Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp

1K posts

Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp banner
Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp

Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp

@KomakFEB_UI

merendah untuk menggokil

Katılım Aralık 2021
68 Takip Edilen41 Takipçiler
Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp retweetledi
Faris Abdurrachman
Faris Abdurrachman@farisrachman_1·
Intinya yang dilakuin Ferry itu dia cuma bikin asumsi sendiri range multiplier fiskal terhadap pertumbuhan (1.2 sampe 1.4?), terus bikin counterfactual growth sendiri dengan multiplier itu. Itu mah masih accounting exercise namanya. Ga ada ekonometrikanya. Ga ada persamaan regresi, ga ada tabel regresi, murni bikin range fiscal multiplier sendiri (padahal ada di literatur dan tinggal dikutip) terus dikaliin dengan pertumbuhan pengeluaran pemerintah secara historis. Lagian anak makro beneran juga tau approach ekonometrika sesimpel regresi makroekonometrika y x untuk simulasi counterfactual makro jelas-jelas udah ditinggalkan di ilmu makroekonomi. Perlu identifikasi tambahan untuk mencegah problem endogenitas, hence model ekonometrika di makro itu pake SVAR, local projections (ini yang gue handle waktu di IMF). Lebih afdhal lagi model sendiri pake model DSGE lah misalkan dengan microfoundations yang bener. Tapi untuk mengerti ini semua perlu paham Lucas critique dan ekonometrika time series (materi S1 ilmu ekonomi lanjutan dan S2 ilmu ekonomi) jadi ya understandable lah kalau pemahaman ekonominya baru sebatas Mankiw. Kalau sekadar komentar kualitatif emang ya ga perlu pendidikan tinggi di ilmu ekonomi (bisa otodidak), tapi kalo udh mau ngasih angka yang bisa dipertanggung jawabkan, bikin pemodelan, wajib hukumnya ikutin pendidikan formal di bidang ilmu ekonomi.
zero sum game@sad_muel

Terlepas dari background, video ini sudah misleading. Saya tidak menemukan adanya elemen ekonometrika di video ini 🤷‍♂️

Indonesia
26
293
1.2K
86.5K
Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp retweetledi
zhil
zhil@zhil_arf·
Khayalan Libur Lebaran 20 Mei 1998: Amien Rais memutuskan melanjutkan demo People Power. Pagi hari, ratusan ribu orang mulai bergerak dari Senayan menuju Monas. Mereka diblokade di Jl. Sudirman oleh pasukan tentara yang besar. Ketegangan. Tembakan. Lalu, kebingungan. Sepertinya terjadi semacam konflik di internal pasukan tentara yang ditugaskan memblokade. Beberapa tentara tewas. Sebagian pasukan menarik diri. Susunan barikade dan kawat berduri yang disusun buyar berantakan. Belakangan diketahui bahwa kedua faksi pasukan yang bertikai dikomandoi oleh jenderal-jenderal yang berbeda. Belakangan diketahui juga bahwa banyak dari pasukan dan perwira saat itu meragukan perintah "Tiananmen" yang mereka terima. Melihat kekacauan ini, massa pendemo mengambil inisiatif dan bergerak maju. Yang mengejutkan, pasukan tentara yang tersisa tampaknya kebingungan dan tidak mencoba menghentikan mereka. Rekaman-rekaman menggegerkan segera bermunculan di TV nasional: pendemo Reformasi menaiki truk tentara dan tank sambil mengibar-ngibarkan bendera dan spanduk. Moncong senjata dan turret tank yang dibawa tentara diisi dengan tangkai-tangkai bunga oleh para pendemo. Dalam waktu singkat, Semanggi, SCBD, Bundaran HI, Thamrin, lalu Medan Merdeka dan Monas sudah diserbu dan diduduki ratusan ribu pendemo yang jumlahnya terus bertambah. Di depan Monas, Amien Rais, Megawati, dan Gus Dur memanggil rakyat untuk turun ke jalan sekarang juga. Melihat tidak ada konflik berdarah, rakyat dalam jumlah jutaan turun ke jalan memenuhi panggilan para figur pemimpin Reformasi dengan disiarkan di TV, seperti Revolusi EDSA di Filipina. Misal di Bandung, suasananya meriah dan berpuluh kali lipat lebih besar dari konvoi bobotoh Persib, dan bobotoh Persib ikut turun. Di Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Makassar, dan berbagai kota lainnya, jalanan dan jembatan layang dan taman dan alun-alun dipenuhi rakyat yang menggelar tikar dan botram di jalan, bermotoran konvoi, mendirikan panggung dangdut, menjual minuman dan rokok dan cilok dan sate Madura dengan gerobak, dan membawa keluarga dan anak dan bayi mereka ke dalam tumpahan massa yang semakin membesar. Di depan jutaan massa raksasa di seluruh Indonesia itu, Amien Rais membacakan Enam Tuntutan Reformasi: 1. Adili Soeharto dan kroni-kroninya 2. Amandemen UUD 1945 3. Hapus Dwifungsi ABRI 4. Laksanakan otonomi daerah seluas-luasnya 5. Tegakkan supremasi hukum 6. Ciptakan pemerintahan yang bersih KKN Kepadatan terus berlangsung bahkan setelah larut malam. Sekolah, kantor kosong dan aktivitas ekonomi lumpuh karena semua orang ikut-ikutan ke jalan. Konvoi-konvoi raksasa motor, mobil, dan truk pendemo memacetkan seluruh jalanan Jakarta sampai lumpuh. Jutaan pendemo yang berjam-jam menduduki Monas hingga malam hari dan hari esoknya mendapat bantuan besar berupa suplai nasi bungkus dan air mineral. Belakangan diketahui bahwa suplai logistik raksasa anonim tersebut berasal dari sekelompok pengusaha pro-Reformasi seperti Arifin Panigoro. Selama malam 20-21 Mei, dari Monas, massa pendemo terus membludak hingga tumpah melimpah ke Jl. Medan Merdeka Utara, Jl. Majapahit, dan Jl. Ir Juanda. Istana presiden terkepung oleh massa pendemo yang semakin besar. Sekelompok massa juga bergerak menuju Jl. Cendana, tetapi dihalau oleh pasukan tentara. Staf-staf di dalam Istana presiden dapat mendengar Enam Tuntutan yang terus diulang-ulang (tiap poin tuntutan disambut dengan jeritan "setuju" gegap gempita), juga lagu-lagu demo yang dinyanyikan: "🎵 Gantung... gantung... gantung Soeharto... gantung Soeharto di atas Monas." Pada pagi 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri di depan live TV. Siaran TV itu ditampilkan di layar-layar proyektor yang telah digelar di Monas. Jutaan massa yang menduduki kota-kota besar Indonesia gegap gempita. Perayaan besar, kembang api siang hari, pesta dangdut dadakan, dan pesta konvoi motor pecah merayakan kejatuhan Soeharto dan kemenangan lautan massa. Di tengah pesta rakyat spontan itu, tiba tiba tersebar berbagai rumor mengagetkan dan liar: - Bahwa terjadi tembak-tembakan di Mabes ABRI di Cilangkap; - Bahwa Panglima ABRI, Wiranto, tidak diketahui keberadaannya; - Bahwa Kopkamtib telah dibentuk dan telah mengambil alih kepemimpinan komando ABRI untuk sementara, - Bahwa presiden yang baru saja dilantik, B.J. Habibie, dilarikan ke luar Jakarta dengan pesawat; - Bahwa Jakarta berada dalam status Darurat Militer, - Bahwa pelaksanaan Darurat Militer di Jakarta dilaksanakan langsung oleh salah satu jenderal yang telah ditunjuk sebagai Panglima Kopkamtib; - Bahwa terlihat berbagai pergerakan tentara dan tank di jalanan Jakarta; - Bahwa Megawati dan Gus Dur diculik oleh suatu pasukan tentara; - Bahwa Ketua DPR/MPR, Harmoko, memanggil semua elemen masyarakat untuk "turun ke jalan sekarang juga" untuk "menggagalkan kup Neo-G30S", - Bahwa Rais Aam NU, K.H. Ilyas Ruhiat, bersama berbagai ulama pembesar NU yang berkumpul di Jawa Timur telah mengeluarkan fatwa jihad fisabilillah untuk menyelamatkan Gus Dur dari penculikan tentara, dan bahwa setiap Muslim yang tewas dalam usaha itu dijamin masuk surga tanpa hisab. Massa dalam jumlah jutaan yang terkonsentrasi di Monas menjadi terprovokasi. Dalam situasi tegang itu, Amien Rais muncul di depan Monas dengan ekspresi wajah yang cemas namun keras, dan mengumandangkan permintaan yang nantinya sering disandingkan dengan Penyerbuan Kastil Bastille saat Revolusi Prancis 1789: "Serbu. Serbu." Dalam waktu singkat, salah satu markas ABRI di sisi timur Monas yang dipercaya menjadi markas kendali operasi Kopkamtib diserbu ratusan ribu massa. Puluhan orang tewas menjadi martir yang ditembak tentara dalam serbuan ini. Ini hanya mengakibatkan ratusan ribu massa yang bergerak menjadi semakin mengamuk dan beringas, hingga pagar dan gerbang berhasil dirobohkan dan bobol ditembus. Markas segera dimasuki dan seluruh isi gedungnya diduduki massa. Kamerawan merekam gerombolan massa membawa spanduk yang menduduki garasi, meja-meja kantor, dan ruang rapat strategis gedung tersebut dan menyiarkannya ke TV. Gelimpangan puluhan jenazah Pahlawan Reformasi secara terbuka dikumpulkan, dimandikan, dan dikafani di atas aspal Jl. Medan Merdeka Timur, sebelum ramai-ramai digotong ke dan disholatkan di Masjid Istiqlal. Lagu "Gantung... gantung..." berubah lirik, dari yang awalnya nama Soeharto, menjadi nama jenderal yang dirumorkan telah menjadi Pangkopkamtib. Jutaan orang Muslim di Indonesia tumpah ruah memenuhi masjid untuk melakukan sholat gaib terhadap puluhan jenazah pendemo yang mati tertembak. Belakangan diketahui bahwa sebagian besar rumor itu hanyalah hoax, termasuk soal penculikan Gus Dur dan Megawati dan fatwa jihad, sedangkan sisanya (seperti pergerakan tentara liar) adalah betul tindak sekelompok oknum tentara yang dibawahi beberapa oknum jenderal. Meskipun begitu, efeknya dahsyat: salah satu simbol kekuasaan Dwifungsi ABRI kini diduduki pendemo. Pada pukul 18.00 tanggal 21 Mei 1998, Presiden Habibie, Cak Nur, dan Wiranto (yang ternyata masih hidup dan menjabat sebagai Panglima ABRI) akhirnya muncul di konferensi pers live dan mengumumkan: - Bahwa isu Kopkamtib dan hilangnya Wiranto adalah hoax; - Bahwa isu tembak-menembak di Mabes ABRI di Cilangkap juga adalah hoax dan "Tidak ada yang terjadi di Cilangkap pada 21 Mei 1998" (hal ini dibantah oleh banyak warga setempat yang mendengar dan melihat berbagai aktivitas militer); - Bahwa 8 orang pejabat tinggi sudah dipecat: Pangkostrad, Pangkopassus, Pangdam Jaya, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Sosial, dan Menteri Industri dan Perdagangan, serta bahwa saat ini mereka sudah diamankan; - Bahwa telah dibentuk suatu Komite Reformasi non-partisan dengan Cak Nur sebagai ketuanya dengan tugas menghimpun segala usulan Reformasi untuk mendukung pelaksanaan Sidang Istimewa MPR yang akan dipercepat; - Bahwa besok, suatu Kabinet Reformasi Pembangunan akan diumumkan; - Bahwa pemerintah berterima kasih kepada massa Reformasi dan bahwa hari ini, 21 Mei 1998, terbukti menjadi suatu Hari Kesaktian Demokrasi; - Bahwa oleh karena itu, massa dimohon tenang dan membubarkan diri karena pemerintah sudah berkomitmen terhadap Reformasi. Konferensi pers malam itu kemudian dibalas konferensi pers tandingan di Monas dan dihadiri Megawati, Gus Dur, Amien Rais, HB X, dan berbagai tokoh Reformasi yang lain, yang isinya mengulang Enam Tuntutan Reformasi dan mengajak rakyat mempertontonkan jumlah dan suara mereka di hadapan rezim, karena "Reformasi belum selesai". Jalanan semua kota di Indonesia tumpah ruah dengan konvoi motor, ondel-ondel, kembang api jarak dekat, kendang, bedug di atas truk, dan pesta rakyat yang bersuka cita merayakan kemenangan dan kejatuhan Soeharto. Masjid-masjid di seluruh Indonesia kompak mengadakan takbiran seolah hari Lebaran. Artis-artis terkenal turun menggelar konser mendadak dan seadanya di Monas dan berbagai alun-alun kota. Ribuan orang dilarikan ke rumah sakit karena perkelahian saat mabuk atau kecelakaan kendaraan. Di tengah chaos gegap gempita, konvoi anarkis memutari kota, pesta dangdut, dan kekacauan perayaan raksasa malam itu di kota-kota, sekelompok oknum massa anarkis beringas berhasil menerobos penjagaan tentara di Jl. Cendana, memasuki rumah keluarga Soeharto, menjarahnya, dan membakarnya. Rumah-rumah milik anak Soeharto di sekitarnya juga ikut dijarah dan habis dibakar. Soeharto dan seluruh anggota keluarganya dikabarkan kabur terbirit-birit dan terpencar-pencar ke luar negeri dengan berbagai pesawat milik pribadi dan AU untuk menghindari "pengadilan rakyat". Dirumorkan bahwa ketika menaiki pesawat, salah satu anak Soeharto, Tutut, tersandung dan jatuh berguling di tangga pesawat dan tewas setelah kepalanya retak menghantam aspal, karena koper berisi emas perhiasan yang ia gotong terlalu berat. Sementara itu, konvoi mobil yang membawa Tommy Soeharto terjebak dan dicegat oleh massa random di daerah Slipi yang sedang pawai ondel-ondel. Awalnya massa tidak mengetahui isi konvoi itu. Kemudian terjadi rentetan tembakan pistol dari mobil yang menewaskan banyak warga setempat. Tommy dan preman-preman bodyguardnya pun diseret keluar dari mobil dan dihajar warga sampai tewas. Tubuh mereka diikat dengan tali ke beberapa sepeda motor. Kemudian, dengan diiringi arak-arakan besar warga setempat dan dentuman musik dangdut, mayat Tommy dan anak-anak buahnya diseret di jalanan aspal sepanjang 8 km dari Slipi ke Monas untuk dipersembahkan sebagai "hewan kurban" perayaan Hari Kesaktian Demokrasi. Ketika para figur pemimpin Reformasi menolak pertunjukan "barbar" itu, arak-arakan pergi meninggalkan lingkungan Monas dan menggantung terbalik mayat Tommy dan anak-anak buahnya di Indomaret terdekat. Di leher Tommy dicantolkan sebuah papan yang bertuliskan, "Milik Rakyat". Figur-figur pemimpin Reformasi secara publik mengecam aksi-aksi anarkis sadis yang merusak itu. Pentolan-pentolan aksi diamankan polisi. Meskipun begitu, muncul usulan supaya negara segera menyita seluruh aset rekening, properti, perusahaan, dan kekayaan milik pribadi keluarga Cendana yang telah ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya yang kabur. Dalam beberapa hari selanjutnya, pencurian dan penjarahan sporadis terus terjadi terhadap aset milik atau diduga milik keluarga Cendana. Berbagai mobil mewah, baju, perhiasan emas, perabotan, dan koleksi arca dan lukisan milik keluarga Cendana yang berhasil dijarah dikumpulkan dan dipamerkan dalam suatu Pameran Kesaktian Demokrasi di lapangan Monas.
zhil tweet media
zhil@zhil_arf

Pada 20 Mei 1998, ada demo raksasa yang batal dilakukan, yaitu demo "People Power" di Monas. Demo dibatalkan karena ancaman "Tiananmen", yaitu ABRI turun membantai mati ribuan atau boleh jadi puluhan ribu pendemo di jalanan, seperti China 1989. Ancaman itu diterima Amien Rais lewat telepon pada malam hari 19 Mei 1998, tepat menjelang dilakukannya People Power raksasa. Saat itu, massa demo raksasa yang sudah menduduki gedung DPR dan dipimpin Amien Rais berencana pindah berjalan massal lewat SCBD ke Monas. People Power. Tanggalnya cantik, yaitu peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang jadi tonggak awal perjuangan kemerdekaan nasional awal abad 20-an. Istana presiden hanya berjarak sejengkal dari lapangan Monas. Kalau Monas sampai diduduki massa raksasa, boleh jadi Istana dan isinya juga akan dimasuki dan diduduki pendemo. Reformasi akan bisa "dituntaskan" oleh pendemo yang berjejalan masuk ke ruang kerja presiden Soeharto, mengundang kamerawan media, dan berfoto di situ dengan viral sambil bawa spanduk. Apabila itu sampai berhasil dilakukan, wibawa kekuasaan pemerintahan Orde Baru akan benar-benar roboh. Tentara, panzer, tank, dan kawat berduri yang saat itu ada di Jakarta pun dimobilisasi untuk mencegah itu terjadi, dengan cara apapun. Apapun. Pada akhirnya demo tersebut tidak benar-benar perlu untuk menggulingkan Soeharto, karena semua ruling elite Indonesia sudah tidak percaya bahwa Soeharto yang panik, bingung, sakit, dan pikun akan bisa menyelesaikan krisis ini. Soeharto sendiri diberitahu oleh pimpinan ABRI bahwa ABRI sudah "tidak bisa lagi menjamin keamanan pribadi Soeharto". Kalau ada massa pendemo marah yang masuk ke rumah Cendana dan membantai mati seluruh keluarga Soeharto dengan kapak, ups, sori, tapi ABRI di lapangan sudah "kewalahan". Soeharto langsung mundur.

Indonesia
9
70
320
28.1K
Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp
Mandiri bisa dibilang good ending, saatnya spend more resource buat self-upgrade. Gw cukup sadar masa kecil gw kekurangan cerita fiksi dan fantasi. Apakah sudah waktunya gas nonton Game of Thrones? 😆
Indonesia
0
0
0
15
Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp retweetledi
M. Chatib Basri
M. Chatib Basri@ChatibBasri·
Membaca evaluasi mahasiswa untuk kelas seminar yang saya ampu di Harvard Kennedy School memberi saya satu pengingat sederhana: policy making ternyata lebih dekat ke dunia yang serba tidak sempurna dibanding ke textbook yang rapi. Dan bagi seorang guru biasa seperti saya, tidak ada yang lebih membahagiakan selain mengetahui bahwa apa yang kita bagikan ternyata berguna bagi para mahasiswa. Di kelas, kami bicara tentang krisis, ekonomi politik, birokrasi, vested interests. Tentang bagaimana ekonomi di dunia nyata sering kali bergerak di wilayah abu-abu: data tidak lengkap, waktu sempit, tekanan besar. Pada akhirnya, pendidikan kebijakan publik bukan mencari jawaban yang selalu benar, tetapi belajar bagaimana keputusan terbaik bisa dibuat dalam dunia yang sub-optimal.
M. Chatib Basri tweet mediaM. Chatib Basri tweet media
Indonesia
4
126
555
13.5K
Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp retweetledi
Apstud. | Open Commission | Jasa Ilustrasi
Mengapa kaum yang mengaku "terdidik" ini mendadak buta huruf secara sosiologis? Sebuah utas👇 𝗞𝗘𝗧𝗜𝗞𝗔 𝗠𝗘𝗡𝗔𝗥𝗔 𝗚𝗔𝗗𝗜𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗧𝗔 𝗛𝗨𝗥𝗨𝗙 𝗧𝗘𝗥𝗛𝗔𝗗𝗔𝗣 𝗞𝗔𝗟𝗘𝗡𝗗𝗘𝗥 𝗥𝗔𝗞𝗬𝗔𝗧
Indonesia
48
1.2K
1.4K
201.6K
Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp retweetledi
hikari || 7A Term. Bratang - Stasiun Psr Turi
@Dospemz kesehatan gratis itu dari uang prabowo? MBG dan printil2annya itu dari uang pribadi prabowo? oiya kesehatan gratis itu gmn konsepnya? BPJS PBI per tahun ini aja banyak yg gak dapet lagi MBG itu kalo ditolak, nanti rumahnya didatengin polisi/TNI loh, diancam harus menerima
Indonesia
1
114
939
9.1K
Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp
@cczieey banyak orang akselerasi intelektual tapi sedikit (dan memang lebih sulit) akselerasi mental. kedewasaan memang gak bisa dibeli dan waktu sangatlah menyiksa
Indonesia
0
1
1
275
cicicaca
cicicaca@cczieey·
valid sih HAHAHA :p intelligence emang attractive, apalagi kl cara mikirnya luas, visioner, komunikasinya enak, dan auranya “i know what i’m doing” 🤓 TAPI buat aku pribadi, pinter itu bonus. karena percuma juga kalau pintar tapi emotionally immature, ga respectful, atau bikin capee mental 😭 the real attractive thing is when someone can be smart AND still kind, grounded, dan ngerti cara treat people properly.
@mendadaknih

eh valid ga sih? cewek itu lebih suka sama cowok yang pinter, serba tau, visioner, dan fokus di action-nya. apalagi komunikasinya nyambung ditambah public speakingnya bagus.

Indonesia
26
984
4.1K
97.7K
Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp retweetledi
Ahmad Jilul Q. Farid 🇵🇸
Buat rezim, kita boleh marah, tapi marah yg terkanalisasi. Terkanalisasi agar jangan sampai terorganisir dari bawah, di luar kendali rezim. Nah tugas Ferry Irwandy dkk ini mengkanalisasi kemarahan. Marah cuma sekadar jadi like, share, komen, subscribe. Orang muda merasa cukup edgy kalau idolize ferry irwandy dkk. Ga perlu mengorganisir kemarahan sampai punya daya pukul atau bahkan kekuatan politik.
Indonesia
11
258
698
46.2K
Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp retweetledi
Pedagang Mur & Baut
Pedagang Mur & Baut@tagarabak·
Kalau memang mau maling, ngerampok, dia bisa pukul kaca tsb, trus masuk. Ini jelas cm buat meneror dan cipta kondisi kok. Biar warga sibuk dgn hal remeh temeh begini. Orang yg hidup di masa harto pahamlah yg beginian.
Indonesia
440
13.3K
43.8K
1.5M
Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp
Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp@KomakFEB_UI·
tiba-tiba kepikiran lagi ide lama yang terpendam buat jadi growth hacker/program manager di YLBHI. pengen rasanya bisa settling agenda perubahan lalu di-scale gede2an pake approach yang biasa dipake di industri.
Indonesia
0
0
1
25
Fakultas Ilmu daaann yaaaaapp retweetledi
M. Chatib Basri
M. Chatib Basri@ChatibBasri·
Untuk mahasiawa ekonomi. Ada banyak pertanyaan ke saya tentang ratio Debt/GDP vs Debt Service Ratio (DSR)/ Revenue Mengapa indkator DSR/Revenue lebih relevan dibanding Debt/GDP. Dalam bahan kuliah ini saya tunjukkan walau Debt/GDP sama, tapi jika DSR/Revenue lebih tinggi maka ruang fiskal atau fiscal space yg tersedia bisa lebih rendah. Maaf ini memang bahan kuliah jadi sangat teknis. Buat non ekonom, intinya: walau dg rasio utang/PDB yang sama, kalau DSR/Revenue tinggi krn bunga dan cicilan utang yg tinggi atau Tax/PDB yg rendah, maka fiscal space akan lebih kecil. Itu sebabnya DSR/Revenue lebih penting dari Rasio utang/PDB karena pertanyaan paling pentinh adalah berapa besar ruang fiscal kita
M. Chatib Basri tweet mediaM. Chatib Basri tweet media
Indonesia
24
341
1.4K
35.7K