Kang Swallow
224 posts

Kang Swallow รีทวีตแล้ว

Bikin trading agent itu beda sama bikin bot.
Bot eksekusi perintah, agent bikin keputusan sendiri.
Dan kalo lo gak hati-hati, agent lo bakal jagain loss 24/7 tanpa lo sadari.
Dari pengalaman bikin trading agent dari 0, ini 7 hal yang paling gue sesali baru ngerti setelah build:
🧵
Yang bakal lo pelajari di thread ini:
- Kenapa backtest bukan opsional
- Bahaya stacking indikator
- Circuit breaker yang nyelametin kapital gue
- Kapan pake LLM dan kapan jangan
- Kenapa risk sizing > entry signal
1. No Backtest, No Launch
Ini basic, tapi kebanyakan orang langgar.
Gue dulu build dulu, test belakangan. Error baru sadar pas jalan. Fix satu, error lain muncul.
Backtest bukan cuma ngukur profit. Backtest buat ngecek: apa agent lo bertahan di kondisi pasar yang beda? Bearish, sideways, volatile?
Gak backtest = lo jadi guinea pig lo sendiri.
2. Indicator Stacking
Banyak dev nambahin RSI, MACD, Bollinger, EMA 9-21-50-200, volume profile, market structure, semuanya masuk.
Hasilnya? Overfit ke data training. Di market real, semua indikator itu contradicting satu sama lain.
Alpha Engine versi pertama punya 9 rules. Versi final? Cuma 3.
Simplify sampe lo bisa buktiin tiap indikator ngasih VALUE tambahan, bukan cuma noise.
3. Skip Circuit Breaker
Ini paling bahaya.
Agent losing streak 4x berturut-turut tapi karna gak ada mekanisme stop, dia terus trade.
Gue implementasi: 3 consecutive SL → pause 6 jam. Bukan karena tradingview atau data, tapi murni karna loss psychology matters.
Kalo agent lo gak punya circuit breaker, dia bukan agent. Dia cuma gambling machine.
4. LLM-Driven Every Decision
Pake LLM buat ANALYZE market? Boleh.
Pake LLM buat DECIDE tiap entry? Bencana.
LLM lambat (2-5 detik per call).
Mahal (token makan terus).
Dan hallucinate apalagi kalo konteks chart-nya panjang.
Keputusan trading harus deterministic + sistemik.
LLM di level filtering dan prioritization doang. Timing dan execution? Biarin kode yang handle.
5. Risk Sizing Diabaikan
Banyak agent cuma fokus: "ini sinyal long/short?"
Gak pernah: "berapa lot?"
Akibatnya? 10 win trade berturut-turut ilang dalam 1 loss karna lot size gak proporsional.
Agent lo harus tau kapital, tau risk per trade, dan hitung sizing otomatis. Fixed lot = fast track ke margin call.
6. Gak Antisipasi Failure
API error, Rate limit, RPC down, Exchange maintenance, Koneksi putus.
Ini BUKAN exception. Ini norma.
Agent trading jalan 24/7 bakal nemu ini semua. Kalo gak ada retry logic, gak ada fallback provider, gak ada notifikasi kalo mati, agent lo cuma kapal tanpa sekoci.
Gue baru nambahin watchdog setelah 3 hari agent mati tengah malem tanpa sepengetahuan gue.
7. Stateless Agent
Tiap sinyal mulai dari nol, gak ada memory.
Agent lupa sinyal yang udah dikasih 5 menit lalu.
Akibatnya: repeat signal, trade conflict, entry di level yang sama 2x.
Agent butuh STATE, tau mana yang udah diproses, mana yang pending, mana yang canceled.
Kalo tiap jalan di restart dari awal, lo gak punya agent, lo hanya punya script.
Pernah kena salah satu dari ini? Atau ada pengalaman lain? drop di reply biar kita sama-sama belajar.

Indonesia

semua orang taubat setelah merasa cukup dengan bisnis haramnya 😇
Habis Nonton Film@HabisNontonFilm
Aktor BREAKING BAD Giancarlo Esposito baru saja jadi mualaf. Dia pindah ke agama Islam setelah merasa nyaman berinteraksi dengan Muslim selama syuting di Arab Saudi. Beneran jadi "Gus" Fring 😁
Indonesia

@GabRey99 exactly!!
jaga nama baik supaya orang tidak malu kenal kamu
Indonesia






















