Sabitlenmiş Tweet

Di kota yang tak tertulis dalam peta masa kecilku
Aku berdiri di bawah langit yang warnanya abu-abu
Membawa sebungkus resah yang belum sempat kubuka
Di antara deru mesin dan kepulan asap yang mengepung udara.
Ada ribuan wajah melintas di trotoar yang basah
Namun tak satu pun yang mengenali retak di dahi ini
Aku terjebak dalam jaring-jaring kegalauan yang sunyi
Sembari menghitung tiang lampu yang mulai menyalakan diri.
Lalu, dalam remang petang yang hampir patah itu
Kulihat sepasang matamu, gemerlap bagai rasi bintang yang setia
Malaikat manis yang berdiri dengan pelukan hangat
Membawa sekotak senyum yang luput dari amukan badai kota.
Ketika batukku mulai menggema di ruang-ruang kosong
Dan hatiku nyaris karam dalam cangkir kopi yang dingin
Tangan kecilmu menjalar, menyentuh jemariku yang beku
Sebuah jembatan kasih sayang yang tak butuh kamus bahasa.
Tiba-tiba, daerah baru ini tak lagi terasa asing
Sebab di lekuk pipimu, aku menemukan kembali rumah yang hilang
Kegundahan yang tadi bergelayut bagai kabut tebal
Kini luruh menjadi butiran embun, menyirami rindu yang kekal.
Tuhan, terima kasih telah Kau pertemukan aku dengan malaikat kecil ini
Di tanah rantau yang semula kukira akan menguliti sepi
Aku akan menjaganya dengan jiwa dan bait puisi
Ia mengalir bersama darah, menjaga langkahmu hingga ufuk sunyi.
Indonesia
























