dailydoseofnothing

1.7K posts

dailydoseofnothing banner
dailydoseofnothing

dailydoseofnothing

@Umarchndr

econs stud

Katılım Ekim 2019
171 Takip Edilen207 Takipçiler
dailydoseofnothing
dailydoseofnothing@Umarchndr·
@zenoxetine Iya kalo mainin game of attention dia jago tapi kalo yang ini udah kelewat ngaco aja sih menurut gw.
Indonesia
0
0
0
5
Zen Lu Rang
Zen Lu Rang@zenoxetine·
He’s really good at playing the game. Kenapa orang2 sebelum ngetik pada gak mikir, tujuan sebenarnya dia ngelakuin itu apa sih? Yakin orang yang udh ngundang banyak professor ke medianya, itu sebodoh ini? Lanjutin aja misuh2nya, perluaskan ini, biar fyp di org yang gk sepinter LU
Zen Lu Rang@zenoxetine

Dengan Ferry Irwandi ngeluarin research jelek ini, sosmed tb tb ngomongin istilah latex, gpt, claude, dasar2 menulis, ciri2 teks buatan ai. Somehow pada ngomongin cara bikin research yang bener, kenapa perlu footer, perlu peer review, dll. Sadar gak sih justru itu tujuannya?

Indonesia
1
0
0
41
Grady Nagara
Grady Nagara@GradyNagara·
Ferry Irwandi memang bukan intelektual. Dia influencer. Kerjaannya hari2 mencari hook. Yg jadi masalah, sekarang batasan intelektual dan influencer ini jadi blur. Karena org2 macam Ferry ini menampilkan diri seolah intelektual di panggung publik. Dan "sialnya", banyak orang suka
Alfian Bahri@AlfianBahri47

Inilah yang saya kurang suka sama Ferry Irwandi, dia seperti selalu berdalil biar terjadi diskusi, kritis, berpikir, dan sejenisnya. Padahal banyak narasinya yang memang keliru dan sekadar hook awal saja (ramai). Sy rasa intelektual gak bermain dengan cara itu...

Indonesia
40
310
991
38.2K
dailydoseofnothing
dailydoseofnothing@Umarchndr·
@allandbagus @withgrokoe @GradyNagara tapi beliau ini konsisten sih mas ngebelanya, ini pernah juga mau ngebela malah menunjukkan kekonyolan nya. x.com/withgrokoe/sta…
withgrok@withgrokoe

@Umarchndr @bayesiancat1234 @Makaryo0 lah goblok kan, Naomi Klen bukan ekonom. gak ada riwayat pendidikan ekonominya, kuliahnya english literature kocak, bisa2nya disebut economist 😂 kalau patokannya displin ilmu formal ya ferry lulusan stan, punya cfa, double degreenya MM MBA kandidat phd juga asbun

Indonesia
1
0
0
40
dailydoseofnothing
dailydoseofnothing@Umarchndr·
@new_mo_imron Siapa yang bilang gaboleh? Baca lagi reply saya pelan pelan mas. Akademisi dapet popularitas ya bagus (efek samping karya), tapi itu bukan core job mereka. Beda sama content creator yang memang metrik utamanya views/engagement. Gitu aja masa nggak paham sih.
Indonesia
1
0
0
8
Howkage
Howkage@new_mo_imron·
@Umarchndr Berarti gaboleh ada akademisi populer nih ya?
Indonesia
1
0
0
13
Howkage
Howkage@new_mo_imron·
Apa karna "anjir dia kok bisa dapet popularitas segitunya padahal bahas ekonomi, gue kok ngga ya...nyebelin nih orang"
Indonesia
1
0
0
34
Sapiens Medioker
Sapiens Medioker@Zawwaf_·
@Umarchndr @withgrokoe @GradyNagara Dejavu, pernah liat lu direply @withgrokoe, intinya dia reply buku yg lo share. Trus PD reply "emang Naomi Kleen ekonom?". Yaampun, dia bedain mana penulis sama kutipan testimoni aja gabisa wkwkw. Toh, orang yg paham econ juga tau itu bukunya Yanis cuma dari liat judulnya 🤣
Indonesia
1
0
0
52
dailydoseofnothing retweetledi
Marlistya Citraningrum
Marlistya Citraningrum@mcitraningrum·
Aku bahas agak panjang gakpapa ya, berangkat dari kerjaanku sekarang yg science-comms banget dan pengalaman pribadi :) Ini tentang algorithmic legitimacy dan institutional legitimacy. 1⃣ Setting konteks dulu ya hehe Legitimasi institusi = otoritas konvensional, kalau dalam sains ya lahir dari sistem formal, gelar akademis, metodologi riset yang rigid, sampai peer-review. Karakternya mendalam, hati-hati, tapi sayangnya sering kali eksklusif (karena dibicarakan dalam lingkup tertentu) dan terjebak di menara gading (karena orang awam nggak ada di sana). Legitimasi algoritma itu fenomena saat ini, di mana "kuasa" = metrik platform digital (FYP, engagement rate, dll). Karakternya kebalikan dari institusi: instan, berbasis emosi, menyederhanakan realitas, dan "demokratis" alias siapa aja bisa komen, bisa viral. 2⃣ Medan perang intelektual sekarang ya termasuk di medsos. Nah, banyak akademisi, saintis, para ahli, yang emang nggak berperang di sana atau udah kalah di medan ini. Di sini ada 2 sisi: produsen (para influencer) dan pengguna. Kubilang straightforward ya, para influencer itu juga ada yang cenderung jadi intellectual performer. Why? Itu niche branding yg 'premium' >> kamu terlihat berbeda, intelek, bisa cari duit dari established, premium brands juga. Konsumen? Selain maunya konten instan, mereka juga cenderung jadi intelektual fastfood. Maksudnya gini, jadi merasa paham banget sesuatu hanya berbekal nonton explainer 30 detik. Mereka merasa telah belajar sesuatu yang berat tanpa baca referensi, membandingkan sumber, gitu deh. Ini jadi lingkaran setan >> produksi konten seolah ilmiah >> disambut >> influencer memang secara algoritma >> terus aja gitu. 3⃣ The limbo, alias help me gimana caranya keluar dari jebakan ini?? Jika legitimasi institusi dikurasi dengan sistem dan berproses, legitimasi algoritma dikurasi dengan engagement. Ini menimbulkan masalah lain, yaitu sindrom 'pakar segala'. Begitu udah populer, diterima followers, muncul delusi bahwa influencer itu kompeten bicara tentang apa saja. Hari ini ngomong filsafat, besok subsidi energi, minggu depan mental health. Di mata followers yang terlanjur huwow terpesona, kemampuan influencer di bidang tertentu otomatis ditransfer ke bidang lain. Mereka menganggap itu sama validnya dengan analisis dari ekonom senior atau lembaga riset independen, misalnya. Kebayang kan susahnya mencari jalan keluar? ** Jadi emang kita ini nggak kekurangan orang pintar atau ahli; kita kekurangan orang pintar dan ahli yang fasih berbahasa algoritma :) Sayangnya nggak ada solusi instan dan buat 1 kelompok aja, karena ini butuh para intelektual turun gunung, pengguna yang mau 'belajar', dan influencer yg juga paham posisi (and perhaps, help us in communicating the science?)
adit surowidjojo@dittolongdit

@Sou_enfield indonesia butuh lebih banyak akademis beneran yang jadi influencer, alih-alih influencer ber-imej akademis.

Indonesia
4
12
59
2.4K
withgrok
withgrok@withgrokoe·
@GradyNagara ini sangat arogan, menganggap seseorang bukan intelektual karena faktor subjektif. dia lulusan kampus kredibel yang jauh lebih prestige dari jurusan ilmu politik UI yang anda miliki. dia punya double master degree dan lolos disertasi di salah satu kampus terbaik di dunia
Indonesia
2
0
5
604
dailydoseofnothing retweetledi
Dewa Wisana
Dewa Wisana@dewawisana·
Saya yang mengampu matkul Ekonometrika (intro econometrics &/ microeconometric) gak mampu dan gak confident jika harus berargumen pakai ekonometrika… 🫣😝 Kalau menjelaskan ke publik, saya menghindari pakai ekonometrika utk memberi penjelasan.
Indonesia
1
3
14
482
dailydoseofnothing
dailydoseofnothing@Umarchndr·
@tilehopper i mean there’s a lot of way to cite a paper but this line is telling me he just copy paste it from AI. Martinez dan Cooray (2025) <— harus nya gini aja cukup gausah sampe arXiv dan bulannya ikut masuk juga.
dailydoseofnothing tweet media
Indonesia
1
0
1
64
Rizki Salminen💜
Rizki Salminen💜@tilehopper·
....you've gotta be shitting me baru beres nulis outline respon paper dia buat stream besok and there's a chance he fucking hallucinated the goddamn sources?
GIF
Rumail Abbas@Stakof

Setelah membaca "paper" milik Ferry Irwandi yang diunggah di Google Drive, kok, saya melihat ada nuansa AI di sini, ya? Hal ini karena ada yang tadi mengulasnya, dan memang saya temukan di beberapa frasa dan beberapa sisi lainnya. Saya bukan praktisi ekonomi, tidak ngeh juga dengan syudududu-ekonomi, angka-angka, dan formula yang Ferry tulis. Tapi frasa yang dipakai, termasuk gaya inferensinya, "cukup akrab" di benak saya sebagai output bergaya-AI. Dan untuk "sisi lain" tadi, tadi sore, sudah ada yang mengulasnya sedikit. Yaitu inferensi yang (mungkin) dijadikan landasan itu bisa jadi berasal dari sebuah paper. Karena seperti yang kita tahu, AI itu punya basis data yang diterbitkan secara daring, dan kadang-kadang ia mengambil inferensi dari hal yang sudah ada. Plus, ternyata bener, tidak ada daftar pustaka yang dijadikan rujukan di semua PDF-nya. Benar bahwa sesekali Ferry, jika tidak keliru, memakai APA sebagai gaya pengutipan (citation style). Tapi saya tidak tahu judul aslinya karena tidak dia cantumkan di halaman terakhir (yang seharusnya berisi daftar pustaka). Di antara yang referensinya ditulis lengkap adalah ini (sekadar contoh saja): Ferry memakai "Poor Economics" sebagai rujukan. Saya punya PDF buku itu. Tapi setelah saya upyek-upyek isi PDF-nya (bahkan meminta AI untuk memastikannya), ternyata buku itu tidak memuat angka yang Ferry pakai. "...Banerjee dan Duflo dalam Poor Economics (2011) dan evaluasi World Bank atas Indonesia BISA Program 2023 menunjukkan bahwa targeted nutrition interventions memberikan return 1,5-2 kali universal coverage dengan budget yang sama." Poor Economics memang mendukung gagasan bahwa investasi gizi yang diarahkan ke kelompok berisiko, seperti anak dan ibu hamil, punya imbal hasil sosial yang besar, dan bahwa sekadar menambah pasokan kalori bukanlah solusi. Tapi, angka 1,5 sampai 2 kali lipat itu tidak ada di sana. Jadi, menurut saya, yang bisa "disangga" buku ini cuma arah argumennya, bukan besaran angkanya, seperti yang ditulis Ferry. Makanya, kalau Ferry menyandarkan pernyataannya yang berinti angka 1,5-2x ke buku ini, dia membuat Poor Economics seolah menanggung lebih dari yang sebenarnya kedua penulisnya tulis di buku itu. NB: saya bisa salah membaca Poor Economics, dan AI juga bisa tidak akurat. Jadi, silakan koreksi bacaan saya ini~ Namun pada intinya, Ferry jika memang serius dengan analisisnya, harusnya mengirim ini ke rumah jurnal. Klaim besarnya soal "makroekonomi" di sini jelas harus difalsifikasi pakar sejawat. Bukannya berakhir di PDF tiga file yang diunggah di Google Drive begini. 😅 Walhasil, saya takjub dengan energi Ferry. Salut untuknya yang telah membikin tiga PDF yang cukup mewakili dedikasinya untuk Indonesia. Salam hangat untuk Ferry dan Malakan.

English
1
3
35
1.6K
dailydoseofnothing
dailydoseofnothing@Umarchndr·
@erryuuu_ Paper pemenang nobel aja masih banyak yang kritik meskipun udah lewat banyak robustness check, masa iya blio pas ditanya validitas nya malah karena ditulis anak UI😆
Indonesia
0
0
1
62
D. Heru
D. Heru@erryuuu_·
Aduh inget lagi gua dramanya, dulu pas sebelum masuk sini ngelihat that "ditulis sama anak UI" kayak wah iya dong ini harusnya kredibel. Setelah masuk sini, sadarlah bahwa "anak UI" masihlah "anak" yang yaaa... maksudnya tuh jgn overestimate cuma karena ditulis anak UI jir😹
dailydoseofnothing@Umarchndr

@lostvayne7_ @lucaxyzz Masih ada doksli nya ga yaa yang debat paper? yang waktu itu blio bilang paper nya robust cuman karena yang nulis anak UI bukan?

Indonesia
2
0
7
801
El
El@Elsho007·
@Umarchndr @wildanfird15 @raniha27 @sociotalker @farisrachman_1 kan itu di imajinasi mu doang orang non econ bakal ngomon “oh yaudah”, kalau buat kemaslahatan bersama kan tinggal dijelasin aja salahnya dimana urusan bakal diterima atau nggak ya terserah orang non econnya yang pentingudah ada niatan buat ngejelasin :)
Indonesia
1
0
3
120
ga_lee
ga_lee@uniq_le·
Sdh banyak akademisi di X yg memberikan komentar ttg tulisan mas Ferry Irwandi, tp terus terang saya berharap ada tanggapan jg dari prof @ChatibBasri . Krn dalam videonya, beliau mengaku diminta prof Chatib Basri utk buat rumusan masalah dan solusi ttg subsidi energi. Semoga prof @ChatibBasri berkenan memberikan pencerahan. Terimakasih ...ini gw diskusikan berjam-jam dengan pak Chatib Basri via telp kemarin, sekitar 2 jam – 3 jam. Kita sangat exited membahas ini. Beliau minta coba gw buatin rumusan masalah dan solusinya, beliau percaya gw bisa breakdown ini, maka gw lakuin…
folkative@insidefolkative

Ferry Irwandi merilis docuvlog spesial yang merupakan docuvlog terpanjang dan terlengkap yang pernah ia buat, lengkap dengan dokumen analisis dan risetnya. Disini Ferry Irwandi akan membedah secara lengkap kondisi Ekonomi Indonesia 2026 dan solusinya. Link: drive.google.com/drive/folder...

Indonesia
1
3
5
1.8K