ramadhanu
3K posts


Pemerintah Kabupaten Banyumas mengusulkan agar Margono Djojohadikusumo, kakek Presiden Prabowo, menjadi pahlawan nasional. Usulan itu sudah sampai di Kementerian Sosial. Margono adalah pendiri Bank Negara Indonesia. Para pengusul menilai gagasan Margono sejalan dengan ide cucunya dalam membuat koperasi merah putih. Karena itu, menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon, anak buah Prabowo di Partai Gerindra, gelar "Bapak Koperasi" seharusnya disandang Margono, alih-alih Hatta. Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ada juga usul agar Sarwo Edhie, mertuanya, mendapat gelar pahlawan nasional. Kontroversi yang merebak karena konflik kepentingan waktu itu berhenti karena SBY membatalkan pencalonan tersebut. Sarwo Edhie baru mendapat gelar pahlawan di era Prabowo. Berkala Fajar mengulas tentang peran Margono dan lobi-lobi mengegolkannya jadi pahlawan nasional.

Prabowo Subianto is too spendthrift and too authoritarian economist.com/briefing/2026/…


Penampakan gunungan uang Rp 10 triliun yang ditata bak piramida di kantor Kejagung. ~RS


Baca di sini: money.kompas.com/read/2026/05/1… Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tetap mengutamakan kepentingan nasional terkait kebijakan royalti mineral meski ada keluhan hambatan investasi dari pihak China. Ia menyatakan investor asing dipersilakan mencari negara lain jika merasa kebijakan pengelolaan sumber daya alam Indonesia tidak sesuai dengan bisnis mereka. ~TR #Purbaya #InvestasiChina #KepentinganNasional

Baru kali ini janji politik capres pemenang yang justru ditolak rakyatnya. Tapi ya memang terlalu banyak negatifnya sih MBG itu. - habis-habisin duit negara - antara pengeluaran dan hasilnya nggak cocok - salah sasaran karena banyak yang mampu juga dapat MBG - banyak kebuang - salah prioritas, masih banyak kebutuhan lain terkait pendidikan yang belum tercukupi - rawan dikorupsi dan masih banyak lagi alasan untuk menghentikan MBG. Atau setidaknya: revisi total.

The rupiah reaches its lowest level in history at 17,500 per US dollar.

Orang Papua, Sulawesi, Maluku dan Kalimantan.


Saya sejak awal tak setuju dengan MBG. Persoalan utamanya adalah: SALAH SASARAN. Mayoritas dari uang yang dipakai untuk MBG itu salah sasaran. Pelajar yang mampu dan tak butuh digratisi makan siang pun mendapatkan MBG. Jelas itu salah sasaran. Saya bandingkan dengan Koperasi Merah Putih (KMP). Menurut saya, KMP masih lumayan karena itu program yang sifatnya produktif. Tapi untuk menilai KMP, saya nunggu nanti jalannya seperti apa. Namun sejelek-jeleknya pelaksanaan KMP, pada titik tertentu pengeluaran negara untuk KMP akan berhenti. KMP itu program yang sifatnya produktif, bukan "pos pengeluaran" bagi negara. Beda dengan MBG yang sampai kapan pun, selama program itu ada, negara harus keluar uang terus. Masih banyak pos pengeluaran yang lebih penting di dunia pendidikan, terutama terkait gaji guru swasta yang ada di level paling bawah. Nasib mereka mengenaskan tapi harus melihat uang dihambur-hamburkan negara untuk makan gratis muridnya yang tidsk lebih miskin dari sang guru. Negara tak punya skala prioritas.



Disindir pulang aja ke Yaman, dijawab oleh Anies secara elegan, jangan pergunakan negara utk menyalurkan aspirasi dan menyelesaikan pribadi Inilah yg kusuka dari seorang Anies, tdk hanya berani seperti ditunjukkan dirinya saat mencabut izin 13 pulau reklamasi milik para taipan, tapi juga tetap menunjukkan posisis sbg seorang intelektual.. Negara memang butuh orang seperti Anies!




















