Saya Miftah
6.3K posts

Saya Miftah
@tAhdroid
sy sedang belajar python walaupun background bukan seorang programmer | sama2 belajar, yuk! link belajar di sini: https://t.co/YTBp6RAJZm

😱😱😱😱



Prabowo: Gaji Guru dan ASN Kecil Karena Kekayaan RI Kabur ke LN tirto.id/prabowo-gaji-g…











Hari ini mutualku pada kemana ya? Apa tweetku nggak lewat di TL mereka 🥺 Once in a blue moon.




Satu lagi cerita dari guru Kandilo' 👇 Rangking Satu Itu Bernama Minat (Mengenang Kurikulum Merdeka) Namaku Kandilo’. Guru kampung di Toraja. Sudah puluhan tahun mengajar. Sudah melihat terlalu banyak anak merasa dirinya bodoh, padahal sebenarnya tidak. Yang bermasalah bukan pada anaknya. Masalahnya pada cara kita mendefenisikan pintar. Dulu, di sekolah kita, anak dipaksa pandai semua hal. Harus jago matematika. Harus pintar IPA. Harus hebat bahasa. Harus kuasai ini, dan ini, dan itu. Akhirnya banyak anak tumbuh dengan satu keyakinan menyedihkan: menganggap dirinya gagal. Padahal ikan akan selalu terlihat bodoh kalau diuji memanjat pohon. Ayam akan merasa diri sangat bodoh kalau diuji pelajaran renang. Siput selalu akan dapat nilai merah saat ujian berlari. Saya pernah punya murid. Nilai matematikanya biasa saja. Hafalan juga tidak hebat. Tapi tangannya luar biasa. Bisa memperbaiki radio rusak hanya dengan melihat sebentar. Sekarang dia punya bengkel sendiri. Menghidupi keluarganya dengan baik. Kalau dulu dia terus dipaksa menjadi anak rangking matematika, mungkin dia sudah berhenti sekolah karena merasa kalah. Itulah yang saya mulai pahami saat era Nadiem Makarim membawa gagasan Kurikulum Merdeka. Belajar tidak lagi sepenuhnya dipaksa seragam. Anak mulai diberi ruang mengenali minatnya. Guru didorong melihat potensi, bukan sekadar angka rapor. Dulu anak SD pergi sekolah seperti mau pindahan rumah. Tasnya berat sekali. Buku bertumpuk. Pulang sore. Les lagi malam. Tapi kita lupa bertanya: apakah mereka masih senang belajar? Belajar mestinya membuat anak penasaran. Bukan kelelahan. Saya membaca tentang Finlandia. Negara yang pendidikan dasarnya sering disebut terbaik di dunia. Anak-anak di sana tidak dibebani terlalu banyak mata pelajaran. Kalau ada PR lebih untuk mengeksplorasi keterampilan motorik dan sosial di rumah. Jam belajar lebih pendek. Tidak terobsesi rangking. Tapi hasil literasi, ho ho tae’ liu ianna palambi’ta lako, mane. Karena mereka percaya satu hal penting: anak bukan robot pabrik. Setiap anak unik. Tugas sekolah bukan menyeragamkan, tetapi membantu menemukan kekuatannya. Hal yang mirip juga dilakukan di Singapura. Mereka mengurangi budaya rangking ketat sejak sekolah dasar. Fokusnya bukan lagi siapa paling tinggi nilainya, tetapi bagaimana anak mampu berpikir kritis, kreatif, dan bekerja sama. Begitu juga di Kanada. Sekolah-sekolah memberi ruang besar pada project learning, eksplorasi minat, dan pembelajaran yang lebih fleksibel. Anak-anak didorong menemukan apa yang mereka cintai sejak dini. Sebenarnya gagasan Merdeka Belajar itu sederhana sekali. Bahwa tidak semua anak harus menjadi profesor matematika. Tidak semua anak harus ahli fisika. Ada yang lahir menjadi seniman. Ada yang berbakat bertani. Ada yang hebat bicara. Ada yang tangannya terampil. Ada yang hatinya kuat memimpin orang lain. SETIAP ANAK RANGKING 1 Setiap anak sebenarnya rangking satu. Tapi di bidang yang berbeda-beda. Sayangnya, kita terlalu lama membangun pendidikan seperti pabrik fotokopi. Semua anak dicetak sama. Yang berbeda dianggap gagal. Yang tidak cocok dengan sistem dianggap malas. Padahal mungkin sekolahnya saja yang belum memberi ruang. Karena itu saya sedih ketika Kurikulum Merdeka sering diejek seolah-olah membuat anak bodoh. Padahal inti sebenarnya justru membebaskan anak dari ketakutan belajar. Membuat sekolah kembali menjadi tempat menemukan diri, bukan tempat kehilangan percaya diri. Dan saya percaya, bangsa ini akan maju bukan ketika semua anak lulus ujian nasional. Atau mendapat nilai yang tinggi. Tetapi ketika setiap anak diberi kesempatan tumbuh menjadi versi terbaik dirinya sendiri. Saya akhiri dengan pengalaman saya di kelas. Sebagai guru yang sudah puluhan tahun mengajar, saya menemukan bahwa kadang-kadang anak didik saya punya pikiran yang lebih hebat daripada saya sendiri. Ada murid yang pertanyaannya membuat saya pulang berpikir semalaman. Saya, guru Kandilo’ tidak pernah malu mengakui itu di depan kelas. Saya malah bangga. Makanya di akhir pelajaran, saya sering meminta mereka mengkritik cara saya mengajar. Siapa yang berani memberi kritik paling jujur, saya kasih hadiah kecil. Bukan karena saya guru yang hebat, tetapi karena saya ingin mereka berani berpikir. Harga diri Kandilo’ sebagai guru tidak akan pernah jatuh karena dikritik murid. Justru di situlah kebanggaan saya: berhasil melahirkan anak-anak yang berani bertanya, berani berbeda pendapat, dan berani berpikir merdeka. Mungkin itulah sebabnya saya jatuh cinta pada Kurikulum Merdeka. Karena bagi saya, pendidikan terbaik bukan melahirkan murid yang takut pada guru, tetapi murid yang suatu hari bisa melampaui gurunya sendiri. Ooo dikka’na le, nasibmu, kurikulum merdeka. Salam Pembebasan, Kandilo' Ket: Gambar: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Lihat Lebih Sedikit











