Forest Green
1.4K posts





The moringa tree, known as the “miracle tree”, is one of the most nutrient-dense plants on the planet and is prized for its healing qualities. It also has another huge benefit, according to new research: it’s excellent at removing microplastics from water. cnn.it/4tL6KDG




Gue lihat ribut-ribut Pasar Santa yang katanya sepi. Apa itu fakta atau cuma framing media? Yuk kita ulas bareng. Algoritma gak membawa gue langsung ke liputan media mainstream yang ternyata tayang sejak 22 April 2026. Justru, gue mendengar dari sisi pedagang Pasar Santa. Pemilik Warung Si Hoodie Kuning di Pasar Santa protes dengan pemberitaan tersebut. Lewat akun TikTok @/sihoodiekuninggg, dia bilang klaim Pasar Santa sepi itu gak sesuai fakta. Gue mau bahas dari sisi Jurnalistik, sesuai ilmu dan pengalaman di media mainstream. Kalau kalian punya pandangan tambahan soal fenomena ini, boleh banget komen atau QRT! 1. Proses redaksi Disclaimer dulu, gue gak setuju dengan tindakan doxxing dalam bentuk apapun terhadap jurnalis. Kesalahan di redaksi bukan dosa mutlak reporter di lapangan, ada tanggung jawab editor dan bos-bos media. Oke sekarang kita bahas kasus Pasar Santa yang katanya sepi. Ide reportase "Pasar Santa Sepi" bisa diusulkan reporter ke editor. Namun, mungkin juga itu perintah langsung editor ke reporter untuk liputan. Editor dapat arahan dari siapa? Bisa ide dia atau 'pesanan' dari bos-bos media. Intinya, ketika sudah dieksekusi di lapangan berarti itu hasil kesepakatan rapat redaksi. Semua pihak di media tersebut setuju. 2. Berita itu data dan fakta, bukan opini Sebagai orang yang kuliah Jurnalistik, gue diajarkan untuk menulis berita berbasis fakta. Ada 2 jenis fakta: primer dan sekunder. - Fakta primer: wawancara langsung dan observasi/liputan - Fakta sekunder: data pendukung yang terkait tema berita Gue akhirnya baca isi berita di media mainstream soal Pasar Santa sepi, gak perlu gue sebut media mana. Isinya memang observasi dan wawancara pengunjung serta pedagang. Cuma, statement 1-5 orang yang ditemui di Pasar Santa gak bisa mewakili fakta di lapangan. Itu cocoknya jadi berita dengan angle kondisi tertentu, misal: Pasar Santa Sepi Pengunjung di Hari Kerja; Pasar Santa Sepi di Siang Hari; dan sejenisnya. Kalau kunjungan lu cuma sekali dan di jam tertentu, gak boleh disimpulkan sepi. Kecuali, lu juga pegang fakta sekunder berupa data kunjungan harian, mingguan, atau dari tahun ke tahun sebagai perbandingan. Media mainstream harusnya punya akses ke pengelola pasar. Tanya datanya langsung ke Perumda Pasar Jaya. Kalau ternyata memang pengunjung Pasar Santa turun signifikan, boleh tuh lu bilang sepi. Beda cerita kalau cuma sepi di jam atau hari-hari tertentu. Itu wajar banget, kan gak semua orang 24 jam nongkrong atau belanja di Pasar Santa. 3. Kalau wawancara, wajib bilang dari media Ini kayaknya bukan liputan investigasi deh. Jadi, reporter di lapangan harus jujur ke narasumber yang diwawancarai. Ketika lu wawancara untuk sebuah berita, harusnya perkenalan nama dulu dan bilang dari media mana. Pastikan juga apakah pernyataan narasumber bisa dikutip seluruhnya atau ada bagian yang off the record. Ini gue dengar dari penuturan pedagang Pasar Santa, si reporter katanya bilang wawancara tersebut buat tugas sekolah. Kok tugas sekolah jadi berita di media mainstream? Kalau kasusnya benar begitu, berarti melanggar Kode Etik Jurnalistik dong. Khususon bagian "Profesional" yang mengharuskan jurnalis menunjukkan identitas diri kepada narasumber. 4. Gak semua harus jadi Blok M Gue baca beberapa angle berita yang secara khusus ingin Pasar Santa berubah menjadi seperti Blok M. Kalau polanya begitu, bisa jadi reporter datang dengan pertanyaan yang mengarahkan. - "Pasar Santa sepi ya sekarang? Kalah tenar nih dari Blok M." - "Pasar Santa sekarang sepi banget, gak mau kayak Blok M?" - "Apa sih bedanya Pasar Santa sama Blok M?" Penekanan dibutuhkan agar jawaban narasumber sesuai dengan angle atau isu yang diharapkan redaksi. Apa itu salah? Kalau yang di-highlight dan ditulis cuma part itu, bisa dibilang gak etis. Seharusnya tulis saja dengan jujur semua data yang lu dapat di lapangan. Gak perlu dilebih-lebihkan atau dikurangi. Biar pembaca yang menilai. Ingat juga ya gak semua tempat harus jadi kek Blok M. Perbaikan dan perawatan itu wajib, tapi tetap menyesuaikan branding masing-masing tempat. Dengar apa yang dibutuhkan pedagang dan pengunjung Pasar Santa. Jangan semua tempat dipukul rata! 5. Ketakutan pedagang Konten apapun, apalagi media mainstream, memang powerful. Bisa mempengaruhi persepsi publik. Jadi, gue paham betul ketakutan pedagang soal berita Pasar Santa sepi. Mereka khawatir narasi itu malah membuat Pasar Santa jadi benar-benar sepi. In this economy, seharusnya warga bantu warga. Kalau saran gue sih buat konten yang menampung aspirasi semua atau mayoritas pedagang Pasar Santa. Mereka butuh apa sekarang? Dikumpulkan jadi satu dan bantu disuarakan kepada pengelola, dalam hal ini Perumda Pasar Jaya. Ditagih juga sama-sama komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk perbaikan Pasar Santa dan tempat-tempat lain. Jadi, apakah Pasar Santa benar-benar sepi? Gue sih masih nunggu ajakan ngopi dari Pak Pras @prastow buat melihat langsung kondisi dan apa yang dibutuhkan Pasar Santa sekarang hehehe.











Antri aja Ga usah banyak laga ga usah sok berkuasa di jalan. Tiap tahun gue bayar pajak. Terus mau berisik pula. Awalnya dia bunyikan sirene. Gue bunyikan klakson. Entah mobil siapa, Bila itu mobilnya si Ustad Bangsat HH yang jadi pembohong besar. Makin gue ga mau minggir.,



Read every word from Arne Slot’s post-match press conference after Liverpool’s 1-1 draw with Burnley at Anfield.




