sejak pertama nyobain, berminggu2 liat grafik selalu menurun merah aka rontok akibat kondisi ekonomi dan geopolitik yg amburadul.
mendadak JAYA naik 17.7%
#bullish!. ayo ayo, yg lain bersemilah ✨
@Beritasatu Jadi ngantor seminggu 4 hari aja kah? Seterusnya?
KPI tolong dibuat kualitatif dengan mengukur kebermanfaatan posisi setiap personel daripada hitungan penghabisan anggaran dan hal2 berbau sangat administratif.
Presiden Prabowo Subianto menyetujui penerapan kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai swasta sebagai langkah efisiensi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional. Kebijakan ini diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, seusai rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (19/3/2026).
Menurut Airlangga, penerapan WFH berpotensi menghemat konsumsi BBM hingga 20% dari penggunaan normal, terutama dari sektor mobilitas harian masyarakat. Rencananya, skema WFH akan diterapkan satu hari dalam lima hari kerja, baik untuk ASN pusat, daerah, maupun pegawai sektor swasta.
Update berita selengkapnya di Beritasatu TV, BeritaSatu.com, YouTube BeritaSatu, dan unduh aplikasi BeritaSatu di iOS dan App Store!
#PrabowoSubianto#WFH#Lebaran#SaatnyaMajuBersama#BeritaSatu
@zohmabokpeuyeum iya aya keneh mamang2 tiket last minute di dunia serba digital ini & bang jago nongkrong2
di garut malang sm aja, bayar toilet masih cash 2k, untung pada baik, buat saya yg cashless ini masih diijinin for free.
next, selalu bw receh. jateng dan jatim masih bertahan di masa lalu
bus malam dengan harga lebaran yg dah mencapai 8xxk + via cicaheum. tempat duduk minim, pegawai semua merokok di bulan ramadhan, antri lorong nyatu ama lalu lalang pedestrian, dan irang berdiri nunghu jadwal. semua bawa kardus
yuk berubah yuk. wahai manajemen cicaheum.
setiap lapor pjk, selalu jd krg bayar 🙃
dulu jaman djp ada tmn yg bs bikin kurang bayarnya diteken dg skip masukin satu komponen penghasilan.
sekarang coretax dah GABISAA
(padal mo nyoba trik si temen 🫠)
smg alokasi penggunaannya bijak. ga omon2 labelin pembayar jd org bijak
hi temen twitter, apakah ada yang punya info unit sewa berbentuk pavilion atau rumah ukuran kecil. dapat ditinggali dengan nyaman dan mudah akses ke dago dsk,
feel free to drop comments atau dm ya. thanks
Wahai adik-adikku sayang, membacalah. Seriously, read. History, biography, philosophy... read.
Membacalah, sayang. I cannot stress this enough. Read books. Stop letting AI make a fool out of you.
I'm saying this out of nothing but love. Please. Read.
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
boxd.it/bHOIJp
@Mdy_Asmara1701 Kuncinya jangan kasih satu tanggung jawab kepada yg bukan ahlinya, kalau ya tunggulah kehancurannya
Ada profesi sipil Dan arsitektur,
Meritrokasi pada Hal apapun, ga pas milih pejabat aja 😌