Narasi romantisasi Bandung tuh udah terlalu lebay untuk merepresentasikan Bandung saat ini.
Kenapa? Ya karena kotanya JELEK.
- Drainase jelek
- Trotoar jelek
- Macet parah
- Transum jelek
- Jalanan jelek
- Penerangan jalan jelek
- Pengelola parkir jelek + pengamen di mana mana
28 tahun idup di Bandung, gatau apa yg improve dari kota ini dari tahun ke tahunnya.
Putri Kusuma Wardhani has just become the first Indonesian women’s singles player to win a World Badminton Championship medal since 2015!
Selamat Putri!!!
#BWC2025
HELP RT‼️
ceritanya temen gw lagi ret” ke sukabumi, dan disana mereka singgah di villa/tempat milik gereja dia, MILIK loh ya bukan sewa. Dan tiba tiba mereka di usir dengan cara yang sangat kasar dan tidak ada etika. Bahkan salib dan alkitab di bakar.
sori party pooper tapi ku sed deh liat ghibli style bisa di-generate dengan ai ini… nyari style yang ikonik gitu kan pasti melewati proses kultivasi bertaun2 ya… trus ini emang ada consent-nya kah dari creator-nya…
Bayangin kita lagi bukber di luar sama keluarga, pas balik ternyata udah ada pemukim Zionis yang udah nempatin rumah kita.
Rumah keluarga Palestina di Hebron ini diambil Zionis pas mereka lagi bukber dan mereka gak bisa ngapa-ngapain karena aparat Israel cuma pada diem aja. Babi.
Mengapa Memaksa untuk THR?
Ramadan datang membawa cahaya. Bulan yang mengajak hati menepi, menunduk, dan menahan diri. Tapi mengapa langkah kita justru berlari ke pasar, bukan ke sajadah? Mengapa sibuk menghitung diskon, bukan dosa?
Mengapa pula meja makan kita lebih banyak isinya dibanding di luar bulan puasa? Dimana letak menahan diri dan merasakan kelaparan dan penderitaan orang miskin?
Budaya konsumtif berlebihan di bulan Ramadan ini akhirnya membuat kita menuntut THR (Tunjangan Hari Raya). Fenomena maraknya permintaan THR oleh ormas, oknum pemda, oknum militer, maupun aparat tingkat RT/RW kepada perusahaan, pedagang, atau warga pendatang yang ngontrak, adalah gejala sosial yang kompleks.
THR sejatinya lahir dari niat baik—tunjangan agar kita bisa menyambut hari kemenangan dengan layak. Tapi lambat laun, niat itu bergeser. THR bukan lagi bentuk kepedulian, melainkan kewajiban tak tertulis. Bahkan jadi ajang tekanan dan paksaan.
Apakah fenomena THR ini justru menunjukkan kegagalan kita menyelami makna Ramadan?
Imam Al-Ghazali pernah menulis:
“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi juga meninggalkan kebodohan, kebohongan, dan kerakusan.”
Namun kini, kerakusan hadir dalam bentuk yang lain: makanan yang lebih variatif, baju baru, hantaran mahal, dan gengsi sosial yang mencekik. Mengapa Ramadan—bulan yang sejatinya menuntun kita pada keprihatinan dan kesederhanaan—malah jadi momen puncak konsumsi dan tuntutan materi?
Kita lupa, Ramadan adalah bulan mujahadah—melawan diri sendiri. Bukan hanya melawan godaan belanja, tapi juga melawan dorongan untuk tampil berlebih di luar batas kemampuan.
Berbagilah THR karena cinta, bukan karena terpaksa. Rayakan lebaran dengan nuansa spiritual, bukan dengan material yang menambah beban sosial.
Barangkali, sudah saatnya kita beri makna baru bagi THR: Tahan Hawa Rakus.
Atau: Taburkan Hikmah Ramadan.
Saatnya kita membangun budaya memberi yang tulus, tanpa pamrih, tanpa paksaan, dalam spirit berbagi rejeki di bulan suci.
Agar Ramadan tak jadi ladang pamrih,
melainkan ladang jernih—
tempat hati bertumbuh,
dan jiwa berserah.
Tabik,
Nadirsyah Hosen