cuma orang yang lagi gabut suka doang

Indonesia
41
209
3.5K
225.4K
esok🌥️ retweetledi
aguss🍉👩‍💻
aguss🍉👩‍💻@monxyet·
Pikiran gw tiap capek: Ini serius gw harus kerja dan berjuang sampe mati? Gue udah ditahap, TIRED of trying so hard anymore seumur hidup, even dari SD, gw harus berjuang untuk hal2 yang mungkin orang lain punya tanpa kerja keras gimana sih rasanya hidup aman? pengen tau 🙂
sau@wwingko

pembicaraan orang dewasa senin pagi:

Indonesia
131
6.4K
19.8K
472.9K
esok🌥️ retweetledi
HRD BACOT
HRD BACOT@hrdbacot·
Date Cancelled. Tiba tiba disuruh lembur.
Indonesia
206
1.1K
2.8K
5.1M
esok🌥️
esok🌥️@sokeesok·
@prabowo Ingat mati ingat sakit, ingatlah saat kau ngetweet
Indonesia
0
0
0
11
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto@prabowo·
14. Anggaran perjalanan dinas: Rp. 20 T per tahun. Ini pemborosan. Harus dicoret. Jika saya presiden, tidak boleh pejabat RI plesiran ke LN.
Indonesia
3K
20.7K
26K
0
esok🌥️ retweetledi
dr. Adam Prabata
dr. Adam Prabata@AdamPrabata·
Tato itu "permanen" BUKAN karena tintanya nempel di kulit terus, tapi karena 𝘀𝗶𝗸𝗹𝘂𝘀 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗿𝗼𝗻𝗶𝘀 𝗱𝗶 𝗸𝘂𝗹𝗶𝘁 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗹𝗶𝗯𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗹-𝘀𝗲𝗹 𝗶𝗺𝘂𝗻. Jadi saat jarum tato menembus kulit, tubuh langsung menganggap ini sebagai luka dan ancaman asing. Pigmen yang masuk langsung "dimakan" oleh sel-sel imun seperti neutrofil, makrofag, dan sel dendritik. Tinta tato ini akan bertahan lama di makrofag karena makrofag punya mekanisme "capture–release–recapture" yang membuat tato bisa bertahan lama. Jadi pas tinta tato itu masuk, makrofag akan berbondong-bondong menelan partikel tersebut. Namun, makrofag tidak bisa mencerna pigmen tinta, karena ukurannya besar dan tahan lama. Akibatnya, makrofag mati, melepaskan pigmen kembali ke jaringan sekitar. Lalu gelombang makrofag baru datang dan mengulangi proses yang sama. Sederhannya tato "permanen" itu sebenarnya bukan karena tinta nempel terus, tapi karena ada relay makrofag yang terus-menerus mengambil ulang tinta yang terlepas saat makrofag lama mati. Beberapa penelitian terkini menunjukkan bahwa penumpukan ini bisa mengganggu fungsi imun normal, termasuk respons terhadap vaksin tertentu, serta dikaitkan dengan peningkatan risiko limfoma, yaitu kanker kelenjar getah bening, dan kanker kulit. Semoga bermanfaat! Sumber: Tattoo ink exposure is associated with lymphoma and skin cancers - a Danish study of twins
Massimo@Rainmaker1973

Your tattoo isn’t just decorative ink: it’s a permanent trigger that keeps your immune system locked in a lifelong cycle of chronic inflammation. As soon as the ink is injected into your skin, your body recognizes the pigment particles as foreign invaders. Immune cells called macrophages immediately swarm the area and attempt to swallow them up. But because they can’t actually break down the ink, the macrophages eventually die, releasing the pigment back into the surrounding tissue — only for a new wave of macrophages to arrive and repeat the process. This endless cycle is what keeps the tattoo permanently visible, while also maintaining a state of ongoing, low-level inflammation in the skin. Over time, some of these ink particles migrate through the lymphatic system and accumulate in the lymph nodes, placing constant stress on the body’s defense mechanisms. Emerging research suggests this internal ink buildup may interfere with normal immune function, potentially reducing the effectiveness of certain vaccines, including mRNA types. Additionally, many tattoo inks contain heavy metals like nickel and cobalt. Combined with the chronic inflammation, this has been linked to a modestly elevated risk of lymphoma and skin cancer. While tattoos remain a powerful form of self-expression, they represent a complex, decades-long biological conflict between your immune system and foreign substances embedded in your skin. [Nielsen, C., Jerkeman, M., & Jöud, A. S. (2024). Tattoos as a risk factor for systemic lymphoma: A population-based case-control study. eClinicalMedicine]

Indonesia
198
4K
14.9K
982.3K
esok🌥️ retweetledi
yoUmiii__
yoUmiii__@yoOmiii0·
@Gatheone1 @AdamPrabata Iya makanya aku bilang kasian makrofag kerja keras mati2an. Ini salah satu alasan juga kenapa manusia ga boleh putus asa atau pun nyakitin diri sendiri karena banyak jutaan sel dalam tubuh lagi memperjuangkan kita untuk tetap hidup setiap harinya. We are not alone🥲
Indonesia
1
81
279
5.8K
esok🌥️ retweetledi
ame˙⋆✮
ame˙⋆✮@v3lvetbunni·
“communication is key” but no one talks about how scary real communication is. it’s not cute texts and long calls. it’s “here’s where you hurt me here’s what I need here’s what I’m afraid to say” it’s swallowing pride risking rejection, choosing honesty over comfort.
English
173
20.7K
89.3K
1.9M
esok🌥️ retweetledi
awan
awan@bopo_jodhipati·
Bayangin kamu ceritanya lagi naik tangga buat “jadi pinter”. Nah, ada yang namanya Taksonomi Bloom nih, Taksonomi Bloom itu kayak peta tangganya dari yang paling dasar sampai yang paling “pro level” dalam cara kita berpikir. Penjelasannya gini: Awalnya, kamu cuma ngumpulin info dulu. Ini level paling bawah, namanya mengingat. Kayak hafalin rumus, inget tanggal sejarah, atau sekadar tahu misal “oh ini namanya fotosintesis” gitu. Naik dikit, kamu mulai ngerti. Bukan cuma hafal, tapi udah bisa jelasin pake kata-kata sendiri. Hal ini udah masuk ke dalam tahapan Memahami. Misalnya, kamu bisa cerita ulang kenapa tumbuhan butuh cahaya matahari tanpa ngelihat buku. Terus, kamu masuk ke tahap pakai ilmunya. Ini level Menerapkan. Jadi bukan cuma ngerti teori, tapi bisa dipraktikkan. Contohnya, kamu pakai rumus matematika buat nyelesain soal atau pakai grammar yang bener pas ngomong bahasa Inggris. Naik lagi, kamu mulai nih masuk tahap selanjutnya yaitu Menganalisis. Di sini kamu udah kayak detektif, bisa ngebedah sesuatu, nyari pola, atau ngerti kenapa sesuatu bisa terjadi. Misalnya, kamu bisa bandingin dua teori atau ngerti penyebab suatu peristiwa. Abis itu, kamu masuk ke level Menilai. Di level ini kamu udah mulai “beropini tapi beralasan”. Kamu bisa bilang sesuatu itu bagus atau nggak, setuju atau nggak, tapi pake alasan yang kuat. Kayak nge-review film tapi bukan cuma “jelek”, tapi jelasin kenapa jelek. Paling atas, level tertingginya ada Mencipta. Di sini kamu nggak cuma pakai atau nilai sesuatu, tapi bikin hal baru. Bisa berupa ide, karya, solusi, atau konsep yang belum ada sebelumnya. Misalnya bikin aplikasi, nulis cerita, atau nemuin cara baru buat nyelesain masalah. Jadi intinya, Taksonomi Bloom itu kayak perjalanan: dari “cuma tahu” lanjut ke “beneran ngerti” lanjut lagi “bisa pakai” maju ke “bisa bedah” berubah menjadi “bisa nilai” akhirnya sampai “bisa bikin sesuatu yang baru.” Semakin naik, otak kamu makin “kerja keras” tapi juga makin keren. Jadi dalam belajar tuh kita bener-bener harus tau tahapannya ya, supaya kita bisa berurutan ga asal loncat aja hehehehehe
awan tweet media
Indonesia
13
768
2.4K
46.2K
esok🌥️ retweetledi
Khanif Irsyad
Khanif Irsyad@khanifirsyad·
Akhir2 ini saya lagi suka dengerin Bunda Elly Risman. Penjelasannya enak didengerin dan gampang dipahami. Topik yg dibahas: pernikahan, keluarga, dan parenting. Apakah untuk nikah, cinta aja cukup? Ini jawaban blio: - Langkah pertama, untuk selalu bersyukur terhadap apa yg dimiliki - Pernikahan itu ibadah terpanjang, cinta aja gak cukup, tapi butuh ilmu dan kesiapan utk terus belajar. - Proses menjalaninya gak boleh tergesa2. Termasuk ketika punya anak - Perlu untuk look in (mengenal diri sendiri, introspeksi, visi ke depan, dll) - Kunci keharmonisan keluarga itu, 3 M (mengenali, menerima, menghargai) sebagai bagian dari look out Isinya daging bgt. Orang kalo ngomong dari hati, bakal sampe ke hati jg. 🥹
Khanif Irsyad tweet media
Indonesia
5
84
359
10.6K
esok🌥️ retweetledi
ama
ama@itsamarl·
selain takut miskin gua juga takut prabowo 2 priode😭
Indonesia
634
26.4K
68.2K
800.3K
esok🌥️ retweetledi
putqal🌻🦖
putqal🌻🦖@americanoaddctd·
Aku percaya adanya 3 mantra kehidupan ini : -Let them (Biarkan mereka) -It will pass (Ini akan berlalu) -Time will tell (Waktu yang akan menjawab)
Indonesia
267
12.8K
32K
467.6K
esok🌥️ retweetledi
ntang
ntang@prkdlx·
Kenapa fast learner cepat lupa? Ternyata ini penjelasan ilmiah sederhananya Fast learner punya kemampuan untuk menyerap informasi baru dgn cepat, yang memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan baik dalam berbagai situasi. Tp, ada sisi lain yang perlu diperhatikan: kecenderungan untuk mudah lupa. Knp? Pertama, otak kita memproses informasi dalam tiga tahap: encoding, storage, dan retrieval. Fast learner sering kali fokus pada tahap encoding, yaitu menyerap informasi baru. Tapi, ketika informasi tsb ga diproses lebih lanjut ke tahap storage (penyimpanan), akan sulit untuk mengaksesnya kembali (retrieval). Selain itu jg bisa disebabkan overload informasi. Fast learner sering terpapar banyak informasi dalam waktu singkat. Ketika otak terlalu banyak menerima informasi, detail2 kecil cenderung terabaikan dan ga tersimpan dgn baik dalam memori jangka panjang. Terus gmn caranya agar fast learner ga cepet lupa?
ki 𓍝 | gap²⁵@whoisrifkiii

kelebihan: fast learner kekurangan: pelupa

Indonesia
97
8.9K
39.3K
899K
esok🌥️ retweetledi
MinDos
MinDos@dosenkesmas·
Pernah merasa "Duh, kok saya bego banget ya?" saat di kelas, atau saat meneliti atau saat menghadapi kasus yang sulit? Paper dengan judul "The Importance of Stupidity in Scientific Research" mencoba membedah fenomena tersebut. Banyak orang mengira sains itu soal "pasti tahu". Padahal, sains itu sejatinya justru dibangun dari rasa "ketidaktahuan". Tulisan Martin Schwartz, “The importance of stupidity in scientific research”, adalah bacaan wajib bagi mahasiswa dan peneliti. Kenapa?
MinDos tweet media
Dr. Filippo Cademartiri@FCademartiri

This article should be mandatory reading for every medical student, PhD candidate, researcher—and honestly, for anyone who mistakes expertise for certainty. “The importance of stupidity in scientific research” sounds provocative, almost offensive. But Martin Schwartz is not glorifying incompetence. He is describing the real operating system of discovery. Science is not built on knowing. Science is built on tolerating not knowing. That distinction matters. Most of education rewards correctness. School teaches us to answer. Exams reward speed, certainty, and precision. You feel intelligent when you get things right. Research is the opposite. Real research begins exactly where competence ends—at the frontier where nobody knows the answer, including the people you thought must know. That moment is psychologically brutal. You ask the expert. The expert shrugs. You assume you’re missing something. Then you realize: no—this is the work. You are not failing. You are standing at the actual boundary of knowledge. That feeling—“I must be stupid”—is often not a sign of inadequacy. It is often the first sign that you are finally asking an important question. Medicine struggles with this. We train doctors to avoid uncertainty, to fear being wrong, to perform confidence. But the best clinicians and the best scientists know how to sit inside ambiguity without collapsing into fake certainty. This is why AI in medicine also deserves caution. Systems trained only to reproduce established answers may become extraordinarily good at passing exams while being terrible at discovering what matters next. Guideline intelligence is not the same as scientific intelligence. Discovery requires productive stupidity: the willingness to stay with the uncomfortable, to look ignorant, to ask naïve questions, to be wrong repeatedly without protecting your ego. Most people want the authority of expertise. Very few want the humiliation required to earn it. But progress lives there. Not in certainty. Not in performance. Not in sounding smart. In the quiet discipline of saying: “I don’t know… yet.” And continuing anyway.

Indonesia
17
868
3.9K
84.2K
esok🌥️ retweetledi
TxtdariUGM
TxtdariUGM@Txtdariiugm·
Ada tulisan menarik di buku psychology of money yg akhirnya bikin saya stop dikit-dikit self reward dan belanja barang lucu gak penting tapi overpriced. Sesederhana bisa bedain “wealth” sama “rich” Banyak orang pengen jadi “rich” karena itu yg paling gampang dilihat dan menghasilkan validasi. Mobil mewah, rumah mewah, gadget terbaru, baju branded, aksesories viral, dll. Sementara wealth ga terlihat. Rasa tenang dan aman, freedom, punya pilihan, stabil. Bisa nolak kalo kerjaan ga cocok, ga panik kalo income tiba-tiba berhenti, ga hidup dr gaji ke gaji, punya ruang buat milih, dll. Orang wealthy duitnya ada tapi mereka milih buat ga belanja kayak orang “rich”. Entah diputer, disimpan atau diinvest, mereka akan bangun sistem supaya duit tetap ada tanpa harus kerja yg gimana gimana. Kalo ditanya mana yg lebih kaya pasti semua milih yg “rich” 😂 Padahal bisa nolak kalo kerjaan ga cocok itu mewah banget, butuh duit sm stabilitas buat bisa lakuin itu. Orang wealthy ga ngejar impresi, dibilang miskin juga iya iya aja kayaknya
Khanif Irsyad@khanifirsyad

Mari normalisasikan untuk mengutamakan fungsi, bukan gengsi: • Pakai pakaian yg itu2 aja gapapa • Gak beli barang branded pun gapapa, selama masih layak dipakai • Makan di warteg, warung kaki lima, atau bahkan masak sendiri pun gapapa • Naik motor, naik angkot, atau transum gapapa • Pakai HP yg udah 2–3 tahun pun gapapa, selama masih lancar buat komunikasi dan kerja • Liburan ke tempat deket/staycation di rumah gapapa, yg penting bisa quality time Belajar jg untuk jadi orang yg gak penting, orang lain gak sepeduli itu sama kita

Indonesia
33
1.3K
6K
192K
esok🌥️ retweetledi
Dr. AK 🇮🇳
Dr. AK 🇮🇳@docakx·
Tell me a beautiful medical fact.
Dr. AK 🇮🇳 tweet media
English
107
59
439
7.2M
esok🌥️ retweetledi
Imelda
Imelda@mechnclgrl·
Kalau kamu ingin hidup lebih tenang, hati lebih kuat, dan akhir yang indah, pesan-pesan ini jangan dilewatkan. Al-Waqiah berpesan: “Bacalah aku setiap malam, niscaya Allah akan melindungimu dari kemiskinan.” Ayat Kursi berpesan: “Bacalah aku setelah sholat, maka hanya kematian yang menjadi jarak antara kamu dan surga.” Al-Ikhlas berpesan: “Bacalah aku 10 kali setiap hari, agar Allah SWT membangunkan untukmu sebuah istana di surga.” Sholat berpesan: “Jagalah aku selama di dunia, maka kamu akan masuk surga tanpa hisab.” Al-Mulk berpesan: “Bacalah aku sebelum tidur, maka aku akan menemanimu di alam kubur yang gelap.” Sholawat berpesan: “Bacalah aku setiap hari, kelak kamu akan mendapatkan syafaat dari Rasulullah.”
Imelda tweet media
Indonesia
25
3.4K
12.3K
210.8K
esok🌥️ retweetledi
Jejak Rasa
Jejak Rasa@jejakrasa27·
Pelajaran paling dalam dari Surah Maryam itu sederhana tapi menampar: Ada fase di mana manusia merasa sangat lelah, sangat hancur, sampai merasa ingin menghilang. Tapi di saat hati paling sepi itulah, Allah justru paling dekat. Bahkan ketika lisan tak mampu menjelaskan luka, Allah sudah lebih dulu tahu. Dan dari cerita Maryam, kita belajar: Putus asa itu manusiawi, tapi ditinggalkan Allah itu tidak pernah terjadi. 🤍
Irene Claire@aesthetic2002

I could really use some words of encouragement right now. If you have any, feel free to drop them through a QRT, whether it’s quotes or anything else, totally up to you.

Indonesia
22
3.8K
9.9K
212.2K