Ihsan Satriawan

6.9K posts

Ihsan Satriawan banner
Ihsan Satriawan

Ihsan Satriawan

@Ihsansatriawan

Engineer @Tokopedia , opinions is my own

Depok Katılım Eylül 2009
1.7K Takip Edilen1K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Ihsan Satriawan
Ihsan Satriawan@Ihsansatriawan·
Hasil obrolan pagi ini dengan istri 😂😅
Indonesia
47
287
2.5K
156.2K
Didit
Didit@kotakmakan·
Ni laporan-laporannya Economist apa nggak bikin investor makin nggak melirik Indonesia. Suram.
Indonesia
37
689
4.5K
80.3K
Ihsan Satriawan retweetledi
Lydia Hallie ✨
Lydia Hallie ✨@lydiahallie·
To add some clarity: you don't pay extra. It's the same subscription, same price per month. What's new our sub now covers two separate pools: · Interactive → sub limits, unchanged · Programmatic → new $20–$200 included(!!) credit, metered at API rates
Lydia Hallie ✨ tweet media
ClaudeDevs@ClaudeDevs

Starting June 15, paid Claude plans can claim a dedicated monthly credit for programmatic usage. The credit covers usage of: - Claude Agent SDK - claude -p - Claude Code GitHub Actions - Third-party apps built on the Agent SDK

English
351
53
760
525.2K
Ihsan Satriawan retweetledi
Zakka Fauzan
Zakka Fauzan@zakkafm·
I still remember vividly, around 9 years ago Ibam initiated #BukaJalanPulang to call diaspora to return home, help advance Indonesia. Now, that hashtag seems not to be relevant anymore. Rather than that, I believe #KaburAjaDulu is a better choice. Time changes everything.
English
4
221
645
17.1K
Ihsan Satriawan
Ihsan Satriawan@Ihsansatriawan·
@adith_wp Di opsi pilihan nya g ada, tp ada codex dan model di daratan sebrang sih ~~~~
Indonesia
0
0
0
46
AWP 🇵🇸
AWP 🇵🇸@adith_wp·
ada yang udah pengalaman pake frontier AI model dan agents buat full rewrite legacy codebase?
Sumida-ku, Tokyo 🇯🇵 Indonesia
16
0
13
2.9K
Ihsan Satriawan retweetledi
Claude
Claude@claudeai·
Effective today, we are: 1) Doubling Claude Code’s 5-hour rate limits for Pro, Max, and Team plans; 2) Removing the peak hours limit reduction on Claude Code for Pro and Max plans; and 3) Substantially raising our API rate limits for Opus models.
English
1.3K
4K
44.6K
9M
MZP
MZP@Maz_Ipan·
Celana yang dulunya sempat berasa seret, sekarang sudah mulai melonggar kembali.
Indonesia
1
0
0
201
Ihsan Satriawan retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Bismillahirrahmanirrahim. Hari ini, izinkan saya Ririe, mewakili Ibam dan anak-anak kami, menyampaikan Surat Terbuka kepada Pemimpin tertinggi negeri, Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto. Dengan segala kerendahan hati, kami memohon perlindungan hukum dari ketidakadilan yang kami hadapi. Agar kebenaran tidak dikalahkan oleh hal-hal di luar fakta persidangan. Agar keadilan benar-benar ditegakkan sebagaimana mestinya. Kami percaya, negara tidak boleh membiarkan warganya merasa sendirian dalam menghadapi ketidakadilan. Semoga surat ini sampai dan diterima dengan baik oleh Bapak Presiden. Demi keadilan berdiri setegak-tegaknya di negeri ini. Demi hilangnya rasa takut dari mereka-mereka yang dengan jujur dan tulus hendak membantu negara dengan keahlian mereka. Terima kasih, Bapak Presiden @prabowo 🙏🏻
Ibrahim Arief tweet media
Indonesia
230
7.7K
13K
385.2K
Ihsan Satriawan retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi. Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas". Saya tolak, ngga mau bohong & zalim. Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka. Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua. Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan. Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan: Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong. Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran. Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak. Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.” Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran. Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar. Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia. Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe. Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif. Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah. Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan. Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir. Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan. Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan... Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan. Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini. Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini. Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara. Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Ibrahim Arief tweet media
Tom Wright@TomWrightAsia

UPDATE: Ibrahim Arief (Ibam) — the tech consultant facing 15 years — just told a press conference he was coerced to turn on Nadiem but refused to do so. In 30 years, the playbook hasn’t changed. A deeply corrupt legal system used to intimidate and coerce ordinary Indonesians.

Indonesia
372
8.5K
12.1K
740.9K
Ihsan Satriawan retweetledi
Giri Kuncoro
Giri Kuncoro@girikuncoro·
True seniority isn’t about writing the fanciest code It’s humility + deep respect: for your teammates and for existing/legacy systems that got your company far The best senior engineers I’ve worked with: listen first, break nothing unnecessarily, and honor what already works
English
4
42
268
7.6K
Ihsan Satriawan retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara? Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu. Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun. Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara. Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai. Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain. Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi. Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook. Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa: 1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN. 2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal. 3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu. 4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan. 5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian. Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam. Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka. Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam. Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan. Ibam dituntut 22,5 tahun penjara. Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja. Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam. Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek. Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan. JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun. Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara. Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan. Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga. Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum. Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi. Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun... Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit. Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus. Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini? Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara? Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian. Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi. Jakarta, 16 April 2026 Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
Ibrahim Arief tweet mediaIbrahim Arief tweet mediaIbrahim Arief tweet mediaIbrahim Arief tweet media
Indonesia
828
14.2K
20.4K
2.9M
Ihsan Satriawan
Ihsan Satriawan@Ihsansatriawan·
@levifikri Kasih PRD, codebase ny dmn, lets AI execute and test it 🥹😆
Indonesia
0
0
0
397
Levi | still learning
Levi | still learning@levifikri·
IMO, jika masih lakuin 2 ini, masih belum productive enough pake AI: - Masih ngetik code walau 1 baris - Masih pake autocomplete AI (instead of agentic) - Masih kasih AI solusi instead of kasih problem - Masih belum punya test cases
Steve Yegge@Steve_Yegge

I was chatting with my buddy at Google, who's been a tech director there for about 20 years, about their AI adoption. Craziest convo I've had all year. The TL;DR is that Google engineering appears to have the same AI adoption footprint as John Deere, the tractor company. Most of the industry has the same internal adoption curve: 20% agentic power users, 20% outright refusers, 60% still using Cursor or equivalent chat tool. It turns out Google has this curve too. But why is Google so... average? How is it that a handful of companies are taking off like a spaceship, and the rest, including Google, are mired in inaction? My buddy's observation was key here: There has been an industry-wide hiring freeze for 18+ months, during which time nobody has been moving jobs. So there are no clued-in people coming in from the outside to tell Google how far behind they are, how utterly mediocre they have become as an eng org. He says the problem is that they can't use Claude Code because it's the enemy, and Gemini has never been good enough to capture people's workflows like Claude has, so basically agentic coding just never really took off inside Google. They're all just plodding along, completely oblivious to what's happening out there right now. Not only is Google not able to do anything about it, they don't seem to be aware of the problem at all. I'm having major flashbacks to fifty years ago as a kid at the La Brea Tar Pits, asking, "why can't they just climb out?" My Google friend and I had this conversation over a month ago. I didn't share it because I wanted to look around a bit, and see if it's really as bad as all that. I've been talking to people from dozens of companies since then. And yeah. It's as bad as all that. Google is about average. Some companies at the bottom have near-zero AI adoption and can't even get budget for AI. They may have moats and high walls, but the horde is coming for them all the same. And then there are a few companies I've met recently who are *amazingly* leaned in to AI adoption. One category-leader company just cancelled IntelliJ for a thousand engineers. That's an incredibly bold move, one of many they're making towards agentic adoption. In my opinion, that company is setting themselves up for a _huge_ W. As for the rest, well, it's the Great Siloing. Everyone's flying blind. With nobody moving companies, no company knows where they stand on the AI adoption curve. Nobody knows how they're doing compared to everyone else. Half of them just check a box: "We enabled {Copilot/Cursor} for everyone!" Cue smug celebrations. They think this is like getting SOC2 compliance, just a thing they turn on and now it's "solved." And they don't realize that they've done effectively nothing at all. All because of a hiring freeze.

Indonesia
14
16
240
29K
Ihsan Satriawan retweetledi
Levi | still learning
Levi | still learning@levifikri·
Hal unik lain, menurut saya cara optimize pake AI itu simple: Lazy mindset 😆 Gak lazy: bikin draft PRD, kasih ke Al buat improve Lazy: kasih one paragraph problemnya (or even just copy paste meeting notes), minta AI bikinin PRD Gak lazy: troubleshooting problem, copas tanya ke AI Lazy: kasih MCP ke logs, minta AI troubleshoot dan benerin Gak lazy: masih review code line by line manually Lazy: minta AI bikinin guardrails: test cases dan CI, review very high-level aja Gak lazy: baca dan pahami code sendiri Lazy: minta AI jelasin, high level, then ask low levelnya if needed Gak lazy: baca official docs sendiri, berusaha memahami Lazy: minta AI baca dan jelasin. Or even minta pahami GitHubnya sekalian Gak lazy: bikin prompt yang bagus buat AI Lazy: minta AI bikin prompt yang bagus buat AI Apa lagi ya tips lazy lainnya? 😁 *Saya produktif hasilin banyak code beberapa bulan ini. Tanpa write satupun line of code
Levi | still learning@levifikri

Dulu: Bikin prompt sedetail mungkin, biar gak halu, sesuai yang kita minta, dan gak jelek hasil AInya Sekarang: Bikin high level aja promptnya, hasil eksplorasi AI seringkali lebih wow daripada yang kita pikirin. Biarkan dia berkreasi, jangan dikekang Next: "Hi AI, idk what to do, cari problem dan bikin solusinya donk"

Indonesia
11
29
309
20.4K
Ihsan Satriawan retweetledi
Bayu Aji Bandoro
Bayu Aji Bandoro@bayuajibandoro·
Izin saya menambahkan konteks biar diskusinya lebih tajam. Kasus ini bukan cuma soal "jasa editing dihargai Rp 0." Itu memang bagian paling mencolok dan bikin emosi, tapi masalah strukturalnya lebih dalam. Amsal Christy Sitepu itu videografer yang bikin video profil untuk 20 desa di Kabupaten Karo, masing-masing Rp 30 juta. Videonya jadi, sudah tayang di YouTube, dan 20 kepala desa yang jadi saksi di persidangan bilang tidak ada masalah dengan pekerjaannya. Satu pun tidak ada yang komplain. Yang bikin masalah adalah, auditor Inspektorat Karo menetapkan harga wajar cuma Rp 24,1 juta per video. Selisih Rp 5,9 juta dikali 20 desa, jadilah "kerugian negara" Rp 202 juta. Dan di dalam perhitungan RAB versi auditor itu, lima komponen pekerjaan kreatif, yaitu penciptaan ide/konsep, cutting, editing, dubbing, dan penggunaan mic/clip-on, semuanya dipatok Rp 0. Nol. Alasannya? Tidak ada kwitansi fisik pembelian dari pihak ketiga. Karena proses editing itu terjadi di kepala dan di depan layar komputer, bukan beli semen yang ada notanya. Nah, ini yang perlu kita lihat lebih jernih. Logika auditor itu memang cacat, tapi cacatnya bukan karena orangnya bodoh. Cacatnya karena Standar Harga Satuan di hampir semua pemda di Indonesia memang tidak punya acuan untuk menghargai kerja kognitif. Pemda fasih menghitung harga semen per sak, aspal per ton, konsumsi rapat per orang. Tapi tarif per jam kerja editor video? Biaya amortisasi lisensi software editing? Tidak ada pedomannya. Jadi ketika auditor dihadapkan pada komponen yang tidak bisa dibuktikan dengan nota belanja fisik, mereka ambil jalan paling "aman" secara birokrasi, yaitu menolkannya, daripada dianggap subjektif oleh BPK di atasnya nanti. Tapi bukan berarti itu bisa dibenarkan Yah. Menolkan nilai editing sama saja bilang bahwa raw video bisa langsung jadi video koheren tanpa campur tangan manusia. Menolkan ide kreatif sama saja bilang storyboard, konsep visual, dan narasi itu muncul dari udara kosong. Ini penyangkalan total terhadap kekayaan intelektual. Dan ada masalah hukum yang mungkin luput dari perhatian publik. Amsal didakwa pakai Pasal 3 UU Tipikor, yang intinya soal "menyalahgunakan kewenangan karena jabatan." Masalahnya, Amsal itu vendor swasta. Dia tidak pegang jabatan di pemerintahan, tidak punya akses untuk mencairkan dana APBDes, tidak punya wewenang administratif apa pun. Yang punya wewenang otorisasi pencairan dana itu justru kepala desa. Tapi 20 kepala desa itu cuma dijadikan saksi, bukan tersangka. Yang ditahan justru penyedia jasanya. Agak aneh kalau dipikir, ya. Saya nggak bilang Amsal pasti benar seratus persen. Bisa saja ada selisih harga yang perlu dipertanyakan. Tapi kalau memang ada kelebihan bayar, mekanisme koreksinya seharusnya lewat jalur administrasi atau perdata, bukan langsung dilompati jadi pidana korupsi. Apalagi dengan nominal yang kalau dipecah per desa cuma selisih kurang dari Rp 6 juta. Besok, 30 Maret, Komisi III DPR akan gelar RDPU soal kasus ini. Dan vonis dijadwalkan 1 April. Semoga majelis hakim punya keberanian untuk melihat bahwa ada yang salah dengan cara kita menghargai kerja kreatif di negara ini. Karena kalau preseden ini dibiarkan, siapa yang berani ambil proyek pemerintah lagi? Ini perspektif saya yah, bisa jadi ada sudut yang belum saya lihat.
Indonesia
181
3.9K
7.5K
326.1K
Ihsan Satriawan retweetledi
swyx 🇸🇬 AIE Singapore!
bought a new mac to give my clanker a hand-me-down and realized... i have like 4 years of macbook setup blogposts i can just give @claudeai. bro is just oneshotting converting every tech stack opinion i have into bash scripts* golden age for people who blog everything they do tbh *and i can walk away from my laptop and periodically check in on my phone!!!
swyx 🇸🇬 AIE Singapore! tweet media
Andrej Karpathy@karpathy

I usually just go down the list of a few posts and cheery-pick, e.g.: swyx.io/new-mac-setup sourabhbajaj.com/mac-setup/ github.com/maoxiaoke/setu… for this round I think the major deviation is that I'm going to give @warpdotdev a shot as my Terminal. It looks nice only they are sketching me out a bit with their telemetry, and for some reason needing a login and a connection to the internet.

English
41
11
342
49.2K