Aditya Ramanda

7K posts

Aditya Ramanda banner
Aditya Ramanda

Aditya Ramanda

@aditoss

Certified Cut-Loss Specialist. Expert at buying the dip that keeps on dipping ~ so u don't have to

Indonesia เข้าร่วม Ağustos 2009
1.6K กำลังติดตาม2.7K ผู้ติดตาม
ทวีตที่ปักหมุด
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Gue pernah average down saham yang sudah turun 30%. Lalu turun lagi. Gue average down lagi. Lalu cut loss di harga yang bikin gue gak bisa tidur tiga malam. Kalau ada sertifikasi resmi untuk itu, gue sudah lulus dengan nilai tertinggi. Tapi dari semua itu, gue sampai pada satu kesimpulan yang mungkin tidak populer: Sebagian besar edukasi investasi di Indonesia mengajarkan hal yang benar tapi dengan urutan yang salah. Orang diajarkan chart sebelum diajarkan berapa besar loss yang sanggup mereka tanggung. Diajarkan cara entry sebelum diajarkan kapan harus exit. Diajarkan cara beli saham sebelum diajarkan bahwa cut loss itu bukan kekalahan, cutloss itu skill yang butuh latihan. Akibatnya, banyak yang masuk pasar dengan analisis teknikal yang cukup bagus tapi gak punya manajemen risiko. Dan ketika IHSG koreksi, bukan chartnya yang menghancurkan mereka, tapi keputusan yang dibuat di tengah panik. Akun ini ada karena gue gak mau orang lain bayar harga yang sama untuk pelajaran yang seharusnya bisa dipelajari lebih murah. Di bawah, gue kumpulin semua yang pernah gue tulis: dari money management, psikologi cut loss, cara membaca kondisi IHSG dari sudut pandang ritel, sampai kenapa banyak strategi yang viral itu berbahaya tanpa konteks yang benar. Bukan karena gue lebih pintar. Tapi karena kesalahan dan kebodohan yang udah pernah gue alami dulu terlalu mahal dan sayang kalau pelajarannya cuma buat gue sendiri.
Indonesia
24
81
440
28.8K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Betul, dan ini yg bikin setup nya beda. IHSG ke ATH 9.134 ditopang saham konglomerasi, bukan bigbank. Fundamental tipis, makanya jatuhnya brutal. Kalau sekarang yg menopang justru bigbank, ini base yg secara struktur jauh lebih sehat dari rally sebelumnya. Volume sustain sampai close + asing konsisten net buy = baru gue naikkan exposure.
Indonesia
1
0
0
51
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Trump baru aja ngasih IHSG tiga katalis bullish sekaligus pagi ini. Dan ini justru setup yg paling sering bikin orang masuk di waktu yg salah. Katalis pertama: Deal AS-Iran confirmed > Selat Hormuz dibuka, blokade angkatan laut dicabut. Harga minyak global berpotensi turun signifikan. Untuk Indonesia sebagai net importer minyak, ini nyata: tekanan current account berkurang, inflasi lebih terkendali, ada ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM. Katalis kedua: Dari 5.342 ke 6.007. IHSG naik 12% hanya dalam satu minggu. Katalis ketiga: Asing net buy Rp287 miliar Jumat kemarin, pertama kali setelah berminggu-minggu. Tiga katalis bersamaan dalam satu pagi. Timeline pasti ramai. Tapi ada satu angka yg belum berubah dari semua kabar baik itu. IHSG masih di bawah MA20 dan MA200. Macro catalyst yang kuat bisa mendorong gap up hari ini. Tapi gap up tanpa konfirmasi struktur punya satu skenario klasik yang sering mahal: harga naik cepat di pagi hari, lalu perlahan kembali mengisi gap sebelum penutupan. Bukan reversal, hanya noise bullish yang terasa seperti reversal. Soal foreign flow: @Kutekians sudah tunjukkan dengan backtest 4 crash terbesar IHSG bahwa 3 dari 4 bottom terbentuk justru saat asing masih net sell. Artinya net buy kemarin bukan konfirmasi, tapi juga bukan hal yg bisa diabaikan begitu saja. Yg perlu diperhatikan hari ini bukan seberapa tinggi IHSG buka. Tapi: ✔️Apakah harga bisa menembus dan menutup di atas MA20 ✔️Apakah volume naik konsisten bukan sekadar spike satu hari ✔️Apakah terbentuk higher low dari struktur minggu lalu. Kalau pertanyaan-pertanyaan itu mulai terjawab positif, baru ada alasan konkret untuk naikkan exposure secara bertahap. Tiga katalis bullish sekaligus adalah kondisi yang paling sulit untuk tetap disiplin. Tapi justru di sini disiplin itu paling mahal nilainya. Di luar foreign flow, sinyal apa yg paling kamu tunggu sebelum naikkan exposure? 👇
Aditya Ramanda tweet media
Indonesia
2
4
21
1.6K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Betul, dan justru ini yg gue maksud di atas om. MA20 jebol + gap up besar + 3 katalis sekaligus = kondisi paling sulit untuk tetap disiplin. Yg perlu kita pantau: apakah volume hari ini sustain sampai close, atau distribusi? Apakah ini higher low dari struktur minggu lalu, atau masih dalam downtrend yang sedang relief rally? Kalau dua pertanyaan itu terjawab positif di close hari ini, baru jd alasan konkret buat gue pribadi untuk naikin exposure secara bertahap.
Indonesia
1
0
1
186
DiaryTrader
DiaryTrader@WOLF_of_IHSG·
@aditoss udah jebol MA20 pak ...ganasss dan agresif
Indonesia
1
0
3
868
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Ini versi yang lebih berbahaya sebetulnya. 'Masih naik' dari leader grup bisa dibantah dengan data. Tapi 'bandarnya nanti naikin' ga bisa dibuktikan salah, karena ga ada yg bisa buktiin bandar gak akan naikin. Dan justru itu yang membuatnya efektif menahan orang dari cut-loss yg seharusnya udah dilakukan jauh sebelumnya
Indonesia
0
0
0
6
ayyy
ayyy@midnightnavyy·
@aditoss Pernah kak. Apalagi klo nanya temen yg "insider trading", blgnya nanti jg bandarnya naikin 😂 pdhl scr teknikal udh jelek bgt 😂😂 jd denial krn percaya temen 😂
Indonesia
1
0
0
10
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Beberapa waktu lalu seseorang DM gue. Dia bilang sedang hold saham, posisi minus, sebetulnya udah mau jual. Tapi sebelum eksekusi, dia tanya dulu ke leader grupnya. Jawabannya: "masih akan naik." Dia gak jadi jual. Sekarang floating loss-nya 140 juta. Dari porto 350 juta. Hampir 40%. Ini bukan cerita tentang saham yg salah pilih. Ini tentang sesuatu yg lebih berbahaya dari saham yg turun: optimisme yang dibangun sistematis oleh orang yang punya kepentingan berbeda dari kamu. Ada satu hal yang jarang dibicarakan soal grup saham berbayar: Leader grup punya insentif yang tidak selalu sejalan dengan keputusan terbaik untuk porto kamu. Mereka perlu member tetap aktif, tetap percaya, dan tetap di dalam grup. Kalau semua orang cut-loss dan keluar, grup bubar. Jadi ketika market merah, narasi defaultnya bukan "evaluasi ulang posisimu", tapi "sabar, tunggu strukturnya balik." Itu bukan penipuan. Itu insentif. Dan insentif jauh lebih berbahaya dari penipuan, justru karena terasa seperti kepedulian. Tiga hal yang perlu dipahami dari pola ini: "Katanya masih naik" bukan analisis. Tidak ada yang tahu saham akan ke mana. Yang ada hanya probabilitas dan framework untuk mengelola ketidakpastian. Ketika seseorang bilang "masih naik" tanpa konteks stop-loss, tanpa exit plan, itu kalimat yang terdengar meyakinkan, bukan analisis. Investor pemula paling rentan bukan karena tidak pintar, tapi karena tapi karena mereka belum punya sistem trading sendiri. Kalau kamu belum punya sistem, kamu default ke sistem orang lain. Dan sistem orang lain didesain untuk prioritas orang lain. Konkretnya: orang itu tidak cut-loss bukan karena dia yakin sahamnya akan naik, tapi karena dia tidak punya angka yang udah ditulis sebelumnya untuk keluar. Kekosongan itu yang diisi oleh suara leader grup. Tidak cut-loss adalah keputusan juga. Keputusan itu punya konsekuensi. Floating loss 140 juta tidak terjadi hanya karena sahamnya turun. Itu terjadi karena tidak ada exit plan dari awal, dan ada orang yang kepentingannya menjaga kamu tetap hold. Gue gak tau apakah 350 juta itu uang yg bisa dia relakan sambil nunggu pemulihan yg enggak jelas waktunya. Yang gue tau: ceritanya bisa jadi sangat berbeda kalau dari awal ada satu pertanyaan sederhana yang dijawab sendiri sebelum beli: "Kalau salah, gue keluar di harga berapa?" Bukan tanya leader grup. Jawab sendiri. Tulis sendiri. Pegang sendiri. Gue sadar ini akan terdengar offensive bagi sebagian orang yang sekarang aktif di grup berbayar, atau yang menjalankannya. Tapi ada pertanyaan yang lebih penting selain dari "apakah leader-nya bisa dipercaya?" : Kalau besok porto kamu minus 30%, siapa yang menanggung konsekuensinya? Bukan leader grupnya. Tapi kamu sendiri. Jadi keputusan keluar atau hold, itu hak kamu. Dan seharusnya, tanggung jawab kamu juga. Kamu pernah di posisi ini? Atau pernah lihat orang terdekat yg lagi ngalamin ini?
Aditya Ramanda tweet media
Indonesia
6
6
50
10K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@maaa_broo Katalis keempat yg belum masuk saya perhitungkan bro Dan ini satu-satunya sinyal yg paling ga bisa diprediksi 😄
Indonesia
0
0
0
127
Bro
Bro@maaa_broo·
@aditoss sinyal pidato pak
HT
2
0
0
141
Blue Candle
Blue Candle@bluecandleway·
Kenapa tuh? Masih susun-susun kah? 😛😛
Blue Candle tweet mediaBlue Candle tweet media
Indonesia
16
2
58
14.4K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Haha, gue di sini bukan mau menghakimi siapapun ya om-om semua ✌️ Yg bikin gue nulis ini: setiap kali IHSG crash, yg paling terdampak selalu ritel. Dan yg paling sering gak balik lagi ke pasar juga ritel. Bukan karena pasarnya salah. Tapi karena waktu pertama kali masuk, gak ada yang ngajarin mereka bahwa exit plan itu wajib, bukan opsional. Pasar modal Indonesia butuh ritel yang tumbuh dan bertahan, bukan yang trauma setiap ada koreksi. Itu yang gue mau ikhtiarkan dengan post² kayak gini🙏
Indonesia
2
1
1
176
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Bener banget. 'Mengendalikan diri' di market itu konkretnya satu hal: keputusan exit ditulis sendiri sebelum entry, bukan didelegasikan ke orang lain saat sudah panik. Selama itu belum jadi kebiasaan, siapapun - mau influencer, leader grup, atau bahkan gue - bisa jadi sumber masalah tanpa niat buruk sekalipun
Indonesia
1
0
1
30
DuitMuda
DuitMuda@DuitMudacom·
@aditoss Emang betul, yang begini jangan sampai meletakkan kontrol kita ke orang lain Belajar untuk mengendalikan diri penting banget di market ini ya
Indonesia
1
0
0
33
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Gue sengaja gak sebut nama siapapun, karena ini bukan soal orangnya. Polanya yang perlu dikenali. Dan sayangnya, pola ini gak eksklusif milik satu grup tele. Gue posting ini karena udah beberapa orang yg DM dengan cerita yang sama: udah tahu mau keluar, tapi nunggu konfirmasi dari orang yang insentifnya beda dari mereka. Dan akhirnya terlambat. Kalau satu orang baca ini dan mulai nulis exit plan-nya sendiri sebelum entry berikutnya, itu udah cukup
Indonesia
0
0
0
214
f
f@dtyaaaa·
@aditoss Pipa + "masih akan naik" Udah jelas siapa owner grup nya wkwkwk
Indonesia
1
0
0
234
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@midnightnavyy Makasih udah baca sampe habis ya. Pernah di posisi yg mirip atau lihat orang terdekat yang ngalamin ini?
Indonesia
1
0
0
184
ayyy
ayyy@midnightnavyy·
@aditoss Menarik bgt kak insightnya
Indonesia
1
0
0
246
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@DuitMudacom Terima kasih sobat #DuitMuda Soal musuh, ga masalah. Yang lebih penting: pastikan sobat #DuitMuda tau bahwa nasihat terbaik bisa datang dari siapapun, termasuk dari gue, jadi gak berguna kalau gak ada exit plan yg ditulis sendiri sebelum masuk.
Indonesia
1
0
0
353
DuitMuda
DuitMuda@DuitMudacom·
@aditoss Ini tulisan dan ulasan menarik, bagi siapapun juga tidak boleh asal FOMO Pak, jadi musuh bersama Kang dagang lho nanti Tetap ini nasehat bagus bagi sobat #DuitMuda
Indonesia
1
0
0
438
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Bull Trap ini yg paling bahayanya emang karena terasa seperti konfirmasi. IHSG +12% dari low, asing mulai net buy, MACD crossover positif, semua sinyal "benar" muncul bersamaan. Dan itu yang membuat orang masuk agresif di momen yang paling berbahaya. Menurut saya, yg jadi jadi pembeda Bull Trap dari trend reversal sesungguhnya bukan hanya di chart, tapi di kondisi makro yg belum banyak berubah. Selama tekanan strukturalnya masih ada, setiap kenaikan perlu diperlakukan sebagai hypothesis dulu, bukan konfirmasi🙏
Indonesia
0
0
1
116
manggitgaris | Your Technical Analyst
The Framing Effect: Cara Penyajian Informasi yang Bisa Mengubah Keputusan Investasi A Thread of Trading Psychology Series by manggitgaris | Your Technical Analyst Jangan lupa like, komen dan ritwitt yess
manggitgaris | Your Technical Analyst tweet media
Indonesia
4
20
42
3.4K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Grup telegram saham bisa jadi sumber edukasi yang bagus. Tapi satu hal yang gak pernah bisa digantikan grup manapun: keputusan akhir tetap ada di tangan kamu dan konsekuensinya juga.
Aditya Ramanda@aditoss

Beberapa waktu lalu seseorang DM gue. Dia bilang sedang hold saham, posisi minus, sebetulnya udah mau jual. Tapi sebelum eksekusi, dia tanya dulu ke leader grupnya. Jawabannya: "masih akan naik." Dia gak jadi jual. Sekarang floating loss-nya 140 juta. Dari porto 350 juta. Hampir 40%. Ini bukan cerita tentang saham yg salah pilih. Ini tentang sesuatu yg lebih berbahaya dari saham yg turun: optimisme yang dibangun sistematis oleh orang yang punya kepentingan berbeda dari kamu. Ada satu hal yang jarang dibicarakan soal grup saham berbayar: Leader grup punya insentif yang tidak selalu sejalan dengan keputusan terbaik untuk porto kamu. Mereka perlu member tetap aktif, tetap percaya, dan tetap di dalam grup. Kalau semua orang cut-loss dan keluar, grup bubar. Jadi ketika market merah, narasi defaultnya bukan "evaluasi ulang posisimu", tapi "sabar, tunggu strukturnya balik." Itu bukan penipuan. Itu insentif. Dan insentif jauh lebih berbahaya dari penipuan, justru karena terasa seperti kepedulian. Tiga hal yang perlu dipahami dari pola ini: "Katanya masih naik" bukan analisis. Tidak ada yang tahu saham akan ke mana. Yang ada hanya probabilitas dan framework untuk mengelola ketidakpastian. Ketika seseorang bilang "masih naik" tanpa konteks stop-loss, tanpa exit plan, itu kalimat yang terdengar meyakinkan, bukan analisis. Investor pemula paling rentan bukan karena tidak pintar, tapi karena tapi karena mereka belum punya sistem trading sendiri. Kalau kamu belum punya sistem, kamu default ke sistem orang lain. Dan sistem orang lain didesain untuk prioritas orang lain. Konkretnya: orang itu tidak cut-loss bukan karena dia yakin sahamnya akan naik, tapi karena dia tidak punya angka yang udah ditulis sebelumnya untuk keluar. Kekosongan itu yang diisi oleh suara leader grup. Tidak cut-loss adalah keputusan juga. Keputusan itu punya konsekuensi. Floating loss 140 juta tidak terjadi hanya karena sahamnya turun. Itu terjadi karena tidak ada exit plan dari awal, dan ada orang yang kepentingannya menjaga kamu tetap hold. Gue gak tau apakah 350 juta itu uang yg bisa dia relakan sambil nunggu pemulihan yg enggak jelas waktunya. Yang gue tau: ceritanya bisa jadi sangat berbeda kalau dari awal ada satu pertanyaan sederhana yang dijawab sendiri sebelum beli: "Kalau salah, gue keluar di harga berapa?" Bukan tanya leader grup. Jawab sendiri. Tulis sendiri. Pegang sendiri. Gue sadar ini akan terdengar offensive bagi sebagian orang yang sekarang aktif di grup berbayar, atau yang menjalankannya. Tapi ada pertanyaan yang lebih penting selain dari "apakah leader-nya bisa dipercaya?" : Kalau besok porto kamu minus 30%, siapa yang menanggung konsekuensinya? Bukan leader grupnya. Tapi kamu sendiri. Jadi keputusan keluar atau hold, itu hak kamu. Dan seharusnya, tanggung jawab kamu juga. Kamu pernah di posisi ini? Atau pernah lihat orang terdekat yg lagi ngalamin ini?

Indonesia
0
0
1
286
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Gue pernah average down saham yang sudah turun 30%. Lalu turun lagi. Gue average down lagi. Lalu cut loss di harga yang bikin gue gak bisa tidur tiga malam. Kalau ada sertifikasi resmi untuk itu, gue sudah lulus dengan nilai tertinggi. Tapi dari semua itu, gue sampai pada satu kesimpulan yang mungkin tidak populer: Sebagian besar edukasi investasi di Indonesia mengajarkan hal yang benar tapi dengan urutan yang salah. Orang diajarkan chart sebelum diajarkan berapa besar loss yang sanggup mereka tanggung. Diajarkan cara entry sebelum diajarkan kapan harus exit. Diajarkan cara beli saham sebelum diajarkan bahwa cut loss itu bukan kekalahan, cutloss itu skill yang butuh latihan. Akibatnya, banyak yang masuk pasar dengan analisis teknikal yang cukup bagus tapi gak punya manajemen risiko. Dan ketika IHSG koreksi, bukan chartnya yang menghancurkan mereka, tapi keputusan yang dibuat di tengah panik. Akun ini ada karena gue gak mau orang lain bayar harga yang sama untuk pelajaran yang seharusnya bisa dipelajari lebih murah. Di bawah, gue kumpulin semua yang pernah gue tulis: dari money management, psikologi cut loss, cara membaca kondisi IHSG dari sudut pandang ritel, sampai kenapa banyak strategi yang viral itu berbahaya tanpa konteks yang benar. Bukan karena gue lebih pintar. Tapi karena kesalahan dan kebodohan yang udah pernah gue alami dulu terlalu mahal dan sayang kalau pelajarannya cuma buat gue sendiri.
Indonesia
24
81
440
28.8K
Aditya Ramanda รีทวีตแล้ว
manggitgaris | Your Technical Analyst
Sebaliknya pada saat market bullish, harga tidak serta merta naik terus, kadang turun dulu baru kemudian naik lagi. Saat terjadi turun di posisi market bullish itulah yang dinamakan Bear Trap. Trader yang tidak peka akan merasa bullish sudah berakhir dan menjual saham hanya untuk gigit jari saat harga kembali terbang lebih tinggi.
manggitgaris | Your Technical Analyst tweet media
Indonesia
1
1
0
140
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@HaekalH74470612 Betul, koreksi yang tepat pak. Uang negara adalah uang pajak rakyat, jadi bebannya tetap kembali ke masyarakat, hanya lewat mekanisme redistribusi. Poinnya justru memperkuat argumen: subsidi seperti ini bukan "gratis", ada yang bayar🙏
Indonesia
0
0
1
7
Kal-El
Kal-El@HaekalH74470612·
@aditoss "iurannya dibayar negara", bukan... iurannya dibayar duit pajak dari rakyat.
Indonesia
1
0
0
19
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
BPJS Kesehatan "tekor" Rp 2T/bulan karena menanggung ~267 juta peserta, 96 juta nya adalah PBI, orang miskin yang iurannya dibayar negara. MBG = subsidi konsumsi harian. Dampaknya terasa hari ini. BPJS = proteksi risiko. Dampaknya baru terasa saat musibah, sakit kritis, kecelakaan, kematian pencari nafkah. Biaya berobat itu salah satu pendorong utama kemiskinan. Satu anggota keluarga kena penyakit kritis dan harus dirawat, hancur keuangan keluarga kalo ga di cover sama bpjs. Yg bahkan paling jarang dibahas itu PBI BPJS Ketenagakerjaan untuk pekerja rentan, buruh harian, petani, nelayan, pekerja informal yg masih rendah bgt coverage-nya. Kalau mereka kecelakaan kerja atau meninggal, ga ada JKK, gak ada santunan JKm. Keluarga yang ditinggalkan gak punya mekanisme apapun untuk bertahan. Ini lubang jaring pengaman sosial yang belum banyak disorot.
DiaryTrader@WOLF_of_IHSG

Kocak banget warga Dalam Rapat ama komisi IX DPR di Senayan, Dirut BPJS Kesehatan bilang kalau BPJS Tekor 2T tiap bulan. Masa pada kompak komentnya hampir sama semua: “hentikan MBG, 2 hari aja udah lunas itu yg tekor per bulan” 🤣

Indonesia
6
50
169
16.9K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Data DACH, tapi polanya sama persis di Indonesia. Bedanya: di sana orang ikut finfluencer Instagram. Di sini orang ikut leader grup berbayar Telegram. Mekanismenya identik, rekomendasi yang terdengar seperti analisis, tapi insentif di baliknya gak pernah dijelaskan. -12.66% underperform dalam 3 tahun itu angka rata-rata. Kasus individual bisa jauh lebih dalam, tadi malam ada yg cerita floating loss 40% setelah ikut call grup dan tidak punya exit plan dari awal. Gue tulis konteks Indonesia-nya di sini:
Aditya Ramanda@aditoss

Beberapa waktu lalu seseorang DM gue. Dia bilang sedang hold saham, posisi minus, sebetulnya udah mau jual. Tapi sebelum eksekusi, dia tanya dulu ke leader grupnya. Jawabannya: "masih akan naik." Dia gak jadi jual. Sekarang floating loss-nya 140 juta. Dari porto 350 juta. Hampir 40%. Ini bukan cerita tentang saham yg salah pilih. Ini tentang sesuatu yg lebih berbahaya dari saham yg turun: optimisme yang dibangun sistematis oleh orang yang punya kepentingan berbeda dari kamu. Ada satu hal yang jarang dibicarakan soal grup saham berbayar: Leader grup punya insentif yang tidak selalu sejalan dengan keputusan terbaik untuk porto kamu. Mereka perlu member tetap aktif, tetap percaya, dan tetap di dalam grup. Kalau semua orang cut-loss dan keluar, grup bubar. Jadi ketika market merah, narasi defaultnya bukan "evaluasi ulang posisimu", tapi "sabar, tunggu strukturnya balik." Itu bukan penipuan. Itu insentif. Dan insentif jauh lebih berbahaya dari penipuan, justru karena terasa seperti kepedulian. Tiga hal yang perlu dipahami dari pola ini: "Katanya masih naik" bukan analisis. Tidak ada yang tahu saham akan ke mana. Yang ada hanya probabilitas dan framework untuk mengelola ketidakpastian. Ketika seseorang bilang "masih naik" tanpa konteks stop-loss, tanpa exit plan, itu kalimat yang terdengar meyakinkan, bukan analisis. Investor pemula paling rentan bukan karena tidak pintar, tapi karena tapi karena mereka belum punya sistem trading sendiri. Kalau kamu belum punya sistem, kamu default ke sistem orang lain. Dan sistem orang lain didesain untuk prioritas orang lain. Konkretnya: orang itu tidak cut-loss bukan karena dia yakin sahamnya akan naik, tapi karena dia tidak punya angka yang udah ditulis sebelumnya untuk keluar. Kekosongan itu yang diisi oleh suara leader grup. Tidak cut-loss adalah keputusan juga. Keputusan itu punya konsekuensi. Floating loss 140 juta tidak terjadi hanya karena sahamnya turun. Itu terjadi karena tidak ada exit plan dari awal, dan ada orang yang kepentingannya menjaga kamu tetap hold. Gue gak tau apakah 350 juta itu uang yg bisa dia relakan sambil nunggu pemulihan yg enggak jelas waktunya. Yang gue tau: ceritanya bisa jadi sangat berbeda kalau dari awal ada satu pertanyaan sederhana yang dijawab sendiri sebelum beli: "Kalau salah, gue keluar di harga berapa?" Bukan tanya leader grup. Jawab sendiri. Tulis sendiri. Pegang sendiri. Gue sadar ini akan terdengar offensive bagi sebagian orang yang sekarang aktif di grup berbayar, atau yang menjalankannya. Tapi ada pertanyaan yang lebih penting selain dari "apakah leader-nya bisa dipercaya?" : Kalau besok porto kamu minus 30%, siapa yang menanggung konsekuensinya? Bukan leader grupnya. Tapi kamu sendiri. Jadi keputusan keluar atau hold, itu hak kamu. Dan seharusnya, tanggung jawab kamu juga. Kamu pernah di posisi ini? Atau pernah lihat orang terdekat yg lagi ngalamin ini?

Indonesia
0
1
4
227
Torch
Torch@writingtorch·
FINFLUENCER CENDERUNG BIKIN FOLLOWERS-NYA RUGI DALAM JANGKA PANJANG? Research question: Apakah finfluencer Instagram menghasilkan alpha investasi, atau hanya memperkuat noise pasar? Dataset: 1.056 rekomendasi saham dari 44 finfluencer Instagram di wilayah DACH (Jerman, Austria, Swiss), periode Januari 2019 sampai Oktober 2022. Temuan utama: Portofolio yang mengikuti rekomendasi finfluencer underperform benchmark hingga minus 12,66% dalam tiga tahun #RangkumPaper, dengan judul "Amplifying Noise or Delivering Alpha? Performance Evaluation of Finfluencer Stock Recommendations", Kirschbaum et al. (HHL Leipzig), Finance Research Letters, Mei 2026. DOI: 10.1016/j.frl.2026.110150 Shoutout to mas @RashkaLLC untuk temuan papernya 🫡 Thread lengkap 🧵👇
Raskha@RashkaLLC

Demn

Indonesia
7
18
76
10.5K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Kondisi kyk gini ini yg paling susah dijawab dengan saran singkat, karena jawabannya tergantung pada satu pertanyaan yg cuma km yg bisa jawab: Apakah tesis investasi awal km di saham ini masih valid sekarang, atau udah berubah? Kalau fundamentalnya masih solid dan km yakin sama bisnis jangka panjangnya, hold dengan review berkala masih masuk akal. Kalo tesis awalnya udah gak berlaku, atau km hold hanya karena ga mau merealisasikan kerugian, itu bukan investasi lagi, itu menunggu sesuatu yg belum tentu datang. Minus 40% setelah 1 tahun itu berat. Tapi yang lebih penting dari angkanya: apakah alasan km masuk dulu masih relevan sampenhari ini? 🙏
Indonesia
0
0
0
71
Coffee Life
Coffee Life@CoffeeLife2006·
@aditoss Bang minta saran, ane sdh AVdown skrg min 40% sdh dihold 1 th nih & ngg naik2 😄 gmn solusi nya bang 🥰
Indonesia
1
0
0
78